Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Ada Derby Iberia Portugal vs Spanyol

Minggu, 5 Juli 2026 01:00 WIB

Kejutan Belum Usai, Bos Persib Beri Kisi-kisi Proyek Rahasia Setelah 10 Juli

Sabtu, 4 Juli 2026 21:46 WIB

Demi Target Asia! Persib Rombak Staf Kepelatihan, Datangkan Arsitek Fisik dan Taktik Kelas Eropa

Sabtu, 4 Juli 2026 20:41 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Ada Derby Iberia Portugal vs Spanyol
  • Kejutan Belum Usai, Bos Persib Beri Kisi-kisi Proyek Rahasia Setelah 10 Juli
  • Demi Target Asia! Persib Rombak Staf Kepelatihan, Datangkan Arsitek Fisik dan Taktik Kelas Eropa
  • Followersnya Kalahkan Populasi Negara Sendiri! Kisah Ajaib Vozinha Bikin Messi Frustrasi di Piala Dunia
  • Kode Keras di Video Perkenalan Ragnar Oratmangoen, Persib Segera Amankan Mariano Peralta?
  • Gebrakan Kelima Pangeran Biru: Ragnar Oratmangoen Resmi Merapat ke Persib Bandung
  • Sentimen Suku Kental dan Boros Anggaran, Wacana Provinsi Sunda Dinilai Belum Mendesak
  • Tabel Angsuran KUR BNI 2026 Plafon Rp100 Juta: Panduan Simulasi Cicilan Murah untuk Tambahan Modal UMKM
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 5 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Momen Pertemuan Dika dan Dedi Mulyadi, Minta ‘Si Bocah Oray’ Kembali Bersekolah

By Aga GustianaKamis, 1 Januari 2026 10:47 WIB5 Mins Read
Dika 'Si Bocah Oray' bertemu dengan Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di Subang, pada sebuah siang yang teduh di kediaman Lembur Pakuan, hadir pemandangan yang tak lazim bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bukan pejabat, bukan artis, bukan pula aktivis yang datang berkunjung. Melainkan seorang bocah berusia sepuluh tahun yang datang membawa sesuatu yang membuat bulu kuduk siapa pun menegang: keberanian menghadapi ular dengan tangan kosong.

Namanya Muhamad Nandika Sapulloh, atau yang lebih akrab dipanggil Dika, bocah asal Banjaran, Kabupaten Bandung, yang dalam beberapa minggu terakhir menjadi buah bibir di media sosial.

Dedi Mulyadi menyambutnya hangat, senyum lebar khas meleburkan jarak usia dan status. Namun, sambutan hangat itu hanya bertahan sampai Dika membuka sebuah wadah dan mengangkat tubuh lentur reptil melata dengan genggaman mantap. tangan kecil itu menahan gerak gesit seekor ular yang tubuhnya berlapis sisik, membuat sang tuan rumah spontan mundur beberapa langkah. Bukan pura-pura, bukan juga drama kamera. Ketakutan itu nyata, jujur, dan mengalir begitu manusiawi.

Pertemuan tersebut direkam dan diunggah di kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, menjadi penanda awal bahwa kisah Dika bukan hanya soal hobi unik atau keberanian tanpa batas. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah cerita yang akhirnya menyeruak ke permukaan berkat dialog hangat, tatap mata penasaran, dan empati yang muncul dari rasa ingin tahu seorang pemimpin daerah.

Bagi kebanyakan orang, ular adalah bayangan buruk dalam mimpi. Namun bagi Dika, reptil itu adalah panggung untuk menyalurkan keberanian yang tak pernah ia sebut sebagai keberanian—karena baginya, itu hanyalah hal biasa. Sejak pertama kali menemukan ular saat ngurek—mencari belut di lubang-lubang sawah—Dika justru terpikat oleh gerakannya yang melingkar anggun. Tak seperti anak lain yang akan menjerit dan lari, ia memilih menghadapi ketakutannya, bahkan sebelum ia benar-benar tahu apa itu takut.

Baca Juga:  Jadi Top Kuliner di Kota Bandung, Bolu Bakar Tunggal Tawarkan Kelembutan di Setiap Gigitan

Keberaniannya itu bukan tanpa luka. Tubuh Dika menjadi saksi: telinga, kaki, dan tangan pernah ditegori taring reptil. Namun, yang aneh, tak pernah ada dampak berarti pada tubuhnya. “Pernah digigit di telinga, kaki, tangan. Tapi tidak sakit,” kata Dika tenang, seolah menceritakan pengalaman jatuh dari sepeda. Ibunya, Reka Noviyanti, mengangguk membenarkan. Baginya, melihat anaknya pulang membawa ular sanca sepanjang tiga meter adalah perpaduan antara kekhawatiran, heran, dan—entah bagaimana—kebanggaan.

Namun keberanian itu punya sisi gelap yang tak banyak orang tahu. Di balik tubuh kecil yang lekat dengan sisik reptil, tersimpan luka lain yang tidak terlihat mata. Luka yang membuatnya sempat berhenti bersekolah sejak kelas tiga.

“Harusnya sudah naik kelas 5, tapi sekarang masih kelas 4. Sempat putus sekolah sejak kelas 3. Katanya ada yang merundung, tapi dia tidak pernah bercerita kepada saya,” ungkap sang ibu, bersuara lirih, getirnya sulit ditutup-tutupi.

Momen inilah yang kemudian menjadi inti pertemuan Dika dengan Dedi Mulyadi. Bukan keberaniannya terhadap ular yang paling mengejutkan sang gubernur, melainkan kenyataan bahwa anak kecil dengan bakat dan mental baja itu telah kehilangan ruang belajarnya karena perundungan.

Baca Juga:  5 Tempat Camping Murah di Bandung yang Cocok untuk Rayakan Tahun Baru

Dalam rekaman tersebut, setelah menahan jarak dari ular yang digenggam Dika, Dedi Mulyadi duduk lebih dekat untuk bertanya—bukan lagi tentang reptil, melainkan tentang masa depan yang sempat tersendat.

“Sama sekali tidak sekolah, dulu pernah gak sekolah sampai kelas satu?” tanya Dedi, nadanya campuran antara heran dan prihatin.

Seorang pria yang ikut mendampingi kemudian menjelaskan bahwa Dika sebenarnya pernah bersekolah hingga kelas empat SD. Penjelasan itu hanya menambah penasaran di benak Dedi.

“Jadi sekolah sampai kelas empat, kenapa berhenti sekolahnya? Ibu kenapa berhenti sekolah anaknya?” lanjutnya, ingin mengetahui langsung dari sumber yang paling tahu.

Sang ibu tidak menduga, di hadapan sosok publik, ia harus membuka kembali luka yang selama ini dipendam rapat. Dengan suara pelan ia menjawab, anaknya pernah mengalami perundungan. Luka yang tidak tampak, namun cukup dalam untuk membuat Dika memilih sawah dan ular ketimbang bangku sekolah.

Saat Dedi kembali menggali, ingin tahu siapa pelaku yang menyakiti psikologis anak itu, ibu Dika menggeleng. Ia tidak tahu persis siapa yang berbuat. Perundungan datang tanpa nama, tetapi dampaknya nyata.

Ketika percakapan semakin dalam, Dedi kembali bertanya, memastikan sejak kapan Dika berhenti sekolah.

“Berhentinya sejak kapan? udah lama berapa tahun?” tanya Dedi Mulyadi.

Jawabannya mengejutkan: kurang lebih dua tahun. Dua tahun di usia anak-anak adalah jarak panjang—cukup untuk membentuk kebiasaan, memahat karakter, dan bahkan mengaburkan mimpi.

Baca Juga:  Demi Bandung Kondusif, Pemkot Minta Tiga Pilar Kewilayahan Jaga Sinergitas

Dedi tampak menyayangkan hal itu. Sebagai sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan kebudayaan, ia melihat keberanian Dika bukan semata bakat, tetapi potensi. Potensi yang tidak boleh hilang begitu saja hanya karena luka sosial yang tidak ditangani.

Pertemuan di Lembur Pakuan itu bukan sekadar kunjungan viral, bukan pula panggung sensasi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan keberanian dengan masa depan. Dedi tidak menolak kekaguman terhadap kemampuan Dika menaklukkan ular, tetapi ia juga tidak ingin keberanian itu menutupi kebutuhan lain yang sama pentingnya: pendidikan.

Karena pada akhirnya, keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menjadikan seseorang legenda kecil yang dilupakan waktu. Tetapi keberanian yang dipadu pendidikan bisa menjadikan seseorang inspirasi bagi banyak orang—dan itulah arah yang ingin ditunjukkan Dedi kepada Dika.

Ia meminta Dika kembali bersekolah. Sebuah undangan yang bukan sekadar ajakan formalitas, tetapi panggilan untuk kembali menata mimpi.

Sawah mungkin akan selalu menjadi panggung pertama Dika. Ular mungkin akan selamanya menjadi “sahabat” sekaligus tantangannya. Tetapi setelah pertemuan itu, ada harapan bahwa kelas, buku, dan bangku sekolah juga akan kembali menjadi bagian hidupnya.

Karena di balik keberanian yang membuat seorang gubernur mundur terkejut, ada seorang bocah yang sejatinya hanya ingin diterima—di rumah, di sawah, dan semoga, di sekolahnya kembali.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bandung Banjaran bocah Banjaran Dedi Mulyadi Dika Si Bocah Oray ular liar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sentimen Suku Kental dan Boros Anggaran, Wacana Provinsi Sunda Dinilai Belum Mendesak

Truk Rem Blong Picu Tabrakan Beruntun di Sukabumi, Sopir Sempat Terjepit Kabin Terguling

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Cara Cek BPNT Juli 2026 Lewat HP, Ini Tanda Bantuan Sudah Cair

Anak Diduga Hilang dari Katapang Ditemukan Meninggal di Jembatan BBS Bandung Barat

Om Zein saat menghadiri acara di Purwakarta.

Imbas Lagu Kontroversial ‘Lalaki Langit’, Bupati Purwakarta Diperiksa Intensif 8 Jam di Kemendagri

Pencabulan

Dugaan Kasus Rudapaksa di Sapan Bandung, Korban Masih Jalani Pemulihan Trauma

Terpopuler
  • Ini Link Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 untuk Pantau Jadwal dan Skema Pertandingan
  • Link Live Pagi Ini: Portugal vs Kroasia 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos?
  • Jangan Asal Klik! Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral, Begini Fakta dan Bahaya Link Palsunya
  • Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Viral! Ini Isi Lagu Om Zein yang Tuai Polemik
  • Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral di TikTok, Link Fullnya Bikin Waswas
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.