Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Pria Menonton Sendirian di Kamar

Berhenti Sekarang! Alasan Mengapa IndoXXI dan LK21 Adalah ‘Bom Waktu’ Bagi Data Pribadi Anda

Minggu, 29 Maret 2026 01:00 WIB

Kedok Ojol di Balik Skandal 17 Menit, Video “Bule Bali” Ini Diburu Netizen

Sabtu, 28 Maret 2026 21:12 WIB
Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.

Viral Lagi! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri, Kali Ini Adegan di Dapur

Sabtu, 28 Maret 2026 18:52 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Berhenti Sekarang! Alasan Mengapa IndoXXI dan LK21 Adalah ‘Bom Waktu’ Bagi Data Pribadi Anda
  • Kedok Ojol di Balik Skandal 17 Menit, Video “Bule Bali” Ini Diburu Netizen
  • Viral Lagi! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri, Kali Ini Adegan di Dapur
  • Bikin Haru! Momen Relawan Jadi ‘Mata’ Bagi Anak Difabel di Laga Timnas Indonesia
  • Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran
  • Gelar Juara Jadi Harga Mati, Bomber Persib Andrew Jung Tak Ambisi Kejar Top Skor
  • Viral Pemuda di Ciamis Ngamuk Rusak Mobil Pemudik, Akhirnya Minta Maaf dan Ganti Rugi
  • Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 29 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Penyebab Banjir Sumatera: Gabungan Cuaca Ekstrem dan Krisis Lingkungan

By Aga GustianaJumat, 28 November 2025 17:11 WIB3 Mins Read
Banjir bandang dan longsor melanda Sibolga . Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gelombang banjir bandang dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah wilayah lain sejak 24 November 2025 memicu kerusakan besar. Namun para ahli menegaskan bahwa bencana ini tidak semata-mata dipicu oleh hujan lebat.

Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebutkan bahwa penyebab banjir Sumatera tahun ini merupakan hasil interaksi tiga faktor utama: aktivitas atmosfer yang sangat kuat, degradasi lingkungan yang menurunkan kemampuan tanah menyerap air, serta minimnya kapasitas tampung alami di kawasan terdampak.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 November mencatat 34 korban meninggal, 52 orang hilang, serta ribuan penduduk terpaksa mengungsi. Angka ini masih dapat berubah seiring proses pencarian.

Musim Hujan Puncak dan Fenomena Atmosfer Penguat Badai

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Sumatera bagian utara memang sedang mencapai puncak siklus hujan tahunan yang memiliki karakter khas.

Baca Juga:  Kutuk Perusakan Pohon Cemara Laut di Pangandaran, Mantan Kadishut Jabar: Saya Sedih

“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).

Curah hujan harian di beberapa titik bahkan melewati 150 milimeter. Beberapa stasiun BMKG mencatat angka ekstrem: lebih dari 300 milimeter dalam 24 jam—setara intensitas hujan pemicu banjir besar Jakarta tahun 2020.

Rais juga menyebut ada fenomena atmosfer yang memperkuat pembentukan awan hujan. Pada tanggal 24 November, terbentuk pusaran dari Semenanjung Malaysia yang akhirnya berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di sekitar Selat Malaka.

“Siklon ini memang tidak sekuat siklon Samudra Hindia, tetapi cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara,” jelasnya.

Ia juga menyinggung adanya cold surge vortex dan sistem skala meso yang memperbesar massa awan sehingga hujan turun lebih intens dan lebih lama dari biasanya.

Baca Juga:  Gelondongan Kayu di Tengah Banjir Sumatera: Jejak Deforestasi yang Mengalir Bersama Arus

Kerusakan Lingkungan Ikut Memperparah Dampak Banjir

Ahli geospasial ITB, Heri Andreas, menggarisbawahi bahwa kerusakan akibat hujan ekstrem sangat ditentukan oleh kondisi daratan.

“Banjir bukan hanya soal hujan. Ini soal bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi,” tuturnya.

Heri menjelaskan bahwa kawasan berhutan memiliki kemampuan infiltrasi tinggi. Ketika area tersebut berubah menjadi permukiman, kebun monokultur, atau lahan terbuka, kemampuan menyerap air hilang.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” kata Heri.

Ia juga menilai bahwa peta bahaya banjir nasional masih kurang akurat karena data geospasial belum menyeluruh, sehingga banyak wilayah berisiko yang tidak terdeteksi dalam perencanaan tata ruang.

Solusi Mitigasi: Infrastruktur Serius dan Tata Ruang Berbasis Risiko

Para pakar ITB menekankan pentingnya strategi mitigasi dua jalur:

  1. Struktural – pembangunan tanggul, kolam retensi, normalisasi sungai, dan infrastruktur pengendali banjir lainnya.
  2. Non-struktural – konservasi hutan penahan air, pembaruan tata ruang, edukasi kebencanaan, dan sistem peringatan dini yang mudah dipahami masyarakat.
Baca Juga:  303 Meninggal-279 Hilang, BNPB Jelaskan Mengapa Belum Terapkan Status Bencana Nasional

“Prediksi cuaca dan potensi bencana harus diterjemahkan menjadi informasi praktis yang mudah dipahami masyarakat—bukan sekadar data teknis,” ujar Rais.

Heri menambahkan bahwa pembaruan data geospasial harus menjadi prioritas nasional.

“Mitigasi jangka panjang harus menggabungkan sains atmosfer, rekayasa geospasial, dan tata kelola lingkungan. Tanpa itu, risiko banjir akan selalu berulang,” katanya.

Harapan: Kolaborasi Ilmiah dan Pemerintah untuk Sumatera yang Lebih Tangguh

ITB menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, kampus, dan lembaga riset. Pendekatan terpadu diharapkan mampu memperkuat resiliensi wilayah Sumatera bagian utara yang secara geografis dan klimatologis memang berada pada jalur risiko tinggi

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

banjir sumatera utara cuaca ekstrem sumatera kerusakan lingkungan penyebab banjir sumatera siklon tropis senyar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Donald Trump

Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran

Viral Pemuda di Ciamis Ngamuk Rusak Mobil Pemudik, Akhirnya Minta Maaf dan Ganti Rugi

Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga

Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit

Sempat Ingin Polisikan Netizen, Hendrik Irawan Kini Pasrah Dapurnya Disegel Buntut Joget Nyeleneh

Kejutan Panglima! Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Prajurit TNI Penghafal Al-Qur’an

Terpopuler
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Netizen Penasaran! Video Viral Kebun Sawit Ini Bisa Mengandung Risiko Digital
  • Link Video Ojol vs Bule 17 Menit Viral, Ternyata Settingan WNA di Bali demi Konten
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
  • Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE
  • Viral Part 2! Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ 7 Menit Diburu Netizen, Ini Faktanya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.