Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan

Sabtu, 10 Oktober 2026 21:02 WIB

Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!

Sabtu, 10 Oktober 2026 20:56 WIB
Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Sabtu, 10 Oktober 2026 20:46 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan
  • Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
  • Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit
  • Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust
  • The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

25 Tahun Menanti Perhatian: Anak-anak Citamiang Garut dan Jalan Terjal Menuju Sekolah

By Aga GustianaRabu, 5 November 2025 09:27 WIB5 Mins Read
Viral anak-anak di Ciamiang Garut harus menempuh perjalananan jauh untuk menuju ke sekolah.
Viral anak-anak di Ciamiang Garut harus menempuh perjalananan jauh untuk menuju ke sekolah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketika sebagian besar pelajar Jawa Barat kini menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekelompok anak di pelosok Garut justru masih harus berjuang menembus gelap setiap pagi demi menuntut ilmu. Di Kampung Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Garut Selatan, rutinitas berjalan kaki sejauh belasan kilometer menuju sekolah bukanlah hal baru — melainkan tradisi getir yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.

Setiap subuh, sebelum cahaya matahari menembus lembah, langkah-langkah kecil itu mulai terdengar di jalan setapak kampung. Dalam gelap yang masih pekat, suara sandal yang menyapu tanah lembab berpadu dengan gemerisik daun hutan. Anak-anak itu — sebagian baru duduk di bangku sekolah dasar — berjalan beriringan, ditemani orang tua yang membawa penerangan seadanya: senter atau lampu kecil dari botol plastik bekas.

“Sudah lebih dari 25 tahun seperti ini,” tulis seorang pengguna TikTok dengan nama akun @jhunnazza, yang membagikan kisah mereka dan membuat publik tersentak. “Bukan soal kebijakan masuk sekolah jam 06.30 pagi, tapi siswa dari Kampung Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, sudah terbiasa berangkat dari subuh sejak dulu.”

Perjalanan Panjang Menuju Sekolah

Sekolah terdekat bagi mereka hanyalah SDN 1 Cikondang, yang berjarak sekitar dua jam berjalan kaki dari rumah. Jalanan menuju ke sana menembus kebun kopi, semak belukar, hingga hutan dengan kontur tanah licin dan menanjak. Tak jarang mereka berpapasan dengan binatang liar seperti monyet atau babi hutan.

Bagi sebagian besar anak di perkotaan, perjalanan semacam ini mungkin terdengar seperti kisah dari masa lalu. Namun bagi warga Citamiang, inilah realitas masa kini — tahun 2025, ketika sebagian sekolah di kota besar tengah berdebat soal jam masuk pagi dan sarapan bergizi, anak-anak ini masih berpacu melawan waktu dan gelap untuk sekadar tiba di kelas.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Dorong Anak Sekolah Jalan Kaki, Larang Orang Tua Menunggu di Sekolah

“Sebelum jam enam mereka sudah di jalan, karena kalau telat sedikit, bisa ketinggalan pelajaran,” kata salah satu warga dalam video yang diunggah akun tersebut. “Kadang anak-anak berangkat tanpa sarapan karena waktu tidak cukup.”

Mereka menempuh perjalanan itu setiap hari, tanpa transportasi umum, tanpa jalan beraspal, dan tanpa jembatan memadai di beberapa titik sungai kecil. Kondisi infrastruktur yang nyaris tak tersentuh pembangunan membuat Citamiang seperti dunia yang terpisah dari Garut modern yang ramai wisatawan.

Kampung di Tengah Sunyi

Kampung Citamiang terletak di kawasan perbukitan Garut Selatan, wilayah yang kerap disebut “punggung terjauh” Jawa Barat. Lokasinya terpencil, jauh dari pusat pemerintahan kecamatan, dengan akses jalan tanah dan sinyal telepon yang sering hilang. Warga hidup sederhana sebagai petani dan buruh kebun, sementara anak-anak menjadi simbol keteguhan di tengah keterbatasan.

Kisah mereka viral setelah video perjalanan subuh itu menyebar di media sosial, diunggah pada awal November 2025. Dalam video berdurasi satu menit, terlihat anak-anak berjalan membawa tas sekolah besar di punggung, diterangi cahaya lampu kecil. Orang tua menuntun mereka dengan langkah pelan, memastikan tidak ada yang terperosok ke jurang atau tersandung akar pohon.

Narasi yang menyertai video itu memantik rasa haru sekaligus getir: “Sudah 25 tahun anak-anak di Citamiang berjalan seperti ini. Belum ada perhatian, belum ada perubahan.”

Suara yang Tak Kunjung Didengar

Unggahan tersebut juga menyebutkan harapan agar pemerintah provinsi, terutama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menaruh perhatian. Namun hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten.

Baca Juga:  BKPRMI Mart Hadir di Cimahi, Dongkrak Eksistensi Produk UMKM

“Harapan kami sebagai orang tua siswa, ada sedikit perhatian dari pemerintah terkait, karena ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun dan tidak pernah ada perhatian,” tulis akun yang sama. Dalam unggahan lain, ia menandai akun sang gubernur: “Pak Dedi punten, coba tinggali perjuangan anak-anak sekolah Kampung Citamiang.”

Seruan itu direspons ribuan warganet. Banyak yang merasa terenyuh dan ikut membagikan video tersebut, berharap suaranya sampai kepada pejabat terkait. Salah satu pengguna menulis, “Pak, ini sudah 2025 loh. Masa masih ada anak sekolah yang jalan kaki dua jam tiap hari? Sehat sih, tapi kesenjangan begini nggak bisa dibiarkan.”

Warganet lainnya menambahkan doa dan dukungan:

“Kalian semua hebat! Semoga kelak jadi orang sukses,” tulis akun @syta_rose.

“Sukses untuk adik-adik Citamiang,” tambah akun @exsanofficial.

Namun di balik simpati dan doa, kegelisahan tetap menggema: mengapa kondisi seperti ini bisa bertahan hingga seperempat abad tanpa perubahan berarti?

Bayangan Ketertinggalan

Kisah Citamiang seolah menjadi potret kecil dari wajah ketimpangan pendidikan di daerah terpencil Jawa Barat. Ketika sebagian wilayah menikmati program modernisasi sekolah dan fasilitas digital, ada titik-titik sunyi di mana anak-anak masih harus melawan jarak dan gelap demi selembar ijazah SD.

Kondisi geografis Garut Selatan yang berbukit dan terpisah oleh hutan membuat banyak kampung di sana sulit dijangkau kendaraan. Namun keterpencilan bukan satu-satunya alasan. Minimnya perhatian kebijakan publik terhadap daerah terisolasi membuat masyarakat di sana seperti hidup di luar radar pembangunan.

Baca Juga:  Polisi yang Tangkap Taufik Hidayat, Dedi Mulyadi Khawatir Hadiah Rp250 Juta Langgar Aturan Aparat

Program infrastruktur pendidikan yang dicanangkan pemerintah provinsi selama beberapa tahun terakhir tampak belum menyentuh wilayah seperti Citamiang. Sekolah terdekat pun belum memiliki asrama atau transportasi siswa yang bisa mengurangi jarak tempuh mereka.

Sementara itu, para guru yang mengajar di SDN 1 Cikondang juga menghadapi tantangan serupa. Mereka harus menempuh perjalanan panjang dan bergantung pada cuaca. Ketika hujan turun, jalanan menjadi licin dan berbahaya, membuat banyak murid absen bukan karena malas, melainkan karena alam memaksa mereka berhenti.

25 Tahun Menunggu Perhatian

Bagi warga Citamiang, perjuangan itu bukan sekadar kisah heroik, melainkan realitas yang melelahkan. Dalam 25 tahun terakhir, banyak generasi anak kampung yang tumbuh dengan cerita sama: berjalan kaki subuh, melewati hutan, pulang sore dengan kaki berlumpur, lalu kembali mengulang esok hari.

“Sudah dari bapak-bapak mereka dulu begitu,” ujar seorang warga dalam unggahan tersebut. “Kami hanya berharap anak-anak kami tidak perlu mengalami hal yang sama terus-menerus.”

Di tengah riuhnya kebijakan baru pendidikan di Jawa Barat, kisah Citamiang menjadi semacam cermin yang memantulkan ketimpangan nyata di lapangan. Ketika wacana reformasi sekolah digembar-gemborkan di kota, di sudut Garut Selatan masih ada anak-anak yang harus memulai pelajaran mereka dengan dua jam perjalanan di kegelapan.

Hingga kini, belum ada kabar tindakan nyata dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun dari Gubernur Dedi Mulyadi. Kampung Citamiang tetap sunyi, jauh dari sorotan, sementara langkah-langkah kecil itu setiap pagi masih setia menembus hutan — mencari ilmu, sambil berharap suatu hari nanti, perjuangan mereka tak lagi berjalan sendirian.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HL jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif

Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.