bukamata.id – Suaranya bergetar, sesekali terisak, namun kalimat yang keluar tetap lantang. Di tengah kerumunan massa di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), Noor Shalima Zamaiya Hakim berdiri menyampaikan orasi tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Perempuan 24 tahun yang akrab disapa Shalima Hakim itu bukan wajah baru di barisan demonstran. Putri sulung aktris sekaligus aktivis Reformasi 1998, Wanda Hamidah, ini sudah beberapa kali turun ke jalan. Kali ini, isu yang ia angkat adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Orasi Emosional untuk Korban Karhutla
Dalam video yang beredar di media sosial, Shalima menyampaikan aspirasinya dengan penuh semangat. Ia memperkenalkan diri sebagai warga sipil dan meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah nyata menangani karhutla.
“Pak Prabowo udah lah, uangnya beratus-ratus triliun ayo kita salurkan ke masyarakat, ayo kita salurkan ke karhutla. Bapak tega enggak sih lihat anak-anak yang mati kena asap karhutla itu,” ujar Shalima.
Lulusan hukum itu juga menekankan pentingnya kajian ilmiah dan mitigasi. Menurutnya, karhutla tidak semestinya dipandang sebagai bencana alam semata, sementara berbagai solusi sebenarnya telah dikaji.
“Jangan bilang rakyat cuma berkoar-koar enggak ada solusi, karena semua ada solusinya, semua ada kajiannya,” tegasnya.
Lulusan Hukum Tata Negara UGM
Di balik keberaniannya di atas panggung orasi, Shalima memiliki latar belakang akademik yang berkaitan erat dengan isu-isu yang ia suarakan.
Ia merupakan anak sulung dari empat bersaudara hasil pernikahan Wanda Hamidah dengan Cyril Raoul Hakim. Setelah menamatkan pendidikan di Mentari Intercultural School (2017–2020), Shalima melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 2020–2025.
Di UGM, ia mengambil konsentrasi Hukum Tata Negara atau Constitutional Law, bidang yang bersinggungan langsung dengan isu demokrasi dan kebijakan publik.
Dari WALHI hingga CSIS
Pengalaman Shalima tak hanya di ruang kuliah. Ia tercatat aktif di berbagai bidang, mulai dari hukum, penelitian, komunikasi, hingga advokasi lingkungan.
Pada 2018, ia menjadi Media Manager di Panitia Penyelenggara Asian Para Games 2018 (INAPGOC). Setahun kemudian, ia magang di firma hukum K&K Advocates.
Saat kuliah, Shalima mendirikan Jogja Market Spot pada 2022. Ia juga pernah menjadi peserta magang advokasi di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta pada 2023, pengalaman yang relevan dengan isu karhutla yang kini ia suarakan.
Terbaru, Shalima menjalani magang sebagai peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia pada Mei hingga Agustus 2025.
Mewarisi Semangat Aktivisme Sang Ibu
Kehadiran Shalima di barisan demonstran membuat warganet teringat pada jejak sang ibu. Wanda Hamidah dikenal sebagai aktivis yang terlibat dalam gerakan Reformasi 1998, sebelum kemudian menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009–2014.
Shalima sendiri tak menutupi pengaruh sang ibu. Melalui akun Threads @shalimahakim, ia mengunggah foto Wanda muda saat berdemonstrasi pada 1998. Dalam keterangannya, ia menyebut tidak takut di-doxxing dan menegaskan bahwa semangat perlawanan itu diwariskan lintas generasi, ditutup dengan seruan “hidup perempuan yang melawan!”
Wanda pun memberi dukungan terbuka kepada anak-anaknya. Lewat akun Instagram @wandahamidahbsa, ia mengunggah momen putra keduanya, Muhammad Alfath Hakim, yang tengah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), berada di tengah kerumunan massa.
“I see my son in the crowd,” tulis Wanda.
Pertama Kali Disorot di Demo Tolak Revisi UU Pilkada
Nama Shalima pertama kali menyita perhatian publik saat aksi menolak revisi UU Pilkada di depan Gedung DPR RI, Senayan, Kamis (22/8/2024). Saat itu, ia berorasi dari atas mobil komando dan meneriakkan seruan “hidup demokrasi” di hadapan massa.
Hari itu, ibu dan anak tersebut berbagi peran. “Bagi-bagi tugas, aku di DPR, ibu di MK,” tulis Shalima di media sosial kala itu.
Dalam aksi tersebut, ia turun bersama sang adik, Alfath. Wanda kemudian menyampaikan doa dan dukungan melalui media sosial, seraya memohon keselamatan bagi kedua anaknya.
Bagian dari Aksi #IndonesiaSadar
Orasi Shalima di Bundaran HI merupakan bagian dari aksi bertajuk #IndonesiaSadar yang digelar mahasiswa, antara lain BEM UI, bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) dan elemen masyarakat sipil. Aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi di kawasan Tugu Tani pada 20 Oktober 2026 yang menandai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Massa membawa lima tuntutan, yakni penetapan karhutla sebagai bencana nasional, perbaikan anggaran negara, persoalan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, dan penghentian militerisasi ruang sipil.
Aksi di Bundaran HI sempat diwarnai saling dorong antara massa dan aparat. Polisi sempat mengamankan sekitar 19 orang di sekitar Sudirman dan Bundaran HI.
Menanggapi aksi tersebut, pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah menyatakan menghormati penyampaian aspirasi masyarakat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










