bukamata.id – Langkah Tim Nasional Indonesia di ajang Piala AFF 2026 harus terhenti secara menyakitkan pada fase grup. Datang dengan ekspektasi tinggi di bawah komando juru taktik berlabel Piala Dunia, John Herdman, Pasukan Garuda justru hanya sanggup menduduki urutan ketiga klasemen akhir Grup A dengan perolehan tujuh poin.
Kiprah Indonesia sebenarnya diawali dengan performa menjanjikan setelah sukses membantai Kamboja 5-1 dan menggulung Timor Leste 3-0. Namun, grafik performa Garuda merosot tajam ketika berhadapan dengan tim yang secara kualitas setara atau berada di atas mereka. Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari serta hasil imbang 1-1 kontra Singapura di Stadion Jalan Besar memutus harapan Indonesia melenggang ke semifinal.
Momen Kritis Lawan Singapura dan Blunder Fatal
Laga penentu melawan Singapura menjadi gambaran nyata kebuntuan taktik tim asuhan Herdman. Setelah sempat unggul lebih awal lewat tembakan Ragnar Oratmangoen di babak kedua, mimpi Garuda buyar pada menit ke-66. Miskomunikasi fatal antara kiper Cahya Supriadi dan bek tengah Rizky Ridho dimanfaatkan Ilhan Fandi untuk menceploskan bola dengan mudah. Skor imbang bertahan hingga peluit panjang, mengunci kegagalan Indonesia.
Tiga Masalah Utama Skuad Garuda di Bawah Herdman
- Rapuhnya Lini PertahananDari empat pertandingan, gawang Indonesia kebobolan lima kali dan hanya membukukan satu clean sheet saat melawan Timor Leste. Mayoritas gol musuh tercipta berkat keteledoran koordinasi lini belakang serta skema serangan balik cepat yang gagal diantisipasi.
- Skema Serangan yang MonotonMeskipun mengemas sembilan gol sepanjang turnamen, variasi taktik serangan Indonesia sangat minim. Kebanyakan gol lahir dari tusukan di area sayap yang diakhiri umpan tarik. Hanya ada satu gol dari skema luar kotak penalti, yakni eksekusi bola mati Thom Haye.
- Absennya Solusi Saat Jalan BuntuReputasi Herdman yang sukses membawa timnas Kanada ke Piala Dunia tak berkutik menghadapi benteng kokoh Vietnam dan disiplinnya pertahanan Singapura. Ketidakmampuan meracik skema alternatif menjadi indikasi kuat perlunya evaluasi menyeluruh dari jajaran manajemen.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









