Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Sabtu, 31 Oktober 2026 14:45 WIB

Badai Boikot Paling Parah? Fakta Mengejutkan Dibalik Hancurnya Rans Carnival 2026!

Sabtu, 31 Oktober 2026 13:26 WIB

Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak

Sabtu, 31 Oktober 2026 12:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut
  • Badai Boikot Paling Parah? Fakta Mengejutkan Dibalik Hancurnya Rans Carnival 2026!
  • Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak
  • Tarif Berdasarkan Durasi, Pengelola Situs Live Porno Rekrut Belasan Talent Sejak 2025
  • Momen Amanda Manopo & Kenny Austin Bikin Konten Anak, Ternyata Sosoknya Setulus Ini
  • Waspada Ledakan Kuda Hitam! Tren Positif Isenmulang Kalteng FC Ancam Dominasi Persib Bandung
  • Saldo KKS Belum Masuk? Cek 3 Hal Ini Sebelum Panik soal Bansos Tahap 4
  • Wajib Mampir! 5 Tempat Makan di Bandung yang Selalu Diburu Wisatawan Luar Kota
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 31 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Polemik Tarif Selat Malaka: Mengapa Indonesia Tak Bisa Tarik Pungutan Sembarangan?

By Aga GustianaJumat, 24 April 2026 07:37 WIB3 Mins Read
Selat Malaka. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana pengenaan tarif bagi kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Malaka kembali mencuat ke permukaan. Gagasan yang dilempar oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ini seketika memicu gelombang reaksi, terutama dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang secara tegas menyatakan penolakan.

Meskipun terlihat sebagai peluang ekonomi yang menggiurkan bagi kas negara, rencana ini nyatanya terbentur tembok tebal aturan hukum laut internasional. Mengapa Indonesia tidak bisa serta-merta mengomersialisasi jalur laut tersibuk di dunia ini? Berikut adalah bedah tuntasnya.

1. Belajar dari Selat Hormuz? Perbandingan yang Kurang Tepat

Munculnya ide ini sering kali dikaitkan dengan kebijakan Iran di Selat Hormuz. Namun, para pakar menilai analogi tersebut tidak bisa diterapkan di Selat Malaka. Selat Malaka memiliki karakteristik hukum dan geopolitik yang jauh berbeda, di mana stabilitas navigasi global menjadi harga mati bagi perdagangan dunia.

Baca Juga:  Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!

2. Terikat Aturan UNCLOS: Hak Transit Passage

Landasan utama yang menggagalkan ambisi pemungutan biaya ini adalah UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea). Sebagai konvensi hukum laut PBB, UNCLOS menetapkan status Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional dengan prinsip transit passage.

  • Kebebasan Navigasi: Kapal dari negara mana pun berhak melintas tanpa hambatan dan tanpa syarat biaya.
  • Larangan Hambatan: Negara pantai (Indonesia, Malaysia, Singapura) dilarang menghentikan atau memungut retribusi atas hak lintas transit tersebut.

Poin Penting: Berbeda dengan Terusan Suez atau Panama yang merupakan kanal buatan manusia (infrastruktur), Selat Malaka adalah jalur alami. Hukum internasional hanya mengizinkan pemungutan biaya pada infrastruktur buatan yang memerlukan biaya perawatan konstruksi.

Baca Juga:  Setelah Dibantai Jepang, Ranking FIFA Timnas Indonesia Disalip Malaysia!

3. Posisi Dilematis Indonesia sebagai Negara Kepulauan

Indonesia berada dalam posisi yang unik sekaligus sensitif. Di satu sisi, kita memiliki garis pantai terpanjang di sepanjang selat tersebut. Di sisi lain, kedaulatan Indonesia sebagai Negara Kepulauan justru sangat bergantung pada kepatuhan terhadap UNCLOS.

Jika Indonesia melanggar aturan konvensi ini dengan menarik tarif sepihak, hal itu bisa menjadi bumerang yang mengancam pengakuan internasional terhadap status negara kepulauan kita sendiri.

4. Dominasi Singapura dan Kerja Sama Trilateral

Secara operasional, pengelolaan Selat Malaka bukan hanya soal wilayah, tapi juga teknologi dan pengawasan.

  • Singapura memiliki sistem pemantauan lalu lintas kapal yang sangat canggih.
  • Malaysia memegang titik strategis di wilayah sempit yang padat.
  • Indonesia berperan besar dalam patroli keamanan bersama.
Baca Juga:  Dunia di Ambang Perang, SBY Beri Peringatan Keras: Indonesia Jangan Lugu dan Merasa Aman!

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa navigasi bebas adalah hak hukum yang dijamin dunia, bukan jasa komersial yang bisa diperjualbelikan.

Kesimpulan: Jalan Tengah Melalui Konsensus

Meski secara ekonomi Selat Malaka sangat vital bagi perdagangan global, setiap perubahan kebijakan di wilayah ini wajib melalui konsensus regional. Langkah sepihak hanya akan menciptakan ketegangan diplomatik dan ketidakpastian hukum di mata internasional.

Hingga saat ini, kerja sama trilateral antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan dan kelancaran arus logistik di selat yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Asia Timur ini.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

geopolitik Malaysia Singapura
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak

Tarif Berdasarkan Durasi, Pengelola Situs Live Porno Rekrut Belasan Talent Sejak 2025

Bansos

Saldo KKS Belum Masuk? Cek 3 Hal Ini Sebelum Panik soal Bansos Tahap 4

Bansos Tahap 4 Belum Cair? Cek Dulu Status Verifikasi Rekening KKS Anda

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Kapan Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Cair? Cek Status Penerima Lewat HP di Sini

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.