bukamata.id – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia menjadi sorotan serius sepanjang tahun 2026. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, total temuan kasus di tingkat nasional melonjak hingga dua kali lipat jika disandingkan dengan catatan pada rentang waktu yang sama di tahun lalu.
Per tanggal 15 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB, Jawa Barat menduduki posisi puncak sebagai wilayah dengan angka ISPA tertinggi, yakni menembus 1.858.779 kasus. Menyusul di peringkat kedua ada Jawa Tengah dengan 1.819.793 kasus, DKI Jakarta 1.241.791 kasus, Jawa Timur 1.007.305 kasus, serta Banten di angka 637.542 kasus.
Kendati data pusat menempatkan Jawa Barat di urutan teratas, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, memiliki catatan tersendiri. Ia menyatakan bahwa tren ISPA di wilayahnya sebenarnya justru menunjukkan penurunan dibandingkan periode tahun lalu.
Vini membeberkan bahwa sepanjang Januari hingga Juli 2026, akumulasi kasus ISPA di Jawa Barat berada di kisaran 1,4 juta. Angka ini susut drastis dibanding total kasus sepanjang 2025 yang hampir menyentuh 3 juta temuan.
“Sebetulnya kalau data yang saya dapatkan, di Jawa Barat tahun ini mengalami penurunan. Kalau kita malah 2025 lebih tinggi, hampir di angka 3 jutaan. Sekarang itu sekitar 1,4 juta dari Januari sampai Juli,” kata Vini, Senin (24/8/2026).
“Jadi memang tahun ini justru mengalami penurunan kalau berdasarkan data yang ada,” sambungnya.
Anak-Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Dari total 1,4 juta pasien di Jawa Barat hingga Juli 2026, kelompok anak mendominasi hampir separuh dari keseluruhan angka kesakitan, yaitu menyumbang sekitar 743.000 kasus.
“Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya ya, dari Januari sampai Juli. 50 (persen sisanya) remaja, dewasa, sama lansia. Jadi anak lebih mendominasi,” ujarnya.
Melihat tingginya tingkat penularan pada kelompok usia dini, khususnya balita, langkah pencegahan ekstra sangat diperlukan. Imunitas anak yang belum terbentuk sempurna membuat mereka lebih gampang terpapar serangan virus pencetus ISPA.
“ISPA ini kan bisa terjadi sama siapa aja, karena dia penyebabnya terbanyak virus. Jadi pada anak balita, pada remaja, pada dewasa, pada lansia,” ungkap Vini.
“Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus, ya. Karena anak itu kan rentan ya terhadap penularan ISPA,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









