Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!

Sabtu, 12 September 2026 09:29 WIB
Game Free Fire

Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong

Sabtu, 12 September 2026 07:43 WIB

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Sabtu, 12 September 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!
  • Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong
  • Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP
  • GBK Tanpa Bobotoh, Bandung Siap Membara! Ini 6 Lokasi Nobar Persib vs Persija
  • Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK
  • Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung
  • Persija vs Persib, Igor Tolic Ingin Persib Bikin Bobotoh Bangga di GBK
  • Timnas Indonesia Siap Gebrak FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Skuad Garuda
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 12 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rafael Situmorang Soroti Kultur hingga Lemahnya Pengawasan dalam Reformasi Kepolisian

By Muhammad Rafki Razif KiransyahJumat, 17 April 2026 21:00 WIB2 Mins Read
Rafael Situmorang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Anggota DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, menyoroti sejumlah tantangan mendasar dalam upaya reformasi kepolisian, mulai dari persoalan kultur hingga lemahnya sistem pengawasan.

Hal tersebut disampaikannya saat mengisi Seminar Nasional di Rooftop DPRD Jawa Barat.

Rafael menilai, salah satu tantangan utama terletak pada kultur internal kepolisian yang masih dipengaruhi pola lama, termasuk pendekatan yang beririsan dengan kultur militer.

“Tantangan pertama adalah soal kultur di kepolisian, yang menurut saya masih ada pengaruh dari pola lama, termasuk dari kultur militer,” ujarnya.

Baca Juga:  15 Peserta Lolos Tahapan Seleksi Calon Anggota KI Jabar

Ia mencontohkan, dalam praktik di lapangan masih ditemukan pendekatan yang mengedepankan tekanan dalam proses pemeriksaan.

“Bagaimana mengejar pengakuan tersangka yang kadang masih menggunakan cara-cara kekerasan. Ini menurut saya bagian dari persoalan kultur,” tegasnya.

Selain kultur, Rafael juga menekankan pentingnya perbaikan sistem rekrutmen untuk menghasilkan aparat yang lebih profesional dan berintegritas.

“Proses rekrutmen juga perlu diperbaiki agar menghasilkan aparat yang lebih profesional,” katanya.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam membangun institusi kepolisian yang modern.

Baca Juga:  Gelar West Java Sales Mission, Upaya Disparbud Jabar Promosikan Potensi Pariwisata

Lebih jauh, Rafael menyoroti peran Komisi Kepolisian Nasional yang dinilai belum optimal dalam melakukan pengawasan.

“Kita memang punya Komisi Kepolisian, tapi secara kewenangan masih terbatas,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini peran lembaga tersebut lebih bersifat rekomendatif dan belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan pengawasan secara menyeluruh.

“Perannya lebih banyak pada rekomendasi, dan menurut saya itu belum cukup kuat,” tambahnya.

Rafael mendorong agar reformasi kepolisian tidak hanya menyentuh aspek internal, tetapi juga memperkuat lembaga pengawas melalui revisi regulasi.

Baca Juga:  Siap-siap! PIP Cair Akhir Mei, Rafael Situmorang Minta Orang Tua Segera Ke Sekolah

“Oleh karena itu, reformasi kepolisian harus mencakup penguatan institusi Komisi Kepolisian sebagai lembaga pengawas,” tegasnya.

Ia juga menilai revisi undang-undang diperlukan agar pengawasan bisa berjalan lebih efektif.

“Dalam beberapa kasus terlihat Komisi Kepolisian tidak bisa berbuat banyak akibat keterbatasan kewenangan,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Rafael mengingatkan bahwa potensi penyalahgunaan kewenangan masih terbuka jika tidak diimbangi dengan sistem pengawasan yang kuat.

“Potensi penyalahgunaan kewenangan masih bisa terjadi jika tidak ada pengawasan yang kuat,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPRD Jabar jawa barat Rafael Situmorang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

September Jadi Bulan Terakhir Bansos Tahap 3, PKH hingga Beras 30 Kg Siap Disalurkan

Langkah Senyap Presiden Prabowo: 30 Kebijakan Strategis untuk Kelas Menengah Indonesia

Kasus Abah Setu Belum Usai, Polisi Masih Dalami Video yang Disebut Hasil Editan AI

Defisit APBD Jabar Turun Jadi Rp3,4 Triliun, Pemprov Tak Mau Asal Tarik Utang

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.