bukamata.id – Di atas bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis, langit Wonosobo biasanya menjadi kanvas raksasa tempat mimpi, identitas, dan kreativitas lokal dirayakan. Setiap kali balon udara raksasa mengepakkan bahan kainnya dan mulai mengudara, decak kagum ribuan pasang mata senantiasa menyambutnya dari kejauhan. Namun, pada Minggu pagi, 9 Agustus 2026, pemandangan di Alun-Alun Wonosobo terasa sangat berbeda. Ada riak kekecewaan yang tertinggal di udara, berhembus pelan bersama angin dingin yang membawa puluhan balon bermuatan pesan-pesan tak biasa.
Sekitar 30 balon udara mengangkasa pagi itu. Namun, bukannya menampilkan warna-warni megah motif batik geblek renteng, corak ragam hias khas pegunungan, atau lukisan abstrak bernilai seni tinggi karya pegiat lokal, balon-balon tersebut mendadak berubah fungsi menjadi papan iklan raksasa di angkasa. Tema-tema program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Rumah Gizi Merah Putih, Jembatan Garuda, hingga Sekolah Rakyat terpampang dengan sangat jelas. Bahkan, potret wajah Presiden, sejumlah pejabat, serta logo organisasi masyarakat mendominasi visual di udara.
Acara yang digagas oleh relawan Gerakan Mantep Pilih Prabowo (GMPP) dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo tersebut seketika memicu gelombang kritik pedas, baik dari penonton yang memadati lapangan maupun warganet di media sosial. Tradisi luhur yang dijaga bermandi keringat oleh seniman lokal selama belasan tahun dinilai telah dipolitisasi dan kehilangan marwah budayanya.
Menyisir Tradisi: Seperti Apa Sebenarnya Balon Udara Wonosobo?
Untuk memahami mengapa masyarakat begitu gusar dengan sajian pagi itu, orang harus lebih dulu menyelami betapa dalamnya akar tradisi balon udara bagi warga Wonosobo. Terbangnya balon udara di tanah dingin ini bukanlah fenomena kemarin sore yang lahir dari ide korporat, apalagi panggung politik. Ini adalah warisan turun-temurun yang lahir dari kehangatan silaturahmi warga lokal.
Secara historis, tradisi menerbangkan balon udara tradisional di Wonosobo bermula dari perayaan Hari Raya Idulfitri atau yang dikenal dengan tradisi Syawalan. Usai menunaikan ibadah puasa dan saling memaafkan, warga di desa-desa seperti Kembaran, Kalikajar, hingga Kertek berkumpul di lapangan terbuka. Penerbangan balon udara menjadi simbol rasa syukur yang membumbung tinggi ke angkasa, sekaligus penanda kemeriahan hari kemenangan. Dahulu, balon dibuat dari kertas minyak sederhana yang direkatkan dengan lem pati, lalu diterbangkan menggunakan asap dari pembakaran jerami atau sabut kelapa.
Membuat satu balon udara tradisional membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Ini adalah bentuk nyata kerja kolektif pemuda karang taruna dan tetua desa. Dari proses merancang pola di atas kertas atau kain, memotong, menjahit, hingga melukis motif-motif rumit—semuanya dilakukan atas dasar kebanggaan kampung dan semangat gotong royong. Dana yang digunakan pun murni berasal dari swadaya masyarakat sekitar. Bagi warga setempat, saat balon karya desanya dapat mengudara dengan mulus dan indah, ada rasa haru serta kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan nilai materi.
Di masa lalu, balon-balon ini memang dilepas liar ke udara. Namun, seiring meningkatnya jalur penerbangan komersial di ruang udara Jawa Tengah, tradisi ini sempat terancam dilarang oleh pihak berwenang karena berisiko mengganggu keselamatan penerbangan. Tak kehilangan akal, Komunitas Balon Udara Wonosobo bersama Pemerintah Kabupaten, AirNav Indonesia, dan Kementerian Perhubungan berkolaborasi mencari jalan tengah.
Lahirlah sistem balon ditambat atau tethered balloon, di mana balon tetap dapat mengudara anggun pada ketinggian maksimal 150 meter dengan terikat tali penambat. Sejak penyesuaian regulasi tersebut, tradisi ini justru naik kelas menjadi agenda pariwisata berkelas nasional hingga internasional tanpa sedikit pun menghilangkan akar kebudayaannya.
Kilas Balik Festival di Tahun-Tahun Sebelumnya
Guna melihat kontras yang terjadi pada Agustus 2026, kita perlu menengok kembali bagaimana atmosfer perhelatan ini diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada acara resmi seperti Festival Mudik Wonosobo yang rutin digelar saat libur Lebaran atau gelaran Java Balloon Attraction, ratusan ribu wisatawan lokal hingga mancanegara berbondong-bondong memadati lapangan sejak subuh. Udara dingin pegunungan seketika terasa hangat oleh keriuhan penonton yang menanti momen estetis saat matahari terbit.
Pada masa-masa itu, visual yang tersaji di langit adalah sebuah simfoni warna yang menakjubkan. Gambar-gambar khas motif geblek renteng, corak megamendung, hingga perpaduan warna-warna kontras melayang indah dipadu latar belakang Gunung Sindoro dan Sumbing yang megah. Tidak ada spanduk komersial mencolok yang merusak pemandangan, apalagi gambar tokoh politisi. Penyelenggaraannya murni berada di tangan komunitas lokal, pemerintah daerah, dan kementerian terkait untuk mendedikasikan panggung seluas-luasnya bagi para seniman lokal dalam menunjukkan taring kreativitas mereka.
Retaknya Harmoni: Ketika Ideologi Menggeser Tradisi
Namun, panggung budaya yang murni itu terasa retak pada perhelatan 9 Agustus. Alih-alih mendapatkan suntikan estetika budaya, publik yang datang ke Alun-Alun Wonosobo justru disuguhi pemandangan bak ajang kampanye terbuka.
Ketua Panitia Acara, Abdul Ghoni, sempat bergeming bahwa pemilihan balon udara dilakukan karena balon dianggap sebagai ikon budaya Wonosobo yang memiliki daya tarik tersendiri. Penggunaan balon tersebut dimaksudkan untuk menjadi sarana sosialisasi program-program pemerintah kepada masyarakat luas sembari memberikan hiburan. Namun, bagi para pencinta budaya dan masyarakat lokal, batas antara sosialisasi program dan eksploitasi tradisi telah dilanggar.
Sikap tegas langsung ditunjukkan oleh Komunitas Balon Udara Wonosobo. Melalui akun Instagram resminya @balonwonosobo, mereka menegaskan tidak terlibat dalam penyelenggaraan acara pada tanggal 9 Agustus tersebut dan melepaskan diri dari segala bentuk operasional kegiatan.
“Diperjuangkan dan diperkenalkan ke penjuru negeri selama bertahun tahun, rusak begitu saja oleh kepentingan politik. #savebalonwonosobo,” tulis akun tersebut.
Komunitas menegaskan bahwa sejak pertama kali berdiri, mereka selalu menjaga sikap netral dan tidak pernah berafiliasi dengan organisasi masyarakat, partai politik, maupun kegiatan politik praktis mana pun. Mereka menambahkan bahwa agenda resmi yang benar-benar mereka naungi hanyalah event murni kebudayaan seperti Festival Mudik dan Java Balloon Attraction.
Pihak komunitas juga mempertanyakan konsep acara pada tanggal 9 Agustus tersebut secara terbuka kepada publik.
“Jujur siapa yang kemarin datang ke acara festival balon tanggal 9 Agustus dan pulang bawa rasa kecewa?” ungkap unggahan akun tersebut.
“Kita sama, ekspektasi kita datang buat lihat keindahan dan kreativitas motif asli anak Wonosobo. Tapi realitanya, 90% balonnya malah jadi ajang buat kampanye politik,” ujar narator dalam video yang diunggah akun komunitas.
“Banyak banget rekan dan kerabat yang bilang, sayang sekali balon sekarang buat politik, balon Wonosobo jadi kehilangan marwah. Bahkan gak sedikit yang menyatakan mereka hilang respect,” lanjutnya.
Komunitas kemudian mengajak masyarakat untuk tetap solid mendukung para seniman lokal di acara-acara yang murni bertujuan melestarikan budaya, agar ajang politik tidak merusak keindahan tradisi yang telah lama dibangun.
Suara Publik dan Kekhawatiran “Inflasi” Event
Kekecewaan ini berbuntut panjang di jagat media sosial. Gelombang tanggapan warganet memperlihatkan betapa masyarakat lokal sangat protektif terhadap identitas kebudayaan mereka.
Salah satu pengguna media sosial yang mengaku bagian dari komunitas balon udara Wonosobo, @pranataadityaaa_, menegaskan kembali bahwa acara tersebut murni diinisiasi oleh pihak ormas dan relawan, bukan merupakan agenda resmi dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo maupun komunitas balon.
“Temen temen semua itu bukan acara dari pemkab wonosobo nggih itu murni dari pihak jatubu dan gmpp bisa di katakan Ormas monggo ketua panitianya klarifikasidong,” tulis @pranataadityaaa_.
Kritik tajam juga mengarah pada dominasinya muatan politik dalam festival tersebut. Warganet menilai unsur politis yang terlalu pekat justru merusak esensi acara.
“Event balon sengaja dibuat untuk NDOLOP ke Prabowo, intinya itu. Kalau dari 20 balon yang 2 balon ada gambar relawan dan prabowo its okey lah, ini semuanya politis,” tulis @nawaabd****.
Tak hanya soal muatan politik, sebagian warganet juga menyoroti frekuensi penerbangan balon yang kini makin sering diadakan di luar agenda tradisi tahunan, yang dinilai merusak keistimewaan tradisi tersebut.
“Sekarang serasw hambar min.. Yg harusnya setahun sekali… Miah berkali” Kesannya jdi pasaran dan membosankan… Ayo min… Perjuangkan,” tulis @rizkiandri****.
Ada pula warganet yang melihat fenomena ini dari sudut pandang ketidakmatangan strategi komunikasi program pemerintah.
“Haus Banget Validasi artinya mereka tidak percaya diri dengan programnya, sesuatu yang dimulai dengan tanpa perencanaan ya akan tetap semrawut,” tulis
@pojokken***.
Menjaga Ketinggian Marwah Balon Wonosobo
Polemik yang terjadi pada pertengahan Agustus 2026 ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak. Festival Balon Udara Wonosobo bukanlah sekadar tontonan kain membumbung dan udara panas; ia adalah jiwa dari masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, estetika, dan penghormatan pada tradisi lokal. Ketika sebuah tradisi dipaksa membawa beban pesan politik praktis, warna-warninya yang indah mendadak pudar menjadi abu-abu.
Peristiwa ini membuktikan bahwa budaya lokal memiliki benteng pertahanannya sendiri, yaitu nurani masyarakat dan para senimannya. Tagar #savebalonwonosobo dan gelombang kritik di media sosial menjadi bukti perlawanan sunyi dari warga yang rindu akan langit Wonosobo yang murni—langit yang dihiasi oleh murni karya seni, sanubari gotong royong, dan kebebasan ekspresi tanpa tumpangan kepentingan kelompok tertentu.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









