Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Link Video Viral ‘Vell TikTok Blunder’, Warganet Ramai Cari Versi Asli

Selasa, 5 Mei 2026 20:52 WIB

IASC Hadir Sebagai Pusat Anti-Scam Nasional: Percepat Penanganan Penipuan Transaksi Keuangan

Selasa, 5 Mei 2026 20:38 WIB

BUKAN GEN ALPHA BIASA! Demi Mimpi Tinju Dunia, Bocah 13 Tahun Ini Latihan Gila-gilaan

Selasa, 5 Mei 2026 20:14 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Link Video Viral ‘Vell TikTok Blunder’, Warganet Ramai Cari Versi Asli
  • IASC Hadir Sebagai Pusat Anti-Scam Nasional: Percepat Penanganan Penipuan Transaksi Keuangan
  • BUKAN GEN ALPHA BIASA! Demi Mimpi Tinju Dunia, Bocah 13 Tahun Ini Latihan Gila-gilaan
  • Strategi Jemput Bola Bupati Bandung: Desak Pusat Percepat Flyover Bojongsoang hingga Tol Ciwidey
  • Solusi Banjir Bekasi: DPRD Jabar Dorong Penambahan Rumah Panggung di Pondok Gede Permai
  • Transfer Panas! Persib Siap Datangkan Kiper Eropa, Jejak Thom Haye Terulang?
  • bjb KPR PASTI Tawarkan Suku Bunga Tetap 9,99 Persen: Solusi Kredit Rumah Stabil dan Terjangkau
  • Dua Hari Hilang, Bocah 11 Tahun di Cianjur Diduga Tenggelam Usai Melompat ke Sungai Cibaregbeg
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 5 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Potensi Defisit APBD Jabar Rp4,3 Triliun, DPRD Soroti Ambisi Belanja vs Realitas Pendapatan

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:21 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, potensi defisit anggaran Jabar 2026 Rp4,3 triliun. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana kemungkinan defisit APBD Jawa Barat 2026 yang disebut bisa mencapai sekitar Rp4,3 triliun terus menjadi perhatian publik dan DPRD. Setelah Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, mengakui adanya koreksi dari Kementerian Dalam Negeri terhadap struktur anggaran, DPRD kini menyoroti masalah ini secara kritis.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanadi, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar “defisit tiba-tiba,” melainkan akibat koreksi Kemendagri terhadap perencanaan anggaran yang terlalu optimistis.

“Sebenernya angka itu bukan defisit, tapi koreksi Kementerian Dalam Negeri terhadap APBD Provinsi Jabar,” ujar Daddy saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan fiskal Jabar bukan sekadar soal kekurangan dana, melainkan menyentuh inti perencanaan anggaran itu sendiri.

Saat ditanya apakah situasi ini bisa disebut kegagalan perencanaan fiskal, Daddy menyebut salah satu penyebabnya adalah proyeksi pendapatan yang terlalu tinggi sejak awal.

“Jangan terlalu super optimistis soal target pendapatan, berkaca pada tren-nya waktu itu,” katanya.

Baca Juga:  Luka Bandung Pasca Demonstrasi: Kerusakan Meluas, Farhan Jamin Kondisi Aman Terkendali

Komentar ini menunjukkan bahwa penyusunan APBD selama ini lebih bertumpu pada harapan dibanding kehati-hatian fiskal. Ketika asumsi makro tidak tercapai, koreksi dari pusat pun tidak terhindarkan, dan risiko defisit muncul ke permukaan.

Dalam konteks ini, angka Rp4,3 triliun bukan sekadar nominal, tetapi alarm bahwa struktur fiskal Jabar belum cukup adaptif menghadapi perubahan realitas pendapatan.

DPRD Tolak Utang Sebagai Solusi Cepat

Terkait wacana pinjaman daerah, Daddy menegaskan bahwa DPRD tidak melihat utang sebagai solusi rasional untuk menutup potensi lubang anggaran.

“Dalam kondisi keuangan seperti ini, semua dewan tidak sepakat untuk menjadikan utang sebagai beban setiap tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, mengandalkan pinjaman secara rutin justru akan memindahkan masalah ke APBD tahun-tahun berikutnya.

“Jangan sampai menambah beban fiskal tahunan,” tegas Daddy.

Pandangan ini menegaskan posisi DPRD yang berhati-hati: utang bukan strategi pembangunan produktif, tetapi risiko fiskal yang dapat menggerus ruang belanja publik di masa depan.

Baca Juga:  Daftar Lengkap 16 Kecamatan yang akan Masuk Cirebon Timur, Ini Detailnya

Daddy menilai, alih-alih cepat mengambil utang, Pemprov Jabar seharusnya lebih berani mengoreksi belanja.

“Bagi saya yang lebih penting soal solusi. Salah satu solusi, kita bicara mereduksi. Mana yang bisa direduksi dan mana yang harus dipertahankan. Pekerjaan mana yang bisa kita tunda, maka otomatis akan menunda atau meng-cancel,” jelasnya.

Opsi lain seperti pengalihan proyek menjadi tahun jamak juga disebutkan, namun menurut Daddy, langkah tersebut memerlukan payung hukum berupa perda dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Beberapa pekerjaan dialihkan menjadi tahun jamak, tetapi itu harus punya perda sendiri, dan tidak memungkinkan jika dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan ini memperlihatkan ruang manuver Pemprov Jabar terbatas, sebagian karena desain anggaran sebelumnya tidak cukup memberi bantalan fiskal.

Kesenjangan Perencanaan dan Realitas Fiskal

Sebelumnya, Sekda Jabar Herman Suryatman menyebut potensi defisit merupakan hasil evaluasi Kemendagri. Opsi pinjaman daerah masih dalam tahap kajian dan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga:  Pasca Bencana Banjir di Kabupaten Bandung, DPRD Jabar Dorong Langkah Konkrit Tangani Luapan Sungai

Namun, munculnya wacana utang publik menyoroti masalah yang lebih mendasar: kesenjangan antara perencanaan dan realitas fiskal. Tekanan kewajiban pembayaran tahun sebelumnya, mulai dari kontraktor hingga kompensasi masyarakat terdampak kebijakan, semakin mempersempit ruang fiskal awal 2026. Dalam situasi ini, utang lebih terlihat sebagai langkah reaktif daripada strategi reformasi fiskal.

Potensi defisit Rp4,3 triliun bukan sekadar angka kontroversial. Angka ini menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa fondasi pendapatan Jawa Barat belum cukup kuat untuk menopang ambisi belanja yang terus meningkat.

Tanpa koreksi serius dalam menyusun target pendapatan, optimalisasi PAD, dan evaluasi belanja, ancaman defisit bisa menjadi siklus tahunan.

Peringatan DPRD menunjukkan bahwa persoalan APBD Jabar bukan lagi isu teknis birokrasi, tetapi menyentuh arah kebijakan fiskal: apakah Jawa Barat ingin membangun keuangan daerah yang tahan guncangan, atau terus menambal lubang dengan optimisme di atas kertas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jawa Barat defisit APBD DPRD Jabar fiskal daerah kebijakan anggaran keuangan daerah proyeksi pendapatan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

IASC Hadir Sebagai Pusat Anti-Scam Nasional: Percepat Penanganan Penipuan Transaksi Keuangan

BUKAN GEN ALPHA BIASA! Demi Mimpi Tinju Dunia, Bocah 13 Tahun Ini Latihan Gila-gilaan

Strategi Jemput Bola Bupati Bandung: Desak Pusat Percepat Flyover Bojongsoang hingga Tol Ciwidey

Solusi Banjir Bekasi: DPRD Jabar Dorong Penambahan Rumah Panggung di Pondok Gede Permai

bjb KPR PASTI Tawarkan Suku Bunga Tetap 9,99 Persen: Solusi Kredit Rumah Stabil dan Terjangkau

Dua Hari Hilang, Bocah 11 Tahun di Cianjur Diduga Tenggelam Usai Melompat ke Sungai Cibaregbeg

Terpopuler
  • Link Video Viral Vell Blunder Durasi Panjang, Waspada Modus Phising!
  • Link Video Bandar Batang Membara Viral, Pemeran Sengaja Jual-Beli Konten?
  • Link Video Viral Batang Membara: Diiming-iming Cuan Rp250 Juta Lewat Telegram
  • TRANSFER MEGA! Persib Siap Borong Pemain Brasil, Belanda hingga Irak
  • Jangan Klik! Link Video Viral Bandar Membara Diduga Berbahaya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.