bukamata.id – Nama Alvin Tedjo mendadak ramai diperbincangkan, termasuk di Indonesia. Politikus keturunan Indonesia dan Tionghoa itu terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Kanada, setelah menumbangkan dua nama besar yang sebelumnya lebih dijagokan: wali kota petahana dan mantan wali kota.
Kemenangan ini terasa makin istimewa karena Alvin datang ke Kanada sebagai bocah perantau berusia empat tahun. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia kini memimpin salah satu kota terbesar di Provinsi Ontario.
Unggul Jauh dari Petahana dan Mantan Wali Kota
Berdasarkan hasil penghitungan tidak resmi yang dirilis pemerintah kota, Alvin memimpin perolehan suara dengan 74.479 suara per Senin pukul 23.30 waktu setempat.
Ia meninggalkan jauh wali kota petahana Carolyn Parrish yang meraih 51.853 suara. Di posisi ketiga, mantan Wali Kota Mississauga Bonnie Crombie hanya mengumpulkan 43.191 suara. Secara persentase, Parrish meraih sekitar 27,3 persen suara, sementara Crombie berada di urutan ketiga dengan 22,7 persen.
Kemenangan Alvin juga tergolong cepat dipastikan. Meja pemilu CP24-CTV News menyatakan Alvin sebagai pemenang pukul 20.27, kurang dari 30 menit setelah tempat pemungutan suara ditutup.
“Mississauga telah memilih perubahan,” ujar Alvin di hadapan para pendukungnya.
Hasil ini sekaligus mencatat sejarah tersendiri bagi kota tersebut. Alvin akan menjadi wali kota kedelapan Mississauga dan laki-laki pertama yang memegang jabatan itu sejak 1978.
Kekalahan 2024 yang Jadi Batu Loncatan
Kemenangan ini bukan datang tiba-tiba. Dua tahun sebelumnya, Alvin sudah mencoba peruntungan di kursi yang sama dalam pemilihan sela 2024. Saat itu, Carolyn Parrish menang dengan lebih dari 43.000 suara, sementara Alvin finis di posisi kedua dengan sekitar 34.000 suara.
Kekalahan tersebut tak membuatnya mundur. Pada pemilihan 2026, Alvin kembali maju dengan janji yang menyentuh langsung kantong warga. Ia berkampanye dengan janji membekukan porsi pajak kota selama dua tahun.
Hasilnya pun berbalik. Bahkan, menurut media lokal, kemenangan telak Alvin atas Parrish dan Crombie tidak banyak diprediksi oleh pengamat politik beberapa bulan sebelumnya.
Dari Anak Pencuci Piring hingga Kursi Wali Kota
Di balik kemenangannya, ada kisah keluarga perantau yang memulai segalanya dari nol. Alvin tiba di Mississauga dari Indonesia saat berusia empat tahun.
Ayahnya, dr. Anto Tedjo, harus membangun kehidupan baru di Kanada dari bawah. Meski bergelar dokter, ia sempat bekerja sebagai pencuci piring hingga pengantar makanan demi menghidupi keluarga.
Pengalaman itu, menurut Alvin, membentuk cara pandangnya terhadap persoalan warga kelas pekerja. Kini, ia menetap di kawasan Clarkson bersama sang istri, Rebecca, dan tiga anak mereka.
Jejak Karier di Kebijakan Publik dan Pendidikan
Karier Alvin banyak ditempa di dunia kebijakan publik, pendidikan tinggi, dan komunikasi. Ia mengawali kiprah organisasinya di Aliansi Mahasiswa Sarjana Ontario (Ontario Undergraduate Student Alliance/OUSA).
Ia kemudian masuk ke pemerintahan Provinsi Ontario di Queen’s Park sebagai penasihat senior bagi empat menteri pendidikan tinggi. Pengalamannya berlanjut saat menduduki posisi strategis di Sheridan College dan Toronto Metropolitan University.
Di dunia politik kota, Alvin menjabat anggota dewan kota Mississauga untuk Ward 2 sejak terpilih pada 2022, wilayah yang mencakup Clarkson dan Lorne Park.
Selama satu periode menjabat, ia mengklaim sejumlah capaian, di antaranya menghadirkan transportasi umum gratis bagi anak-anak, mempermudah pembangunan hunian, serta memperluas ruang terbuka hijau, taman anjing, dan jalur pejalan kaki. Ia juga mendorong perluasan tempat penampungan tunawisma, mendukung bank pangan, melegalkan street hockey, dan dua kali memberikan suara untuk menurunkan pajak.
Latar Pendidikan dari Queen’s University hingga Harvard
Dari sisi akademik, Alvin menempuh studi ilmu politik di Queen’s University, Kanada. Ia juga mengantongi sertifikat studi internasional dari Bader International Study Centre.
Tak berhenti di situ, Alvin melanjutkan pendidikan hingga meraih sertifikat pascasarjana bidang teknologi pembelajaran serta gelar magister desain media digital dari Harvard Extension School.
Kebanggaan bagi Diaspora Indonesia
Terpilihnya Alvin menjadi kabar membanggakan bagi komunitas diaspora Indonesia di Kanada. Dari anak keluarga perantau yang memulai hidup dari nol, ia kini dipercaya warga untuk memimpin kota berpenduduk lebih dari 700.000 jiwa.
Kini, tantangan sesungguhnya baru dimulai: membuktikan janji kampanye dan menjawab kepercayaan warga yang memilih perubahan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











