bukamata.id – Fenomena pengobatan alternatif kembali menyita perhatian publik. Kali ini, metode totok sirih yang dipraktikkan di Rumah Sirih Palembang mendadak viral di media sosial.
Praktik terapi tradisional ini menuai dua respons yang berseberangan: pujian dari pasien yang merasa sembuh, sekaligus kritik tajam dari warganet yang meragukan keilmiahannya.
Apa Itu Totok Sirih?
Totok sirih merupakan metode pengobatan alternatif yang menggabungkan teknik penekanan titik saraf (totok) dengan penggunaan daun sirih sebagai media terapi.
Daun sirih dikenal luas memiliki sifat antiseptik alami, sehingga dipercaya mampu membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan.
Dalam praktiknya, terapis menggunakan alat berbahan kayu untuk menekan titik-titik tertentu di tubuh pasien. Daun sirih kemudian digesekkan atau ditempelkan pada area yang dianggap bermasalah.
Menariknya, terapis kerap langsung memberikan diagnosis saat terapi berlangsung sebuah klaim yang justru memicu perdebatan.
Rumah Sirih Palembang: Praktik Sejak 2012
Tempat terapi ini berlokasi di kawasan Jakabaring, Palembang, dan telah beroperasi sejak 2012. Dipimpin oleh Ferizka Utami, Rumah Sirih disebut mampu menarik 200 hingga 300 pasien setiap hari angka yang menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pengobatan alternatif.
Ferizka menjelaskan bahwa metode yang digunakan disesuaikan dengan usia pasien, mulai dari bayi hingga lansia. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada tarif khusus yang ditetapkan.
“Kami tidak menetapkan tarif khusus, semuanya seikhlasnya. Harapannya, semua masyarakat bisa mendapatkan pertolongan,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai menjadi salah satu faktor kuat yang membuat praktik tersebut bertahan lebih dari satu dekade.
Viral di Media Sosial, Testimoni Bermunculan
Popularitas totok sirih melonjak setelah sejumlah video terapi beredar luas di media sosial. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah testimoni dari akun Instagram @andiepedoo19.
Ia mengaku terkejut karena terapis mampu mendeteksi cedera lututnya secara detail, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya.
“Dia tahu semua cedera dengkul saya, bahkan posisi dan kedalamannya. Setelah satu bulan terapi, kondisi saya semakin membaik,” tulisnya.
Testimoni serupa juga datang dari pasien lain yang mengaku mengalami perbaikan signifikan setelah menjalani terapi selama beberapa bulan.
“Saya salah 1 pasien beliau sama dengkul saya tempurung nya muter ke belakang trs sy pnya engsel dengkul jg geser terapi 4 bulan MasyaAllah alhamdulillah skrg sy bisa berjalan yg td ny dduk d kursi roda skrg bisa jalan… Yg detergen cm bisa komen ngehujat semoga ALLAH beri kalian hidayah d ampuni jg,” tulis akun @ritn di kolom komentar.
Narasi kesembuhan seperti ini memperkuat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap metode totok sirih.
Pro dan Kontra: Antara Kepercayaan dan Skeptisisme
Namun, di balik testimoni positif, kritik tajam juga bermunculan. Beberapa warganet mempertanyakan keabsahan metode diagnosis yang dilakukan secara instan tanpa pemeriksaan medis.
Komentar negatif bahkan menyoroti kondisi fisik pasien setelah terapi, dikutip dari kolom komentar akun Instagram @dodydols13, Minggu (26/4/2026).
“Sembuh tidak, babak belur iya,” tulis akun @put***
Ada pula yang menilai fenomena ini berkaitan dengan faktor pendidikan dan ekonomi masyarakat, di mana pengobatan alternatif dianggap lebih terjangkau dibanding layanan medis modern.
“Karena faktor pendidikan & ekonomi, yang begini lebih dipercaya dan didatangi daripada dokter dan rumah sakit/klinik,” tulis akun @ase***
Kritik lain datang dari perspektif tenaga kesehatan yang menekankan pentingnya evidence-based medicine atau pengobatan berbasis bukti ilmiah.
“Kok bisa ibunya pede banget yang kuliah 6 taon aja masih banyak yang ga percaya loh capek kita mengedukasi dan memberikan treatment terbaik sesuai evidance based ibuk,” ung***
Hingga saat ini, klaim bahwa totok sirih mampu menyembuhkan penyakit serius seperti kanker atau kelumpuhan belum memiliki dukungan riset medis yang kuat.
Hasil Peninjauan Resmi
Menariknya, kontroversi ini turut menarik perhatian pemerintah daerah. Dinas KPA3 Sumsel diketahui telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi praktik.
Hasilnya cukup mengejutkan bagi para pengkritik: tidak ditemukan pelanggaran dalam praktik yang dijalankan. Pengobatan tersebut dinilai masih berada dalam koridor pengobatan tradisional yang dilakukan secara terbuka dan transparan.
Perwakilan tim hukum Rumah Sirih bahkan menegaskan bahwa tingginya jumlah pasien menjadi bukti kepercayaan publik yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
“Semua proses di sini dilakukan secara terbuka, bahkan jumlah pasien mencapai 200 hingga 300 orang per hari. Itu adalah bentuk kepercayaan publik yang sudah terbangun selama 14 tahun,” ungkap Axel F, anggota tim hukum Rumah Sirih.
Antara Harapan dan Kehati-hatian
Totok sirih kini berada di persimpangan antara harapan dan kontroversi. Di satu sisi, banyak pasien mengaku merasakan manfaat. Di sisi lain, dunia medis masih mempertanyakan validitas metode tersebut.
Bagi masyarakat, penting untuk tetap bersikap kritis dan bijak. Pengobatan alternatif bisa menjadi pelengkap, namun bukan pengganti diagnosis dan terapi medis yang telah teruji.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era digital, batas antara pengalaman pribadi dan kebenaran ilmiah semakin tipis dan di situlah peran literasi menjadi sangat penting.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










