Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kasus ISPA Jawa Barat Tertinggi di Indonesia, Tembus 1,8 Juta Kasus!

Senin, 24 Agustus 2026 16:31 WIB

Dari Bocah yang Nyaris Berhenti, Jonatan Christie Kini Jadi Raja Tunggal Putra Dunia

Senin, 24 Agustus 2026 16:04 WIB

Warga Desil 9-10 Tak Lagi Dapat Subsidi BBM, Pemkot Bandung Soroti Akurasi Data

Senin, 24 Agustus 2026 15:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kasus ISPA Jawa Barat Tertinggi di Indonesia, Tembus 1,8 Juta Kasus!
  • Dari Bocah yang Nyaris Berhenti, Jonatan Christie Kini Jadi Raja Tunggal Putra Dunia
  • Warga Desil 9-10 Tak Lagi Dapat Subsidi BBM, Pemkot Bandung Soroti Akurasi Data
  • Kisah Tahun Gajah dan Lahirnya Nabi Muhammad SAW yang Menyimpan Pelajaran Berharga
  • Farhan Klaim Penertiban PKL Belum Picu Lonjakan Pengangguran di Bandung
  • Pindah Stadion Tanpa Penonton, Ramon Tanque Tegaskan Persib Siap Hajar Manila Digger di SJH
  • Bocah 9 Tahun Digigit Pitbull hingga Operasi, Polisi Ungkap Nasib Anjing dan Pemiliknya
  • Persib Berpacu dengan Waktu! Igor Tolic Pusing, 2 Pemain Cedera Jelang Kontra Manila Digger
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 24 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Olahraga

Dari Bocah yang Nyaris Berhenti, Jonatan Christie Kini Jadi Raja Tunggal Putra Dunia

By SusanaSenin, 24 Agustus 2026 16:04 WIB9 Mins Read
Jonatan Christie resmi menjadi nomor 1 dunia dalam ranking BWF 24 Agustus 2026. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ada sebuah angka yang membuat keberhasilan Jonatan Christie menembus peringkat satu dunia terasa jauh lebih istimewa: 26 tahun.

Setelah penantian panjang, Indonesia kembali memiliki pebulutangkis tunggal putra yang menduduki posisi teratas ranking BWF. Jonatan Christie atau yang akrab disapa Jojo berada di puncak setelah pembaruan ranking BWF pada 24 Agustus 2026, tepat 26 tahun setelah posisi serupa terakhir kali ditempati legenda Indonesia, Taufik Hidayat.

Perjalanan Jojo menuju singgasana tunggal putra dunia bukan cerita yang terjadi dalam semalam. Di balik angka 87.631 poin yang kini membawanya ke posisi pertama, ada perjalanan panjang sejak ia pertama kali mengenal raket ketika masih berusia enam tahun.

Pencapaian tersebut sekaligus menjadi penanda penting bagi bulutangkis Indonesia. Setelah era Taufik Hidayat, Indonesia sempat melahirkan sejumlah tunggal putra hebat, tetapi tidak ada yang mampu kembali menempati posisi nomor satu dunia hingga akhirnya Jonatan datang membawa cerita baru.

Jonatan Christie Resmi Jadi Nomor 1 Dunia

Ranking BWF terbaru setelah berakhirnya BWF World Championships 2026 membawa perubahan besar di sektor tunggal putra.

Jonatan Christie kini berada di peringkat pertama dunia dengan koleksi 87.631 poin.

Ia menggeser para pemain elite dunia dalam persaingan menuju posisi teratas. Christophe Popov dari Prancis berada di peringkat kedua, sementara wakil Thailand Kunlavut Vitidsarn menempati posisi ketiga.

Posisi berikutnya ditempati Chou Tien Chen dari Taiwan dan Anders Antonsen dari Denmark.

Sementara itu, Alex Lanier yang baru saja menjadi juara dunia 2026 berada di posisi ketujuh. Kodai Naraoka berada di urutan kedelapan dan mantan pemain nomor satu dunia, Viktor Axelsen, menempati peringkat kesembilan.

Indonesia juga memiliki Alwi Farhan yang berada di jajaran elite, yakni posisi ke-11. Muhammad Zaki Ubaidillah berada di peringkat ke-29.

Pencapaian Jonatan menjadi semakin menarik karena keberhasilannya bukan hanya tentang naik satu atau dua tingkat.

Ia kembali menempatkan nama Indonesia di puncak tunggal putra dunia setelah penantian seperempat abad lebih.

26 Tahun Menunggu Penerus Taufik Hidayat

Terakhir kali Indonesia memiliki tunggal putra nomor satu dunia adalah pada 24 Agustus 2000.

Saat itu, nama yang berada di puncak adalah Taufik Hidayat.

Kini, tepat 26 tahun kemudian, giliran Jonatan Christie yang menempati posisi tersebut.

Ada kemiripan menarik dari dua cerita itu.

Keduanya sama-sama berasal dari Indonesia dan sama-sama dikenal sebagai pemain yang memiliki kemampuan teknik tinggi.

Namun, perjalanan menuju puncak mereka berlangsung dalam generasi yang berbeda.

Taufik mencapai peringkat satu dunia pada usia yang masih sangat muda. Pada 24 Agustus 2000, ia berusia sekitar 19 tahun dan tercatat sebagai salah satu pemain termuda yang pernah mencapai posisi tersebut.

Kini, Jonatan datang dengan pengalaman jauh lebih panjang di level internasional.

Jika Taufik merupakan simbol generasi emas tunggal putra Indonesia pada awal 2000-an, maka Jonatan menjadi salah satu wajah utama generasi yang berusaha mengembalikan kejayaan sektor tersebut.

Taufik Hidayat dan Puncak Dunia pada 2000

Sebelum nama Jonatan Christie menghiasi posisi pertama ranking BWF, Taufik Hidayat sudah lebih dahulu mencatatkan sejarah.

Periode 1999 hingga 2000 menjadi fase penting dalam perjalanan karier Taufik.

Ia dua kali menjuarai Indonesia Open secara beruntun dan berhasil menjadi runner-up All England pada 1999 dan 2000.

Puncaknya terjadi ketika Taufik memenangkan Malaysia Open 2000 yang berlangsung pada 20 Agustus.

Rangkaian hasil tersebut membuat perolehan poinnya melesat hingga akhirnya Taufik naik ke peringkat satu dunia pada 24 Agustus 2000.

Ketika itu, Taufik baru berusia 19 tahun 14 hari.

Namun, status sebagai pemain nomor satu dunia tidak bertahan selamanya.

Pada 2002, posisi tersebut kemudian direbut pebulutangkis China, Lin Dan, yang ketika itu berusia sekitar 18 tahun.

Lin Dan bahkan memecahkan rekor Taufik sebagai pemain termuda yang pernah menjadi nomor satu dunia di sektor tunggal putra.

Dari Raket Pertama di Usia 6 Tahun

Jika melihat Jonatan Christie hari ini, sulit membayangkan bahwa perjalanan panjang tersebut pernah dimulai dari seorang anak kecil yang bahkan sempat tidak terlalu tertarik dengan bulutangkis.

Jonatan lahir di Jakarta pada 15 September 1997.

Ia mulai mengenal bulutangkis sejak berusia enam tahun. Ayahnya, Andreas Adi, menjadi salah satu sosok yang memperkenalkannya kepada olahraga tersebut.

Sebelum fokus pada bulutangkis, Jonatan juga sempat mengenal olahraga lain seperti sepak bola dan basket.

Namun, perlahan bulutangkis menjadi jalan yang dipilihnya.

Dalam sebuah wawancara, Jojo pernah menceritakan bagaimana ia mulai memegang raket ketika masih berusia enam tahun.

“Mengenal badminton itu saat umur 6 tahun, dan pada saat itu juga saya memegang raket dan memulai belajar raket,” kata Jonatan dalam wawancara yang dikutip dari YouTube Daniel Mananta.

Menariknya, pada masa awal itu Jonatan belum memiliki motivasi besar untuk menjadikan bulutangkis sebagai masa depannya.

Bahkan, ia sempat berpikir untuk berhenti.

Titik Balik Jonatan Terjadi Saat Usia 8 Tahun

Perubahan besar justru datang ketika Jonatan masih berusia delapan tahun.

Dalam sebuah turnamen kecil, ia berhasil menjadi juara.

Kemenangan tersebut ternyata memberikan suntikan motivasi yang sangat besar.

“Sempat ingin berhenti dan kemudian diberi semangat lagi ketika memenangkan juara pada turnamen kecil di umur 8 tahun,” tutur Jojo.

Sejak saat itu, latihan Jonatan semakin serius.

Turnamen demi turnamen mulai diikuti. Prestasi yang terus datang membuat pelatih melihat potensi besar dalam diri anak tersebut.

Jonatan kemudian mendapatkan kesempatan lebih besar hingga akhirnya direkomendasikan masuk tim nasional ketika masih berusia sekitar 14 tahun.

“Latihan semakin ekstra hingga akhirnya turnamen demi turnamen diikuti dan puji Tuhan selalu meraih juara, kemudian direkomendasi pelatih untuk masuk ke Timnas pada laga Kejurnas di umur 14 tahun,” ujarnya.

Dari sinilah perjalanan Jonatan menuju panggung nasional dan internasional mulai terbentuk.

Jonatan Menjadi Pemain Termuda di Kejurnas

Salah satu pengalaman yang membekas bagi Jonatan adalah ketika mengikuti Kejurnas.

Saat itu usianya baru sekitar 14 tahun.

Sementara pemain-pemain lain yang berada di lingkungan kompetisi tersebut rata-rata berusia lebih tua, bahkan ada yang sudah berusia 18 tahun ke atas.

Situasi itu tentu menjadi tantangan tersendiri.

Namun, Jonatan justru mampu menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk bersaing.

Ia terus memperoleh kepercayaan dan kesempatan bertanding hingga akhirnya mulai menjadi bagian penting dari regenerasi tunggal putra Indonesia.

Usia 11 Tahun Sudah Mengoleksi Banyak Gelar

Potensi Jonatan sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum dirinya menjadi pemain senior.

Pada 2008, ketika masih berusia 11 tahun, ia mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.

Salah satu pencapaian pentingnya adalah meraih medali emas pada Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara di Jakarta.

Prestasi tersebut ikut mengantarkan Jonatan mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009.

Penghargaan itu menjadi salah satu bukti bahwa bakat Jonatan sudah mendapatkan perhatian sejak usia belia.

Namun, ia tidak berhenti di sana.

Jonatan terus mengejar prestasi dan menjadikan pebulutangkis legendaris China, Lin Dan, sebagai salah satu idolanya.

Dari Junior hingga Juara Senior

Perjalanan Jonatan di level junior terus berkembang.

Pada 2010, ia meraih gelar Juara Junior Asia U-15 di Ichiba, Jepang.

Sementara itu, gelar senior pertamanya datang pada International Challenge 2013 di Indonesia.

Ketika itu, Jonatan masih sangat muda.

Seiring bertambahnya pengalaman, namanya mulai semakin dikenal publik.

Salah satu momentum yang membuat popularitasnya meningkat adalah penampilannya pada Indonesia Open 2015, ketika ia berhasil mencapai babak perempat final.

Pada periode yang sama, Jonatan mulai rutin dipercaya memperkuat tim nasional Indonesia di berbagai turnamen beregu.

Ia menjadi bagian dari skuad Indonesia di Piala Sudirman, SEA Games, serta Thomas Cup.

Emas SEA Games dan Jalan Menjadi Andalan Indonesia

Jonatan turut menjadi bagian tim Indonesia yang meraih emas pada SEA Games 2015.

Setahun kemudian, ia juga masuk dalam tim Thomas Cup Indonesia 2016.

Pengalaman bertanding bersama tim nasional membuat mental dan kemampuan Jonatan terus berkembang.

Pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Jonatan menjadi salah satu pemain penting Indonesia.

Ia berhasil menyumbangkan medali emas dari nomor tunggal putra.

Pencapaian tersebut semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu tunggal putra masa depan Indonesia.

Namun, perjalanan menuju peringkat satu dunia ternyata masih sangat panjang.

Puncak Karier Tidak Datang Seketika

Ada masa ketika Jonatan harus menerima kekalahan, kritik, inkonsistensi, hingga persaingan ketat dengan pemain-pemain terbaik dunia.

Status sebagai pemain unggulan tidak otomatis membuat setiap pertandingan berakhir dengan kemenangan.

Justru dari rangkaian pertandingan tersebut, Jonatan membangun pengalaman.

Permainannya berkembang seiring bertambahnya usia. Ia semakin matang dalam membaca permainan lawan, mengelola stamina, dan menghadapi tekanan pertandingan besar.

Kini, hasil dari proses panjang tersebut terlihat pada ranking BWF terbaru.

87.631 poin bukan sekadar angka.

Di baliknya terdapat perjalanan lebih dari dua dekade sejak Jonatan pertama kali mengenal raket.

Bukan Hanya Jonatan, Indonesia Masih Punya Wakil di Papan Atas

Kebangkitan Indonesia dalam ranking BWF terbaru tidak hanya terlihat dari sektor tunggal putra.

Di ganda putra, pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berada di posisi kedua dunia.

Sementara di tunggal putri, Putri Kusuma Wardani menempati peringkat ketujuh.

Artinya, Indonesia masih memiliki sejumlah wakil yang mampu bersaing di level tertinggi.

Namun, posisi Jonatan tetap memiliki makna khusus karena sektor tunggal putra merupakan salah satu nomor paling bergengsi dalam bulutangkis.

Setelah Taufik Hidayat, Indonesia memang terus melahirkan pemain berbakat. Akan tetapi, perjalanan untuk kembali ke posisi nomor satu dunia membutuhkan konsistensi luar biasa.

Dari Taufik ke Jonatan, Estafet Tunggal Putra Indonesia

Kini, nama Taufik Hidayat dan Jonatan Christie kembali berada dalam satu garis sejarah.

Taufik membawa Indonesia ke puncak dunia pada 2000.

Dua puluh enam tahun kemudian, Jonatan meneruskan jejak tersebut.

Perbedaannya, Jojo tidak datang sebagai pemain muda yang baru menemukan namanya di panggung internasional.

Ia tiba di puncak setelah melewati perjalanan panjang, dari anak enam tahun yang baru belajar memegang raket, juara turnamen kecil pada usia delapan tahun, pemain muda di Kejurnas, anggota tim nasional, hingga akhirnya menjadi pemain nomor satu dunia.

Kisah itu menunjukkan bahwa perjalanan menuju puncak tidak selalu lurus.

Ada masa ketika Jonatan bahkan sempat ingin berhenti bermain bulutangkis.

Namun sebuah kemenangan kecil pada usia delapan tahun justru mengubah arah hidupnya.

Kini, 18 tahun setelah momen tersebut, anak yang dulu sempat ingin meninggalkan bulutangkis itu berdiri di posisi yang pernah ditempati salah satu legenda terbesar Indonesia.

Jonatan Christie kini adalah nomor satu dunia.

Dan setelah 26 tahun, Indonesia kembali memiliki alasan untuk menatap puncak tunggal putra dengan bangga.

Pertanyaan berikutnya tentu lebih berat: berapa lama Jojo mampu bertahan di singgasana yang pernah ditempati Taufik Hidayat tersebut?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Jonatan Christie Jonatan Christie nomor 1 dunia Jonatan Christie ranking BWF ranking 1 dunia tunggal putra ranking BWF 2026 tunggal putra Indonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Thailand Kena Mental? Vietnam Curi Kemenangan 2-0 di Rajamangala, Comeback Jadi Misi Mustahil

Man City vs Bournemouth Malam Ini: Haaland Siap Menggila, City Diprediksi Menang Dramatis

Rumor Transfer Mepet: Persib dan Persija Kompak Berburu Kiper Asal Eropa

Terlibat Keributan Sengit, Lionel Messi Dijatuhi Sanksi Denda oleh MLS

Jadwal Liga Inggris Sabtu 22 Agustus 2026: Hull City vs MU Hingga Duel Sengit Brentford vs Spurs

Gratis dari Liverpool! Real Madrid Amankan Bek Prancis Ibrahima Konate hingga 2030

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.