Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Turnamen Biasa! 64 Klub Liga 4 Rebut Tiket Promosi di Piala Presiden 2026

Kamis, 14 Mei 2026 19:28 WIB

Skatepark Bukan Playground! Ibu Ini Tak Terima Ditegur Padahal Anaknya Nyaris Tertabrak!

Kamis, 14 Mei 2026 19:28 WIB

Marc Klok Beri Sinyal Perang! Persib Siap Habis-Habisan Demi Gelar Juara

Kamis, 14 Mei 2026 18:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Turnamen Biasa! 64 Klub Liga 4 Rebut Tiket Promosi di Piala Presiden 2026
  • Skatepark Bukan Playground! Ibu Ini Tak Terima Ditegur Padahal Anaknya Nyaris Tertabrak!
  • Marc Klok Beri Sinyal Perang! Persib Siap Habis-Habisan Demi Gelar Juara
  • Ramai Diburu di TikTok, Video ‘Bu Guru Bahasa Inggris vs Siswa’ Diduga Cuma Settingan?
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Populasi Tikus Perkotaan Bandung Jadi Sorotan
  • Rakyat Bahas Nyawa, Dewan Sibuk Push Rank: Skandal Asap Rokok di Gedung Rakyat Jember!
  • Bursa Transfer Meledak! Persib Dikabarkan Bidik Pemain Timnas dan Bintang Asing
  • Persib Wajib Waspada! PSM Punya Modal Besar di Stadion BJ Habibie
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 14 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Momen Pertemuan Dika dan Dedi Mulyadi, Minta ‘Si Bocah Oray’ Kembali Bersekolah

By Aga GustianaKamis, 1 Januari 2026 10:47 WIB5 Mins Read
Dika 'Si Bocah Oray' bertemu dengan Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di Subang, pada sebuah siang yang teduh di kediaman Lembur Pakuan, hadir pemandangan yang tak lazim bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bukan pejabat, bukan artis, bukan pula aktivis yang datang berkunjung. Melainkan seorang bocah berusia sepuluh tahun yang datang membawa sesuatu yang membuat bulu kuduk siapa pun menegang: keberanian menghadapi ular dengan tangan kosong.

Namanya Muhamad Nandika Sapulloh, atau yang lebih akrab dipanggil Dika, bocah asal Banjaran, Kabupaten Bandung, yang dalam beberapa minggu terakhir menjadi buah bibir di media sosial.

Dedi Mulyadi menyambutnya hangat, senyum lebar khas meleburkan jarak usia dan status. Namun, sambutan hangat itu hanya bertahan sampai Dika membuka sebuah wadah dan mengangkat tubuh lentur reptil melata dengan genggaman mantap. tangan kecil itu menahan gerak gesit seekor ular yang tubuhnya berlapis sisik, membuat sang tuan rumah spontan mundur beberapa langkah. Bukan pura-pura, bukan juga drama kamera. Ketakutan itu nyata, jujur, dan mengalir begitu manusiawi.

Pertemuan tersebut direkam dan diunggah di kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, menjadi penanda awal bahwa kisah Dika bukan hanya soal hobi unik atau keberanian tanpa batas. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah cerita yang akhirnya menyeruak ke permukaan berkat dialog hangat, tatap mata penasaran, dan empati yang muncul dari rasa ingin tahu seorang pemimpin daerah.

Bagi kebanyakan orang, ular adalah bayangan buruk dalam mimpi. Namun bagi Dika, reptil itu adalah panggung untuk menyalurkan keberanian yang tak pernah ia sebut sebagai keberanian—karena baginya, itu hanyalah hal biasa. Sejak pertama kali menemukan ular saat ngurek—mencari belut di lubang-lubang sawah—Dika justru terpikat oleh gerakannya yang melingkar anggun. Tak seperti anak lain yang akan menjerit dan lari, ia memilih menghadapi ketakutannya, bahkan sebelum ia benar-benar tahu apa itu takut.

Keberaniannya itu bukan tanpa luka. Tubuh Dika menjadi saksi: telinga, kaki, dan tangan pernah ditegori taring reptil. Namun, yang aneh, tak pernah ada dampak berarti pada tubuhnya. “Pernah digigit di telinga, kaki, tangan. Tapi tidak sakit,” kata Dika tenang, seolah menceritakan pengalaman jatuh dari sepeda. Ibunya, Reka Noviyanti, mengangguk membenarkan. Baginya, melihat anaknya pulang membawa ular sanca sepanjang tiga meter adalah perpaduan antara kekhawatiran, heran, dan—entah bagaimana—kebanggaan.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bicara Solusi PLTSa Bantar Gebang untuk Tangani Sampah

Namun keberanian itu punya sisi gelap yang tak banyak orang tahu. Di balik tubuh kecil yang lekat dengan sisik reptil, tersimpan luka lain yang tidak terlihat mata. Luka yang membuatnya sempat berhenti bersekolah sejak kelas tiga.

“Harusnya sudah naik kelas 5, tapi sekarang masih kelas 4. Sempat putus sekolah sejak kelas 3. Katanya ada yang merundung, tapi dia tidak pernah bercerita kepada saya,” ungkap sang ibu, bersuara lirih, getirnya sulit ditutup-tutupi.

Momen inilah yang kemudian menjadi inti pertemuan Dika dengan Dedi Mulyadi. Bukan keberaniannya terhadap ular yang paling mengejutkan sang gubernur, melainkan kenyataan bahwa anak kecil dengan bakat dan mental baja itu telah kehilangan ruang belajarnya karena perundungan.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Tekankan Pentingnya Kejujuran dan Integritas dalam Diri Pengurus Koperasi

Dalam rekaman tersebut, setelah menahan jarak dari ular yang digenggam Dika, Dedi Mulyadi duduk lebih dekat untuk bertanya—bukan lagi tentang reptil, melainkan tentang masa depan yang sempat tersendat.

“Sama sekali tidak sekolah, dulu pernah gak sekolah sampai kelas satu?” tanya Dedi, nadanya campuran antara heran dan prihatin.

Seorang pria yang ikut mendampingi kemudian menjelaskan bahwa Dika sebenarnya pernah bersekolah hingga kelas empat SD. Penjelasan itu hanya menambah penasaran di benak Dedi.

“Jadi sekolah sampai kelas empat, kenapa berhenti sekolahnya? Ibu kenapa berhenti sekolah anaknya?” lanjutnya, ingin mengetahui langsung dari sumber yang paling tahu.

Sang ibu tidak menduga, di hadapan sosok publik, ia harus membuka kembali luka yang selama ini dipendam rapat. Dengan suara pelan ia menjawab, anaknya pernah mengalami perundungan. Luka yang tidak tampak, namun cukup dalam untuk membuat Dika memilih sawah dan ular ketimbang bangku sekolah.

Saat Dedi kembali menggali, ingin tahu siapa pelaku yang menyakiti psikologis anak itu, ibu Dika menggeleng. Ia tidak tahu persis siapa yang berbuat. Perundungan datang tanpa nama, tetapi dampaknya nyata.

Ketika percakapan semakin dalam, Dedi kembali bertanya, memastikan sejak kapan Dika berhenti sekolah.

“Berhentinya sejak kapan? udah lama berapa tahun?” tanya Dedi Mulyadi.

Jawabannya mengejutkan: kurang lebih dua tahun. Dua tahun di usia anak-anak adalah jarak panjang—cukup untuk membentuk kebiasaan, memahat karakter, dan bahkan mengaburkan mimpi.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Imbau Sekolah di Jabar Segera Serahkan Ijazah yang Ditahan

Dedi tampak menyayangkan hal itu. Sebagai sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan kebudayaan, ia melihat keberanian Dika bukan semata bakat, tetapi potensi. Potensi yang tidak boleh hilang begitu saja hanya karena luka sosial yang tidak ditangani.

Pertemuan di Lembur Pakuan itu bukan sekadar kunjungan viral, bukan pula panggung sensasi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan keberanian dengan masa depan. Dedi tidak menolak kekaguman terhadap kemampuan Dika menaklukkan ular, tetapi ia juga tidak ingin keberanian itu menutupi kebutuhan lain yang sama pentingnya: pendidikan.

Karena pada akhirnya, keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menjadikan seseorang legenda kecil yang dilupakan waktu. Tetapi keberanian yang dipadu pendidikan bisa menjadikan seseorang inspirasi bagi banyak orang—dan itulah arah yang ingin ditunjukkan Dedi kepada Dika.

Ia meminta Dika kembali bersekolah. Sebuah undangan yang bukan sekadar ajakan formalitas, tetapi panggilan untuk kembali menata mimpi.

Sawah mungkin akan selalu menjadi panggung pertama Dika. Ular mungkin akan selamanya menjadi “sahabat” sekaligus tantangannya. Tetapi setelah pertemuan itu, ada harapan bahwa kelas, buku, dan bangku sekolah juga akan kembali menjadi bagian hidupnya.

Karena di balik keberanian yang membuat seorang gubernur mundur terkejut, ada seorang bocah yang sejatinya hanya ingin diterima—di rumah, di sawah, dan semoga, di sekolahnya kembali.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bandung Banjaran bocah Banjaran Dedi Mulyadi Dika Si Bocah Oray ular liar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hantavirus Ramai Dibahas, Populasi Tikus Perkotaan Bandung Jadi Sorotan

Rakyat Bahas Nyawa, Dewan Sibuk Push Rank: Skandal Asap Rokok di Gedung Rakyat Jember!

Nadiem Makarim

Dituntut 18 Tahun Penjara, Nadiem Makarim ‘Meledak’: Mengapa Hukuman Saya Lebih Berat dari Teroris?

Dewan Hisbah PP Persis Bahas Zakat hingga Baiat dalam Safari Dakwah di Majalengka

Sinergi Kreatif: Abizar Machmud dan Menteri LH Perkuat Gerakan Lingkungan Jabar

‘Riweuh’ Karena Nama: Kebijakan Sekolah Maung Dedi Mulyadi Panen Kritik Netizen

Terpopuler
  • Link Full Video Guru Bahasa Inggris Viral Banyak Dicari, Publik Diingatkan Bahaya Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Link 6 Menit Ternyata Jebakan Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Viral Berdurasi Panjang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius
  • Persib Bandung Gigit Jari? Striker Abroad Timnas Indonesia Dipastikan Bertahan di Eropa Musim Depan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.