bukamata.id – Persib Bandung menjadi sorotan setelah menerima konsekuensi dari sengketa kontrak dengan mantan pemainnya, Daisuke Sato. Klub asal Kota Bandung itu diwajibkan membayar kompensasi sekitar Rp3,04 miliar setelah putusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Putusan tersebut sekaligus memperkuat keputusan FIFA terkait sengketa yang melibatkan pemain Timnas Filipina tersebut.
CAS Tegaskan Pemutusan Kontrak Sah Dilakukan Sato
Dalam dokumen putusan CAS setebal 24 halaman yang dirilis pada 16 Maret 2026, majelis arbitrase menolak keberatan utama yang diajukan Persib Bandung.
CAS menyatakan bahwa Daisuke Sato memiliki just cause atau alasan yang sah untuk mengakhiri kontraknya pada 3 Januari 2024.
Dengan demikian, Persib dinilai sebagai pihak yang melakukan pelanggaran kontrak, sehingga wajib memberikan kompensasi kepada pemain.
Rincian Kompensasi yang Harus Dibayarkan
Awalnya, FIFA menetapkan nilai ganti rugi sebesar Rp3,09 miliar. Namun, jumlah tersebut kemudian dikurangi oleh CAS setelah mempertimbangkan pendapatan Sato dari klub lain setelah meninggalkan Persib.
Rincian kewajiban yang ditetapkan adalah:
- Kompensasi pokok: Rp2.719.878.000
- Bunga 5% per tahun sejak 3 Januari 2024
- Total estimasi bunga: sekitar Rp327,5 juta
Dengan perhitungan tersebut, total kewajiban Persib Bandung saat ini diperkirakan mencapai Rp3.047.381.118.
Dampak Putusan: Transfer Ban FIFA untuk Persib
Putusan sengketa ini juga dikaitkan dengan larangan registrasi pemain baru (transfer ban) yang dijatuhkan FIFA kepada Persib Bandung.
Sanksi tersebut membuat Persib tidak dapat melakukan aktivitas transfer pemain hingga sengketa diselesaikan sepenuhnya.
Kondisi ini menjadi sorotan publik karena Persib dikenal sebagai salah satu klub dengan kekuatan finansial besar di kompetisi Liga 1 Indonesia.
Klarifikasi Daisuke Sato
Setelah menjadi sorotan publik dan akun media sosialnya ramai diserbu, Daisuke Sato akhirnya memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa permasalahan ini bukan persoalan pribadi dengan Persib Bandung maupun suporter.
“Hal ini bukanlah akibat dari keluhan atau tindakan baru-baru ini dari pihak saya,” ujar Sato melalui akun Instagram pribadinya.
Sato menjelaskan bahwa sengketa bermula pada tahun 2023 ketika kontraknya diputus secara sepihak. Ia kemudian memilih menempuh jalur hukum melalui CAS setelah tidak menemukan kejelasan terkait statusnya di tim.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk melindungi hak profesional sebagai pemain sepak bola.
Awal Mula Sengketa Kontrak
Sengketa bermula saat Persib melakukan perubahan komposisi pemain asing pada pertengahan musim 2023/2024.
Kedatangan pemain baru membuat posisi Sato menjadi tidak pasti. CAS menilai Persib tidak memberikan kejelasan terkait status registrasi pemain tersebut di kompetisi resmi.
Majelis arbitrase juga menyimpulkan bahwa Sato telah dicoret dari daftar registrasi liga, sehingga kehilangan hak untuk tampil di pertandingan resmi.
Hak Pemain dalam Dunia Profesional
Dalam pertimbangannya, CAS menegaskan bahwa hak pemain tidak hanya sebatas menerima gaji dan mengikuti latihan.
Pemain juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kompetisi resmi, yang menjadi bagian penting dari karier profesional mereka.
CAS menilai kondisi yang dialami Sato tidak dapat dibenarkan, meskipun ia tetap menerima gaji dari klub.
Dalam putusannya, arbiter juga mengkritik kurangnya kejelasan dari pihak klub terkait status pemain, yang dianggap merugikan karier profesional Sato.
Kasus Persib Bandung dan Daisuke Sato menjadi salah satu sengketa kontrak yang berujung pada sanksi finansial besar serta dampak langsung terhadap aktivitas transfer klub.
Putusan CAS ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya transparansi, kepastian kontrak, dan perlindungan hak pemain dalam dunia sepak bola profesional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









