Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Tradisi Kemenangan Persib Dipertaruhkan, Port FC Menanti di Thailand

Kamis, 8 Oktober 2026 12:56 WIB

Bandung Bakal Punya Sentra Wisata Kuliner di Tiap Kecamatan, PKL Dapat Ruang Dagang

Kamis, 8 Oktober 2026 12:26 WIB

Dibikin Kaget DJ No 1 Dunia! Aksi Musisi Lokal Kendari Pake Keyboard Ini Bikin Lil Jon Ajak Colab?

Kamis, 8 Oktober 2026 10:24 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tradisi Kemenangan Persib Dipertaruhkan, Port FC Menanti di Thailand
  • Bandung Bakal Punya Sentra Wisata Kuliner di Tiap Kecamatan, PKL Dapat Ruang Dagang
  • Dibikin Kaget DJ No 1 Dunia! Aksi Musisi Lokal Kendari Pake Keyboard Ini Bikin Lil Jon Ajak Colab?
  • Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000, Cek Daftar Lengkapnya
  • Wisata Kuliner di Kota Intan: 10 Rekomendasi Tempat Makan Legendaris di Garut
  • 6 Destinasi Wisata Alam Hits di Garut, Cocok Buat Healing Bareng Bestie!
  • Wajib Tahu! Penerima Lama Bansos PKH dan BPNT Terancam Dicoret Jika Lewatkan Hal Ini
  • Anggaran Belum Siap, Pilkades Serentak 2026 di Cianjur Terpaksa Diundur
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 8 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Momen Pertemuan Dika dan Dedi Mulyadi, Minta ‘Si Bocah Oray’ Kembali Bersekolah

By Aga GustianaKamis, 1 Januari 2026 10:47 WIB5 Mins Read
Dika 'Si Bocah Oray' bertemu dengan Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di Subang, pada sebuah siang yang teduh di kediaman Lembur Pakuan, hadir pemandangan yang tak lazim bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bukan pejabat, bukan artis, bukan pula aktivis yang datang berkunjung. Melainkan seorang bocah berusia sepuluh tahun yang datang membawa sesuatu yang membuat bulu kuduk siapa pun menegang: keberanian menghadapi ular dengan tangan kosong.

Namanya Muhamad Nandika Sapulloh, atau yang lebih akrab dipanggil Dika, bocah asal Banjaran, Kabupaten Bandung, yang dalam beberapa minggu terakhir menjadi buah bibir di media sosial.

Dedi Mulyadi menyambutnya hangat, senyum lebar khas meleburkan jarak usia dan status. Namun, sambutan hangat itu hanya bertahan sampai Dika membuka sebuah wadah dan mengangkat tubuh lentur reptil melata dengan genggaman mantap. tangan kecil itu menahan gerak gesit seekor ular yang tubuhnya berlapis sisik, membuat sang tuan rumah spontan mundur beberapa langkah. Bukan pura-pura, bukan juga drama kamera. Ketakutan itu nyata, jujur, dan mengalir begitu manusiawi.

Pertemuan tersebut direkam dan diunggah di kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, menjadi penanda awal bahwa kisah Dika bukan hanya soal hobi unik atau keberanian tanpa batas. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah cerita yang akhirnya menyeruak ke permukaan berkat dialog hangat, tatap mata penasaran, dan empati yang muncul dari rasa ingin tahu seorang pemimpin daerah.

Bagi kebanyakan orang, ular adalah bayangan buruk dalam mimpi. Namun bagi Dika, reptil itu adalah panggung untuk menyalurkan keberanian yang tak pernah ia sebut sebagai keberanian—karena baginya, itu hanyalah hal biasa. Sejak pertama kali menemukan ular saat ngurek—mencari belut di lubang-lubang sawah—Dika justru terpikat oleh gerakannya yang melingkar anggun. Tak seperti anak lain yang akan menjerit dan lari, ia memilih menghadapi ketakutannya, bahkan sebelum ia benar-benar tahu apa itu takut.

Baca Juga:  Saddil Ramdani Terpantau di Bandung, Sinyal Kuat Gabung Persib?

Keberaniannya itu bukan tanpa luka. Tubuh Dika menjadi saksi: telinga, kaki, dan tangan pernah ditegori taring reptil. Namun, yang aneh, tak pernah ada dampak berarti pada tubuhnya. “Pernah digigit di telinga, kaki, tangan. Tapi tidak sakit,” kata Dika tenang, seolah menceritakan pengalaman jatuh dari sepeda. Ibunya, Reka Noviyanti, mengangguk membenarkan. Baginya, melihat anaknya pulang membawa ular sanca sepanjang tiga meter adalah perpaduan antara kekhawatiran, heran, dan—entah bagaimana—kebanggaan.

Namun keberanian itu punya sisi gelap yang tak banyak orang tahu. Di balik tubuh kecil yang lekat dengan sisik reptil, tersimpan luka lain yang tidak terlihat mata. Luka yang membuatnya sempat berhenti bersekolah sejak kelas tiga.

“Harusnya sudah naik kelas 5, tapi sekarang masih kelas 4. Sempat putus sekolah sejak kelas 3. Katanya ada yang merundung, tapi dia tidak pernah bercerita kepada saya,” ungkap sang ibu, bersuara lirih, getirnya sulit ditutup-tutupi.

Momen inilah yang kemudian menjadi inti pertemuan Dika dengan Dedi Mulyadi. Bukan keberaniannya terhadap ular yang paling mengejutkan sang gubernur, melainkan kenyataan bahwa anak kecil dengan bakat dan mental baja itu telah kehilangan ruang belajarnya karena perundungan.

Baca Juga:  Gervane Kastaneer Ungkap Kendala Adaptasi Tinggal di Indonesia

Dalam rekaman tersebut, setelah menahan jarak dari ular yang digenggam Dika, Dedi Mulyadi duduk lebih dekat untuk bertanya—bukan lagi tentang reptil, melainkan tentang masa depan yang sempat tersendat.

“Sama sekali tidak sekolah, dulu pernah gak sekolah sampai kelas satu?” tanya Dedi, nadanya campuran antara heran dan prihatin.

Seorang pria yang ikut mendampingi kemudian menjelaskan bahwa Dika sebenarnya pernah bersekolah hingga kelas empat SD. Penjelasan itu hanya menambah penasaran di benak Dedi.

“Jadi sekolah sampai kelas empat, kenapa berhenti sekolahnya? Ibu kenapa berhenti sekolah anaknya?” lanjutnya, ingin mengetahui langsung dari sumber yang paling tahu.

Sang ibu tidak menduga, di hadapan sosok publik, ia harus membuka kembali luka yang selama ini dipendam rapat. Dengan suara pelan ia menjawab, anaknya pernah mengalami perundungan. Luka yang tidak tampak, namun cukup dalam untuk membuat Dika memilih sawah dan ular ketimbang bangku sekolah.

Saat Dedi kembali menggali, ingin tahu siapa pelaku yang menyakiti psikologis anak itu, ibu Dika menggeleng. Ia tidak tahu persis siapa yang berbuat. Perundungan datang tanpa nama, tetapi dampaknya nyata.

Ketika percakapan semakin dalam, Dedi kembali bertanya, memastikan sejak kapan Dika berhenti sekolah.

“Berhentinya sejak kapan? udah lama berapa tahun?” tanya Dedi Mulyadi.

Jawabannya mengejutkan: kurang lebih dua tahun. Dua tahun di usia anak-anak adalah jarak panjang—cukup untuk membentuk kebiasaan, memahat karakter, dan bahkan mengaburkan mimpi.

Baca Juga:  Tahun Ini! Dedi Mulyadi Janji 140 Ribu Warga Jabar Dapat Pasokan Listrik Gratis

Dedi tampak menyayangkan hal itu. Sebagai sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan kebudayaan, ia melihat keberanian Dika bukan semata bakat, tetapi potensi. Potensi yang tidak boleh hilang begitu saja hanya karena luka sosial yang tidak ditangani.

Pertemuan di Lembur Pakuan itu bukan sekadar kunjungan viral, bukan pula panggung sensasi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan keberanian dengan masa depan. Dedi tidak menolak kekaguman terhadap kemampuan Dika menaklukkan ular, tetapi ia juga tidak ingin keberanian itu menutupi kebutuhan lain yang sama pentingnya: pendidikan.

Karena pada akhirnya, keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menjadikan seseorang legenda kecil yang dilupakan waktu. Tetapi keberanian yang dipadu pendidikan bisa menjadikan seseorang inspirasi bagi banyak orang—dan itulah arah yang ingin ditunjukkan Dedi kepada Dika.

Ia meminta Dika kembali bersekolah. Sebuah undangan yang bukan sekadar ajakan formalitas, tetapi panggilan untuk kembali menata mimpi.

Sawah mungkin akan selalu menjadi panggung pertama Dika. Ular mungkin akan selamanya menjadi “sahabat” sekaligus tantangannya. Tetapi setelah pertemuan itu, ada harapan bahwa kelas, buku, dan bangku sekolah juga akan kembali menjadi bagian hidupnya.

Karena di balik keberanian yang membuat seorang gubernur mundur terkejut, ada seorang bocah yang sejatinya hanya ingin diterima—di rumah, di sawah, dan semoga, di sekolahnya kembali.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bandung Dedi Mulyadi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bandung Bakal Punya Sentra Wisata Kuliner di Tiap Kecamatan, PKL Dapat Ruang Dagang

Anggaran Belum Siap, Pilkades Serentak 2026 di Cianjur Terpaksa Diundur

Farhan Ungkap Temuan Lanjutan Dinkes soal Dugaan Keracunan di Restoran Korea Bandung

Dikatain Pelit dan Banyak Mau! Senator Bali Bongkar Alasan Pekerja Lokal Lebih Sayang Bule

Dapat Status WNI hingga Modal Usaha, Babak Baru Kehidupan Ibu Baedah di Majalengka Dimulai

Pastikan Regulasi Siap, Pemkot Bandung Dukung Penuh Percepatan Program Bedah Rumah

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Skandal HGB Kota Baru Parahyangan: KPK Amankan Berkas dan Ungkap Aliran Suap Miliaran
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.