Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kronologi 103 Anak Diduga Jadi Korban Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta

Minggu, 26 April 2026 15:27 WIB

SHOCK! Joey Pelupessy hingga Bek Rp43 Miliar Dirumorkan Gabung Persib

Minggu, 26 April 2026 15:19 WIB

Menemukan Kehidupan di Gubuk Reyot! Kisah Nini dan Kai yang Bikin Nangis

Minggu, 26 April 2026 14:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kronologi 103 Anak Diduga Jadi Korban Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta
  • SHOCK! Joey Pelupessy hingga Bek Rp43 Miliar Dirumorkan Gabung Persib
  • Menemukan Kehidupan di Gubuk Reyot! Kisah Nini dan Kai yang Bikin Nangis
  • SAH! El Rumi dan Syifa Hadju Resmi Menikah Hari Ini
  • Bojan Hodak Blak-blakan! Ini Penyebab Persib Gagal Kalahkan Arema FC
  • Link Viral Diburu Warga! Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Terbongkar Bukan Kejadian Nyata
  • Dedi Mulyadi Disorot Bobotoh! Klarifikasi Panas Soal Bonus Rp5 Miliar Persib
  • Arsenal vs Lyon, Siapa Melaju ke Final Liga Champions Wanita?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 26 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tamparan yang Mengguncang Banten: Saat Disiplin Sekolah Berbalik Menjadi Polemik Nasional

By Aga GustianaRabu, 15 Oktober 2025 09:45 WIB5 Mins Read
SMAN 1 Cimarga. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suasana Jumat pagi (10/10/2025) semula teduh di halaman SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak. Seperti biasa, para siswa sibuk mengikuti kegiatan Jumat Bersih, menyapu halaman dan merapikan taman sekolah. Namun dalam hitungan menit, ketenangan itu pecah oleh sebuah insiden yang kelak mengguncang dunia pendidikan Banten, bahkan Indonesia.

Di balik tumpukan semak dekat gerbang sekolah, seorang siswa kedapatan sedang merokok diam-diam. Aroma tembakau tercium oleh kepala sekolah, Dini Fitria, yang tengah berkeliling. Ia mendekat, menegur, namun sang siswa membantah. Emosi memuncak. Dalam sekejap, satu tamparan mendarat di pipi siswa tersebut.

Tindakan spontan itu kemudian menjadi percikan kecil yang menyulut api perdebatan besar. Apa yang dianggap sebagian orang sebagai bentuk pendisiplinan di sekolah, justru dipandang sebagai pelanggaran hukum berat oleh pihak lain. Dalam waktu singkat, ruang kelas kosong, media sosial penuh tagar, dan bahkan Wakil Gubernur Banten turun tangan.

Laporan Polisi dan Ledakan Aksi Siswa

Tak lama setelah kejadian, Tri Indah Alesti, orangtua sang siswa, melaporkan Dini ke Polres Lebak. Laporan tersebut dibenarkan langsung oleh Kanit PPA Satreskrim Polres Lebak, Ipda Limbong.

“Betul, ada laporan terkait kekerasan fisik,” ujar Limbong singkat.

Kasus pun resmi bergulir secara hukum. Di sisi lain, Dini mengakui insiden itu terjadi saat dirinya sedang menegur dengan emosi.

“Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena dia tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi,” kata Dini.

Namun pengakuan itu tak menghentikan gelombang reaksi. Senin (13/10/2025), hanya tiga hari setelah insiden, sebanyak 630 siswa melakukan aksi mogok sekolah. Gerbang sekolah dipenuhi spanduk bertuliskan:

Baca Juga:  Komisi I DPRD Jabar Harap Pengangkatan PPPK Paruh Waktu Dukung Kualitas Pendidikan

“Kami Tidak Akan Sekolah Sebelum Kepsek Dilengserkan!”

Video dan foto aksi itu viral di berbagai platform media sosial. Ruang-ruang kelas menjadi kosong, suasana belajar lumpuh total. Publik mulai mengikuti kasus ini dengan saksama. Tapi, di sinilah cerita mulai berubah arah.

Dukungan Tak Terduga untuk Kepala Sekolah

Meski awalnya publik terkejut, banyak suara mulai bermunculan membela Dini. Sejumlah orang tua siswa, alumni, dan netizen melihat tindakan Dini bukan sebagai kekerasan, melainkan bentuk disiplin yang tegas terhadap pelanggaran di sekolah, yakni merokok di lingkungan pendidikan.

“Kalau anak merokok di sekolah dan ditegur keras saja dibilang kekerasan, lalu apa yang tersisa dari kewibawaan guru?” tulis salah satu akun Twitter.

Komentar senada membanjiri lini masa:

“Waduuh kenapa begitu Pak. Ya tambah berani lh siswa2 nya sama guru. Mau jd apa dunia pendidikan nanti,” tulis netizen lainnya.

“Kalau guru salah setiap menegur, siapa yang mau jadi guru ke depan? Negara ini butuh pendidik tegas, bukan boneka,” tulis akun lain dengan ribuan suka.

Ironisnya, dalam gelombang dukungan terhadap Dini, muncul pihak yang dianggap memperkeruh suasana: Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah.

Ketika Wagub Angkat Bicara: Api Polemik Membesar

Dalam sebuah wawancara yang viral di TikTok, Selasa (14/10/2025), Wagub Dimyati mengeluarkan pernyataan keras. “Jika kepala sekolah tidak bisa membuat suasana nyaman, tentram, damai, berarti kepala sekolahnya nggak bener.”

Baca Juga:  Buntut Cekcok dengan Warganya Viral, Wabup Garut Ngadu ke Dedi Mulyadi

Ia pun secara terbuka mendukung langkah penonaktifan Dini dan penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah. “Kepala sekolah akan segera dinonaktifkan,” ujar Dimyati.

Pernyataan itu menjadi bensin yang menyulut api kontroversi. Bukannya meredam, publik justru berbalik arah, bukan hanya membela kepala sekolah, tapi menyerang pernyataan Wagub.

Nama Dimyati sontak trending di media sosial lokal Banten. Banyak menilai pernyataannya tergesa-gesa dan mengabaikan konteks sebenarnya: seorang siswa melanggar aturan dengan merokok di lingkungan sekolah.

“Pak Wagub sepertinya lebih membela perokok ketimbang pendidik,” tulis seorang warga net dengan nada sinis.

Sebagian masyarakat bahkan menuntut agar Wagub sendiri dinonaktifkan karena dianggap mendukung bentuk pelanggaran di lingkungan pendidikan. Tagar #DukungBuDini dan #WagubKeliru ramai berseliweran di berbagai platform.

Sisi Lain Sang Kepsek

Di tengah badai opini publik, muncul suara dari dalam sekolah. Seorang guru berinisial N mengungkapkan bahwa Dini memang dikenal sebagai pribadi yang mudah marah. Namun, selama tiga tahun menjabat, baru kali ini ia mendengar Dini disebut melakukan kekerasan fisik terhadap siswa.

“Memang karakter Ibu Kepsek agak sering marah, emosinya suka meluap, baik ke siswa maupun guru. Tapi selama ini nggak pernah main tangan,” ujar N.

Keterangan ini mempertebal kesan bahwa insiden tamparan tersebut adalah spontanitas emosional, bukan tindakan kekerasan terencana.

Pemerintah Daerah di Persimpangan

Sementara publik terus berdebat, Gubernur Banten, Andra Soni, mengambil tindakan cepat dengan menonaktifkan sementara Dini Fitria, Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak. Langkah ini diambil setelah muncul dugaan bahwa Dini melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang siswa yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah.

Baca Juga:  Kurang dari 24 Jam, Polisi Ringkus 2 Begal Bersenjata Golok yang Viral di Bandung

“Akan segera dinonaktifkan,” ujar Andra kepada wartawan di Pendopo Gubernur Banten, Serang, Selasa (14/10/2025).

Sementara itu, Dinas Pendidikan menyatakan bahwa penonaktifan Dini tersebut bersifat sementara. “Langkah ini agar kegiatan belajar mengajar tetap kondusif sambil menunggu proses investigasi,” ujar perwakilan Disdik.

Namun, keputusan itu justru semakin memperuncing perdebatan. Bagi pendukung Dini, kebijakan tersebut dianggap bentuk “penghinaan terhadap kewibawaan guru”. Bagi sebagian lainnya, langkah itu dinilai tepat untuk menjaga netralitas proses hukum.

Kini, mata publik tertuju pada langkah berikutnya: apakah Pemprov Banten akan tetap pada keputusannya, atau meninjau ulang setelah gelombang protes dan dukungan besar terhadap kepala sekolah?

Tamparan yang Menjadi Cermin

Kasus SMAN 1 Cimarga kini bukan sekadar tentang satu tamparan. Ia menjadi cermin besar tentang kondisi dunia pendidikan kita: di mana batas antara disiplin dan kekerasan?
Apakah tindakan tegas guru dalam menegakkan aturan masih dihargai, atau justru dilabeli sebagai pelanggaran berat?

Ironis, ketika seorang kepala sekolah berusaha mendidik dengan cara keras namun niatnya mendisiplinkan, justru dianggap bersalah besar—hingga wakil gubernur pun turun tangan. Lebih ironis lagi, publik justru berbalik, menilai pejabat itulah yang keliru membaca situasi.

Di ujung polemik ini, satu hal jelas: kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tengah diuji. Bukan hanya oleh satu tamparan, tapi oleh cara semua pihak meresponsnya—dari ruang kelas, ruang rapat pemerintahan, hingga jagat maya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Banten Dini Fitria Kekerasan di Sekolah Pendidikan SMAN 1 Cimarga viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kronologi 103 Anak Diduga Jadi Korban Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta

Menemukan Kehidupan di Gubuk Reyot! Kisah Nini dan Kai yang Bikin Nangis

Dedi Mulyadi Disorot Bobotoh! Klarifikasi Panas Soal Bonus Rp5 Miliar Persib

PASIEN MEMBLUDAK! Totok Sirih Viral: Pengobatan Ajaib atau Sekadar Sugesti?

Wajah Baru PWI Ciamis: Fokus Transformasi Digital dan Aksi Nyata untuk Lingkungan

Geger! Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Jogja, Diduga Jadi Tempat Penyiksaan Anak

Terpopuler
  • Viral ‘Vell Blunder di TikTok’: Link Video 8 Menit Heboh Dicari
  • Link Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Full No Sensor’ Viral, Ternyata Ancaman Serius Siber
  • Kena Ulti! Video Jogetnya Dihujat, Bocah SD Ini ‘Bungkam’ Netizen Pakai 400 Piala
  • Heboh Link Ibu Tiri vs Anak Tiri Full Durasi Ternyata Palsu, Ada Video Aslinya?
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Ternyata Hoaks! Link Full Berbahaya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.