Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Rabu, 16 September 2026 22:30 WIB

Persib Bungkam FC Seoul 1-0, Maung Bandung Langsung Kuasai Puncak Grup E ACL Two

Rabu, 16 September 2026 21:00 WIB

Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label

Rabu, 16 September 2026 20:42 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia
  • Persib Bungkam FC Seoul 1-0, Maung Bandung Langsung Kuasai Puncak Grup E ACL Two
  • Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label
  • Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak
  • 10 Tempat Wisata Bogor Terbaru dan Paling Hits, Cocok untuk Liburan Keluarga
  • Persib Curi Poin Penuh di ACL 2, Marc Klok Sanjung Mental Juang Bobotoh di Negeri Ginseng
  • Viral! Gegara Puntung Rokok, WNI Ini Masuk Penjara di Malaysia
  • DIKULITI DI FORUM DUNIA?! Nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Mendadak Jadi Sorotan PBB!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 16 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tanggapi Kritikan Prabu Revolusi, Guru Besar UPI Sebut Aksi Civitas Akademika sebagai Suara Nurani Bangsa

By Putri Mutia RahmanKamis, 8 Februari 2024 19:30 WIB3 Mins Read
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan. (ANTARA)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan menanggapi terkait pernyataan Prabu Revolusi yang mengkritik aksi dari Civitas Akademika yang dinilai tak elok.

Cecep mengatakan bahwa para Civitas Akademika ini tidak sedang melakukan politik praktis, namun sedang menjalankan salah satu visi utama kampus sebagai lembaga pendidikan politik kebangsaan. Bahkan kita sedang menjalankan amanah Bung Hatta bahwa hakikat kampus itu harus menyebarluaskan dan menjunjung tinggi kebenaran.

“Jadi kita ingin meluruskan, bahwa para profesor ini tidak sedang berpolitik praktis, tapi lebih ke politik moral kebangsaan dan melakukan pendidikan politik. Jadi tepatnya kampus sebagai lembaga pendidikan politik, di kampus itu ada kebebasan akademik, dan kebebaan mimbar akademik sebagai wujud otonomi kampus, yang terdiri dari Guru Besar, dan dosen,” jelas Cecep, lewat sambungan telepon, Kamis (8/2).

Menurutnya, jika suara dari Civitas Akademik ini dipandang sebagai politik praktis lantas bagaimana akan ada koreksi pada para pemimpin. Justru yg harus dikritisi adalah pidato-pidato sejumlah rektor yang isinya mirip-mirip dan patut diduga dikendalikan kekuasaan. Ini yang harusnya dikritik. Kampus dipolitisasi oleh pidato-pidato rektor yang lucu.

Baca Juga:  Edubot Gandeng UI dan UPI, Hadirkan AI Pendidikan Sesuai Kurikulum Indonesia

“Sebenarnya kalau aspirasi guru besar dipandang politik praktis, apa tidak sebaliknya justru yang mengkritik kami melakukan politik praktis ? Sikahkan publik yang menilai. Justru seharusnya semua elemen berintropeksi diri, agar kita belajar menjadi negarawan bukan partisan,” lanjutnya.

Lanjut, Cecep pun menegaskan bahwa suara dan akai dari Civitas Akademika kampus itu tidak ada niatan untuk bepolitik praktis, melainkan murni menyuarakan suara nurani kebangsaan.

“Memang tidak ada niat kampus untuk itu, dan tidak ada bukti juga, suara kampus adalah suara nurani kebangsaan. Kita kan ingin pemilu tanpa kecurangan, jujur dan adil, itu kan sesuai dengan undang-undang, jangan ada kecurangan, itu kan sebenarnya ingin mengangkat nilai Pancasila dan konstitusi,” tandasnya.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPR Walk Out dari Pelantikan Rektor UPI karena Sumpah Jabatan Berbahasa Inggris

Sebelumnya, viral di media sosial mengenai pernyataan Prabu Revolusi yang mengkritik aksi para Civitas Akademika di akun TikTok pribadinya @prabu_revolusi.

“Sekarang ini kelihatannya lagi marak ada gerakan “mengatasnamakan” kampus untuk berbicara tentang permasalahan politik, ini perspektif saya, menurut saya sangat tidak elok ketika kampus dicampur adukkan dengan dengan kepentingan politik, apalagi tidak secara resmi mewakili kampus,” ujarnya.

Menurutnya, jika memang gerakan-gerakan ini mewakili kampus, maka perlu ada lembaga resmi dari kampus untuk bisa menyatakan bahwa ini merupakan sikap dari kampus.

“Jika tidak, maka ini bisa dikatakan sebagai sikap perorangan atau kumpulan perseorangan yang kebetulan memiliki afiliasi dengan kampus tersebut,” lanjutnya.

Prabu pun mengatakan bahwa sikap tersebut dinilai tidak fair karena ada beberapa Rektor dan Pimpinan Kampus yang menyanggah sikap tersebut mewakili kampus.

“Rasanya tidak fair jika membawa-bawa nama kampus seakan-akan mewakili sikap resmi dari kampus tersebut, apalagi Rektor atau Pimpinan dari kampus tersebut banyak yang memberikan sanggahan bahwa entah itu petisi atau pernyataan dianggap mewakili kampus,” bebernya.

Baca Juga:  KDM Ajak UPI Bangkitkan Spirit Bumi Siliwangi untuk Bangun Peradaban Masa Depan

Sebagai pengajar di salah satu kampus yang ada di Indonesia, Prabu pun merasa tidak terwakili dengan sikap beberapa kampus tersebut.

“Saya tentu memiliki sikap politik sendiri, demikian juga dengan teman-teman Civitas Akademika yang lain,” katanya.

Terakhir, Prabu menyarankan para Civitas Akademika untuk tidak membawa-bawa nama kampus dalam menyuarakan politik pribadinya.

“Maka saran saya jangan bawa-bawa nama kampus jika memang ingin menyuarakan statement atau pernyataan politik pribadi. Anda mempermasalahkan tentang etik, maka seyogyanya kita sebagai Civitas Akademika harus juga mengindahkan etiknya dalam menyampaikan pendapat, jika ini pendapat pribadi katakan apa adanya, jangan mengatasnamakan kampus kecuali memang ada sikap resmi dari kampus tersebut,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

UPI
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label

Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak

Viral! Gegara Puntung Rokok, WNI Ini Masuk Penjara di Malaysia

DIKULITI DI FORUM DUNIA?! Nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Mendadak Jadi Sorotan PBB!

Api Kepung 5 Titik Lahan di Sindanggalih Sumedang, Warga Mulai Waspada

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Uang Mertua Rp17 Miliar Raib, Shabrina Adfi Buka Suara Soal Kejahatan Perbankan di BTN
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.