bukamata.id – Memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang, menghadiri seminar bertajuk “Generasi Muda: Obor Perjuangan, Bukan Api Kerusuhan” di Gedung Indonesia Menggugat, Kamis (21/5/2026).
Dalam acara tersebut, Rafael mengajak generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang cerdas dan memiliki keberpihakan nyata kepada masyarakat bawah.
Menurut Rafael, pemuda masa kini harus membekali diri dengan kemampuan berpikir kritis agar mampu membaca situasi sosial dan ekonomi secara objektif.
“Dalam konteks hari ini, kita harus punya pisau analisa. Mana yang kira-kira benar, mana yang tidak. Dengan pisau analisa itu, kita baru bisa menyusun strategi bagaimana cara berjuang,” ucap legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Angkat Topi untuk Militansi Pemuda Pengawal Isu Sosial
Di hadapan para peserta seminar, Rafael secara terbuka menyampaikan rasa hormat dan kekagumannya kepada kelompok anak muda yang memilih jalan “tidak biasa”. Di saat mayoritas anak muda mencari zona nyaman, masih ada segelintir pemuda yang rela terjun langsung mengadvokasi kasus-kasus struktural seperti penggusuran lahan dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang merusak.
Ia mengakui bahwa jalan yang dipilih para aktivis muda ini penuh dengan risiko besar, mulai dari intimidasi hingga kriminalisasi.
“Banyak orang mencari dunia nyaman, ingin jadi ‘manusia normal’ saja, punya pacar, main, jalani hidup biasa. Bagi sebagian orang, mereka yang mengadvokasi masyarakat, live-in berbulan-bulan di desa, itu dianggap tidak normal. Risikonya besar, bisa ditewak ku (ditangkap) polisi, dihadapkan dengan ormas, hingga diberi labeling negatif,” ungkap Rafael.
Ia menambahkan, militansi anak muda di berbagai daerah seperti di Sulawesi dan Jawa Tengah dalam mengawal isu lingkungan dan agraria patut diacungi jempol. Rafael bahkan merendah dan membandingkan pengalamannya di masa muda yang tidak semilitan aktivis hari ini.
“Dulu waktu muda saya pernah ikut live-in di Agrabinta, Cianjur. Tapi tidak semilitan mereka, paling tiga hari saya sudah pulang. Makanya, saya betul-betul angkat topi untuk anak-anak muda sekarang yang masih konsisten berjuang,” tambahnya.
Advokasi sebagai Sarana Menajamkan Nurani
Di akhir pemaparannya, Rafael menekankan bahwa keterlibatan anak muda dalam aksi-aksi advokasi bukan sekadar tentang perlawanan, melainkan sebuah proses penempaan diri yang sangat berharga.
Melalui interaksi langsung dengan masyarakat yang tertindas, kepekaan sosial dan moral generasi muda akan terbentuk menjadi lebih solid.
“Kalau kita mau berjuang, aksi-aksi advokasi itu bisa melatih kita untuk berpihak. Minimal, hal itu akan menajamkan hati nurani kita untuk bisa melihat dengan jelas, mana yang benar dan mana yang salah,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










