Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib

Senin, 2 November 2026 14:03 WIB

Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia

Senin, 2 November 2026 13:37 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Senin, 2 November 2026 13:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib
  • Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia
  • Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini
  • Persib Gilas Isenmulang 4-0, Runje: Mental Pemain Luar Biasa!
  • Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik
  • Cuma Butuh Hasil Seri di Australia! Ini Skenario Mulus Persib Melenggang ke 16 Besar ACL 2
  • Jadwal Padat Persib, Bobotoh Soroti Risiko Cedera dan Pentingnya Recovery
  • Awal November, BMKG Prediksi Hujan Sedang hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Jabar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 2 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Niat Baik Dibalas Dugaan Intimidasi, Ketika Murid di Kudus Surati Presiden Tolak MBG Demi Guru

By Aga GustianaKamis, 9 April 2026 09:29 WIB5 Mins Read
Muhammad Rafif Arsya Maulidi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah sudut ruang kelas SMK NU Miftahul Falah Cendono, Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi mungkin tidak pernah menyangka bahwa rangkaian kalimat yang ia susun dengan penuh takzim untuk orang nomor satu di republik ini akan mengubah hidupnya dalam sekejap. Siswa kelas XI tersebut mendadak menjadi pusat badai digital dan sosial setelah surat terbukanya kepada Presiden Prabowo Subianto viral di jagat maya.

Namun, alih-alih mendapatkan apresiasi atas keberaniannya berpendapat, remaja yang akrab disapa Arsya ini justru harus berhadapan dengan bayang-bayang ancaman dan tekanan yang memaksa dirinya sempat bersembunyi dari ruang publik.

Nurani di Balik Penolakan

Semuanya bermula dari sebuah pemikiran kritis yang lahir dari pengamatan sehari-hari. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu pilar kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, seharusnya menjadi kabar gembira bagi pelajar di seluruh Indonesia. Namun, bagi Arsya, ada prioritas lain yang menurutnya jauh lebih mendesak: kesejahteraan para gurunya.

Dengan kalkulasi sederhana namun menyentuh, Arsya menghitung nilai manfaat yang akan ia terima jika ia terus mengikuti program tersebut hingga lulus.

“Saat ini saya masih memiliki sekitar satu setengah tahun masa belajar di SMK. Jika dihitung secara sederhana, (18 bulan x 25 hari x Rp 15 ribu = Rp 6.750.000),” ujarnya saat dikonfirmasi.

Angka Rp6,75 juta itu mungkin terlihat kecil dalam skala APBN, namun bagi Arsya, nominal tersebut memiliki makna besar jika diserahkan kepada mereka yang mendidiknya. Dalam surat terbukanya, ia menuliskan permintaan yang jarang terdengar dari bibir seorang siswa:

Baca Juga:  Insiden Dugaan Keracunan MBG Terjadi Lagi di Cianjur, Puluhan Siswa Jadi Korban

“Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” tulis Arsya dalam suratnya.

Ia menambahkan sebuah harapan yang tulus agar anggaran tersebut bisa dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru, terutama yang berstatus honorer.

“Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” kata Rafif.

Keberanian ini bukan tanpa akar. Arsya tumbuh di keluarga sederhana; ayahnya seorang buruh dan ibunya ibu rumah tangga. Ia mengaku dididik untuk selalu menghargai jasa orang lain. Baginya, melihat guru yang tetap berdedikasi meski hidup dalam keterbatasan ekonomi adalah pemandangan yang mengiris hati.

Teror di Balik Layar Ponsel

Sayangnya, idealisme Arsya tidak diterima dengan tangan terbuka oleh semua pihak. Tak lama setelah suratnya menghiasi beranda media sosial, ruang pribadinya di dunia maya mulai diserbu pesan-pesan gelap. Direct Message (DM) Instagram miliknya yang biasanya berisi percakapan kawan sebaya, berubah menjadi medan intimidasi.

Arsya mengaku menerima ancaman dari akun-akun tak dikenal yang mencoba menciutkan nyalinya.

“Saya dapat pesan di Instagram, isinya ancaman dari seseorang yang mengaku punya bekingan, tetapi saya merasa saya tidak bersalah,” tutur Arsya dengan nada getir.

Bukan sekadar ancaman kosong, pesan-pesan tersebut berisi ujaran kebencian yang sangat kasar. Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang mendampingi Arsya, mengungkapkan betapa kasarnya serangan yang diterima siswa tersebut. Salah satu pesan yang masuk bahkan menantang Arsya untuk beradu fisik:

“Senggol di depanku sini. Berani DM aku apa tidak? Njing, an*ing?” dan “Suruh bicara di depanku, biar kuludahi.”

Baca Juga:  Babak Baru Skandal MBG: Eks Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya Siap 'Bernyanyi', Seret Elite Politik!

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa intimidasi tersebut diduga berasal dari oknum karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG di lingkungan sekolahnya. Tekanan ini membuat mental remaja tersebut terguncang. Ketakutan akan keselamatannya membuat Arsya memutuskan untuk tidak masuk sekolah selama dua hari, yakni pada 4–5 April 2026. Kepala sekolah, Tri Lestari, mengonfirmasi bahwa Arsya telah meminta izin demi menjaga keamanan dirinya.

Tekanan Institusi dan Simpang Siur Pihak Sekolah

Masalah tidak berhenti pada pesan singkat di media sosial. Tiyo Ardianto mengungkapkan adanya dugaan tekanan dari internal pihak sekolah yang meminta Arsya untuk menghapus unggahan surat tersebut agar kegaduhan mereda.

“Sempat ada permintaan untuk dihapus. Tapi Arsya menolak. Sesudahnya tidak ada lagi usaha untuk membungkam Arsya,” ungkap Tiyo.

Namun, klaim ini dibantah oleh perwakilan sekolah. Salah seorang guru menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah melakukan upaya penekanan atau pembungkaman terhadap hak berpendapat siswa mereka. Hingga kini, klarifikasi lebih lanjut dari kepala sekolah masih terus diupayakan untuk menjernihkan suasana yang telanjur keruh di mata publik.

Gelombang Dukungan Publik

Di tengah intimidasi yang mencekam, Arsya tidak sendirian. Netizen Indonesia memberikan dukungan masif. Banyak yang kagum dengan empati seorang pelajar SMK yang dianggap lebih matang dibandingkan para pemangku kebijakan.

Salah satu komentar netizen yang viral berbunyi: “Bahkan seorang siswa SMK, memiliki rasa empati dan rasionalitas yang waras jauh di atas jajaran para menteri dan kepala pemerintahan.” Yang lain menambahkan, “@prabowo bangga pak.. punya calon penerus bangga seperti adek ini.. baik adab nya, cerdas pikiranya…”

Dukungan juga datang dari birokrasi. Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus, Putut Winarno, memberikan pernyataan tegas bahwa menyatakan pendapat adalah hak setiap warga negara, termasuk pelajar.

Baca Juga:  Menu MBG Kelapa Utuh Jadi Sorotan: Siswa Dapat Makanan Bergizi Plus Bonus Angkat Beban

“Sebenarnya itu kan tidak masalah, menyampaikan pendapat, karena saya lihat anak tersebut memang kritis,” jelas Putut.

Pemerintah daerah melalui unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) berkomitmen untuk memberikan pendampingan psikologis dan perlindungan hukum bagi Arsya agar ia bisa kembali bersekolah tanpa rasa takut.

Cermin Buram Demokrasi di Sekolah

Kasus Arsya menjadi cermin bagi kondisi demokrasi dan kebebasan berpendapat di tingkat institusi pendidikan. Mengapa sebuah saran tulus untuk kesejahteraan guru harus dibalas dengan makian dan ancaman “bekingan”?

Arsya hanyalah seorang anak buruh yang ingin gurunya hidup lebih layak. Ia tidak membakar sekolah, ia hanya menulis surat. Jika di tingkat sekolah saja suara kritis dipandang sebagai ancaman yang harus dibungkam dengan intimidasi, maka perjalanan bangsa ini menuju “Indonesia Emas” mungkin masih terganjal oleh ego dan ketidaksiapan menerima perbedaan.

Kini, publik menunggu respons dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan pihak Istana. Apakah Presiden Prabowo akan mendengar suara dari Kudus ini, ataukah Arsya akan tetap menjadi “pelajar pemberani” yang harus menanggung beban sendirian di balik layar ponselnya? Satu yang pasti, Arsya telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa adab dan empati tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya jabatan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Makan Bergizi Gratis
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik

Awal November, BMKG Prediksi Hujan Sedang hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Jabar

Viral Video Pasien Diduga Ditelantarkan di Puskesmas Majalengka, Kadinskes Buka Suara

Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat

Ancaman Musim Hujan di Cimahi, Dari Puting Beliung Hingga Potensi Pergerakan Tanah

Terpopuler
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.