bukamata.id – Di salah satu sudut Kota Bandung, tepatnya di Hotel Zest, Kamis (5/2/2026), Synthia Frisilla Putri berbagi cerita tentang fase hidup yang sedang ia jalani. Lulusan Universitas Islam Bandung (Unisba), Fakultas Syariah, ini tengah berada di persimpangan penting: menutup peran sebagai mahasiswa dan mempersiapkan diri menapaki dunia kerja sebagai fresh graduate.
“Saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk wisuda, sekaligus menata CV dan portofolio sebagai langkah awal sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja,” ujar Synthia membuka perbincangan.
Di mata orang-orang terdekatnya, Synthia dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras, percaya diri, mandiri, dan memiliki tujuan yang jelas. Ia mengakui, ada satu kebiasaan unik yang melekat dalam dirinya ia tak betah berada dalam kondisi tanpa aktivitas.
“Kalau sedang tidak punya kegiatan, saya justru overthinking. Karena itu saya selalu berusaha mencari kesibukan dan memanfaatkan peluang yang ada,” katanya.
Belajar Bertahan di Tengah Padatnya Aktivitas
Synthia mengenang salah satu fase paling berkesan dalam hidupnya terjadi saat kuliah, khususnya pada semester empat hingga enam. Di masa itu, ia harus membagi waktu antara kuliah, bekerja, organisasi, hingga kegiatan daring sebagai bagian dari Duta Inspirasi Indonesia.
“Pagi sampai siang kuliah, siang ke sore kerja, sore sampai malam kembali ke kampus untuk organisasi. Di waktu yang sama, ada kegiatan daring yang juga berjalan malam hari,” tuturnya.
Fase tersebut menjadi titik penting yang mengajarkannya tentang komitmen, manajemen waktu, dan ketahanan diri. Bagi Synthia, masa itu bukan sekadar tentang sibuk, melainkan proses mengenal batas dan kemampuan diri.
Dari Ragu Jadi Optimis
Saat ini, Synthia merasa berada di fase penutupan dan persiapan—menutup peran sebagai mahasiswa, sekaligus menyiapkan langkah hidup berikutnya yang lebih terarah.
“Saya ingin benar-benar memaksimalkan langkah ke depan. Apa yang mau saya ambil, dan apa saja yang harus dipersiapkan,” ujarnya.
Salah satu pencapaian yang paling bermakna baginya adalah saat mengikuti Impact Friender Challenge. Meski datang tanpa latar belakang ekonomi dan minim pemahaman soal perencanaan dampak, Synthia bersama timnya belajar dari nol hingga akhirnya berhasil masuk tiga besar.
“Itu jadi salah satu target pribadi yang berhasil saya capai di 2025,” katanya dengan nada syukur.
Namun di balik pencapaian tersebut, Synthia menegaskan bahwa perjuangan sering kali tak terlihat publik. Tekanan, air mata, dan kelelahan menjadi bagian dari proses yang jarang diketahui orang.
“Orang mungkin melihat dari media sosial saja. Tapi di balik layar, selalu ada tangisan. Meski begitu, saya selalu percaya semua perjuangan akan membuahkan hasil,” ucapnya.
Menariknya, Synthia mengaku hampir tak pernah ragu pada diri sendiri. Keyakinan pada proses menjadi pegangan utama yang membuatnya terus melangkah.
“Saya percaya setiap hal punya waktunya masing-masing untuk berbuah,” katanya.
Bandung, Kota Bertumbuh dan Bertarung
Bagi Synthia, Bandung bukan sekadar kota tempat menuntut ilmu. Kota ini menjadi ruang bertumbuh, tempat jatuh dan bangkit, sekaligus medan perjuangan.
“Hampir semua momen penting dalam hidup saya terjadi di Bandung. Di sini proses pendewasaan saya dimulai,” tuturnya.
Ia menyebut Bandung sebagai kota yang “mengerti perjuangan” memberi ruang untuk berproses tanpa tuntutan harus selalu sempurna.
“Bandung lebih sering jadi tempat bertarung. Tapi di saat yang sama, juga jadi tempat pulang yang mengajarkan ketahanan dan penerimaan,” katanya.
Menutup ceritanya, Synthia menyampaikan pesan bagi siapa pun yang tengah berjuang di Kota Bandung.
“Bertahanlah, walaupun prosesnya tidak mudah. Tidak perlu terburu-buru, asal tetap berjalan dan berusaha menjadi satu persen lebih baik setiap hari. Setiap perjuangan pasti membuahkan hasil dan tidak akan sia-sia,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











