bukamata.id – Rencana revitalisasi Lapangan Teuku Umar atau Taman Fitnes di Kecamatan Coblong, Kota Bandung, menuai penolakan dari warga dan pemuda setempat. Mereka meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempertahankan fungsi lapangan sepak bola yang selama ini aktif digunakan masyarakat.
Penolakan tersebut tetap disuarakan meski Pemkot Bandung menyebut fasilitas skatepark hanya akan menggunakan sekitar 30 persen dari total area. Warga menilai keberadaan fasilitas skateboard dan sepeda BMX belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar yang mayoritas memanfaatkan lapangan untuk bermain sepak bola.
Perwakilan Pemuda Teuku Umar, Novian Ardiansyah, mengatakan warga belum mengetahui secara pasti desain revitalisasi yang akan diterapkan. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan fasilitas skateboard dan BMX tetap menjadi keberatan warga.
“Kita belum tahu gambarnya seperti apa. Kalaupun dibikin 30 persen kan tetap ada skateboard dan BMX. Dari warga, kami menginginkan lapangan yang sudah ada cukup diperbaiki agar lebih nyaman digunakan,” ujar Novian di lokasi, Rabu (28/10/2026).
Warga Keluhkan Minimnya Sosialisasi
Selain persoalan fungsi fasilitas, warga juga menyoroti minimnya sosialisasi sebelum pekerjaan revitalisasi dimulai.
Novian mengungkapkan, warga dan anak-anak yang biasa berlatih sepak bola sempat terkejut ketika material bangunan dan seng pembatas tiba di lapangan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Kita lagi latihan main bola, tahu-tahu material datang, kan kita bertanya-tanya. Dari warga pun awalnya tidak tahu lapangan ini mau dibuat seperti apa,” katanya.
Menurut warga, komunikasi yang lebih terbuka diperlukan agar masyarakat mengetahui rencana pembangunan sekaligus dapat menyampaikan aspirasi sebelum perubahan dilakukan terhadap fasilitas yang selama ini mereka gunakan.
Nilai Fasilitas BMX Kurang Sesuai Kebutuhan Warga
Penolakan serupa disampaikan perwakilan pemuda lainnya, Linda Zanalia. Ia mempertanyakan kesesuaian pembangunan fasilitas skateboard dan BMX dengan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
Linda menilai, tidak semua anak memiliki akses terhadap peralatan olahraga tersebut. Karena itu, ia berharap lapangan sepak bola tetap menjadi fasilitas utama yang dapat digunakan anak-anak tanpa harus bermain di jalan atau gang permukiman.
“Berapa orang sih di wilayah kami yang punya sepeda BMX? Perekonomian di wilayah kami seperti apa,” ujar Linda.
“Lebih proper biarkan anak-anak bermain bola, menikmati fasilitas ini tanpa harus bermain di dalam gang,” lanjutnya.
Linda menyarankan Pemkot Bandung memprioritaskan perbaikan lapangan sepak bola, penambahan bangku penonton, serta penataan taman agar lebih nyaman tanpa menghilangkan fungsi yang sudah berjalan.
Ia juga mempertanyakan alasan pembangunan skatepark di lokasi tersebut jika fasilitas serupa dapat dikembangkan atau diperbaiki di tempat lain.
“Kalau pun memang ada anggaran untuk memperbaiki lapangan skateboard, kenapa tidak perbaiki skatepark yang sudah ada saja di tempat lain? Jangan mengganggu fasilitas yang selama ini aktif digunakan warga Coblong,” pungkasnya.
Warga berharap Pemkot Bandung kembali mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekitar dan membuka ruang dialog sebelum melanjutkan revitalisasi Taman Fitnes Teuku Umar.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










