Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Rabu, 28 Oktober 2026 18:03 WIB

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Rabu, 28 Oktober 2026 17:38 WIB

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
  • Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • Persib vs Melbourne Victory Malam Ini Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streaming
  • Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM
  • Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil
  • Prediksi Line Up Persib vs Melbourne Victory Malam Ini, Thom Haye dan Klok Kawal Lini Tengah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rafael Situmorang Soroti Kultur hingga Lemahnya Pengawasan dalam Reformasi Kepolisian

By Muhammad Rafki Razif KiransyahJumat, 17 April 2026 21:00 WIB2 Mins Read
Rafael Situmorang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Anggota DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, menyoroti sejumlah tantangan mendasar dalam upaya reformasi kepolisian, mulai dari persoalan kultur hingga lemahnya sistem pengawasan.

Hal tersebut disampaikannya saat mengisi Seminar Nasional di Rooftop DPRD Jawa Barat.

Rafael menilai, salah satu tantangan utama terletak pada kultur internal kepolisian yang masih dipengaruhi pola lama, termasuk pendekatan yang beririsan dengan kultur militer.

“Tantangan pertama adalah soal kultur di kepolisian, yang menurut saya masih ada pengaruh dari pola lama, termasuk dari kultur militer,” ujarnya.

Baca Juga:  Candaan Dedi Mulyadi Bikin Gubernur Malut Tersipu Saat Jalan Sore di Subang

Ia mencontohkan, dalam praktik di lapangan masih ditemukan pendekatan yang mengedepankan tekanan dalam proses pemeriksaan.

“Bagaimana mengejar pengakuan tersangka yang kadang masih menggunakan cara-cara kekerasan. Ini menurut saya bagian dari persoalan kultur,” tegasnya.

Selain kultur, Rafael juga menekankan pentingnya perbaikan sistem rekrutmen untuk menghasilkan aparat yang lebih profesional dan berintegritas.

“Proses rekrutmen juga perlu diperbaiki agar menghasilkan aparat yang lebih profesional,” katanya.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam membangun institusi kepolisian yang modern.

Baca Juga:  Komisi I DPRD Jabar Pantau Pilkades Elektronik di Indramayu: Lancar, Kondusif, dan Efisien

Lebih jauh, Rafael menyoroti peran Komisi Kepolisian Nasional yang dinilai belum optimal dalam melakukan pengawasan.

“Kita memang punya Komisi Kepolisian, tapi secara kewenangan masih terbatas,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini peran lembaga tersebut lebih bersifat rekomendatif dan belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan pengawasan secara menyeluruh.

“Perannya lebih banyak pada rekomendasi, dan menurut saya itu belum cukup kuat,” tambahnya.

Rafael mendorong agar reformasi kepolisian tidak hanya menyentuh aspek internal, tetapi juga memperkuat lembaga pengawas melalui revisi regulasi.

Baca Juga:  Jutaan Pemudik dan Wisatawan Serbu Jawa Barat di Lebaran 2025

“Oleh karena itu, reformasi kepolisian harus mencakup penguatan institusi Komisi Kepolisian sebagai lembaga pengawas,” tegasnya.

Ia juga menilai revisi undang-undang diperlukan agar pengawasan bisa berjalan lebih efektif.

“Dalam beberapa kasus terlihat Komisi Kepolisian tidak bisa berbuat banyak akibat keterbatasan kewenangan,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Rafael mengingatkan bahwa potensi penyalahgunaan kewenangan masih terbuka jika tidak diimbangi dengan sistem pengawasan yang kuat.

“Potensi penyalahgunaan kewenangan masih bisa terjadi jika tidak ada pengawasan yang kuat,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPRD Jabar jawa barat Rafael Situmorang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029

Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM

Polrestabes Bandung Ungkap Motif Bentrok Pasar Induk Caringin: Berawal dari Perselisihan Lama

Siapa Dwi Bagus Martono? Suami Siri yang Jadi Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.