bukamata.id – Dunia pertelevisian Indonesia jarang sekali melahirkan karakter antagonis yang alih-alih dibenci, malah dirindukan kehadirannya oleh pemirsa. Dalam jagat sinema Preman Pensiun karya sutradara Aris Nugraha, kita mengenal Kang Bahar yang karismatik, Kang Mus yang tegas, hingga duo komedian beralih profesi, Pipit dan Murad. Namun, di antara hingar-bingar perebutan kekuasaan pasar, terminal, dan jalanan, ada satu sosok yang bergerak di bawah radar, di sela-sela sempitnya kursi angkutan kota (angkot) Bandung.
Ia adalah Saep, sang “Bos Copet”. Karakter yang berhasil mencuri perhatian—sekaligus dompet—bukan hanya karena tingkah lakunya yang menggelitik, melainkan karena ia adalah satu-satunya kriminal yang memiliki cetak biru ideologis, struktur organisasi korporat, hingga kurikulum pendidikan formal untuk profesi yang jelas-jelas melanggar hukum.
Hari ini, Sabtu, 20 Juni 2026, kabar duka yang mendalam menyelimuti jagat hiburan tanah air. Sang aktor di balik karakter ikonik tersebut, Icuk Nugroho atau yang lebih populer dengan nama panggung Icuk Baros, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya.
Informasi duka ini pertama kali dibagikan oleh sahabat sekaligus rekan sesama pemain Preman Pensiun, Abenk Marco (pemeran Cecep), melalui akun Instagram pribadinya.
“Inalillahiwainailaihirojiun, telah berpulang sahabat kita, Cuk Nugroho (Saep Copet) pada hari ini 20 Juni 2026,” tulis Abenk Marco.
Kepergian pria kelahiran Cimahi, 28 April 1976 ini sontak mengejutkan rekan-rekan sesama pemain dan para penggemar yang telah lama mengikuti perjalanan serial tersebut. Kepergiannya hari ini resmi mengunci karakter Saep untuk selamanya; khazanah percopetan fiktif di layar kaca kini kehilangan sang rektor abadi.
Duka dari Sesama Aktor, Warganet, hingga Warga Bandung
Kepergian Icuk Baros memicu gelombang duka cita yang masif dari berbagai kalangan. Lini masa media sosial langsung dipenuhi oleh ucapan bela sungkawa dan doa terbaik untuk sang aktor.
Ucapan serupa turut disampaikan oleh Melga Septrida yang memerankan tokoh Bubun, serta Fajar Khuto (pemeran Ujang Rambo). Mereka berdua menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya rekan sejawat mereka.
“Kami segenap kerabat dan penggemar menyampaikan duka cita mendalam. Semoga beliau diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” tulis Fajar Khuto dan Melga, Sabtu (20/6/2026).
Tidak hanya dari lingkaran para pemain, warganet dan masyarakat—khususnya warga Bandung yang setiap harinya akrab dengan latar cerita sinetron ini—turut membanjiri kolom komentar dengan berbagai kenangan manis.
Banyak netizen yang mengenang dedikasi almarhum yang selalu tampil membumi meski sudah menjadi artis terkenal.
“Orang nya low profile, terima kasih sudah memberikan hiburan untuk kita semua,” ujar salah satu netizen.
Rasa terima kasih atas tawa yang telah diberikan selama bertahun-tahun juga mengalir deras.
“Selamat jalan Kang @saepcopet1 terimakasih sudah menghibur kami… Semoga Husnul Khatimah… Aamiin,” tulis warganet lain.
Bahkan, kepergian Icuk Baros membuat para penggemar kembali bernostalgia dan mengaitkannya dengan para pemeran Preman Pensiun lain yang telah lebih dulu berpulang mendahului mereka.
“Kang Bahar, kang Mus, kang Pipit, kang gobang, kang Herman Suherman, kang saep semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT,” doa tulus dari seorang netizen di media sosial.
Profil Icuk Baros: Dari Figuran, Tukang Servis Kompor, hingga Menjadi “Saep”
Di balik popularitasnya yang melekat kuat sejak bergabung dengan Preman Pensiun pada tahun 2015, perjalanan karier Icuk Baros sama sekali tidak lahir secara instan. Ia meniti jalan yang sangat panjang dan terjal di industri hiburan demi menghidupkan karakter Saep.
- Awal Perjalanan yang Keras: Icuk memulai kariernya dari bawah dengan mengikuti berbagai proses casting di Jakarta. Pada masa awal, ia kenyang menjadi pemain figuran dan harus ekstra bersabar. Namun, dari peran-peran kecil itulah ia menempa fondasi penting untuk memahami ritme produksi dan dinamika karakter.
- Merambah Dunia Kreatif Balik Layar: Tak hanya berakting, Icuk adalah seorang kreator cerita. Ia memiliki sudut pandang luas dengan terlibat sebagai penulis skenario film pendek dan FTV. Debut aktingnya mulai mencuri perhatian lewat FTV Gede Rasa di PJTV, sebelum akhirnya ia melebarkan sayap menjadi produser dan sutradara di proyek lain seperti KNK: Santa Claus dari Jakarta?, Ajojing: Anang – Jojo – Iing, hingga Orang Dalam.
- Kesederhanaan Nyata: Di luar gemerlap layar kaca, Icuk dikenal sebagai sosok yang sangat membumi. Ia bahkan pernah menjalankan usaha servis kompor gas di rumahnya di Cimahi. Realitas hidupnya yang dekat dengan masyarakat kelas bawah inilah yang diduga kuat membuat aktingnya sebagai Saep terasa sangat organik, jujur, dan tanpa jarak dengan penonton.
Bedah Filosofi: Logika Sesat di Balik “Khazanah Percopetan”
Mengapa khalayak begitu terpesona dengan dialog-dialog Saep saat beraksi di atas angkot? Jawabannya ada pada kemampuan akting Icuk Baros dalam meramu logika sesat (logical fallacy) menjadi sebuah kebenaran utopia bagi kelompoknya.
1. Kriteria Rekrutmen: Miskin, Lemah Iman, Punya Bakat
Untuk menjadi mahasiswanya di ABC (Akademi Bandung Copet), Saep menetapkan tiga syarat mutlak yang selalu ia ucapkan seperti mantra: miskin, lemah iman, dan punya bakat.
Secara sosiologis, ini adalah sindiran tajam terhadap realitas sosial. Saep menyadari bahwa kemiskinan struktural yang tidak dibarengi dengan fondasi spiritual yang kuat adalah inkubator terbaik bagi tindakan kriminal. Namun, alih-alih mengeksploitasi mereka secara kasar, Saep datang sebagai “pahlawan” yang menawarkan secercah harapan dan lapangan kerja buatan bagi kaum yang terpinggirkan.
2. Korporatisasi Kriminal: Istilah Kantoran di Dunia Jalanan
Salah satu komedi satir terbaik dari Saep adalah bagaimana ia mengadopsi istilah-istilah dunia kerja formal ke dalam sindikat copetnya. Di bawah kepemimpinan Saep, kita mengenal istilah:
- KKN (Kuliah Kerja Nyopet): Fase magang di mana murid baru harus mempraktikkan teori di dalam angkot di bawah pengawasan langsung sang rektor.
- Wisuda: Pengakuan bahwa sang murid telah mandiri dan mampu menghasilkan omzet secara konsisten.
- PHK (Pemutusan Hubungan Kecopetan): Sanksi tegas bagi murid yang tidak produktif, sering tertangkap, atau berani mengkhianati hasil setoran kepada Bos Saep.
Dengan istilah-istilah ini, Saep berhasil mengangkat derajat psikologis para anggotanya. Mereka tidak merasa sebagai kriminal yang hina, melainkan merasa seperti karyawan atau mahasiswa yang sedang menempuh studi profesi.
3. “Meningkatkan Daya Beli Masyarakat”
Ketika menasihati muridnya, Saep sering kali mengeluarkan argumen ekonomi yang menggelitik. Menurutnya, dengan mencopet, mereka sedang membantu memutar roda ekonomi. Dompet yang diambil dari orang kaya yang “pelit” akan dialokasikan oleh para copet untuk membeli makanan dan membayar kontrakan. Ia memandang tindakannya sebagai bentuk pemerataan ekonomi secara mandiri tanpa membebani anggaran pemerintah. Logika ini tentu saja sesat, namun berhasil menjadi mekanisme pertahanan mental agar hati nurani murid-muridnya tidak bergejolak.
Sisi Tragis Seorang Ideolog: Kesepian di Puncak Kekuasaan
Meskipun Saep memimpin dengan penuh jargon yang meyakinkan, kehidupan Saep sebenarnya adalah sebuah tragedi. Ia adalah seorang ideolog yang kesepian.
Sepanjang sejarah Preman Pensiun, kita melihat bagaimana lingkaran pertemanan para preman lain sangat solid. Kang Mus memiliki anak buah yang setia mati, sementara hubungan Saep dengan murid-muridnya selalu transaksional dan dipenuhi kecurigaan. Hampir semua murid Saep pada akhirnya akan berkhianat atau kabur karena tidak tahan dengan sistem bagi hasil yang mencekik.
Kesetiaan Saep pada “khazanah percopetan” membuatnya terisolasi. Ketika dunia bergerak maju dan mantan preman lain sudah membuka bisnis legal, Saep tetap bertahan di dalam angkot, menunggu mangsa, hingga akhirnya takdir membawanya kembali ke balik jeruji besi. Ia adalah kapten yang menolak meninggalkan kapal yang karam.
Kesimpulan: Warisan Karakter yang Tak Tergantikan
Karakter Saep dalam Preman Pensiun adalah bukti nyata bagaimana sebuah karya seni mampu memotret realitas sosial yang kelam melalui kacamata humor yang cerdas. Melalui akting brilian mendiang Icuk Baros, Saep bukan lagi sekadar karakter fiktif, melainkan sebuah simbol pelipur lara sekaligus kritik sosial yang tajam.
Hari ini, 20 Juni 2026, sang aktor telah tiada. Namun dedikasi Icuk Baros dari seorang figuran dan tukang servis kompor hingga menjelma menjadi legenda komedi layar kaca akan selalu dihormati. “Khazanah percopetan” dan tawa yang ia tebarkan akan selalu hidup dalam ingatan kolektif pemirsa Indonesia.
Selamat jalan, Icuk Nugroho. Terima kasih telah mendirikan Akademi Bandung Copet di hati para penggemarmu.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










