bukamata.id – Pemerintah Kota Bandung menyoroti penerapan kebijakan subsidi berdasarkan kelompok desil masyarakat, khususnya bagi warga yang masuk desil 9 dan 10. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan kelompok tersebut dikategorikan sebagai masyarakat yang sudah mampu sehingga tidak lagi dapat menikmati sejumlah subsidi, termasuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Farhan meminta penerapan kebijakan tersebut dilakukan secara hati-hati karena kondisi ekonomi warga yang tercatat dalam data desil belum tentu sepenuhnya menggambarkan keadaan mereka di lapangan.
“Desil 9 dan desil 10 ini adalah mereka yang dianggap sudah mampu dan memiliki pendapatan yang tetap. Nah, untuk itu memang kami akan mencermati di lapangan secara sangat hati-hati mengenai penerapan-penerapan aturan terhadap desil 9 dan desil 10 ini,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, konsekuensi dari masuknya seseorang ke desil 9 atau 10 adalah berkurangnya akses terhadap sejumlah subsidi pemerintah, salah satunya subsidi BBM.
“Memang salah satu konsekuensinya adalah kita tidak bisa menikmati langsung subsidi-subsidi, khususnya subsidi BBM,” katanya.
Farhan menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena kebijakan subsidi memiliki kaitan langsung dengan daya beli dan perputaran ekonomi masyarakat.
Ia juga mengingatkan adanya kemungkinan ketidaksesuaian antara data yang tercatat dengan kondisi ekonomi sebenarnya di lapangan.
“Persoalannya, di lapangan itu banyak masyarakat yang tidak sesuai dengan kondisi kenyataannya,” ujarnya.
Farhan Justru Soroti Transisi Desil 5 ke 6
Di tengah pembahasan mengenai warga desil 9 dan 10, Farhan mengatakan ada kelompok lain yang menurutnya tidak kalah penting untuk diperhatikan, yakni masyarakat yang berada pada transisi desil 5 ke desil 6.
Menurut Farhan, kelompok tersebut justru berada dalam posisi rentan karena ketika naik ke desil 6, mereka berpotensi kehilangan akses terhadap bantuan tertentu. Padahal, peningkatan kategori desil belum tentu berarti kondisi ekonomi keluarga tersebut sudah benar-benar membaik.
“Kalau desil 9-10 kan tidak bisa menikmati subsidi. Kalau desil 5 ke desil 6, ini adalah tidak bisa menerima bantuan. Padahal posisinya juga sangat jauh lebih rentan,” kata Farhan.
Karena itu, ia menegaskan Pemkot Bandung tidak hanya akan mencermati dampak kebijakan terhadap masyarakat desil 9 dan 10, tetapi juga memperhatikan warga yang mengalami perubahan kategori dari desil 5 menuju desil 6.
“Jadi buat kami, isu desil 9-10 penting, namun kami juga tidak mungkin mengabaikan isu transisi desil 5 ke desil 6. Demikian juga sebaliknya,” tuturnya.
Pemkot Pantau Kondisi Warga di Kewilayahan
Untuk memastikan data dan kondisi masyarakat dapat terus dipantau, Farhan mengatakan Pemkot Bandung akan memperkuat pemantauan di tingkat kewilayahan.
Ia menyebut keberadaan sistem dan aktivitas kewilayahan, termasuk Siskamling Siaga Bencana, dapat menjadi salah satu sarana untuk mengetahui kondisi warga secara lebih dekat.
“Ya, mencermati kewilayahan. Itu sebabnya saya kan masih jalan tuh, Siskamling Siaga Bencana, untuk memastikan bahwa warga di setiap kewilayahan itu bisa menyampaikan aspirasinya,” jelasnya.
Menurut Farhan, masyarakat dapat menyampaikan apabila mengalami kesulitan maupun perubahan kondisi ekonomi yang tidak tercermin dalam data.
Ia juga menyebut terdapat mekanisme yang dapat digunakan masyarakat untuk melaporkan perubahan kondisi atau kategori desil melalui kanal yang disediakan pemerintah pusat.
“Kalau saya nggak salah, itu ada yang namanya website untuk melaporkan tentang perubahan desil tersebut,” katanya.
Farhan menegaskan, perhatian Pemkot Bandung tidak berhenti pada persoalan siapa yang berhak mendapatkan subsidi. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat yang berada di garis transisi tidak kehilangan perlindungan ketika kondisi ekonominya belum sepenuhnya stabil.
“Yang paling penting adalah bahwa instrumen-instrumen untuk berbagai macam bantuan, terutama sekali lagi ya transisi desil 5 dan desil 6, itu bisa tertangani dengan baik,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









