bukamata.id – Isu miring menerpa gerakan mahasiswa pasca-pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pekan lalu. Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) blak-blakan mengaku telah menerima sejumlah uang. Kompensasi tersebut diduga diberikan agar mereka mengurungkan niat menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara.
Merespons gaduhnya kabar ini, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Bambang Eko Suhariyanto menegaskan pihak istana akan segera menelusuri kebenaran tudingan miring tersebut.
“Coba nanti saya monitor dulu, ya. Saya enggak ngikutin yang kemarin berita terakhir itu. Nanti saya akan cek lagi ya, oke, ya,” kata Bambang saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).
Kronologi Terbongkarnya Dugaan Suap dan Tuntutan Mundur
Dugaan gratifikasi ini pertama kali mencuat ke publik lewat rekaman video serta siaran langsung yang viral pada Senin (22/6/2026). Akibatnya, internal kampus bergejolak. Gelombang protes dari mahasiswa UBK mengalir deras, mendesak seluruh jajaran fungsionaris BEM FH UBK yang ikut dalam pertemuan dengan Wapres untuk segera menanggalkan jabatan mereka.
Melalui maklumat tertulis yang disebarkan di akun Instagram resmi @bemfhubk, mahasiswa menuntut pertanggungjawaban moral dan konsekuensi hukum bagi para oknum yang terlibat.
“Mencantumkan nama-nama pihak yang diduga terlibat dalan tindak suap agar dapat ditindak secara tegas oleh pihak universitas dan yayasan melalui mekanisme petisi,” demikian keterangan mahasiswa dilansir @bemfhubk, Selasa (23/6/2026).
Terpojok oleh desakan rekan-rekannya, Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdimaludin, akhirnya membuat pengakuan terbuka di hadapan massa mahasiswa. Ia membenarkan adanya aliran dana yang masuk ke kantongnya.
“Saya Muhammad Abdimaludin selaku Ketua BEM FH, saya mengakui kesalahan. Saya menerima uang tersebut, 20 juta, dengan pembagian dengan kawan-kawan,” ujar Abdi di depan para mahasiswa UBK.
Abdi juga membeberkan sumber dana tersebut. Menurut kesaksiannya, uang puluhan juta itu disodorkan oleh oknum aparat kepolisian dengan tujuan meredam eskalasi massa agar tidak melakukan aksi demonstrasi di area Istana.
Ironi di Balik Ruang Dialog Istana Wakil Presiden
Skandal ini menjadi ironis mengingat beberapa hari sebelumnya, tepatnya Senin (15/6/2026), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyambut hangat 15 perwakilan mahasiswa—termasuk dari UBK dan Universitas Mohammad Husni Thamrin—di Istana Wapres. Pertemuan itu sengaja digelar Gibran setelah dirinya berinisiatif membuka gerbang dialog saat mahasiswa berdemonstrasi di kawasan Patung Kuda.
Dalam forum audiensi tersebut, Gibran dengan legawa mengakui bahwa jalannya roda pemerintahan saat ini masih jauh dari kata sempurna dan membutuhkan banyak evaluasi.
“Yang sudah kita capai sekarang, apa yang sudah dibangun itu yang kita rawat bersama. Saya sadar masih banyak minus-minusnya, kekurangannya banyak, ya ini yang harus kita perbaiki bersama,” tutur Gibran dalam keterangannya.
Saat itu, perwakilan mahasiswa menyerahkan sejumlah draf kajian kritis mengenai isu-isu krusial, seperti efektivitas Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, sektor pendidikan, hingga pemerataan pembangunan di wilayah 3T.
Gibran pun sempat melayangkan pujian tinggi atas sikap kritis yang ditunjukkan oleh para mahasiswa.
“Makanya ini saya terima kasih sekali dapat masukan-masukan,” ujar Gibran.
Beliau juga menambahkan bahwa kritik tajam dari elemen mahasiswa sangat dibutuhkan asalkan disampaikan melalui koridor yang tertib.
“Saya senang mahasiswa kritis ikut mengevaluasi, ikut memberikan saran,” katanya.
Sesudah pertemuan bubar, Muhammad Abdimaludin sendiri sempat memuji respons positif dari sang Wakil Presiden sebelum akhirnya video pengakuan suapnya tersebar luas.
“Mas Wapres terbuka dan menerima hasil kajian, dia akan mengaudit dan mengkonsolidasi, dia akan memberitahukan kepada pimpinan lebih khusus Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya seusai pertemuan.
Abdi bahkan sempat sangat terkesan dengan perhatian yang diberikan oleh Gibran selama proses diskusi berlangsung di dalam Istana.
“Respons dari pihak-pihak tentunya Bapak Wakil Presiden, sangat baik,” katanya.
Ia memungkasi dengan kalimat optimis yang kini berbalik menjadi bumerang,
“Dia akan catat hasil dari tuntutan-tuntutan kami,” kata Abdi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News






