Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Didakwa Memeras Rp55 Miliar, Febrie Adriansyah Minta Hakim Batalkan Dakwaan

Rabu, 14 Oktober 2026 14:35 WIB

Timnas Indonesia Jadi Ladang Bisnis FIFA? Juara ASEAN Cup 2026 Disebut Cuma Setingan!

Rabu, 14 Oktober 2026 14:23 WIB

Jadwal ACL 2 Persib vs The Cong-Viettel: Maung Bandung Main di Si Jalak Harupat Malam Ini

Rabu, 14 Oktober 2026 14:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Didakwa Memeras Rp55 Miliar, Febrie Adriansyah Minta Hakim Batalkan Dakwaan
  • Timnas Indonesia Jadi Ladang Bisnis FIFA? Juara ASEAN Cup 2026 Disebut Cuma Setingan!
  • Jadwal ACL 2 Persib vs The Cong-Viettel: Maung Bandung Main di Si Jalak Harupat Malam Ini
  • Gerhana Matahari Total 2027: Fenomena Langka Terlama Abad Ini, Bisakah Dilihat dari Indonesia?
  • Demian Terang-terangan ‘Goda’ Sara Wijayanto di Live TikTok Pasca Cerai, Bakal Rujuk?
  • Pemerintah Gak Sanggup? Mbak Rara Dicari Netizen Minta Bantu Padamkan Karhutla Kalimantan
  • Dua WNI Jadi Korban Serangan di Riyadh, KBRI Ungkap Kondisi Terbaru
  • Bukan Cuma Raja Indonesia! Persib Kini Bikin The Cong Viettel Ketar-ketir
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 14 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pergerakan Tanah di Tol Cisumdawu KM 177 Memburuk, Badan Geologi Rekomendasikan Mitigasi Struktural Serius

By Aga GustianaSelasa, 24 Juni 2025 07:46 WIB3 Mins Read
Pergerakan tanah terjadi di Tol Cisamdawu Sumedang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ancaman pergerakan tanah di ruas Tol Cisumdawu KM 177, Dusun Bojongtotor, Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara, kian memburuk. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendesak agar langkah mitigasi struktural segera diterapkan untuk menghindari kerusakan lebih luas dan risiko terhadap keselamatan masyarakat serta pengguna jalan.

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa penanganan awal perlu difokuskan pada sistem drainase. “Langkah mitigasi yang perlu dilakukan, pertama pembenahan sistem drainase bawah permukaan seperti dewatering (pore water pressure reduction), subsurface-geodrain drainage, atau deep well guna mengurangi tekanan pori dalam tubuh lereng,” kata Wafid dalam keterangan resminya dikutip Selasa (24/6/2025). Selain itu, sistem drainase di permukaan lereng juga perlu diperbaiki.

Penguatan Lereng dan Sistem Peringatan Dini

Tak hanya itu, struktur fisik di lereng juga memerlukan penguatan serius. Wafid menyebutkan pentingnya memastikan pondasi bore pile tertanam lebih dalam, menembus hingga ke bawah bidang gelincir, untuk memberikan daya tahan maksimal terhadap pergeseran tanah.

Langkah berikutnya adalah memperbaiki tembok penahan tanah yang sudah rusak dan melakukan revegetasi atau penanaman kembali vegetasi alami untuk mengurangi laju erosi dan rembesan air hujan.

Baca Juga:  Ahmad Syaikhu Beberkan Tiga Strategi ASIH soal Mitigasi Bencana di Jabar

“Lalu dilakukan pemantauan terus, baik menggunakan pendekatan peralatan geodetik dan geoteknik, secara seketika (realtime) untuk memantau apabila terjadi deformasi permukaan maupun bawah permukaan sebagai sarana peringatan dini (early warning system) bagi warga sekitar lereng dan pengguna jalan tol,” jelasnya.

Penilaian Stabilitas Lereng Secara Menyeluruh

Badan Geologi juga menggarisbawahi pentingnya evaluasi berkala terhadap stabilitas lereng, termasuk dengan menambahkan model infiltrasi air dan kegempaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan lereng secara jangka panjang dan mengantisipasi potensi pergerakan tanah lanjutan.

“Jika upaya mitigasi struktural sudah dilakukan dan kondisi pergerakan tanah masih berlanjut atau berkembang, perlu dilakukan pemindahan permukiman pada lereng bagian atas dan jalur transportasi kendaraan,” ujar Wafid.

Baca Juga:  Jejak Ramalan Hard Gumay di Balik Tragedi Longsor Pasirlangu Bandung Barat

Gerakan Tanah Sudah Terpantau Sejak 2017

Berdasarkan laporan yang diterima, gejala awal gerakan tanah di kawasan ini sudah muncul sejak 2017, bahkan sebelum proyek Tol Cisumdawu dibangun. Saat itu, retakan mulai terlihat di area kebun, jalan arteri, dan beberapa rumah penduduk. Situasi memburuk pada 2021 setelah pemotongan lereng dilakukan untuk pembangunan jalan tol.

Puncaknya terjadi pada akhir Mei 2025, saat curah hujan tinggi memicu amblasan yang cukup signifikan. Gerakan tanah terdeteksi di area seluas 7,36 hektare, dengan panjang sekitar 340 meter dan lebar maksimal 275 meter. Di lapangan, terlihat retakan melintang menyerupai tapal kuda di lereng, sementara bagian atas lereng (gawir mahkota) telah mengalami penurunan antara 1,35 hingga 1,65 meter.

Jenis gerakan tanah yang terjadi tergolong rayapan (creep), yaitu pergerakan lambat namun terus berulang. Wafid memperingatkan bahwa jenis ini bisa berkembang menjadi rotational landslide atau longsor dalam dengan bidang gelincir melengkung. Lebar retakan yang ditemukan berkisar antara 5–30 cm, dengan panjang 5–140 meter, dan kedalaman mencapai 1–2 meter.

Baca Juga:  BPBD Kabupaten Bandung Distribusikan Logistik Kebencanaan, Antisipasi Bencana saat Pencoblosan

Dampak Fisik dan Kekhawatiran Warga

Analisis dari citra drone lidar dan pemetaan digital (DEM) menunjukkan kerusakan sepanjang 193 meter pada kedua jalur Tol Cisumdawu, baik arah Bandung maupun Sumedang. Di bagian tengah lereng, sejumlah pile dan dinding penahan tanah (DPT) mengalami kerusakan akibat amblasan. Bahkan, bagian bawah jalan tol mengalami kenaikan (bulging) antara 20–50 cm, yang memaksa pengelola jalan tol, PT CKJT, melakukan pengerukan dan perataan ulang jalur.

Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terutama mereka yang tinggal tak jauh dari titik longsor. Rumah-rumah yang berada dekat dengan mahkota longsoran kini berada dalam risiko tinggi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bencana Alam Mitigasi Bencana Pergerakan Tanah Tol Cisumdawu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Didakwa Memeras Rp55 Miliar, Febrie Adriansyah Minta Hakim Batalkan Dakwaan

Dua WNI Jadi Korban Serangan di Riyadh, KBRI Ungkap Kondisi Terbaru

Karhutla Jawa Barat Makin Meluas! 833 Hektare Lahan Terbakar, 23 Daerah Terdampak

Mundur atau Ditinggalkan? Teka-teki Raline Shah Tinggalkan Kursi Stafsus Menkomdigi!

Bansos

Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026

PMI Asal Bandung Barat Diduga Disekap di Dubai, Keluarga Menanti Kabar

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.