bukamata.id – Di sudut Taman Dago Cikapayang, Bandung, aroma gurih bumbu kacang dan kepulan uap panas dari panci cilok menyatu dengan udara sore yang sejuk. Di sana, seorang pemuda dengan penampilan sederhana tampak sibuk melayani pembeli. Namanya Raja Sinaga. Namun, jika Anda mendekat, ada pemandangan yang tak lazim bersandar di gerobaknya. Di antara wadah saus dan plastik kemasan, berjajar rapi puluhan buku dengan sampul yang sudah sedikit memudar namun terawat.
Raja bukan sekadar penjual cilok biasa. Di balik rutinitasnya mengaduk adonan tepung aci, ia sedang menjalankan sebuah misi sunyi: melawan rendahnya minat baca lewat “Lapak Baca Gratis”.
Literasi di Atas Roda Gerobak
“Perkenalkan, nama saya Raja Sinaga. Saya penjual cilok di Kota Bandung,” ujarnya dalam sebuah rekaman video yang belakangan viral di media sosial. Dengan suara rendah namun penuh semangat, ia menunjukkan koleksi buku pribadinya yang kini menjadi “menu tambahan” bagi siapa saja yang mampir ke lapaknya.
Bagi Raja, buku bukan sekadar pajangan. Ia adalah jendela yang ingin ia buka lebar-lebar untuk masyarakat. Ide ini muncul dari kegelisahan sederhana melihat orang-orang yang seringkali terpaku pada gawai saat menunggu. Kini, gerobak ciloknya bertransformasi menjadi perpustakaan mini yang bisa diakses siapa saja secara cuma-cuma.
Dari Paulo Freire Hingga Fiersa Besari
Melihat deretan buku di lapak Raja seperti sedang mengintip isi kepalanya. Ia tidak hanya menyediakan komik ringan, melainkan literasi yang berbobot. Salah satu buku yang ia banggakan adalah #RESET INDONESIA, sebuah karya yang bicara tentang refleksi kebangsaan.
Tak jauh dari situ, terselip buku legendaris Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire. Sebuah pilihan judul yang puitis sekaligus ironis, mengingat Raja sendiri sedang berjuang di jalanan. Bagi penyuka fiksi, Raja menyediakan The Little Prince (Pangeran Kecil) karya Antoine de Saint-Exupéry, hingga karya populer dari penulis lokal seperti Garis Waktu milik Fiersa Besari dan karya Matt Haig.
“Mungkin teman-teman yang lebih paham tentang bacaan pasti tahu buku-buku ini,” kata Raja dengan nada rendah hati. Ia ingin membuktikan bahwa bacaan bermutu bisa dinikmati siapa saja.
“Legowo” di Tengah Guyuran Bumbu Kacang
Aksi Raja ini lantas memicu gelombang simpati dan kekaguman di jagat maya. Netizen tak kuasa menahan rasa salut melihat ketulusan Raja merelakan koleksi pribadinya berpindah tangan ke tangan para pembeli di pinggir jalan.
“Masss keren, gak kebayang seberapa legowonya buku-bukunya kena tetesan bumbu cilok atau leceknya buku ketekuk,” tulis salah satu netizen yang merasa terharu dengan keberanian Raja mengambil risiko rusaknya buku demi menyebarkan ilmu.
Tidak hanya soal fisik buku, niat tulus Raja juga dipandang sebagai pemantik semangat bagi pemilik buku lainnya. Seorang netizen lain berkomentar, “Mantap brother, teruskan. Gue yang punya buku banyak belum bisa kayak gini, padahal pengen banget gelar di depan Polda, Polres, Polsek, dan gardu Ormas.” Komentar ini mencerminkan betapa Raja telah melakukan aksi nyata yang selama ini hanya menjadi angan-angan bagi banyak orang.
Ruang Singgah yang Menghidupkan Jiwa
Kehadiran lapak baca ini mengubah dinamika di sekitar Taman Dago Cikapayang. Jika biasanya orang membeli cilok lalu pergi, kini banyak yang memilih untuk menetap. Mereka duduk di tepian semen taman, satu tangan memegang tusuk cilok, tangan lainnya membalik halaman buku.
Dukungan terus mengalir di kolom komentar unggahannya. “Rajin sekali bapak itu, semangat menebar kebaikan,” tulis seorang warganet. Netizen lain juga menambahkan, “Wih keren Kak, hitung-hitung membuat minat baca lebih tinggi.”
Lapak kecil ini bertransformasi menjadi ruang singgah yang menghadirkan ketenangan di tengah bisingnya lalu lintas Bandung. Fenomena ini membuktikan bahwa untuk mencerdaskan bangsa tidak perlu menunggu menjadi pejabat. Raja, dengan modal gerobak cilok dan buku-bukunya, telah melakukannya lebih dulu.
Menghancurkan Sekat Eksklusivitas
Seringkali, membaca dianggap sebagai hobi yang eksklusif. Raja Sinaga secara tidak langsung sedang mendobrak stigma tersebut. Dengan membawa buku ke jalanan, ia mengatakan bahwa pengetahuan adalah milik umum.
“Bacanya gratis untuk semua buku ini. Kalian barangkali minat untuk membacanya, tidak perlu khawatir,” pesannya dengan tulus. Tidak ada syarat keanggotaan, syaratnya hanya satu: kemauan untuk membuka halaman pertama.
Kisah Raja Sinaga adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam meningkatkan literasi. Ia adalah seorang pejuang literasi yang tak bersenjata pena, melainkan sodet dan kecintaan pada buku. Di tangannya, cilok bukan hanya pengganjal perut, tapi juga pembuka jalan bagi masuknya inspirasi ke dalam pikiran.
Sore pun makin larut di Bandung. Lampu-lampu taman mulai menyala, namun semangat yang Raja bagikan lewat lembaran-lembaran buku itu akan terus menyala. Bagi Raja, selama masih ada yang mau membaca, selama itu pula gerobak literasinya akan terus melaju menembus dinginnya malam di Kota Kembang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









