Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Ada Derby Iberia Portugal vs Spanyol

Minggu, 5 Juli 2026 01:00 WIB

Kejutan Belum Usai, Bos Persib Beri Kisi-kisi Proyek Rahasia Setelah 10 Juli

Sabtu, 4 Juli 2026 21:46 WIB

Demi Target Asia! Persib Rombak Staf Kepelatihan, Datangkan Arsitek Fisik dan Taktik Kelas Eropa

Sabtu, 4 Juli 2026 20:41 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Ada Derby Iberia Portugal vs Spanyol
  • Kejutan Belum Usai, Bos Persib Beri Kisi-kisi Proyek Rahasia Setelah 10 Juli
  • Demi Target Asia! Persib Rombak Staf Kepelatihan, Datangkan Arsitek Fisik dan Taktik Kelas Eropa
  • Followersnya Kalahkan Populasi Negara Sendiri! Kisah Ajaib Vozinha Bikin Messi Frustrasi di Piala Dunia
  • Kode Keras di Video Perkenalan Ragnar Oratmangoen, Persib Segera Amankan Mariano Peralta?
  • Gebrakan Kelima Pangeran Biru: Ragnar Oratmangoen Resmi Merapat ke Persib Bandung
  • Sentimen Suku Kental dan Boros Anggaran, Wacana Provinsi Sunda Dinilai Belum Mendesak
  • Tabel Angsuran KUR BNI 2026 Plafon Rp100 Juta: Panduan Simulasi Cicilan Murah untuk Tambahan Modal UMKM
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 5 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pakar Nilai Kebijakan Larangan Study Tour Bisa Timbulkan Masalah Sosial Baru

By Aga GustianaSelasa, 22 Juli 2025 10:10 WIB3 Mins Read
Aksi Pekerja Wisata di Jabar
Aksi Pekerja Wisata di Jabar. (Foto: Dok Warga)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kebijakan larangan kegiatan study tour yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terus menuai sorotan. Di tengah gelombang protes dari pelaku sektor pariwisata, suara dari kalangan akademisi turut muncul, menyoroti urgensi evaluasi berbasis data terhadap kebijakan tersebut.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menyebut bahwa langkah pelarangan ini tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi sosial dan ekonomi yang melekat di masyarakat, khususnya bagi para pelaku industri wisata.

“Demonstrasi yang dilakukan pekerja wisata kemarin merupakan akumulasi dari kekecewaan mereka terhadap dampak dari kebijakan pelarangan study tour,” ujarnya kepada bukamata.id, Selasa (22/7/2025).

Menurut Kristian, dalam praktik pembuatan kebijakan publik, setiap keputusan pemerintah pasti akan menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Karena itu, perhitungan risiko menjadi aspek krusial dalam proses perumusan kebijakan.

“Dalam pengambilan keputusan, maka pembuat kebijakan harus memperhitungkan semua risiko dengan seksama dan mengambil langkah mitigasi untuk memastikan dampak buruk dapat teratasi dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga:  Aktif di Media Sosial, Dedi Mulyadi Tampil Apa Adanya Tanpa Gimmick

Ia menekankan pentingnya kajian berbasis bukti sebelum sebuah regulasi diberlakukan, termasuk data lapangan, informasi ekonomi, dan kondisi sosial yang relevan. Kebijakan yang tidak berpijak pada riset yang mendalam berpotensi merusak keseimbangan sosial, terutama di sektor yang sensitif seperti pariwisata.

Kebijakan Gubernur Dinilai Belum Libatkan Pelaku Terdampak

Larangan study tour yang tercantum dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45/PK.03.03/KESRA telah memicu penolakan dari ribuan pelaku wisata, termasuk sopir bus, kernet, dan pelaku UMKM. Aksi demonstrasi pun berlangsung di Gedung Sate, Senin (21/7/2025), dengan tuntutan agar kebijakan tersebut ditinjau ulang.

Kristian mengkritisi pendekatan sepihak dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, tidak semua permasalahan di masyarakat harus direspons dengan kebijakan pemerintah. Terkadang, penyelesaian justru lebih efektif jika datang dari masyarakat itu sendiri tanpa intervensi formal.

“Bahkan tidak semua hal harus diintervensi dengan kebijakan. Bisa jadi, justru ada hal-hal yang semestinya diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa sikap konsisten Gubernur dalam mempertahankan larangan ini harus dibarengi dengan argumentasi yang kuat dan transparan kepada publik, terlebih kepada kelompok yang terdampak langsung.

Baca Juga:  Tinjau Longsor Bandung Barat, Dedi Mulyadi Ungkap Alih Fungsi Lahan Jadi Pemicu

“Kalau hanya sekadar bersikukuh mempertahankan keputusan tanpa adanya argumentasi pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan, maka hal ini justru akan memicu reaksi yang semakin negatif dari pelaku pekerja pariwisata,” tandasnya.

Solusi Alternatif: Bukan Larangan, Tapi Diversifikasi Target Wisata

Kristian menyarankan, jika Gubernur tetap ingin melanjutkan kebijakan tersebut, maka langkah tanggap harus disiapkan. Salah satunya adalah mencarikan segmen wisatawan pengganti—misalnya dari kalangan wisatawan domestik atau mancanegara—yang dapat menutup potensi kerugian yang timbul dari hilangnya rombongan pelajar.

“Jika pun keputusan mempertahankan surat edaran larangan study tour tetap dilanjutkan, maka setidaknya Gubernur bertanggung jawab untuk mencarikan rombongan wisatawan lain yang bisa menggantikan rombongan pelajar,” tutupnya.

Dedi Mulyadi Ogah Cabut Larangan Study Tour

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan tanggapan terkait aksi protes para pelaku sektor pariwisata yang menolak kebijakan pelarangan kegiatan study tour. Aksi tersebut berlangsung di Gedung Sate dan diwarnai dengan penutupan akses Jalan Layang Pasupati.

Baca Juga:  Pemda Bebas Atur Teknis Jam Masuk Sekolah, Ini Penjelasan Dedi Mulyadi

Dalam pernyataannya melalui akun Instagram @dedimulyadi71 pada Selasa (22/7/2025), Dedi mengungkapkan bahwa demonstrasi tersebut justru menegaskan bahwa kegiatan study tour lebih mengarah pada aktivitas rekreasi ketimbang edukasi.

“Demonstrasi kemarin menunjukkan semakin jelas bahwa kegiatan study tour itu sebenarnya kegiatan piknik, kegiatan rekreasi. Bisa dibuktikan, yang berdemonstrasi adalah para pelaku jasa kepariwisataan,” ujarnya.

Menurut Dedi, pelarangan study tour merupakan langkah perlindungan terhadap orang tua siswa agar tidak terbebani pengeluaran yang tidak bersifat esensial, serta memastikan pendidikan tetap berfokus pada penguatan karakter dan peningkatan kualitas belajar.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kebijakannya berpihak pada kepentingan masyarakat luas dan mendukung efisiensi dalam dunia pendidikan.

“Sikap saya akan tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak, menjaga kelangsungan pendidikan dan mengefisienkan pendidikan dari beban biaya yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan karakter dan pertumbuhan pendidikan,” tegasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Larangan Study Tour protes pelaku wisata Sektor Pariwisata surat edaran gubernur
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sentimen Suku Kental dan Boros Anggaran, Wacana Provinsi Sunda Dinilai Belum Mendesak

Truk Rem Blong Picu Tabrakan Beruntun di Sukabumi, Sopir Sempat Terjepit Kabin Terguling

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Cara Cek BPNT Juli 2026 Lewat HP, Ini Tanda Bantuan Sudah Cair

Anak Diduga Hilang dari Katapang Ditemukan Meninggal di Jembatan BBS Bandung Barat

Om Zein saat menghadiri acara di Purwakarta.

Imbas Lagu Kontroversial ‘Lalaki Langit’, Bupati Purwakarta Diperiksa Intensif 8 Jam di Kemendagri

Pencabulan

Dugaan Kasus Rudapaksa di Sapan Bandung, Korban Masih Jalani Pemulihan Trauma

Terpopuler
  • Ini Link Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 untuk Pantau Jadwal dan Skema Pertandingan
  • Link Live Pagi Ini: Portugal vs Kroasia 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos?
  • Jangan Asal Klik! Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral, Begini Fakta dan Bahaya Link Palsunya
  • Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Viral! Ini Isi Lagu Om Zein yang Tuai Polemik
  • Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral di TikTok, Link Fullnya Bikin Waswas
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.