Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000

Senin, 12 Oktober 2026 01:00 WIB

Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin

Minggu, 11 Oktober 2026 21:12 WIB

Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik

Minggu, 11 Oktober 2026 20:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000
  • Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin
  • Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Dua Kali Kebobolan! Persib Tertinggal 0-2 dari Dewa United di Si Jalak Harupat
  • Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil
  • Persib vs Dewa United Malam Ini: Jadwal Kick-off dan Link Live Streaming
  • Kecelakaan Motor di Buahbatu Bandung, Polisi Duga Pengendara Kurang Konsentrasi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 12 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Nama Mafia Jepang Dipakai Dakwah di Kediri, Cucu Gus Miek Disentil Netizen: Gak Takut Yakuza Aslinya Marah?

By SusanaRabu, 13 Mei 2026 15:09 WIB6 Mins Read
Yakuza Maneges viral usai dideklarasikan Gus Thuba di Kediri. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama “Yakuza” selama ini identik dengan dunia gelap Jepang. Organisasi mafia yang dikenal brutal, penuh kekerasan, dan memiliki jaringan kejahatan terorganisir lintas negara itu sudah lama menjadi simbol ketakutan global. Namun di tangan seorang cucu ulama kharismatik asal Kediri, nama itu justru berubah total.

Di Kediri, nama Yakuza kini lahir kembali dengan wajah berbeda: bukan organisasi kriminal, melainkan gerakan sosial-spiritual yang mengusung dakwah inklusif untuk merangkul masyarakat marginal, para mantan “anak jalanan”, hingga mereka yang disebut sebagai “santri jalur kiri”.

Gerakan itu bernama Yakuza Maneges, dipimpin oleh Gus Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Den Gus Thuba.

Deklarasi organisasi ini langsung menyita perhatian publik. Bukan hanya karena konsep dakwahnya yang nyentrik, tetapi juga karena keberanian menggunakan nama “Yakuza” yang selama ini lekat dengan citra mafia Jepang.

“Yang Awalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi”

Deklarasi Yakuza Maneges digelar di sebuah hotel di Kediri dan dihadiri berbagai tokoh, termasuk Vinanda Prameswati selaku Wali Kota Kediri.

Dalam pidatonya, Gus Thuba menegaskan bahwa Yakuza Maneges tidak memiliki hubungan apa pun dengan organisasi kriminal Jepang.

“Kami di sini bukan identitas organisasi kriminal, tapi simbol transformasi para petarung,” kata Gus Thuba.

Ia menjelaskan, Yakuza Maneges lahir sebagai ruang pembinaan spiritual bagi orang-orang yang selama ini dianggap “nakal”, “tersesat”, atau hidup di jalan keliru.

Bagi Gus Thuba, mereka bukan untuk dijauhi atau dihakimi, melainkan dirangkul agar bisa kembali menemukan jalan hidup yang lebih baik.

“Organisasi ini merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering disebut santri jalur kiri. Mereka yang pernah terjatuh dalam dosa berat namun masih punya niat memperbaiki diri,” ujarnya.

Filosofi organisasi ini bahkan dibuat sangat simbolik.

Nama “Yakuza” diterjemahkan ulang menjadi:

“Yang awalnya kotor, ujungnya zuhud abadi.”

Sementara kata “Maneges” dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai sesuatu yang jernih atau bening. Filosofi itu menggambarkan manusia yang mungkin terlihat keras di luar, namun sebenarnya masih memiliki hati yang bersih dan ingin berubah.

Warisan Dakwah Gus Miek yang Kontroversial tapi Membumi

Kemunculan Yakuza Maneges tak bisa dilepaskan dari sosok KH Hamim Djazuli atau Gus Miek, ulama kharismatik asal Kediri yang dikenal memiliki metode dakwah tidak biasa.

Gus Miek selama hidupnya dikenal mendatangi tempat-tempat yang jarang disentuh ulama pada zamannya. Ia berdakwah ke terminal, warung remang-remang, lingkungan preman, hingga komunitas marginal.

Pendekatan dakwah itulah yang kini diwarisi oleh cucunya, Gus Thuba.

Bahkan banyak jamaah menilai gaya bicara dan suara Gus Thuba sangat mirip dengan sang kakek. Ia juga dikenal aktif berdakwah di luar pesantren dan dekat dengan kelompok masyarakat akar rumput.

Bagi Gus Thuba, dakwah tidak boleh eksklusif hanya untuk orang yang sudah baik.

Justru mereka yang dianggap “paling jauh dari agama” harus lebih dulu dipeluk.

Konsep itu pula yang membuat Yakuza Maneges menyebut dirinya sebagai rumah bagi “santri jalur kiri”.

Dakwah Jalanan dan Solidaritas Akar Rumput

Secara ideologis, Yakuza Maneges berdiri di atas tiga pilar utama:

  • Inklusivitas
  • Spiritualitas jalanan
  • Solidaritas akar rumput

Gerakan ini disebut akan aktif dalam kegiatan sosial, pendampingan masyarakat, hingga dakwah berbasis kemanusiaan.

Organisasi tersebut juga disebut berada di bawah semangat Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin, warisan spiritual Gus Miek yang sangat terkenal di Jawa Timur.

Yang menarik, dalam deklarasi tersebut hadir pula tokoh kepolisian seperti AKBP Edy Herwiyanto yang disebut sebagai Ketua Yakuza Maneges Polri.

Gus Thuba pun secara terbuka menegaskan bahwa organisasinya mendukung negara dan aparat hukum.

“Kami hadir bukan berseberangan dengan negara, tetapi berjalan bersama aparat penegak hukum,” tegasnya.

Pernyataan itu tampaknya sengaja disampaikan untuk meredam stigma publik yang langsung mengaitkan nama “Yakuza” dengan organisasi kriminal.

Wali Kota Kediri: Ini Dakwah yang Memeluk, Bukan Menghakimi

Vinanda Prameswati yang hadir dalam deklarasi tersebut memberikan dukungan terhadap pendekatan dakwah ala Gus Thuba.

Menurut wali kota termuda itu, metode dakwah yang dijalankan Yakuza Maneges merupakan kelanjutan warisan perjuangan Gus Miek.

“Warisan dakwah yang lahir dari keyakinan bahwa siapa pun, termasuk mereka yang dianggap paling jauh dari kebaikan, tetap berhak dirangkul, bukan ditinggalkan,” katanya.

Ia mengakui tidak banyak orang berani menggunakan nama “Yakuza” karena citranya yang sangat negatif. Namun menurutnya, Gus Thuba justru berhasil membalik makna itu menjadi simbol perubahan hidup.

Vinanda juga menilai gerakan tersebut sejalan dengan visi Kota Kediri MAPAN: maju, agamis, produktif, aman, dan ngangeni.

Menurutnya, makna “ngangeni” bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi bagaimana masyarakat merasa dipeluk dan tidak berjalan sendiri.

Ramai Dibahas, Warganet Terbelah

Kemunculan Yakuza Maneges langsung viral di media sosial. Banyak warganet penasaran sekaligus bingung melihat nama mafia Jepang dipakai untuk organisasi dakwah.

Kolom komentar media sosial pun dipenuhi reaksi beragam, seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @warta.com, Rabu (13/5/2026).

Sebagian menganggap langkah itu unik dan kreatif dalam mendekati anak muda serta kelompok marginal. Namun sebagian lain justru menganggap penggunaan nama Yakuza terlalu kontroversial.

Komentar-komentar satir bermunculan:

“Lainnya sudah mikirin nuklir, ini malah mainan Yakuza-Yakuzaan.”

Ada pula yang bercanda:

“Kalau ada yang salah potong jari juga?”

Komentar lain bahkan menyindir kemungkinan “Yakuza asli Jepang” marah karena namanya dipakai.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana branding unik dalam dakwah modern bisa menjadi pedang bermata dua: viral sekaligus kontroversial.

Siapa Sebenarnya Gus Thuba?

Gus Thuba Topo Broto Maneges bukan sosok sembarangan di lingkungan pesantren Jawa Timur.

Ia merupakan cucu dari KH Hamim Djazuli, sekaligus memiliki garis keturunan dari tokoh besar Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Siddiq Jember.

KH Ahmad Siddiq dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik konsep penerimaan Pancasila sebagai dasar negara oleh NU melalui gagasan Kalimatun Sawa.

Ayah Gus Thuba adalah Kiai Tijani Robert Saifun Nawas atau Gus Robert, salah satu putra Gus Miek.

Latar belakang itulah yang membuat banyak orang menilai kemunculan Yakuza Maneges bukan sekadar sensasi semata, melainkan bagian dari transformasi metode dakwah pesantren yang mencoba menjawab realitas sosial modern.

Dari Stigma ke Ruang Pertobatan

Di tengah maraknya anak muda yang merasa jauh dari ruang keagamaan formal, pendekatan seperti Yakuza Maneges muncul sebagai fenomena baru.

Alih-alih tampil formal dan eksklusif, gerakan ini justru memakai simbol-simbol jalanan untuk menarik mereka yang selama ini merasa “tidak pantas” berada di lingkungan religius.

Bagi sebagian orang, langkah ini kontroversial.

Namun bagi Gus Thuba, dakwah memang harus masuk ke ruang-ruang yang selama ini dianggap gelap.

Karena menurutnya, orang yang paling membutuhkan cahaya justru sering berada di tempat yang paling jauh dari sorotan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

5 Bansos yang Berpotensi Cair Oktober 2026, Ada PKH dan BPNT Rp600.000

Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik

Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu

Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil

Kecelakaan Motor di Buahbatu Bandung, Polisi Duga Pengendara Kurang Konsentrasi

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Terpopuler
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Viral! Sejumlah Pengunjung Diduga Keracunan Massal Usai Makan di Restoran Korea Bandung
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.