Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa

Kamis, 29 Oktober 2026 21:11 WIB

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Kamis, 29 Oktober 2026 21:06 WIB

Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory

Kamis, 29 Oktober 2026 20:33 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa
  • Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo
  • Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory
  • Teror Suporter Beruntun di Oktober, PSSI Siapkan Sanksi Pengurangan Poin
  • Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98
  • Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk
  • Baru Hajar Melbourne Victory, Persib Justru Kehilangan Igor Tolic di Super League
  • Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Olahraga

Teror Suporter Beruntun di Oktober, PSSI Siapkan Sanksi Pengurangan Poin

By SusanaKamis, 29 Oktober 2026 20:22 WIB4 Mins Read
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. (Foto: PSSI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketua Umum PSSI Erick Thohir kembali menyinggung kemungkinan sanksi pengurangan poin bagi klub yang gagal menjaga ketertiban suporter. Ancaman itu muncul di tengah rentetan insiden kekerasan yang melibatkan suporter sepak bola Indonesia sepanjang Oktober 2026, sehingga efektivitas penegakan disiplin kembali menjadi sorotan.

Erick meminta operator kompetisi I.League dan klub tidak mengabaikan persoalan keamanan. Menurutnya, aturan untuk menindak pelanggaran sudah tersedia dan tinggal dijalankan secara tegas.

“Posisi kami, PSSI jelas bahwa kami meminta liga dan klub-klub untuk bertindak tegas. Itu ada aturan mainnya semua, tidak usah diputar-putar,” kata Erick.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan kekerasan suporter tidak cukup hanya dengan imbauan. Namun, penerapan pengurangan poin juga membutuhkan kejelasan soal jenis pelanggaran, pihak yang bertanggung jawab, serta mekanisme penjatuhan sanksi sesuai regulasi.

Rentetan Insiden Kekerasan Sepanjang Oktober 2026

Sorotan terhadap sanksi PSSI muncul setelah sejumlah insiden terjadi dalam waktu berdekatan. Pada 11 Oktober 2026, bus pemain Persib Bandung U-18 diserang di Rest Area KM 360 Batang. Sehari kemudian, bus rombongan suporter Persija Jakarta dilempari benda keras di Tol Palikanci, Cirebon.

Baca Juga:  Kalah dari Irak, Erick Thohir: Timnas Perlu Berbenah

Insiden lain terjadi usai laga Garudayaksa FC melawan Persib Bandung di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, pada 25 Oktober 2026. Seorang suporter Persib berusia 16 tahun meninggal dunia setelah dibacok saat perjalanan pulang. Polisi kemudian memastikan pelaku bukan suporter klub mana pun dan menyerang secara acak.

Rentetan kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan sepak bola tidak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga selama perjalanan suporter menuju dan meninggalkan lokasi pertandingan.

Erick menilai klub dan operator kompetisi harus mengambil langkah nyata agar kekerasan tidak terus berulang. Pembatasan kehadiran suporter tandang pada laga tertentu juga bisa menjadi salah satu opsi berdasarkan pertimbangan keamanan.

Meski demikian, efektivitas pengurangan poin sebagai pencegah kekerasan masih perlu dibuktikan melalui penerapan dan evaluasinya. Sanksi tegas perlu disertai upaya pencegahan agar persoalan tidak hanya ditangani setelah jatuh korban.

Bedakan Sanksi Klub dan Tindak Pidana

Salah satu hal penting dalam penanganan kekerasan suporter adalah membedakan pelanggaran disiplin sepak bola dengan tindak pidana. Keduanya bisa berkaitan dengan pertandingan, tetapi tidak otomatis ditangani lewat mekanisme yang sama.

Baca Juga:  Erick Thohir Resmi Dilantik Jadi Menpora Gantikan Dito Ariotedjo

Untuk tindak kriminal di luar stadion, kepolisian berwenang melakukan penyelidikan dan penegakan hukum. Sementara itu, PSSI dan operator kompetisi memproses pelanggaran yang masuk lingkup regulasi sepak bola.

Erick mengaku telah menggelar pertemuan tertutup dengan Kapolri Suyudi Ario Seto untuk membahas penanganan tindak kriminal yang berkaitan dengan sepak bola. Ia menyebut komitmen bersama PSSI dan kepolisian akan diumumkan dalam satu hingga dua minggu ke depan.

“Kalau di dalam pertandingan sendiri, kita sudah pernah mengalami peristiwa Kanjuruhan, saya rasa tidak bisa ditoleransi,” ujar Erick.

Pembedaan tersebut penting agar sanksi dijatuhkan berdasarkan bukti, kewenangan, dan ketentuan yang berlaku. Klub semestinya tidak otomatis dibebani tanggung jawab atas setiap tindak kriminal di luar stadion tanpa pemeriksaan keterkaitannya dengan kewajiban klub.

Suporter Tandang Kembali Diizinkan, Ini Tantangannya

Kehadiran suporter tim tamu kembali diperbolehkan pada musim 2026/2027 setelah dibatasi selama tiga tahun. Kebijakan ini membuka kesempatan bagi pendukung untuk menyaksikan tim kesayangan secara langsung, tetapi juga menuntut pengelolaan keamanan yang lebih terukur.

Baca Juga:  PSSI Gandeng Jordi Cruyff, Filosofi Sepak Bola Indonesia akan Dievaluasi!

Erick mengingatkan klub dan operator kompetisi untuk menjaga kesempatan tersebut lewat komitmen bersama. Menurutnya, keselamatan suporter harus menjadi prioritas di setiap pertandingan.

“Kami, PSSI, tegas. Tidak hanya klubnya yang ditindaklanjuti, suporter juga, bahkan pengurangan poin yang memang harus dijalankan kalau kondisi ini tidak bisa dijaga keharmonisannya seperti yang kami harapkan,” kata Erick.

Tantangannya adalah memastikan kebijakan keamanan tidak berhenti pada pembatasan suporter atau ancaman hukuman. Koordinasi antarklub, pengawasan perjalanan suporter, pengelolaan laga berisiko tinggi, serta penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan perlu berjalan beriringan.

Pada akhirnya, efektivitas ancaman pengurangan poin tidak hanya ditentukan oleh beratnya hukuman, tetapi juga konsistensi penerapannya. Bagi PSSI dan operator kompetisi, ukuran keberhasilan bukan sekadar laga yang berjalan tanpa keributan di stadion, tetapi juga memastikan suporter bisa berangkat, menonton, dan pulang ke rumah dengan selamat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Erick Thohir kekerasan suporter PSSI sanksi pengurangan poin
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa

Kejutan Besar! Arsenal Tersingkir dari Carabao Cup oleh Tim Kasta Keempat Fleetwood

Tiga Pemanjat Tebing Indonesia Tembus Top 3 Ranking Dunia IFSC 2026

I League Berduka atas Meninggalnya Bobotoh ARK, Minta Semua Pihak Tak Berspekulasi

Intip Kekuatan Melbourne Victory: Raksasa Australia Siap Uji Ketangguhan Persib di Si Jalak Harupat

Bayern Muenchen Kudeta Dortmund dari Puncak Klasemen Bundesliga

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.