Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Daftar Nominal PKH 2026 Terbaru, Ada yang Dapat Hingga Rp2,7 Juta per Tahun

Sabtu, 20 Juni 2026 05:00 WIB

Beckham Putra Yakin Argentina Juara Piala Dunia 2026, Ini Alasannya

Sabtu, 20 Juni 2026 04:00 WIB

Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya

Sabtu, 20 Juni 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Daftar Nominal PKH 2026 Terbaru, Ada yang Dapat Hingga Rp2,7 Juta per Tahun
  • Beckham Putra Yakin Argentina Juara Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya
  • Panen Pemain Bintang! Klaim Kode Redeem FC Mobile Hari Ini 20 Juni 2026, Amankan Paket Gems dan Koin Gratis
  • Serbu Reward Akhir Pekan! Klaim Kode Redeem FF Hari Ini 20 Juni 2026, Amankan Skin Senjata dan Diamond Gratis
  • Usai Bruno Fernandes, Kini Joao Neves dan Kekasihnya Jadi Sasaran Amuk Pendukung Cristiano Ronaldo
  • Mirip Film Sci-Fi! Arab Saudi Bangun Danau Air Tawar Raksasa Senilai Rp125 Triliun di Tengah Gurun Pasir
  • Heboh Video Viral Cut Salwa, Ini Klarifikasi dan Fakta yang Beredar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 20 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Potensi Defisit APBD Jabar Rp4,3 Triliun, DPRD Soroti Ambisi Belanja vs Realitas Pendapatan

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:21 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, potensi defisit anggaran Jabar 2026 Rp4,3 triliun. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana kemungkinan defisit APBD Jawa Barat 2026 yang disebut bisa mencapai sekitar Rp4,3 triliun terus menjadi perhatian publik dan DPRD. Setelah Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, mengakui adanya koreksi dari Kementerian Dalam Negeri terhadap struktur anggaran, DPRD kini menyoroti masalah ini secara kritis.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanadi, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar “defisit tiba-tiba,” melainkan akibat koreksi Kemendagri terhadap perencanaan anggaran yang terlalu optimistis.

“Sebenernya angka itu bukan defisit, tapi koreksi Kementerian Dalam Negeri terhadap APBD Provinsi Jabar,” ujar Daddy saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan fiskal Jabar bukan sekadar soal kekurangan dana, melainkan menyentuh inti perencanaan anggaran itu sendiri.

Saat ditanya apakah situasi ini bisa disebut kegagalan perencanaan fiskal, Daddy menyebut salah satu penyebabnya adalah proyeksi pendapatan yang terlalu tinggi sejak awal.

“Jangan terlalu super optimistis soal target pendapatan, berkaca pada tren-nya waktu itu,” katanya.

Baca Juga:  Gubernur dan DPRD Jabar Sepakati Tiga Ranperda Jadi Perda

Komentar ini menunjukkan bahwa penyusunan APBD selama ini lebih bertumpu pada harapan dibanding kehati-hatian fiskal. Ketika asumsi makro tidak tercapai, koreksi dari pusat pun tidak terhindarkan, dan risiko defisit muncul ke permukaan.

Dalam konteks ini, angka Rp4,3 triliun bukan sekadar nominal, tetapi alarm bahwa struktur fiskal Jabar belum cukup adaptif menghadapi perubahan realitas pendapatan.

DPRD Tolak Utang Sebagai Solusi Cepat

Terkait wacana pinjaman daerah, Daddy menegaskan bahwa DPRD tidak melihat utang sebagai solusi rasional untuk menutup potensi lubang anggaran.

“Dalam kondisi keuangan seperti ini, semua dewan tidak sepakat untuk menjadikan utang sebagai beban setiap tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, mengandalkan pinjaman secara rutin justru akan memindahkan masalah ke APBD tahun-tahun berikutnya.

“Jangan sampai menambah beban fiskal tahunan,” tegas Daddy.

Pandangan ini menegaskan posisi DPRD yang berhati-hati: utang bukan strategi pembangunan produktif, tetapi risiko fiskal yang dapat menggerus ruang belanja publik di masa depan.

Baca Juga:  Sekolah Legislatif UIN Bandung, Rafael Situmorang: Mahasiswa Harus Siap Hadapi Dinamika Politik di Era Digital

Daddy menilai, alih-alih cepat mengambil utang, Pemprov Jabar seharusnya lebih berani mengoreksi belanja.

“Bagi saya yang lebih penting soal solusi. Salah satu solusi, kita bicara mereduksi. Mana yang bisa direduksi dan mana yang harus dipertahankan. Pekerjaan mana yang bisa kita tunda, maka otomatis akan menunda atau meng-cancel,” jelasnya.

Opsi lain seperti pengalihan proyek menjadi tahun jamak juga disebutkan, namun menurut Daddy, langkah tersebut memerlukan payung hukum berupa perda dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Beberapa pekerjaan dialihkan menjadi tahun jamak, tetapi itu harus punya perda sendiri, dan tidak memungkinkan jika dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan ini memperlihatkan ruang manuver Pemprov Jabar terbatas, sebagian karena desain anggaran sebelumnya tidak cukup memberi bantalan fiskal.

Kesenjangan Perencanaan dan Realitas Fiskal

Sebelumnya, Sekda Jabar Herman Suryatman menyebut potensi defisit merupakan hasil evaluasi Kemendagri. Opsi pinjaman daerah masih dalam tahap kajian dan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga:  Ketok Palu! DPRD Jabar Serahkan Rekomendasi LKPJ 2025, Jadi Acuan Kebijakan Strategis Dedi Mulyadi

Namun, munculnya wacana utang publik menyoroti masalah yang lebih mendasar: kesenjangan antara perencanaan dan realitas fiskal. Tekanan kewajiban pembayaran tahun sebelumnya, mulai dari kontraktor hingga kompensasi masyarakat terdampak kebijakan, semakin mempersempit ruang fiskal awal 2026. Dalam situasi ini, utang lebih terlihat sebagai langkah reaktif daripada strategi reformasi fiskal.

Potensi defisit Rp4,3 triliun bukan sekadar angka kontroversial. Angka ini menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa fondasi pendapatan Jawa Barat belum cukup kuat untuk menopang ambisi belanja yang terus meningkat.

Tanpa koreksi serius dalam menyusun target pendapatan, optimalisasi PAD, dan evaluasi belanja, ancaman defisit bisa menjadi siklus tahunan.

Peringatan DPRD menunjukkan bahwa persoalan APBD Jabar bukan lagi isu teknis birokrasi, tetapi menyentuh arah kebijakan fiskal: apakah Jawa Barat ingin membangun keuangan daerah yang tahan guncangan, atau terus menambal lubang dengan optimisme di atas kertas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jawa Barat defisit APBD DPRD Jabar fiskal daerah kebijakan anggaran keuangan daerah proyeksi pendapatan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Daftar Nominal PKH 2026 Terbaru, Ada yang Dapat Hingga Rp2,7 Juta per Tahun

Mengejutkan! Kreator Konten Kini Wajib Punya NIB, Ini Aturan Terbarunya

Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo dan Dr Tifa Resmi Diamankan Polisi

Diduga Hilang Konsentrasi, Angkot Berisi Belasan Pelajar Terjungkal di Jalan Menanjak Jatinangor

Topeng Normalitas sang Buronan: Membaca Kelihaian Pelaku Penyekap Wanita Bandung yang Licin dari Kepungan Polisi

Padam Listrik

Pemadaman PLN Bikin Traffic Light Bandung Lumpuh, Ini Dampaknya

Terpopuler
  • Heboh Cut Salwa Viral! Warganet Ramai Cari Link Video ‘No Sensor’, Begini Fakta yang Terungkap
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Perkuat Edukasi dan Aksi Sosial, Yayasan Jalan Surga Gandeng bukamata.id Sebarkan Nilai Kebaikan
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
  • Merasa Ditipu Janji Manis Asuransi, Mantan Pangdam Ngamuk Saldo Rp520 Juta Terjun Bebas Jadi Rp263 Juta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.