Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Ini Desil yang Berpeluang Dapat Bantuan

Senin, 19 Oktober 2026 01:00 WIB

Sentuhan Pertama Langsung Gol! Julio Cesar Bawa Persib Tumbangkan Persik Kediri

Minggu, 18 Oktober 2026 21:13 WIB

Cuma 8 Meter dari Rel Kereta, Halte BRT Kiaracondong Dinilai Bahayakan Pejalan Kaki

Minggu, 18 Oktober 2026 20:44 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Ini Desil yang Berpeluang Dapat Bantuan
  • Sentuhan Pertama Langsung Gol! Julio Cesar Bawa Persib Tumbangkan Persik Kediri
  • Cuma 8 Meter dari Rel Kereta, Halte BRT Kiaracondong Dinilai Bahayakan Pejalan Kaki
  • Dibayar Tuntas! 15 Tahun Vakum Akting, Comeback Agnez Mo Langsung Guncang Hollywood!
  • Melonjak dari 17 Jadi 253, Rumah Rusak Akibat Gempa Bogor Terus Bertambah
  • Pelari ITB Ultra Marathon Meninggal di Cianjur, Ini Kronologinya
  • Jelang Persib vs Persik, Beckham Putra Kirim Pesan Khusus untuk Bobotoh
  • Dibesarkan Sepenuh Hati, Diusir di Usia Senja?! Kisah Pilu Kakek 78 Tahun yang Bikin Netizen Elus Dada
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 19 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Potensi Defisit APBD Jabar Rp4,3 Triliun, DPRD Soroti Ambisi Belanja vs Realitas Pendapatan

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:21 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, potensi defisit anggaran Jabar 2026 Rp4,3 triliun. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana kemungkinan defisit APBD Jawa Barat 2026 yang disebut bisa mencapai sekitar Rp4,3 triliun terus menjadi perhatian publik dan DPRD. Setelah Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, mengakui adanya koreksi dari Kementerian Dalam Negeri terhadap struktur anggaran, DPRD kini menyoroti masalah ini secara kritis.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanadi, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar “defisit tiba-tiba,” melainkan akibat koreksi Kemendagri terhadap perencanaan anggaran yang terlalu optimistis.

“Sebenernya angka itu bukan defisit, tapi koreksi Kementerian Dalam Negeri terhadap APBD Provinsi Jabar,” ujar Daddy saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan fiskal Jabar bukan sekadar soal kekurangan dana, melainkan menyentuh inti perencanaan anggaran itu sendiri.

Saat ditanya apakah situasi ini bisa disebut kegagalan perencanaan fiskal, Daddy menyebut salah satu penyebabnya adalah proyeksi pendapatan yang terlalu tinggi sejak awal.

“Jangan terlalu super optimistis soal target pendapatan, berkaca pada tren-nya waktu itu,” katanya.

Baca Juga:  DPRD Jabar Gelar Parlemen Mengabdi Meriahkan Peringatan Hari Lahir Pancasila

Komentar ini menunjukkan bahwa penyusunan APBD selama ini lebih bertumpu pada harapan dibanding kehati-hatian fiskal. Ketika asumsi makro tidak tercapai, koreksi dari pusat pun tidak terhindarkan, dan risiko defisit muncul ke permukaan.

Dalam konteks ini, angka Rp4,3 triliun bukan sekadar nominal, tetapi alarm bahwa struktur fiskal Jabar belum cukup adaptif menghadapi perubahan realitas pendapatan.

DPRD Tolak Utang Sebagai Solusi Cepat

Terkait wacana pinjaman daerah, Daddy menegaskan bahwa DPRD tidak melihat utang sebagai solusi rasional untuk menutup potensi lubang anggaran.

“Dalam kondisi keuangan seperti ini, semua dewan tidak sepakat untuk menjadikan utang sebagai beban setiap tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, mengandalkan pinjaman secara rutin justru akan memindahkan masalah ke APBD tahun-tahun berikutnya.

“Jangan sampai menambah beban fiskal tahunan,” tegas Daddy.

Pandangan ini menegaskan posisi DPRD yang berhati-hati: utang bukan strategi pembangunan produktif, tetapi risiko fiskal yang dapat menggerus ruang belanja publik di masa depan.

Baca Juga:  Polemik Perluasan SMKN 2 Bandung: DPRD Jabar Kawal Status Lahan dan Nasib Warga Terdampak

Daddy menilai, alih-alih cepat mengambil utang, Pemprov Jabar seharusnya lebih berani mengoreksi belanja.

“Bagi saya yang lebih penting soal solusi. Salah satu solusi, kita bicara mereduksi. Mana yang bisa direduksi dan mana yang harus dipertahankan. Pekerjaan mana yang bisa kita tunda, maka otomatis akan menunda atau meng-cancel,” jelasnya.

Opsi lain seperti pengalihan proyek menjadi tahun jamak juga disebutkan, namun menurut Daddy, langkah tersebut memerlukan payung hukum berupa perda dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Beberapa pekerjaan dialihkan menjadi tahun jamak, tetapi itu harus punya perda sendiri, dan tidak memungkinkan jika dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan ini memperlihatkan ruang manuver Pemprov Jabar terbatas, sebagian karena desain anggaran sebelumnya tidak cukup memberi bantalan fiskal.

Kesenjangan Perencanaan dan Realitas Fiskal

Sebelumnya, Sekda Jabar Herman Suryatman menyebut potensi defisit merupakan hasil evaluasi Kemendagri. Opsi pinjaman daerah masih dalam tahap kajian dan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga:  Waduh! 8 Caleg DPRD Jabar Terpillih Terancam Tak Dilantik, Ternyata Gegara Ini

Namun, munculnya wacana utang publik menyoroti masalah yang lebih mendasar: kesenjangan antara perencanaan dan realitas fiskal. Tekanan kewajiban pembayaran tahun sebelumnya, mulai dari kontraktor hingga kompensasi masyarakat terdampak kebijakan, semakin mempersempit ruang fiskal awal 2026. Dalam situasi ini, utang lebih terlihat sebagai langkah reaktif daripada strategi reformasi fiskal.

Potensi defisit Rp4,3 triliun bukan sekadar angka kontroversial. Angka ini menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa fondasi pendapatan Jawa Barat belum cukup kuat untuk menopang ambisi belanja yang terus meningkat.

Tanpa koreksi serius dalam menyusun target pendapatan, optimalisasi PAD, dan evaluasi belanja, ancaman defisit bisa menjadi siklus tahunan.

Peringatan DPRD menunjukkan bahwa persoalan APBD Jabar bukan lagi isu teknis birokrasi, tetapi menyentuh arah kebijakan fiskal: apakah Jawa Barat ingin membangun keuangan daerah yang tahan guncangan, atau terus menambal lubang dengan optimisme di atas kertas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPRD Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Ini Desil yang Berpeluang Dapat Bantuan

Cuma 8 Meter dari Rel Kereta, Halte BRT Kiaracondong Dinilai Bahayakan Pejalan Kaki

Ilustrasi gempa

Melonjak dari 17 Jadi 253, Rumah Rusak Akibat Gempa Bogor Terus Bertambah

Pelari ITB Ultra Marathon Meninggal di Cianjur, Ini Kronologinya

Dibesarkan Sepenuh Hati, Diusir di Usia Senja?! Kisah Pilu Kakek 78 Tahun yang Bikin Netizen Elus Dada

ASN bisa WFA

Kronologi ASN Pemkot Bandung Dipecat Tidak Hormat Usai Diduga Hamili Pelajar Magang

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Siap-siap Cair! Panduan Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 Pakai NIK KTP
  • Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.