Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Paul Munster Resmi Berpisah dengan Bhayangkara FC, Ada Apa Jelang Musim Baru?

Rabu, 12 Agustus 2026 12:39 WIB

Harga Emas Hari Ini 12 Agustus 2026 Naik! Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram

Rabu, 12 Agustus 2026 12:21 WIB
zodiak

Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini: Capricorn Harus Introspeksi, Sagitarius Bikin Pusing!

Rabu, 12 Agustus 2026 12:17 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Paul Munster Resmi Berpisah dengan Bhayangkara FC, Ada Apa Jelang Musim Baru?
  • Harga Emas Hari Ini 12 Agustus 2026 Naik! Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram
  • Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini: Capricorn Harus Introspeksi, Sagitarius Bikin Pusing!
  • Persib Mulai TC di Bali, 7 Pemain Timnas Menyusul! Ada Marc Klok hingga Sandy Walsh
  • 450 Ribu Warga Jabar Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Capai 8,7 Juta Liter
  • Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Cair Agustus 2026: Cek Nama Penerima, Nominal Terbaru, dan Solusi Data Desil
  • VIRAL! Tolak Pasang Bendera dan Debat Soal Kemerdekaan Indonesia, Tukang Cukur Diintimidasi Aparat?
  • Alun-alun Bandung Kembali Dibuka 17 Agustus, Warga Bisa Ikuti Pesta Rakyat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 12 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pergerakan Tanah di Tol Cisumdawu KM 177 Memburuk, Badan Geologi Rekomendasikan Mitigasi Struktural Serius

By Aga GustianaSelasa, 24 Juni 2025 07:46 WIB3 Mins Read
Pergerakan tanah terjadi di Tol Cisamdawu Sumedang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ancaman pergerakan tanah di ruas Tol Cisumdawu KM 177, Dusun Bojongtotor, Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara, kian memburuk. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendesak agar langkah mitigasi struktural segera diterapkan untuk menghindari kerusakan lebih luas dan risiko terhadap keselamatan masyarakat serta pengguna jalan.

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa penanganan awal perlu difokuskan pada sistem drainase. “Langkah mitigasi yang perlu dilakukan, pertama pembenahan sistem drainase bawah permukaan seperti dewatering (pore water pressure reduction), subsurface-geodrain drainage, atau deep well guna mengurangi tekanan pori dalam tubuh lereng,” kata Wafid dalam keterangan resminya dikutip Selasa (24/6/2025). Selain itu, sistem drainase di permukaan lereng juga perlu diperbaiki.

Penguatan Lereng dan Sistem Peringatan Dini

Tak hanya itu, struktur fisik di lereng juga memerlukan penguatan serius. Wafid menyebutkan pentingnya memastikan pondasi bore pile tertanam lebih dalam, menembus hingga ke bawah bidang gelincir, untuk memberikan daya tahan maksimal terhadap pergeseran tanah.

Langkah berikutnya adalah memperbaiki tembok penahan tanah yang sudah rusak dan melakukan revegetasi atau penanaman kembali vegetasi alami untuk mengurangi laju erosi dan rembesan air hujan.

“Lalu dilakukan pemantauan terus, baik menggunakan pendekatan peralatan geodetik dan geoteknik, secara seketika (realtime) untuk memantau apabila terjadi deformasi permukaan maupun bawah permukaan sebagai sarana peringatan dini (early warning system) bagi warga sekitar lereng dan pengguna jalan tol,” jelasnya.

Penilaian Stabilitas Lereng Secara Menyeluruh

Badan Geologi juga menggarisbawahi pentingnya evaluasi berkala terhadap stabilitas lereng, termasuk dengan menambahkan model infiltrasi air dan kegempaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan lereng secara jangka panjang dan mengantisipasi potensi pergerakan tanah lanjutan.

“Jika upaya mitigasi struktural sudah dilakukan dan kondisi pergerakan tanah masih berlanjut atau berkembang, perlu dilakukan pemindahan permukiman pada lereng bagian atas dan jalur transportasi kendaraan,” ujar Wafid.

Gerakan Tanah Sudah Terpantau Sejak 2017

Berdasarkan laporan yang diterima, gejala awal gerakan tanah di kawasan ini sudah muncul sejak 2017, bahkan sebelum proyek Tol Cisumdawu dibangun. Saat itu, retakan mulai terlihat di area kebun, jalan arteri, dan beberapa rumah penduduk. Situasi memburuk pada 2021 setelah pemotongan lereng dilakukan untuk pembangunan jalan tol.

Puncaknya terjadi pada akhir Mei 2025, saat curah hujan tinggi memicu amblasan yang cukup signifikan. Gerakan tanah terdeteksi di area seluas 7,36 hektare, dengan panjang sekitar 340 meter dan lebar maksimal 275 meter. Di lapangan, terlihat retakan melintang menyerupai tapal kuda di lereng, sementara bagian atas lereng (gawir mahkota) telah mengalami penurunan antara 1,35 hingga 1,65 meter.

Jenis gerakan tanah yang terjadi tergolong rayapan (creep), yaitu pergerakan lambat namun terus berulang. Wafid memperingatkan bahwa jenis ini bisa berkembang menjadi rotational landslide atau longsor dalam dengan bidang gelincir melengkung. Lebar retakan yang ditemukan berkisar antara 5–30 cm, dengan panjang 5–140 meter, dan kedalaman mencapai 1–2 meter.

Dampak Fisik dan Kekhawatiran Warga

Analisis dari citra drone lidar dan pemetaan digital (DEM) menunjukkan kerusakan sepanjang 193 meter pada kedua jalur Tol Cisumdawu, baik arah Bandung maupun Sumedang. Di bagian tengah lereng, sejumlah pile dan dinding penahan tanah (DPT) mengalami kerusakan akibat amblasan. Bahkan, bagian bawah jalan tol mengalami kenaikan (bulging) antara 20–50 cm, yang memaksa pengelola jalan tol, PT CKJT, melakukan pengerukan dan perataan ulang jalur.

Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terutama mereka yang tinggal tak jauh dari titik longsor. Rumah-rumah yang berada dekat dengan mahkota longsoran kini berada dalam risiko tinggi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Badan Geologi ESDM Bencana Alam Longsor Sumedang Mitigasi Bencana Pergerakan Tanah Tol Cisumdawu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

450 Ribu Warga Jabar Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Capai 8,7 Juta Liter

VIRAL! Tolak Pasang Bendera dan Debat Soal Kemerdekaan Indonesia, Tukang Cukur Diintimidasi Aparat?

Alun-alun Bandung Kembali Dibuka 17 Agustus, Warga Bisa Ikuti Pesta Rakyat

Harga Cabai Tanjung di Bandung Meroket Tembus Rp100 Ribu per Kg

Bansos

PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair! Begini Cara Cek Status Penerima Bansos

Bansos Ibu Hamil 2026 Cair Rp750 Ribu! Cek Penerima PKH Pakai NIK KTP

Terpopuler
  • Menuju Muswil VII KAHMI Jabar, Pansel Umumkan 16 Calon Presidium dengan Rekam Jejak Strategis
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.