Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Sekadar Nama Jalan! Deretan Jalan di Bandung Ini Jadi Surga Kuliner dan Wisata Urban

Senin, 15 Juni 2026 03:00 WIB

Viral di Media Sosial! Siapa Sebenarnya Cut Salwa dan Cut Salsa yang Bikin Geger Ini?

Senin, 15 Juni 2026 01:00 WIB

Gondrong Pakai Bando dan Ngopi di Warung, Karier Sepak Bola Evan Dimas Sudah Habis?

Minggu, 14 Juni 2026 20:51 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Sekadar Nama Jalan! Deretan Jalan di Bandung Ini Jadi Surga Kuliner dan Wisata Urban
  • Viral di Media Sosial! Siapa Sebenarnya Cut Salwa dan Cut Salsa yang Bikin Geger Ini?
  • Gondrong Pakai Bando dan Ngopi di Warung, Karier Sepak Bola Evan Dimas Sudah Habis?
  • Luar Biasa! Irfan Hakim Sapu Bersih Gelar di Koi Show 2026, Kohaku Jadi Bintang Utama
  • Video Full Durasi Cut Salwa di Hotel Banyak Diburu, Apa Isinya?
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Persib Masih Kena Transfer Ban FIFA! Bursa Transfer Maung Bandung Terancam Kacau?
  • Jangan Sampai Terlambat! WhatsApp akan Blokir Akses di iPhone dengan iOS Versi Ini
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 15 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Orang Tua Diminta Waspada, Jabar Masuk Provinsi dengan Anak Terpapar Radikalisme Tertinggi Kedua di Indonesia

By SusanaKamis, 20 November 2025 11:41 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rizal Fadillah/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jawa Barat kini tercatat sebagai provinsi dengan jumlah anak terpapar paham radikal tertinggi kedua di Indonesia, setelah Jakarta.

Data dari Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam satu dekade terakhir.

Pada periode 2011-2017, hanya terdapat 17 anak yang diamankan terkait jaringan teror. Namun pada 2025, jumlahnya melonjak menjadi 110 anak dari 23 provinsi, dengan rentang usia 10–18 tahun. Anak-anak tersebut direkrut melalui jaringan daring tanpa pertemuan fisik sama sekali.

Tingginya Risiko Terkait Aktivitas Digital dan Media Sosial

Baca Juga:  Penertiban Warung Ciater, Pakar Ingatkan Dampak Ekonomi Warga

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai tingginya temuan kasus radikalisme di Jabar berkaitan dengan karakteristik demografi dan tingginya aktivitas digital masyarakat.

“Angka penggunaan media sosial di Jawa Barat termasuk yang tertinggi. Sekarang memahami kelompok manapun dalam kehidupan sehari-hari tidak harus melalui pertemuan fisik,” ujar Dedi di Gedung Sate, Bandung, Rabu (19/11/2025).

Dedi mencontohkan kasus radikalisme di sebuah SMA di Jakarta sebagai ilustrasi bagaimana anak-anak bisa terpapar konten ekstrem secara daring.

Baca Juga:  Jabar Jadi Provinsi dengan PHK Terbanyak, Ini Kata Dedi Mulyadi

“Contohnya kasus di SMA 72 Jakarta, anak-anak dibully sampai ada yang membuat bom. Ini menunjukkan betapa mudahnya anak mengakses konten ekstrem,” jelasnya.

Orang Tua dan Sekolah Memegang Peran Kunci

Menurut mantan Bupati Purwakarta itu, peran orang tua sangat krusial dalam mencegah anak terpapar radikalisme, karena aktivitas daring umumnya berlangsung di ruang privat.

“Yang paling besar perannya adalah orang tua, untuk mengawasi dan mengendalikan penggunaan media sosial oleh anak-anak,” ujar Dedi.

Selain orang tua, sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melarang siswa SMP membawa gawai ke sekolah, meski penerapannya masih menemui kendala.

Baca Juga:  25 Tahun Menanti Perhatian: Anak-anak Citamiang Garut dan Jalan Terjal Menuju Sekolah

Dedi menambahkan, pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan lembaga pendidikan untuk memantau aktivitas digital pelajar, seiring meningkatnya risiko perekrutan radikal melalui internet.

“Kita sudah tegas, SMP tidak boleh bawa gawai. Namun praktik di lapangan masih menantang karena orang tua memberi izin. Hak personal anak tetap harus dihormati,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

aktivitas digital anak dan radikalisme anak terpapar radikalisme Jawa Barat Dedi Mulyadi Densus 88 laporan radikalisme anak
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Luar Biasa! Irfan Hakim Sapu Bersih Gelar di Koi Show 2026, Kohaku Jadi Bintang Utama

Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri

Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?

Hasil PCMB Jabar 2026 Resmi Diumumkan, Ini Aturan Wajib Daftar Ulang atau Calon Siswa Bisa Gugur

Viral! Pencopetan di Mal Bandung Terekam CCTV, iPhone 17 Pro Max Raib Usai Salat Magrib

Rampok Uang Negara Rp18 Miliar, Ternyata Segini Isi Garasi dan Total Harta Wabup Indramayu

Terpopuler
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
  • Viral Eza Gionino Bogem Robby Tremonti hingga Ajak Duel Tinju, Dipicu Masalah Sensitif Ini?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.