Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

228 Hektare Terbakar, Ini 3 Wilayah Jabar yang Paling Parah Diterjang Karhutla

Selasa, 1 September 2026 17:55 WIB

Ditahan Malaysia 0-0, Timnas U-20 Terancam? Ini Skenario Garuda Muda Lolos Piala Asia

Selasa, 1 September 2026 17:31 WIB

Bakal Hadapi 3 Raksasa Asia, Ini Jadwal Lengkap Perjuangan Persib di ACL Two

Selasa, 1 September 2026 17:19 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 228 Hektare Terbakar, Ini 3 Wilayah Jabar yang Paling Parah Diterjang Karhutla
  • Ditahan Malaysia 0-0, Timnas U-20 Terancam? Ini Skenario Garuda Muda Lolos Piala Asia
  • Bakal Hadapi 3 Raksasa Asia, Ini Jadwal Lengkap Perjuangan Persib di ACL Two
  • Geger Bandung! Mayat Wanita Ditemukan dalam Kardus di Babakan Ciparay
  • Antisipasi Karhutla Musim Kemarau, Jalur Pendakian Gunung Ciremai Ditutup Sementara
  • September Jadi Bulan Terakhir! 5 Bansos Ini Masih Berpeluang Cair, Cek Daftarnya
  • Tak Banyak Gaya, Mariano Peralta Bawa Persib Terbang ke Fase Grup ACL Two
  • Dikenal Sebagai Pendakwah, Aksi Ustaz Riza di Gym Malah Bikin Netizen Geram! Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 1 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Soroti Distorsi Anggaran Pendidikan 20 Persen, Habib Syarif Ajukan 4 Agenda Perubahan

By Putra JuangSabtu, 17 Mei 2025 18:59 WIB3 Mins Read
Anggota DPR RI, Habib Syarif. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Bandung menggelar seminar nasional bertajuk “Tantangan Sistem Pendidikan Nasional Di Tengah Kompetisi Global” Kajian Strategis Revisi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional di Kota Bandung, Sabtu (17/5/2025).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI, Habib Syarif; Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat; Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama, H. Kamaruddin, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin; Ketua PW ISNU Jabar sekaligus Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ulfiah; Ketua PC ISNU Kota Bandung, Derry Jamaludin Basari.

Pada kesempatan itu, Habib Syarif menyoroti adanya distorsi dalam pelaksanaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, meski alokasi tersebut telah berlangsung selama dua dekade.

Syarif mengungkapkan, meskipun laporan keuangan negara menunjukkan alokasi anggaran pendidikan mencapai 20 persen, namun implementasinya masih jauh dari optimal.

“Benar, laporan keuangan negara menunjukan alokasi 20 persen untuk anggaran pendidikan. Akan tetapi bila kita telusuri lebih dalam, terdapat banyak distorsi dalam pelaksanaannya,” ucap Syarif.

Baca Juga:  Final Chapter! Revisi UU Pilkada Batal Disahkan, DPR Patuhi Putusan MK

“Sebagian besar dana pendidikan tidak langsung menyentuh kebutuhan dasar seperti peningkatan mutu guru, fasilitas sekolah, dan akses pendidikan di daerah tertinggal,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa sebagian besar dana pendidikan tidak langsung menyentuh kebutuhan dasar seperti peningkatan mutu guru, fasilitas sekolah, dan akses pendidikan di daerah tertinggal.

“Banyak alokasi pendidikan ‘dihitung’ dari program-program lintas kementerian yang tidak secara langsung menyasar proses belajar-mengajar, Serta ketimpangan antar daerah dalam realisasi APBD untuk pendidikan masih mencolok,” katanya.

Selain itu, Syarif juga menyoroti ketimpangan antar daerah dalam realisasi APBD untuk pendidikan. Data menunjukkan bahwa alokasi anggaran pendidikan dalam APBN 2025 mencapai Rp724,3 triliun, setara dengan 20 persen dari total anggaran belanja negara.

Namun, kurang dari 22 persen dari anggaran tersebut yang dikelola langsung oleh Kemendikdasmen, Kemendikristek, dan Kementerian Agama. Bahkan anggaran untuk Kemendikdasmen itu yang terkecil.

Baca Juga:  Kasus Korupsi Kuota Haji: KPK Ikut Periksa Aliran Dana ke PBNU

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Syarif mengusulkan empat agenda strategis. Pertama, reformulasi definisi anggaran pendidikan secara subrantif.

“Tidak semua pengeluaran yang berlabel pendidikan seharusnya dihitung pemenuhan anggaran pendidikan nasional 20 persen,” ujarnya.

Kedua, penguatan peran kemendikdasmen, kemendikristek, kementerian agama.

“Memberikan kewenangan yang lebih besar terhadap tiga kementerian tersebut dalam mengelola dan mengawasi anggaran pendidikan, untuk memastikan kesesuaian dengan tujuan peningkatan kualitas pendidikan,” jelasnya,

Ketiga, penguatan mekanisme evaluasi independen terhadap implementasi anggaran pendidikan 20 persen.

“Lembaga-lembaga publik harus dilibatkan untuk menilai efektivitas dan akuntabilitas penggunaan anggaran pendidikan,” imbuhnya.

Keempat, revitalisasi partisipasi publik dalam pengawasan dan advokasi anggaran pendidikan. Syarif pun menekankan pentingnya langkah-langkah ini untuk mencapai perubahan substansial dalam sistem pendidikan Indonesia.

“Pendidikan adalah urusan semua pihak. Tidak bisa hanya diserahkan pada birokrasi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Kualitas Pendidikan, SDN Sagalaherang 1 Subang Dapat Bantuan Renovasi Gedung

Di tempat yang sama, Ketua PC ISNU Kota Bandung, Dery Jamaludin Basari mengungkapkan bahwa acara ini digelar sebagai respons terhadap pentingnya peran masyarakat luas, khususnya kaum cendekiawan, dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang relevan dengan konteks kekinian dan berorientasi pada masa depan.

“Peran masyarakat luas khususnya kaum cendikiawan sangat diperlukan untuk terciptanya sistem pendidikan nasional yang relevan dengan konteks hari ini dan future oriented untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” kata Dery.

Lebih lanjut, Dery berharap agar seminar ini menjadi sebuah gebrakan untuk mendorong kaum cendekiawan agar lebih peka terhadap kompleksitas permasalahan pendidikan di Indonesia yang dinilai masih tertinggal dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.

“Harapannya acara ini jadi gebrakan untuk mendorong kaum cendikiawan agar peka terhadap sengkarut problema pendidikan di Indonesia yang cukup tertinggal dengan negara berkembang lainnya,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPR RI Pendidikan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

228 Hektare Terbakar, Ini 3 Wilayah Jabar yang Paling Parah Diterjang Karhutla

Geger Bandung! Mayat Wanita Ditemukan dalam Kardus di Babakan Ciparay

Antisipasi Karhutla Musim Kemarau, Jalur Pendakian Gunung Ciremai Ditutup Sementara

September Jadi Bulan Terakhir! 5 Bansos Ini Masih Berpeluang Cair, Cek Daftarnya

Duet El Nino dan IOD Positif Terjadi, Karhutla di Indonesia Diprediksi Makin Parah

Pesawat Militer AS Globemaster III Mendarat di Bandara Husein

Terpopuler
  • Benarkah Azab? Di Balik Narasi Bencana Nepal dan Isu Perusakan Masjid yang Viral
  • PPIH 2027 Resmi Dibuka! Cek Syarat, Formasi, Jadwal CAT dan Cara Daftarnya
  • PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah
  • Game Free Fire
    Banjir Item Gratis! Kode Redeem FF 26 Agustus 2026 Siap Klaim, Ada Skin M1887 dan Diamond
  • HMI Cabang Bandung Demo Balai Kota: Desak Pemkot Buka Mata Soal RTH dan Kemiskinan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.