Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Job Fair Bandung 2026: Sediakan 3.019 Lowongan Kerja, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya

Rabu, 29 Juli 2026 10:12 WIB

Siapa Nabila Gardena? Selebgram Lulusan ITB Ini Terseret Kasus Korupsi Timah Rp300 Triliun

Rabu, 29 Juli 2026 10:06 WIB

Tembus Semifinal Piala Presiden 2026, Pelatih Persib Puji Mental Pemain Muda dan Singgung Jadwal Padat

Rabu, 29 Juli 2026 09:18 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Job Fair Bandung 2026: Sediakan 3.019 Lowongan Kerja, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya
  • Siapa Nabila Gardena? Selebgram Lulusan ITB Ini Terseret Kasus Korupsi Timah Rp300 Triliun
  • Tembus Semifinal Piala Presiden 2026, Pelatih Persib Puji Mental Pemain Muda dan Singgung Jadwal Padat
  • Mau Beli Emas Hari Ini? Simak Daftar Harga Perhiasan Terbaru 29 Juli 2026 Sebelum Naik Lagi
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
  • Penyaluran Bansos Segera Diuji Coba Lewat Koperasi Desa Merah Putih Akhir Agustus
  • 3 Hari Lagi Cair! Gaji Pensiunan PNS Golongan 3 dan 4 Masuk Rekening, Ini Besaran yang Diterima
  • Facebook Saingi TikTok? Tampilan Video Baru Hadir, Seller AI Bikin Penjual Lebih Mudah Cuan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 29 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Karasa, Gerakan Urban Farming yang Ubah Wajah Ketahanan Pangan Kota Bandung

By Putra JuangRabu, 20 Mei 2026 15:09 WIB4 Mins Read
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketahanan pangan di Kota Bandung kini tidak lagi identik dengan lahan luas atau pertanian berskala besar. Dari halaman rumah, gang sempit hingga sudut permukiman warga, tumbuh sebuah gerakan sederhana yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, yakni Buruan Sae.

Program urban farming yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung itu berkembang menjadi gerakan kolektif warga dalam membangun kemandirian pangan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial di tengah perkotaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, Karasa Sirkular merupakan program penguatan ekosistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang terintegrasi dengan Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Dalam skema tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos dan media tanam untuk mendukung urban farming Buruan Sae. Selanjutnya, hasil panen dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat melalui program Dahsyat.

Menurut Farhan, fokus utama Pemkot Bandung saat ini adalah memastikan rantai sirkular program berjalan konsisten sebelum mengembangkan nilai ekonominya secara lebih luas.

“Yang penting sekarang sistemnya jalan dulu. Ketika sirkulasinya sudah terbentuk baru nanti kita hitung skala ekonominya,” kata Farhan, di Balai Kota Bandung, Rabu (20/5/2026).

Ia mengungkapkan, semangat Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dimaknai melalui penguatan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota secara bersama-sama.

“Kemandirian ini yang ingin kita dorong kepada seluruh warga Kota Bandung, masalah di Kota Bandung harus bisa diselesaikan oleh warga Kota Bandung. Tidak saling menuding tidak saling menyalahkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menuturkan, Buruan Sae bukan sekadar program bercocok tanam di halaman rumah tetapi telah menghadirkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pangan, lingkungan dan kebersamaan sosial.

Di berbagai sudut kota, warga mulai menanam cabai di polybag, kangkung di pekarangan sempit hingga memanfaatkan kolam terpal untuk budidaya ikan lele. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi simbol bahwa pangan tetap dapat diproduksi meski di ruang terbatas.

“Buruan Sae bukan hanya soal menanam sayur di halaman rumah. Ada perubahan kebiasaan, perubahan rasa percaya diri dan tumbuhnya kesadaran baru tentang ketahanan pangan,” ujar Gin Gin.

Ia menjelaskan, Buruan Sae kini menjadi bagian utama dari program unggulan Pemkot Bandung melalui Karasa Sirkular Bandung Utama atau Kang Pisman-Buruan Sae-Dashat.

Program tersebut mengintegrasikan pengelolaan sampah organik melalui Kang Pisman untuk mendukung kebutuhan Buruan Sae, sementara hasil panennya dimanfaatkan dalam program Dahsyat.

Menurutnya, istilah Karasa dalam bahasa Sunda berarti terasa. Filosofi itu menggambarkan manfaat program yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Karasa Sae bukan slogan administratif yang berhenti di baliho kegiatan. Dampaknya benar-benar terasa oleh warga,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, warga kini dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur secara mandiri. Cabai, kangkung, sereh dan berbagai tanaman pangan lain yang ditanam di halaman rumah membantu masyarakat lebih hemat sekaligus mendapatkan bahan pangan yang sehat.

Buruan Sae juga dinilai mampu membangun kesadaran lingkungan bagi generasi muda. Anak-anak mulai mengenal proses produksi pangan, belajar menanam dan memahami hubungan manusia dengan lingkungan sejak usia dini.

Di sisi lain, program tersebut memperkuat hubungan sosial masyarakat. Warga yang sebelumnya jarang berinteraksi kini mulai saling bertukar bibit, berbagi kompos hingga berbagi hasil panen.

“Dari halaman rumah yang kecil, tumbuh percakapan dan kebersamaan yang perlahan hilang di kehidupan kota,” ujarnya.

Seiring perkembangannya, sejumlah kelompok Buruan Sae mulai menghasilkan nilai ekonomi tambahan. Hasil panen yang sebelumnya hanya dikonsumsi keluarga kini mulai dijual maupun diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.

Meski masih berkembang, Buruan Sae dinilai berhasil menumbuhkan keyakinan bahwa masyarakat perkotaan mampu mandiri dan berdaya dari lingkungannya sendiri.

Bagi Pemkot Bandung, Buruan Sae bukan sekadar pertanian perkotaan, melainkan gerakan membangun kembali hubungan manusia dengan pangan, lingkungan dan sesama.

“Di balik tanaman yang tumbuh di halaman rumah itu, warga sesungguhnya sedang menanam sesuatu yang lebih besar seperti rasa cukup, rasa kebersamaan dan harapan tentang kota yang lebih mandiri di masa depan,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ketahanan Pangan Kota Bandung Muhammad Farhan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

3 Hari Lagi Cair! Gaji Pensiunan PNS Golongan 3 dan 4 Masuk Rekening, Ini Besaran yang Diterima

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Jangan Sampai Terlewat! Cara Cek Bansos Kemensos 2026 Secara Online, Cukup Pakai NIK KTP

Begal

10 Hari Diburu Polisi, Begal Sadis Majalaya Akhirnya Tertangkap Usai Lukai Buruh Pabrik

Harga Bahan Pokok di Bandung Terpantau Stabil, Komoditas Cabai Kompak Turun

Heboh! Layar Videotron Publik Tiba-tiba Putar Konten Tak Senonoh

Fakta di Balik Video Viral Bendera Setengah Tiang di Tasikmalaya Jelang HUT RI

Terpopuler
  • Korps Alumni KNPI Jabar Bentuk Badan Advokasi untuk Kawal Tata Kelola Pemerintahan dan Cegah Korupsi
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Bali Is Not Your Home! Viral WNA Gelar Event Lari Ekslusif, Warga Lokal Dilarang Ikut?
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.