Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Final Piala Presiden 2026 Tinggal Hitungan Jam, Igor Tolic Soroti Aturan FIFA yang Dilanggar

Rabu, 5 Agustus 2026 11:39 WIB

Aksi Nekat di Andir Bandung, Bendera Merah Putih Dibakar, Pelaku Masih Diburu Polisi

Rabu, 5 Agustus 2026 11:27 WIB

Prediksi Chelsea vs Juventus: The Blues Siap Balas Kekalahan, Juve Terancam Tumbang

Rabu, 5 Agustus 2026 10:49 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Final Piala Presiden 2026 Tinggal Hitungan Jam, Igor Tolic Soroti Aturan FIFA yang Dilanggar
  • Aksi Nekat di Andir Bandung, Bendera Merah Putih Dibakar, Pelaku Masih Diburu Polisi
  • Prediksi Chelsea vs Juventus: The Blues Siap Balas Kekalahan, Juve Terancam Tumbang
  • Konvoi Pendukung Persib dan Persija Nyaris Terlibat Bentrok Fisik di Sukabumi
  • Update Harga Emas 5 Agustus 2026, Emas 24 Karat Kini Dibanderol Mulai Rp2,22 Juta per Gram
  • PARAH! Rekam Jejak 4 Oknum Nakes Yang Hina Pasien BPJS: Lulusan UGM dan UI Tapi Minim Empati?!
  • Jadwal Final Piala Presiden 2026: Persib Bandung Tantang Persebaya Surabaya di Bali
  • Assist Lucho Antar Persib Tekuk Persija, Guaycochea Akui Maung Bandung Sudah Kehabisan Energi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 5 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

PARAH! Rekam Jejak 4 Oknum Nakes Yang Hina Pasien BPJS: Lulusan UGM dan UI Tapi Minim Empati?!

By SusanaRabu, 5 Agustus 2026 10:30 WIB6 Mins Read
Kasus Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS yang meninggal usai curhat soal antre kamar rumah sakit, menjadi sorotan. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan, peserta aktif BPJS Kesehatan yang sempat curhat karena menunggu delapan jam tanpa mendapat ruang perawatan di rumah sakit, masih menjadi sorotan publik.

Bukan hanya karena dugaan keterlambatan penanganan medis, tetapi juga karena respons sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai minim empati terhadap keluhan almarhum di media sosial.

Peristiwa ini berkembang menjadi polemik nasional setelah diketahui tiga tenaga kesehatan yang sebelumnya memberikan komentar bernada sinis akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ketiganya adalah dokter Benny Christian Sihombing, perawat Widhiyarini Pangestika, dan dokter Elda Putri Rahadini.

Kasus tersebut memicu diskusi luas mengenai etika profesi tenaga kesehatan, empati dalam pelayanan publik, hingga bagaimana media sosial dapat memperbesar dampak psikologis terhadap seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Berawal dari Curhatan Sederhana Pasien BPJS

Peristiwa ini bermula pada 22 Juli 2026. Melalui akun Threads pribadinya, Yurizal Tri Chaerawan mengungkapkan kekecewaannya setelah harus menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.

Dalam unggahan singkat itu, Yurizal juga memilih tidak mengungkap identitas rumah sakit tempat dirinya dirawat.

“8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS.”

Unggahan tersebut sejatinya tidak menyalahkan rumah sakit tertentu maupun BPJS Kesehatan. Namun, curhatan sederhana itu justru memancing beragam respons negatif.

Alih-alih mendapat dukungan moral, Yurizal justru menerima komentar pedas, termasuk dari sejumlah akun yang diketahui merupakan tenaga kesehatan.

Komentar Empat Nakes Jadi Sorotan

Nama pertama yang menjadi sorotan publik adalah akun @bennychrstn, yang belakangan disebut sebagai milik dokter Benny Christian Sihombing.

Komentarnya dianggap paling menyakitkan karena menyinggung ruang jenazah.

“Kalau full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Enggak ada hubungannya sama BPJS atau enggak BPJS. Yang pakai banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, enggak cuma kamu sendiri. Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong.”

Komentar tersebut langsung menuai kritik luas setelah kabar meninggalnya Yurizal mencuat.

Sorotan berikutnya mengarah kepada Widhiyarini Pangestika, seorang perawat yang turut menuliskan komentar bernada sarkastis.

“Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.”

Tak kalah menjadi perhatian adalah komentar dari dokter Elda Putri Rahadini yang menyinggung kondisi ekonomi Yurizal.

“PP-nya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cell.”

Terakhir, komentar Norma Zahara yang meruapakan tenaga kesehatan di bidang Databse Administrator dengan akun @nouzzha_kim tak kalah menjadi sorotan.

“Yuriz orang miskin harta, miskin ilmu, miskin akal tapi pengen diistimewain. 8 jam sangat-sangat wajar apalagi kalo lo itu RS rujukan nasioanl, mungkin sekelas RSHS Bdg atau RSCM jkt kan? boleh gue bilang sesuatu? LO GOB**K BANYAK BACOT,” tulisnya.

Keempat komentar tersebut kemudian tersebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu gelombang kecaman dari masyarakat.

Sembilan Hari Kemudian, Yurizal Meninggal Dunia

Tragedi semakin memilukan setelah keluarga mengabarkan bahwa Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026, atau sekitar sembilan hari setelah unggahan tersebut dibuat.

Kabar itu disampaikan oleh sepupunya melalui Threads.

Menurut pihak keluarga, Yurizal meninggal setelah kondisinya semakin memburuk dan diduga terlambat mendapatkan penanganan medis ketika sudah berada dalam kondisi gawat.

“Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat gini di Threads. Sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita ke keluarga.”

Unggahan tersebut langsung memicu gelombang simpati sekaligus kemarahan publik.

Banyak warganet mempertanyakan mengapa seseorang yang sedang berjuang mendapatkan layanan kesehatan justru menerima komentar bernada merendahkan dari oknum tenaga kesehatan.

Sahabat Ungkap Kondisi Psikologis Yurizal

Sahabat almarhum, Firhan Arief, mengungkap fakta yang semakin membuat publik tersentuh.

Menurutnya, Yurizal sempat membaca berbagai komentar bernada sinis yang ditujukan kepadanya sebelum kondisi kesehatannya terus menurun.

Setelah membaca komentar-komentar tersebut, Yurizal bahkan memilih mematikan telepon genggamnya dan mengaktifkan mode pesawat karena tidak lagi ingin membuka media sosial.

Firhan menjelaskan, selama ini Yurizal dikenal sebagai pribadi yang memendam masalah sendiri. Curhat singkat di Threads dilakukan karena ia tidak memiliki tempat untuk berbagi keluh kesah.

Empat Nakes Akhirnya Menyampaikan Permintaan Maaf

Setelah kasus ini viral dan menuai kecaman luas, ketiga tenaga kesehatan tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

1. Dokter Benny Christian Sihombing

Dokter Benny Christian Sihombing menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Yurizal.

Ia mengakui komentarnya tidak menunjukkan empati dan meminta maaf kepada keluarga almarhum.

Di media sosial, Benny ramai diperbincangkan karena disebut merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Banyak warganet menilai seorang dokter semestinya mampu menunjukkan empati kepada pasien, terlebih ketika pasien sedang menghadapi situasi sulit.

2. Perawat Widhiyarini Pangestika

Permintaan maaf juga disampaikan oleh Widhiyarini Pangestika.

Perawat yang diketahui merupakan lulusan Profesi Ners Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pada 2021 itu mengakui komentarnya tidak profesional.

Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesal karena ucapannya justru memperbesar luka emosional keluarga Yurizal.

“Saya menyadari kesalahan saya dan ketidakprofesionalan saya sebagai tenaga kesehatan.”

Ia juga menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

3. Dokter Elda Putri Rahadini

Dokter Elda Putri Rahadini juga mengunggah permintaan maaf panjang melalui media sosial.

Dalam pernyataannya, ia mengakui komentarnya sangat tidak pantas dan tidak mencerminkan empati.

“Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan sangat tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati.”

Berdasarkan informasi pada akun media sosialnya, Elda diketahui merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia juga tercatat sebagai penerima beasiswa LPDP dan Monbukagakusho serta sedang menjalani pendidikan lanjutan sebagai PGY1 Internal Medicine Resident.

Selain itu, Elda pernah meraih penghargaan Best Systematic Review pada ajang The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) 2025.

4. Norma Zahara

Norma Zahara bekerja sebagai Database Administrator di RSUD dr. Siekardjo Kota Tasikmalaya. Dalam akun Threadsnya @nouzzha_kim, Norma Zahara mengungkapkan permintaan maafnya.

“Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, saya meyampaikan permohonanan maaf yang sebesar-besarnya, terkhusus untuk Alm Yurizal dan keluarga yag ditinggalkan, maaf beribu maaf untuk tindakan saya yang sangat tidak pantas menyebut Alm dengan kalimat tidak senono dan menghina,” tulisnya.

Gelombang Kritik dari Warganet

Meski ketiga tenaga kesehatan tersebut telah meminta maaf, gelombang kritik belum mereda.

Banyak warganet menilai permintaan maaf saja belum cukup mengingat komentar yang dilontarkan dinilai telah melukai keluarga almarhum dan mencederai citra profesi tenaga kesehatan.

Sejumlah komentar yang ramai bermunculan di akun Instagram @lambe_turah di antaranya berbunyi:

“Emang nakesss so paling iyeeeee,” tulis akun @iza***.

“Mereka sedang memperlihatkan jati diri mereka masing-masing. Semoga jadi pelajaran buat semua,” tulis akun @des***.

“Minta maaf doang kayaknya enggak fair ya. Sanksinya apa kalau ada kasus begini?” tulis akun @hrm***.

“Minimal diam atau doain cepat sembuh kalau enggak bisa kasih solusi,” tulis akun @hai***.

Menjadi Pengingat Penting Soal Empati di Era Media Sosial

Kasus Yurizal Tri Chaerawan kini tidak lagi sekadar menjadi perbincangan mengenai pelayanan rumah sakit atau peserta BPJS Kesehatan.

Peristiwa ini berkembang menjadi refleksi mengenai pentingnya menjaga empati, khususnya bagi profesi yang berkaitan langsung dengan pelayanan kemanusiaan.

Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk berpendapat. Namun, ketika komentar berasal dari tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab moral dan etik terhadap pasien, masyarakat memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap sikap profesional dan rasa kemanusiaan.

Di sisi lain, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa satu unggahan sederhana dari seseorang yang sedang menghadapi masa sulit bisa memiliki dampak psikologis yang besar, terlebih jika dibalas dengan cemoohan.

Kini, setelah Yurizal berpulang dan empat tenaga kesehatan tersebut menyampaikan permintaan maaf, publik masih menantikan apakah akan ada evaluasi maupun langkah lanjutan dari pihak terkait terhadap dugaan pelanggaran etika profesi yang mencuat dalam kasus ini.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kasus Yurizal Nakes nyinyir pasien BPJS Pasien BPJS meninggal Threads viral Yurizal Tri Chaerawan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Aksi Nekat di Andir Bandung, Bendera Merah Putih Dibakar, Pelaku Masih Diburu Polisi

Konvoi Pendukung Persib dan Persija Nyaris Terlibat Bentrok Fisik di Sukabumi

Gerhana Matahari Total Agustus 2026 Segera Terjadi, Ini Jadwal, Lokasi, dan Dampaknya bagi Bumi

Bansos

Bansos Agustus 2026 Masih Mengalir! Kemensos Ungkap Jadwal Cair PKH dan BPNT Terbaru

Aturan Baru SIM Bikin Geger, Pemilik Kendaraan Wajib Punya BPJS Kesehatan Aktif?

Lurah Cihapit Ungkap Kronologi Kasus Penebangan Pohon di Jalan Riau, Siap Terima Sanksi Jika Dinilai Lalai

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • FOTO: Dedikasi Tanpa Batas Tim Medis Mengawal Keselamatan Laga Piala Presiden 2026
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Cara Nonton Link Live Streaming Persib vs Tampines Rovers Malam Ini di Piala Presiden 2026
  • Gebrakan atau Kontroversi? Polemik Hadiah Tangkap Begal ala Dedi Mulyadi di Tengah Resah Warga Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.