Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Saep ‘Bos Copet’ Preman Pensiun Meninggal Dunia, Sempat Koma di ICU RSUD Cibabat

Sabtu, 20 Juni 2026 12:41 WIB
Padam Listrik

Terungkap! Ini Penyebab Utama Pemadaman Listrik Bergilir yang Landa Sejumlah Wilayah Jawa Barat

Sabtu, 20 Juni 2026 11:16 WIB

Rayakan Ultah ke-19, DPRD Jabar Soroti Kemajuan Infrastruktur Bandung Barat Selatan

Sabtu, 20 Juni 2026 09:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Saep ‘Bos Copet’ Preman Pensiun Meninggal Dunia, Sempat Koma di ICU RSUD Cibabat
  • Terungkap! Ini Penyebab Utama Pemadaman Listrik Bergilir yang Landa Sejumlah Wilayah Jawa Barat
  • Rayakan Ultah ke-19, DPRD Jabar Soroti Kemajuan Infrastruktur Bandung Barat Selatan
  • Panen Hadiah Gratis! Klaim Kode Redeem FF Terbaru Sabtu 20 Juni 2026, Buruan Ambil Sebelum Hangus
  • Update Harga Emas Antam Akhir Pekan 20 Juni 2026: Masih Stabil, Ini Cara Beli dan Aturan Pajaknya
  • Hasil Piala Dunia 2026: Maroko Menang Tipis 1-0 atas Skotlandia Lewat Drama Gol Cepat
  • Daftar Nominal PKH 2026 Terbaru, Ada yang Dapat Hingga Rp2,7 Juta per Tahun
  • Beckham Putra Yakin Argentina Juara Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 20 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pengamat Nilai Pernyataan Jokowi soal Kampanye hanya Pembenaran

By SusanaKamis, 25 Januari 2024 15:56 WIB4 Mins Read
Presiden Joko Widodo (Instagram/@jokowi)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pengamat Politik dan Keamanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Prof Muradi menanggapi terkait pernyataan Jokowi soal presiden boleh kampanye dan memihak.

Dalam undang-undang pemilu pasal 281 ayat 1, mengatakan presiden boleh melakukan kampanye asalkan tidak menggunakan fasilitas negara dan wajib mengambil cuti.

Prof Muradi mengatakan seorang presiden tidak menggunakan fasilitas negara serta mengambil cuti untuk kampanye akan sulit dilakukan.

“Ada dua hal, pertama cuti dan tidak menggunakan fasilitas negara, tapi dengan pendekatan undang-undang tersebut susah, jangankan presiden aktif yang cuti, mantan presiden aja itu dikawal sampai kemudian hari ini, Bu Mega, Pak SBY, dan sebagainya,” ujar Prof Muradi, Kamis (25/1/2024).

Menurutnya, pernyataan presiden tersebut memang mudah disampaikan namun implementasinya susah, dan dimana ada presiden mengambil cuti.

“Jadi pernyataan presiden itu sebenarnya sesuatu yang kemudian mudah untuk disampaikan, diucapkan, ditulis, tapi implementasinya itu agak susah. Seperti cuti, ada gak kejadian presiden cuti, kan gak ada, apalagi beliau tidak dalam posisi untuk maju kembali,” bebernya.

Baca Juga:  Kampanye ke-30, Prabowo Kunjungi Bandung hingga Surabaya

Selain itu, pernyataan presiden tersebut diungkapkan untuk mendukung paslon yang mana, akan menjadi unik jika Jokowi mendukung paslon yang bukan dari partai pengusungnya.

“Yang kedua, untuk mendukung siapa? kalau dia cuti untuk mendukung partainya PDI Perjuangan, berarti mendukung calon PDIP, tapi kan yang unik adalah dia cuti untuk mendukung paslon dari partai yang bukan diusung oleh partainya, karena ada anaknya,” tambahnya.

Maka dari itu, hal tersebut akan menjadi membingungkan, Prof Muradi pun berpesan agar Jokowi tidak terlalu ikut campur dan fokus saja pada sisa masa jabatannya sebagai presiden.

“Jadi kalo dibaca dari undang-undang jadi  membingungkan, artinya akan baik presiden tidak buat polemik, berjaga jarak aja, gak usah ikut-ikutan, fokus saja pada 9 bulan terakhir beliau menjadi presiden sampai oktober 2024,” ujarnya.

Namun, apabila Jokowi ingin tetap memihak dan melakukan kampanye untuk paslon yang bukan dari partainya, maka harus dikaji lagi secara detail pada UU Nomor 7 Tahun 2017 pasal 299.

Baca Juga:  Gibran Mulai Kampaye, Prabowo ke TKN: Jangan Jelek-jelekan Paslon Lain

“Tapi kalau misalkan dia mau cape, apalagi yang didukung beliau bukan kader dari partai diusungnya, itu kan publik jadi bertanya cuti presiden dalam konteks apa, tidak mendukung partainya, tidak mendukung calon yang diusung partainya,  tapi dari partai lain, nah itu dibaca lagi secara detailnya di UU Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 299, disitu dijelaskan presiden itu cuti kalau memang anggota dan atau misal dia punya kewajiban untuk memenangkan calon yang diusung partai politiknya,” bebernya.

Adapun Pasal 299 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) berbunyi:

(1) Presiden dan wakil Presiden mempunyai hak melaksanakan Kampanye

(2) Pejabat negara lainnya yang berstatus sebagai anggota Partai Politik mempunyai hak melaksanakan Kampanye.

(3) Pejabat negara lainnya yang bukan berstatus sebagai anggota Partai Politik dapat melaksanakan Kampanye, apabila yang bersangkutan sebagai:
a. calon Presiden atau calon Wakil Presiden;
b. anggota tim kampanye yang sudah didaftarkan ke KPU; atau
c. pelaksana kampanye yang sudah didaftarkan ke KPU.

Baca Juga:  Jelang Debat, TKN Sebut Gibran Minta Doa Restu Jokowi

Jika dilihat dari Pasal 299 tersebut, Prof Muradi kemudian mempertanyakan apakah diantara ketiga paslon tercantum nama Jokowi sebagai tim kampanye.

“Makanya ada gak di tiga paslon tersebut Pak Jokowi itu namanya tercantum sebagai anggota tim kampanye atau pelaksana dari kampanye itu sendiri, kan gak ada,” katanya.

Terakhir, Prof Muradi pun menganggap pernyataan presiden tersebut merupakan suatu pembenaran saja.

“Jadi kalau saya nganggep bahwa yang disampaikan beliau itu bahwa pembenaran saja, jadi kalau saya menyarankan berhenti berpolemik, fokus saja pada 9 bulan terakhir beliau menjabat sebagai presiden, itu jauh lebih baik, ketimbang memaksakan diri bersilat lidah untuk kepentingan anggota keluarganya menjadi cawapres,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi menyatakan presiden maupun menteri memiliki hak demokrasi dan politik yang membolehkan mereka untuk ikut kampanye pemilu selama tidak menggunakan fasilitas negara.

“Hak demokrasi, hak politik, setiap orang. Setiap menteri sama saja, yang paling penting presiden itu boleh lho kampanye, boleh lho memihak. Boleh,” ujar Jokowi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

jokowi kampanye presiden Prof Marudi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Padam Listrik

Terungkap! Ini Penyebab Utama Pemadaman Listrik Bergilir yang Landa Sejumlah Wilayah Jawa Barat

Rayakan Ultah ke-19, DPRD Jabar Soroti Kemajuan Infrastruktur Bandung Barat Selatan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Daftar Nominal PKH 2026 Terbaru, Ada yang Dapat Hingga Rp2,7 Juta per Tahun

Refleksi Pedas 19 Tahun KBB: Tokoh Pendiri Sindir Pejabat yang Cuma Pamer Pencapaian Semu!

Mengejutkan! Kreator Konten Kini Wajib Punya NIB, Ini Aturan Terbarunya

Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo dan Dr Tifa Resmi Diamankan Polisi

Terpopuler
  • Heboh Cut Salwa Viral! Warganet Ramai Cari Link Video ‘No Sensor’, Begini Fakta yang Terungkap
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Perkuat Edukasi dan Aksi Sosial, Yayasan Jalan Surga Gandeng bukamata.id Sebarkan Nilai Kebaikan
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
  • Merasa Ditipu Janji Manis Asuransi, Mantan Pangdam Ngamuk Saldo Rp520 Juta Terjun Bebas Jadi Rp263 Juta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.