Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga

Sabtu, 17 Oktober 2026 13:27 WIB

Geger Dugaan Pelecehan Verbal Dosen UIN Bandung: Mahasiswa Gelar Aksi, Rektor Sampaikan Permohonan Maaf

Sabtu, 17 Oktober 2026 11:58 WIB
Kantor FAM Malaysia.

Terjerat Skandal Naturalisasi, Malaysia Malah Masuk Nominasi Federasi Terbaik AFC 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 11:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga
  • Geger Dugaan Pelecehan Verbal Dosen UIN Bandung: Mahasiswa Gelar Aksi, Rektor Sampaikan Permohonan Maaf
  • Terjerat Skandal Naturalisasi, Malaysia Malah Masuk Nominasi Federasi Terbaik AFC 2026
  • Rekomendasi Restoran Sunda Legendaris di Garut: Nikmat Kulineran di Tengah Saung dan Udara Sejuk
  • Misi Amankan Poin Penuh di SJH, Ini Jadwal Nonton dan Link Streaming Persib vs Persik Kediri
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
  • Dari Roti Jadul hingga Satai Berbumbu Oncom, Ini 5 Kuliner Unik di Cianjur
  • BSU Rp900 Ribu untuk Pekerja Kembali Jadi Sorotan, Ini Syarat yang Perlu Diketahui
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Suara Akademisi Dikritik Prabu Revolusi, Dosen Unisba: Kampus sebagai Kompas Kebenaran

By Putra JuangKamis, 8 Februari 2024 13:17 WIB3 Mins Read
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (Unisba), Fadhli Muttaqien. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pembawa acara sekaligus Dosen Universitas Paramadina, Prabunindya Revta Revolusi ikut berkomentar terkait gerakan petisi dan pernyataan sikap dari Civitas Akademika dari berbagai Universitas yang mengkritik Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, kepentingan politik tidak elok dicampur adukan dengan kampus, apalagi secara tidak resmi mewakili lembaga kampus.

“Menurut saya sangat tidak elok ketika kampus dicampur adukan dengan kepentingan politik, apalagi tidak secara resmi mewakili kampus, jika memang gerakan itu mewakili kampus maka perlu ada lembaga resmi untuk menunjukan sikap dari kampus,” ucapnya dalam unggahan video.

“Apalagi rektor ataupun juga pimpinan dari kampus tersebut banyak yang memberikan sanggahan bahwa petisi tersebut mewakili kampus, saya juga salah satu dosen di salah satu kampus, dan saya merasa tidak mewakili, saran saya jangan bawa nama kampus,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut ditanggapi oleh Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (Unisba), Fadhli Muttaqien. Menurutnya, kritik yang dilakukan oleh para akademisi dan guru besar merupakan gerakan yang sangat benar untuk menjaga nilai-nilai demokrasi atau menjaga etika demokrasi.

Baca Juga:  Dicek Jokowi, Polda Jabar Kerahkan Puluhan Personel di Kawasan Proyek Kereta Cepat

“Karena memang kampus sebagai satu lembaga pendidikan yang memproduksi kebenaran dan kampus sebagai kompas kebenaran, sudah selayaknya memberikan masukan pada bangsa dan negara ini sebagai fungsinya untuk tetap memastikan negara kita tetap dijalan demokrasi yang seharusnya,” kata Fadhli, Kamis, (8/2/2024).

Terkait kampus yang tidak melibatkan strukturalnya seperti rektor, menurut Fadhli, hal tersebut memiliki kepentingan lain mengenai administrasi kampus. Dan hal tersebut tidak usah menjadi problema, pasalnya masih ada substansi lain dari gerakan para guru besar ini.

“Itu terkait kepentingan dari kampus tersebut, artinya kampus berada di bawah Kemendikbud Ristek, anggaran mengenai hal-hal administrasi kampus kan berada dibawah kementerian dan kementerian berada dibawah presiden artinya ada kepentingan yang harus dijaga,” ujarnya.

Baca Juga:  Jumlah Pemudik Naik 56 Persen, Jokowi Imbau Masyarakat Berangkat Lebih Awal

“Hal ini menjadi wajar, tidak harus menjadi problem atau simbol kalau ini gerakannya perorangan. Menurut saya yang menjadi substansi adalah untuk agar bangsa kita tetap berada dijalur demokrasi yang benar dan berada dalam etika demokrasi yang baik,” lanjutnya.

Menurutnya, jika sebuah kekuasaan atau wilayah politik tidak dituntut untuk oleh value intelektual maka bangsa Indonesia akan terjerumus ke dalam lahat kezaliman.

“Kan ini yang menjadi satu kekhawatiran, ketika politik tidak dituntut untuk oleh value intelektual yang ada dituntun hanya oleh gerakan kekuasaan, yang nantinya bisa menjerumuskan bangsa kita ke liang lahat kezaliman,” jelasnya.

Adapun terkait pro dan kontra yang datang dari berbagai politikus, menurut Fadhli hal tersebut dianggap wajar dan tidak perlu dihiraukan, yang lebih penting dari hal tersebut yaitu mempertahankan bangsa untuk tetap berada dijalur demokrasi yang benar.

Baca Juga:  Mahasiswi ITB Pengunggah Meme Prabowo-Jokowi Dibebaskan, Aspek Kemanusiaan Jadi Pertimbangan

“Anggap saja sebagai angin lalu. Bahwa setiap gerakan kebenaran selalu ada perlawanan dari gerakan yang salah. Kalau kampus dianggap sebagai partisan atau tidak partisan atau terafiliasi tidak terafiliasi, itu lain hal, yang penting kampus tetap menjaga nilai-nilai kebenaran dan tetap jadi kompas kebenaran untuk negara,” ujar mantan Presiden Mahasiswa Unisba tersebut.

Fadli juga mengatakan, jika gerakan ini tidak juga menjadi sentilan untuk para petinggi negara, artinya kampus dan para guru besar tidak dianggap penting dan hanya mementingkan wilayah politik saja.

“Kalau gerakan kampus ini tidak juga disadari oleh oleh para pemimpin pemerintahan artinya pemerintah jokowi atau pemerintahan pada rezim ini tidak menganggap penting faktor intelektual artinya kampus tidak dianggap penting, guru besar tidak dianggap penting yang dianggap penting hanya yang ada di wilayah politik dan kekuasaannya saja,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

jokowi Unisba
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga

Geger Dugaan Pelecehan Verbal Dosen UIN Bandung: Mahasiswa Gelar Aksi, Rektor Sampaikan Permohonan Maaf

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BSU Rp900 Ribu untuk Pekerja Kembali Jadi Sorotan, Ini Syarat yang Perlu Diketahui

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Nama Pernah Terdaftar sebagai Penerima Bansos? Cek Lagi Status PKH dan BPNT Oktober 2026

Bansos

Menunggu BLT Kesra Rp900 Ribu? Ini Fakta Terbaru dan Link Cek Bansos Kemensos

IHSG Terjun ke Level 5.185, Kapolri Perintahkan Bareskrim Selidiki Dugaan Pidana

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Kontroversi Jalan Diponegoro Bandung: Demi Ruang Publik atau Menabrak Tata Ruang?
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.