Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Sampai Terlewat! Begini Cara Cek Bansos PKH-BPNT Oktober 2026, Dana Bisa Cair Bertahap

Kamis, 22 Oktober 2026 03:00 WIB

Bikin Ketagihan! Ini 10 Kuliner Legendaris Cirebon Paling Hits yang Wajib Masuk Daftar Berburu Makanan

Kamis, 22 Oktober 2026 02:00 WIB
Sunset di Pantai Kejawanan

Cuma 3 Jam dari Jakarta! Ini 8 Destinasi Wisata Cirebon Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan

Kamis, 22 Oktober 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jangan Sampai Terlewat! Begini Cara Cek Bansos PKH-BPNT Oktober 2026, Dana Bisa Cair Bertahap
  • Bikin Ketagihan! Ini 10 Kuliner Legendaris Cirebon Paling Hits yang Wajib Masuk Daftar Berburu Makanan
  • Cuma 3 Jam dari Jakarta! Ini 8 Destinasi Wisata Cirebon Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan
  • Prediksi Madura United vs Persib: Ujian Kedalaman Skuad Pangeran Biru di Tengah Jadwal Padat
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Kembali Gelar Aksi di DPRD Jabar, Mahasiswa Bawa Tiga Tuntutan untuk Pemerintah
  • Bikin Ngiler! 3 Tempat Makan di Subang dengan Menu Beragam dan Suasana Nyaman
  • Niat Bersihkan Kebun, Petani Lansia di Tasikmalaya Tewas Terjebak Kobaran Api
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 22 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Skor Integritas Bandung Merosot, KPK Warning Risiko Korupsi Masih Tinggi!

By SusanaSelasa, 21 Oktober 2025 14:55 WIB2 Mins Read
Korupsi Jabar
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: Istimewa.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti masih tingginya potensi praktik korupsi di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.

Hal ini terlihat dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 yang mencatat skor 69, jauh dari kategori aman yang berada pada nilai minimal 78.

Temuan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi Melalui Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan, antara KPK dan Pemkot Bandung di Hotel Aryaduta, Jalan Aceh, Selasa (21/10/2025).

Bandung Masuk Kategori Rawan Korupsi

Analis Tindak Pidana Korupsi Madya Kedeputian Korsup KPK, Irawati, mengatakan skor SPI Kota Bandung menunjukkan masih banyaknya titik rawan korupsi.

“Kota Bandung masih masuk kategori rawan. Nilainya sekitar 69. Masih banyak potensi risiko korupsi yang perlu dibenahi, baik dalam pengelolaan anggaran, SDM, pengadaan barang dan jasa, maupun integritas ASN,” ujar Irawati.

Ia menambahkan, skor rendah itu tidak lepas dari sederet kasus korupsi yang pernah menjerat pejabat Pemkot Bandung, seperti mantan wali kota Dada Rosada, Yana Mulyana, mantan sekda Edi Siswandi, Ema Sumarna, hingga beberapa kepala dinas.

KPK Minta Langkah Konkret Perbaikan

Menurut Irawati, fokus utama KPK saat ini adalah memastikan upaya perbaikan benar-benar dilakukan Pemkot Bandung.

“Kami ingin mendengar langsung bagaimana langkah nyata Pemkot menutup celah korupsi di setiap sektor,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penilaian SPI mencakup tiga aspek:

  • Penilaian internal perangkat daerah
  • Tanggapan masyarakat pengguna layanan
  • Pandangan para ahli

Pengawasan KPK melalui MCSP

Selain SPI, KPK juga memantau kemajuan pencegahan korupsi melalui Monitoring, Controlling, Surveillance for Prevention (MCSP). Instrumen ini mengawasi delapan area tata kelola pemerintahan, mulai dari:

  • Perencanaan dan penganggaran
  • Pengadaan barang/jasa
  • Manajemen ASN
  • Pelayanan publik
  • Pemanfaatan aset daerah
  • Optimalisasi PAD
  • Penguatan APIP

Potensi Jual Beli Jabatan Masih Besar

Irawati menyoroti risiko jual beli jabatan, yang menurutnya sering muncul saat pergantian kepala daerah.

“Dalam konteks SPI, aspek pengelolaan SDM juga mencakup jual beli jabatan. Potensinya masih besar di Pemkot Bandung,” ujarnya.

Ia sejalan dengan pernyataan Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menyinggung masih maraknya jual beli jabatan di sejumlah daerah dan dampaknya terhadap kebocoran anggaran pembangunan.

“Jika jabatan diberikan bukan karena kompetensi, maka keputusan yang lahir cenderung tidak tepat. Yang dirugikan adalah keuangan negara,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Sampai Terlewat! Begini Cara Cek Bansos PKH-BPNT Oktober 2026, Dana Bisa Cair Bertahap

Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran

Kembali Gelar Aksi di DPRD Jabar, Mahasiswa Bawa Tiga Tuntutan untuk Pemerintah

Niat Bersihkan Kebun, Petani Lansia di Tasikmalaya Tewas Terjebak Kobaran Api

Banyak yang Kaget! Usai Dibuang Anak ke Panti, Tampilan Baru Mbah HS Disebut Mirip Ulama Kharismatik!

Diduga Keruk APBD Rp 18,7 Miliar, Wabup Indramayu Resmi Ditahan Kejati Jabar

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.