Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Cuma Soto Mie, Ini 5 Restoran Baru di Bogor yang Wajib Dicoba

Senin, 26 Oktober 2026 03:00 WIB

Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair

Senin, 26 Oktober 2026 01:00 WIB

Drama Pakansari! Gol Adam Alis di Menit 90+1 Selamatkan Persib dari Hasil Imbang

Minggu, 25 Oktober 2026 21:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Cuma Soto Mie, Ini 5 Restoran Baru di Bogor yang Wajib Dicoba
  • Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair
  • Drama Pakansari! Gol Adam Alis di Menit 90+1 Selamatkan Persib dari Hasil Imbang
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Dibuang ke Panti tapi Public Speaking-nya Bikin Kagum, Ini Sosok Mbah Suharyono
  • Nyawa Melayang Usai Bela Rekan, Kisah Pilu FR Korban Pengeroyokan Pasar Caringin
  • Cuma Butuh 15 Menit, Peralta Bikin Garudayaksa Tertunduk
  • Klok dan Thom Haye Dicadangkan! Ini Line Up Mengejutkan Persib vs Garudayaksa
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 26 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pakar Nilai Kebijakan Larangan Study Tour Bisa Timbulkan Masalah Sosial Baru

By Aga GustianaSelasa, 22 Juli 2025 10:10 WIB3 Mins Read
Aksi Pekerja Wisata di Jabar
Aksi Pekerja Wisata di Jabar. (Foto: Dok Warga)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kebijakan larangan kegiatan study tour yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terus menuai sorotan. Di tengah gelombang protes dari pelaku sektor pariwisata, suara dari kalangan akademisi turut muncul, menyoroti urgensi evaluasi berbasis data terhadap kebijakan tersebut.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menyebut bahwa langkah pelarangan ini tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi sosial dan ekonomi yang melekat di masyarakat, khususnya bagi para pelaku industri wisata.

“Demonstrasi yang dilakukan pekerja wisata kemarin merupakan akumulasi dari kekecewaan mereka terhadap dampak dari kebijakan pelarangan study tour,” ujarnya kepada bukamata.id, Selasa (22/7/2025).

Menurut Kristian, dalam praktik pembuatan kebijakan publik, setiap keputusan pemerintah pasti akan menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Karena itu, perhitungan risiko menjadi aspek krusial dalam proses perumusan kebijakan.

“Dalam pengambilan keputusan, maka pembuat kebijakan harus memperhitungkan semua risiko dengan seksama dan mengambil langkah mitigasi untuk memastikan dampak buruk dapat teratasi dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga:  Jadi Pendatang Baru, Anak dan Mantan Istri Dedi Mulyadi Raih Kursi di DPRD Jabar

Ia menekankan pentingnya kajian berbasis bukti sebelum sebuah regulasi diberlakukan, termasuk data lapangan, informasi ekonomi, dan kondisi sosial yang relevan. Kebijakan yang tidak berpijak pada riset yang mendalam berpotensi merusak keseimbangan sosial, terutama di sektor yang sensitif seperti pariwisata.

Kebijakan Gubernur Dinilai Belum Libatkan Pelaku Terdampak

Larangan study tour yang tercantum dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45/PK.03.03/KESRA telah memicu penolakan dari ribuan pelaku wisata, termasuk sopir bus, kernet, dan pelaku UMKM. Aksi demonstrasi pun berlangsung di Gedung Sate, Senin (21/7/2025), dengan tuntutan agar kebijakan tersebut ditinjau ulang.

Kristian mengkritisi pendekatan sepihak dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, tidak semua permasalahan di masyarakat harus direspons dengan kebijakan pemerintah. Terkadang, penyelesaian justru lebih efektif jika datang dari masyarakat itu sendiri tanpa intervensi formal.

“Bahkan tidak semua hal harus diintervensi dengan kebijakan. Bisa jadi, justru ada hal-hal yang semestinya diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa sikap konsisten Gubernur dalam mempertahankan larangan ini harus dibarengi dengan argumentasi yang kuat dan transparan kepada publik, terlebih kepada kelompok yang terdampak langsung.

Baca Juga:  Debat Panas! Dedi Mulyadi Bentrok dengan Purbaya Soal Uang Daerah Mengendap di Bank

“Kalau hanya sekadar bersikukuh mempertahankan keputusan tanpa adanya argumentasi pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan, maka hal ini justru akan memicu reaksi yang semakin negatif dari pelaku pekerja pariwisata,” tandasnya.

Solusi Alternatif: Bukan Larangan, Tapi Diversifikasi Target Wisata

Kristian menyarankan, jika Gubernur tetap ingin melanjutkan kebijakan tersebut, maka langkah tanggap harus disiapkan. Salah satunya adalah mencarikan segmen wisatawan pengganti—misalnya dari kalangan wisatawan domestik atau mancanegara—yang dapat menutup potensi kerugian yang timbul dari hilangnya rombongan pelajar.

“Jika pun keputusan mempertahankan surat edaran larangan study tour tetap dilanjutkan, maka setidaknya Gubernur bertanggung jawab untuk mencarikan rombongan wisatawan lain yang bisa menggantikan rombongan pelajar,” tutupnya.

Dedi Mulyadi Ogah Cabut Larangan Study Tour

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan tanggapan terkait aksi protes para pelaku sektor pariwisata yang menolak kebijakan pelarangan kegiatan study tour. Aksi tersebut berlangsung di Gedung Sate dan diwarnai dengan penutupan akses Jalan Layang Pasupati.

Baca Juga:  Fraksi PDIP Walk Out dari Paripurna DPRD Jabar, Protes Pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi

Dalam pernyataannya melalui akun Instagram @dedimulyadi71 pada Selasa (22/7/2025), Dedi mengungkapkan bahwa demonstrasi tersebut justru menegaskan bahwa kegiatan study tour lebih mengarah pada aktivitas rekreasi ketimbang edukasi.

“Demonstrasi kemarin menunjukkan semakin jelas bahwa kegiatan study tour itu sebenarnya kegiatan piknik, kegiatan rekreasi. Bisa dibuktikan, yang berdemonstrasi adalah para pelaku jasa kepariwisataan,” ujarnya.

Menurut Dedi, pelarangan study tour merupakan langkah perlindungan terhadap orang tua siswa agar tidak terbebani pengeluaran yang tidak bersifat esensial, serta memastikan pendidikan tetap berfokus pada penguatan karakter dan peningkatan kualitas belajar.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kebijakannya berpihak pada kepentingan masyarakat luas dan mendukung efisiensi dalam dunia pendidikan.

“Sikap saya akan tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak, menjaga kelangsungan pendidikan dan mengefisienkan pendidikan dari beban biaya yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan karakter dan pertumbuhan pendidikan,” tegasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair

Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar

PENUSUKAN

Nyawa Melayang Usai Bela Rekan, Kisah Pilu FR Korban Pengeroyokan Pasar Caringin

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

7 Langkah Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu, Cukup dari HP

PENUSUKAN

Petang Berdarah di Pasar Induk Caringin! Polisi Buru 30 Penyerang

Cuma Gara-gara Dikira Melirik Pacar, Remaja di Garut Todongkan Golok!

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.