bukamata.id – Suara instruksi terdengar lantang. Barisan peserta bergerak serempak mengikuti aba-aba. Di tangan mereka, bukan buku laporan keuangan, bukan laptop, bukan pula modul bisnis koperasi, melainkan replika senjata yang dipegang dengan posisi taktis layaknya latihan militer.
Potongan video itu mendadak menyebar cepat di media sosial dan memicu gelombang pertanyaan publik. Para peserta yang terlihat dalam video disebut merupakan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), program yang dirancang pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa melalui pengelolaan koperasi modern.
Namun satu adegan menjadi pusat perhatian: simulasi cara memegang senjata api secara taktis.
Di berbagai platform digital, warganet mempertanyakan relevansi materi tersebut dengan tugas seorang pengelola koperasi. Bagi banyak orang, profesi manajer koperasi identik dengan kemampuan mengelola usaha, menyusun laporan keuangan, membina anggota, mencari pasar, hingga mengembangkan bisnis desa.
“Kenapa calon manajer koperasi harus belajar memegang senjata?”
“Bukannya lebih penting diajarkan soal pembukuan, pemasaran, dan pengembangan usaha?”
Rentetan komentar serupa terus bermunculan, menandakan bahwa video tersebut menyentuh kegelisahan publik yang lebih besar: sejauh mana pelatihan semi-militer relevan untuk mencetak pengelola koperasi profesional?
Dari Video Viral ke Ingatan tentang Lima Peserta yang Gugur
Perdebatan itu menjadi semakin sensitif karena muncul hanya beberapa hari setelah publik diguncang kabar meninggalnya sejumlah peserta program pelatihan serupa.
Dalam laporan yang sebelumnya beredar luas, sedikitnya lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia yang dipersiapkan untuk mengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan di berbagai pusat pendidikan militer.
Data tersebut tercantum dalam laporan yang menyebutkan lima peserta meninggal dalam rentang kurang dari sepuluh hari pelatihan. Salah satu bagian laporan menyebut bahwa lima peserta meninggal saat mengikuti rangkaian pelatihan di berbagai pusat pendidikan militer. Daftar korban dan kronologi pelatihan juga dijabarkan dalam laporan tersebut.
Kritik Ombudsman terhadap pendekatan pelatihan semi-militer juga dimuat dalam laporan yang sama. Ombudsman menilai disiplin tidak identik dengan militerisasi dan mempertanyakan relevansi metode pelatihan.
Gelombang kritik publik di media sosial terhadap pelatihan calon manajer koperasi juga dicatat dalam laporan tersebut. Laporan juga menutup dengan seruan agar pembinaan sumber daya manusia desa dikembalikan pada kompetensi bisnis dan pembangunan ekonomi. Seluruh rangkaian informasi tersebut termuat dalam dokumen yang sama. (Sumber: laporan yang diunggah pengguna)
Karena itulah, ketika video latihan memegang senjata kembali viral, sebagian masyarakat mengaitkannya dengan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah orientasi pelatihan memang sudah sesuai dengan kebutuhan calon pengelola koperasi?
Apa Sebenarnya Program Koperasi Merah Putih?
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sejatinya lahir dengan tujuan memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Pemerintah ingin menghadirkan pengelola koperasi yang lebih profesional, mampu menjalankan usaha secara modern, transparan, dan berbasis teknologi. Karena itu, banyak peserta direkrut dari kalangan sarjana muda untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Dalam konsep idealnya, para calon manajer ini diharapkan menguasai:
- Manajemen koperasi
- Akuntansi dan pembukuan
- Pengembangan usaha
- Kepemimpinan organisasi
- Pemberdayaan masyarakat
- Digitalisasi layanan koperasi
Namun video viral tersebut memunculkan kesan bahwa sebagian materi pelatihan justru mengarah pada pembentukan disiplin ala semi-militer.
Mengapa Ada Latihan Semi-Militer?
Sejumlah warganet menduga sesi memegang senjata bukan ditujukan untuk melatih kemampuan tempur, melainkan bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kepemimpinan yang lazim ditemukan dalam pendidikan bela negara.
Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan di Indonesia, unsur baris-berbaris, latihan fisik, hingga pengenalan disiplin militer memang kerap digunakan untuk membangun mental dan kekompakan peserta.
Meski demikian, para pengkritik menilai pendekatan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Disiplin penting, tetapi disiplin tidak selalu harus identik dengan latihan memegang senjata.”
Pandangan semacam ini juga mengemuka dalam kritik sejumlah pengamat kebijakan publik yang menilai kompetensi manajerial seharusnya menjadi fokus utama pelatihan pengelola koperasi.
Gelombang Pertanyaan Publik Makin Besar
Yang membuat polemik semakin membesar adalah belum adanya penjelasan resmi dari pihak penyelenggara mengenai konteks video tersebut.
Publik masih menunggu jawaban atas beberapa pertanyaan penting:
- Apakah latihan memegang senjata merupakan bagian kurikulum wajib?
- Apakah hanya sesi pengenalan dalam pelatihan bela negara?
- Apa tujuan spesifik materi tersebut bagi calon manajer koperasi?
- Bagaimana kaitannya dengan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan?
Tanpa penjelasan resmi, ruang spekulasi di media sosial menjadi semakin luas.
Antara Bela Negara dan Kompetensi Bisnis
Di satu sisi, pemerintah memiliki kepentingan membangun karakter disiplin, integritas, dan semangat kebangsaan bagi para pengelola program strategis nasional.
Namun di sisi lain, masyarakat juga berharap pelatihan bagi calon manajer koperasi lebih banyak diisi materi yang langsung berkaitan dengan pengelolaan usaha dan pemberdayaan ekonomi desa.
Perdebatan ini pada akhirnya bukan sekadar soal video viral, melainkan tentang model pembangunan sumber daya manusia yang paling tepat untuk memajukan ekonomi desa Indonesia.
Kini Publik Menunggu Penjelasan Resmi
Hingga berita ini ditulis, video calon manajer Koperasi Merah Putih yang berlatih memegang senjata masih terus beredar dan menjadi bahan diskusi publik.
Setelah sebelumnya program ini disorot karena rentetan kabar duka peserta pelatihan, masyarakat kini menantikan penjelasan resmi dari penyelenggara agar polemik tidak berkembang menjadi kesimpangsiuran informasi.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama program Koperasi Merah Putih adalah memperkuat ekonomi rakyat. Pertanyaan yang kini menggema di ruang publik adalah: bagaimana cara terbaik menyiapkan para pengelola koperasi agar benar-benar siap membangun desa, tanpa kehilangan fokus pada kompetensi yang paling mereka butuhkan?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










