Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Mudah banget, cara mendapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game di HP.

Cara Berburu Saldo DANA Gratis 13 September 2026, Amankan Cuan Tambahan Hari Ini!

Minggu, 13 September 2026 02:00 WIB

Klaim Cepat Kode Redeem FF 13 September 2026, Sikat Berbagai Hadiah Menariknya!

Minggu, 13 September 2026 01:00 WIB

Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu

Sabtu, 12 September 2026 23:16 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cara Berburu Saldo DANA Gratis 13 September 2026, Amankan Cuan Tambahan Hari Ini!
  • Klaim Cepat Kode Redeem FF 13 September 2026, Sikat Berbagai Hadiah Menariknya!
  • Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu
  • Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga
  • Takluk dari Persija 2-1, Igor Tolic Soroti Celah Lini Belakang Persib
  • Akhir Perjalanan Kangen Band: Dodhy Umumkan Bubar Akibat ‘Kezaliman’ dan Larang Nyanyikan Lagunya
  • Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!
  • BOSS Cabaret Festival 2026 Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak Muda
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 13 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Karasa, Gerakan Urban Farming yang Ubah Wajah Ketahanan Pangan Kota Bandung

By Putra JuangRabu, 20 Mei 2026 15:09 WIB4 Mins Read
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketahanan pangan di Kota Bandung kini tidak lagi identik dengan lahan luas atau pertanian berskala besar. Dari halaman rumah, gang sempit hingga sudut permukiman warga, tumbuh sebuah gerakan sederhana yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, yakni Buruan Sae.

Program urban farming yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung itu berkembang menjadi gerakan kolektif warga dalam membangun kemandirian pangan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial di tengah perkotaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, Karasa Sirkular merupakan program penguatan ekosistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang terintegrasi dengan Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Dalam skema tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos dan media tanam untuk mendukung urban farming Buruan Sae. Selanjutnya, hasil panen dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat melalui program Dahsyat.

Menurut Farhan, fokus utama Pemkot Bandung saat ini adalah memastikan rantai sirkular program berjalan konsisten sebelum mengembangkan nilai ekonominya secara lebih luas.

“Yang penting sekarang sistemnya jalan dulu. Ketika sirkulasinya sudah terbentuk baru nanti kita hitung skala ekonominya,” kata Farhan, di Balai Kota Bandung, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga:  Bandung Genjot Ekosistem Talenta Muda, Sumpah Pemuda Jadi Titik Balik Prestasi Kota

Ia mengungkapkan, semangat Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dimaknai melalui penguatan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota secara bersama-sama.

“Kemandirian ini yang ingin kita dorong kepada seluruh warga Kota Bandung, masalah di Kota Bandung harus bisa diselesaikan oleh warga Kota Bandung. Tidak saling menuding tidak saling menyalahkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menuturkan, Buruan Sae bukan sekadar program bercocok tanam di halaman rumah tetapi telah menghadirkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pangan, lingkungan dan kebersamaan sosial.

Di berbagai sudut kota, warga mulai menanam cabai di polybag, kangkung di pekarangan sempit hingga memanfaatkan kolam terpal untuk budidaya ikan lele. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi simbol bahwa pangan tetap dapat diproduksi meski di ruang terbatas.

“Buruan Sae bukan hanya soal menanam sayur di halaman rumah. Ada perubahan kebiasaan, perubahan rasa percaya diri dan tumbuhnya kesadaran baru tentang ketahanan pangan,” ujar Gin Gin.

Baca Juga:  Usung Konsep Berbeda, Campus Cafe and Games Hadir di Bandung

Ia menjelaskan, Buruan Sae kini menjadi bagian utama dari program unggulan Pemkot Bandung melalui Karasa Sirkular Bandung Utama atau Kang Pisman-Buruan Sae-Dashat.

Program tersebut mengintegrasikan pengelolaan sampah organik melalui Kang Pisman untuk mendukung kebutuhan Buruan Sae, sementara hasil panennya dimanfaatkan dalam program Dahsyat.

Menurutnya, istilah Karasa dalam bahasa Sunda berarti terasa. Filosofi itu menggambarkan manfaat program yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Karasa Sae bukan slogan administratif yang berhenti di baliho kegiatan. Dampaknya benar-benar terasa oleh warga,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, warga kini dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur secara mandiri. Cabai, kangkung, sereh dan berbagai tanaman pangan lain yang ditanam di halaman rumah membantu masyarakat lebih hemat sekaligus mendapatkan bahan pangan yang sehat.

Buruan Sae juga dinilai mampu membangun kesadaran lingkungan bagi generasi muda. Anak-anak mulai mengenal proses produksi pangan, belajar menanam dan memahami hubungan manusia dengan lingkungan sejak usia dini.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bersama Ribuan Warga Jabar Salat Idul Fitri di Lapangan Gasibu Bandung

Di sisi lain, program tersebut memperkuat hubungan sosial masyarakat. Warga yang sebelumnya jarang berinteraksi kini mulai saling bertukar bibit, berbagi kompos hingga berbagi hasil panen.

“Dari halaman rumah yang kecil, tumbuh percakapan dan kebersamaan yang perlahan hilang di kehidupan kota,” ujarnya.

Seiring perkembangannya, sejumlah kelompok Buruan Sae mulai menghasilkan nilai ekonomi tambahan. Hasil panen yang sebelumnya hanya dikonsumsi keluarga kini mulai dijual maupun diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.

Meski masih berkembang, Buruan Sae dinilai berhasil menumbuhkan keyakinan bahwa masyarakat perkotaan mampu mandiri dan berdaya dari lingkungannya sendiri.

Bagi Pemkot Bandung, Buruan Sae bukan sekadar pertanian perkotaan, melainkan gerakan membangun kembali hubungan manusia dengan pangan, lingkungan dan sesama.

“Di balik tanaman yang tumbuh di halaman rumah itu, warga sesungguhnya sedang menanam sesuatu yang lebih besar seperti rasa cukup, rasa kebersamaan dan harapan tentang kota yang lebih mandiri di masa depan,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ketahanan Pangan Kota Bandung Muhammad Farhan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu

Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga

penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Kemensos Gunakan Data Baru, 4,3 Juta Keluarga Resmi Masuk Daftar Penerima Bansos

Kaya Raya dan Ditakuti Pejabat! Sisi Lain Mentan Amran: Jago Tebak Tebu, Suka Bantu Anak Yatim Piatu

Ibu dan Bayi Baru Lahir Ditemukan Tewas di Garut, Diduga Korban Aborsi

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.