Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Serahkan Jabatan ke Suahasil Nazara, Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Bungkam Cepat di Podium

Selasa, 15 September 2026 14:33 WIB

Surga Kuliner Sukabumi: 11 Destinasi Rasa Legendaris yang Wajib Masuk Bucket List

Selasa, 15 September 2026 14:22 WIB

Lagi Cari Tempat Healing? Ini 3 Wisata Air Panas Bandung yang Bikin Betah

Selasa, 15 September 2026 14:19 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Serahkan Jabatan ke Suahasil Nazara, Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Bungkam Cepat di Podium
  • Surga Kuliner Sukabumi: 11 Destinasi Rasa Legendaris yang Wajib Masuk Bucket List
  • Lagi Cari Tempat Healing? Ini 3 Wisata Air Panas Bandung yang Bikin Betah
  • Rentetan Aktivitas Seismik Guncang Selat Sunda hingga Selatan Jawa, Begini Penjelasan Pakar BMKG
  • Bukan Cuma Punclut, Api Juga Mengamuk di Paseh dan Pacet Kabupaten Bandung
  • Purbaya Bongkar Alasan Dicopot dari Menkeu, Ada Apa?
  • Soroti Penanganan Lambat, WALHI Jabar Ungkap Ancaman Tersembunyi di Balik Tumpahan Batu Bara Pangandaran
  • Maudy Ayunda Minta Maaf dan Akui Ada Privilese, Warganet: Pick Me Banget!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 15 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Program Barak Militer untuk Anak Nakal Dikritik, Dedi Mulyadi: Di Mana Letak Salahnya?

By Aga GustianaRabu, 21 Mei 2025 14:58 WIB2 Mins Read
Dedi Mulyadi kirim siswa 'nakal' ke Barak Militer.
Dedi Mulyadi kirim siswa 'nakal' ke Barak Militer. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Program pendidikan karakter yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menuai sorotan. Kebijakan yang mengirim anak-anak dengan catatan kenakalan ke barak pendidikan ala militer mendapat kritik dari sejumlah pihak, mulai dari pegiat pendidikan hingga pemerhati hak anak. Namun, Dedi Mulyadi tak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa program tersebut justru menjadi ruang pembinaan yang positif, bukan bentuk pelanggaran terhadap hak anak.

Dedi mempertanyakan kritik yang dilontarkan terhadap pendekatan yang ia sebut sebagai “barak pendidikan kebangsaan”. Menurutnya, semua aktivitas di barak tersebut bertujuan membentuk disiplin, karakter, dan spiritualitas anak-anak.

“Kalau anak-anak dibangunkan jam 4 subuh, disuruh membereskan tempat tidur, kuliah subuh, sarapan dengan makanan sehat, di mana letak salah dan pelanggarannya?” kata Dedi dalam pernyataan, dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (21/5/2025).

Baca Juga:  Bongkar Pasang Gedung Sate, Sentuhan Candi Bentar dan Pusaran Polemik

Menjawab Kritik: Antara Disiplin dan Hak Anak

Dedi menekankan bahwa rutinitas di barak seperti antre makan, berdoa sebelum makan, belajar tertib, hingga mengikuti kegiatan keagamaan dan olahraga adalah bentuk pembelajaran kehidupan yang bermartabat. Ia menyayangkan pandangan yang menilai pendekatan ini sebagai represi atau pelanggaran hak anak.

“Justru hak-hak anak itu mereka dapatkan di barak pendidikan. Hak untuk hidup sehat, hak untuk dihargai, hak untuk belajar disiplin. Itu yang justru tak semua anak dapatkan di rumah,” ujarnya.

Baca Juga:  Hapus PPDB Jika Jadi Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi: Pemimpin Mengistimewakan Rakyatnya

Ia juga mengkritisi sistem pendidikan digital yang menurutnya menghilangkan kedekatan emosional antara guru dan murid. Dedi menyebut bahwa sistem digital mengikis nilai-nilai spiritual dan moral yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan.

“Saat ini pendidikan kehilangan ruh spiritualnya. Guru dan murid tak lagi saling memandang dan memahami. Semua diganti papan digital. Kalau kita ajarkan murid memandang gurunya dengan hormat, salahkah?” jelasnya.

Diketahui, kendati telah menerima banyak dukungan masyarakat, program Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer juga tak jarang mendapat kritikan tajam.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Sebut Alih Fungsi Lahan Biang Kerok Banjir, Siapkan Regulasi Pencegahan

Usai Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) minta program dievaluasi, kini giliran organisasi guru Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) keras mendesak kebijakan ini dihentikan.

Sekjen FSGI Fahriza Marta Tanjung menyampaikan, pihaknya menolak kebijakan ini. Apalagi disusul dengan narasi adanya rencana guru “malas” juga akan dikirim ke barak militer.

“FSGI menilai ini merupakan kebijakan instan, tidak menyentuh akar masalah, dan berpotensi tidak berdampak jangka panjang dalam perubahan perilaku,” ujarnya, dalam keterangan resminya, Senin (19/5/2025).

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

barak militer Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat KPAI siswa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Serahkan Jabatan ke Suahasil Nazara, Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Bungkam Cepat di Podium

gempa

Rentetan Aktivitas Seismik Guncang Selat Sunda hingga Selatan Jawa, Begini Penjelasan Pakar BMKG

Bukan Cuma Punclut, Api Juga Mengamuk di Paseh dan Pacet Kabupaten Bandung

Purbaya Bongkar Alasan Dicopot dari Menkeu, Ada Apa?

Soroti Penanganan Lambat, WALHI Jabar Ungkap Ancaman Tersembunyi di Balik Tumpahan Batu Bara Pangandaran

TPS Punclut Bandung Terbakar, Api Merambat ke Alang-alang hingga Petugas Turun ke Tebing

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.