bukamata.id – Sebuah video yang memperlihatkan warga menandu seorang pasien melewati jalan rusak di Kampung Cicapeu, Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), viral di media sosial. Peristiwa itu menggambarkan sulitnya akses transportasi yang dihadapi warga, terutama saat membutuhkan pertolongan medis.
Dalam video yang beredar, sejumlah warga tampak bergotong royong menggotong pasien menggunakan tandu sederhana. Mereka harus melewati jalan yang rusak parah, dengan tanjakan dan turunan curam yang sulit dilalui kendaraan.
Ambulans Tak Bisa Masuk Saat Hujan
Kepala Desa Kidangpananjung, Yuyu Yuhaeni, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, pasien terpaksa ditandu karena ambulans tidak bisa menjangkau lokasi akibat jalan licin setelah diguyur hujan.
Pasien diketahui bernama Iis (45), yang mengidap kanker otak dan hendak menjalani kontrol ke rumah sakit di Soreang. Meski telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, perjalanan menuju fasilitas kesehatan tetap terhambat buruknya akses jalan dari kampungnya.
Menurut Yuyu, jalan tersebut sebenarnya masih bisa dilalui ambulans maupun kendaraan pengangkut sayuran saat musim kemarau. Namun, kondisinya berubah drastis ketika hujan turun.
“Kalau kemarau ambulans bisa masuk, termasuk kendaraan sayuran. Tapi kalau hujan enggak bisa. Jadi kemarin hujan, ambulans tidak bisa masuk sehingga harus ditandu,” kata Yuyu saat dikonfirmasi.
Lebih dari Satu Jam Menandu Pasien
Proses evakuasi pasien sepenuhnya mengandalkan tenaga warga. Tandu sederhana digotong dua orang secara bergantian, dan perjalanan melewati jalur tersebut memakan waktu lebih dari satu jam.
“Ripuh pokona mah (pokoknya repot sekali),” ujar salah seorang warga yang ikut menggotong tandu dalam video yang beredar.
Ungkapan dalam bahasa Sunda itu menggambarkan betapa beratnya perjuangan warga melewati jalan yang kondisinya memprihatinkan.
Terakhir Diperbaiki 15 Tahun Lalu
Yuyu menjelaskan, jalan yang dikeluhkan warga merupakan jalan desa yang menghubungkan Kampung Gedugan, Cicapeu, hingga Cihanjuang dalam satu dusun. Panjangnya mencapai 2,6 kilometer dengan lebar sekitar 2,5 meter.
Jalan tersebut terakhir kali diperbaiki melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sekitar 15 tahun lalu. Saat itu, permukaannya masih beraspal. Seiring waktu, kerusakan terus bertambah hingga menyulitkan aktivitas warga.
Pemerintah desa sebenarnya sudah berupaya melakukan perbaikan terbatas, salah satunya dengan menambal sejumlah titik menggunakan sekitar 50 sak semen. Namun, upaya itu belum mampu mengatasi kerusakan di sepanjang jalur.
“Kami pihak desa juga telah mengajukan proposal perbaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Akan tetapi, hingga kini, kebutuhan penanganan jalan tersebut masih terkendala keterbatasan anggaran,” jelasnya.
Dana Desa Terbatas, Terserap untuk KDMP
Yuyu mengungkapkan, Desa Kidangpananjung termasuk desa dengan alokasi dana desa yang relatif kecil, yakni sekitar Rp900 juta. Keterbatasan itu membuat pemerintah desa kesulitan membiayai perbaikan jalan sepanjang 2,6 kilometer secara menyeluruh.
Menurut Yuyu, kondisi tersebut makin sulit karena sebagian dana desa kini dialokasikan untuk mendukung pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Kalau dana desa sekarang sudah tidak ada untuk perbaikan jalan karena dialokasikan untuk KDMP. Kami sudah berusaha melakukan perbaikan dan mengajukan proposal ke Provinsi Jawa Barat,” ujarnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










