bukamata.id – Akhir pekan sering kali menjadi momen yang paling dinanti untuk sejenak menjauh dari rutinitas. Di tengah padatnya mal dan kafe yang kian ramai, trekking ringan di alam terbuka kini mulai dilirik sebagai cara sederhana untuk memulihkan energi.
Aktivitas ini diminati karena tak menuntut persiapan rumit. Jalurnya relatif aman, bisa dinikmati bersama teman atau keluarga, dan menghadirkan pengalaman dekat dengan alam tanpa harus bepergian jauh dari pusat kota.
Salah satu destinasi yang kerap direkomendasikan adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda, Bandung.
Kawasan konservasi ini memiliki jalur trekking yang tertata rapi dan mudah diakses. Sejak memasuki area Tahura, pengunjung langsung disambut hawa sejuk dan rindangnya pepohonan. Tiket masuk pun terjangkau, yakni sekitar Rp17 ribu.
Tak sekadar berjalan di tengah hutan, trekking di Tahura juga menawarkan wisata sejarah. Di sepanjang jalur, suasana alami berpadu dengan bangunan peninggalan masa lalu.
Salah satunya Gua Jepang yang dibangun pada 1942. Lorong-lorong sempit dengan hawa dingin langsung terasa saat kaki melangkah masuk. Sekitar 700 meter dari sana, berdiri Gua Belanda, terowongan kolonial awal 1900-an yang awalnya dibangun untuk kepentingan irigasi PLTA Cikapundung, sebelum kemudian beralih fungsi menjadi markas militer strategis, pusat komunikasi radio Hindia Belanda, hingga tempat penyimpanan senjata dan logistik.
Selepas kawasan gua, jalur trekking berlanjut sekitar 1,6 kilometer menyusuri hutan. Kontur tanah yang bervariasi dan suara alam yang semakin dominan menghadirkan suasana yang kian sunyi dan menenangkan.
Setelah melewati jalur hutan dan menyeberangi aliran sungai kecil, pengunjung akan tiba di area penangkaran rusa.
“Di sini fasilitasnya lengkap banget, suasananya adem, jadi cocok untuk menghilangkan rasa penat,” ujar Hani Anisa (28), Minggu (18/1/2026).
Area ini terasa lebih terbuka. Rerumputan hijau membentang, dikelilingi pepohonan, sementara rusa-rusa tampak berkeliaran dengan jinak. Menurut Hani, penangkaran rusa menjadi titik favorit untuk beristirahat setelah trekking.
Pasalnya, di lokasi ini tersedia warung sederhana yang menjajakan camilan dan kelapa muda, membuat pengunjung bisa melepas lelah sambil menikmati suasana alam.
Keseruan semakin terasa saat pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan rusa. Dengan membayar Rp10 ribu, pengunjung dapat membeli pakan dan memberi makan rusa dari jarak dekat. Tak jarang, rusa-rusa tersebut mendekat dengan antusias, bahkan keluar dari area kandang karena terlalu bersemangat.
“Ini kali pertama ke sini, dan ternyata seru bisa berinteraksi dengan rusa tanpa rasa takut, karena penangkarannya juga aman,” imbuh Hani.
Hal serupa dirasakan Gani (25). Baginya, area penangkaran rusa menjadi penutup perjalanan trekking yang berkesan.
“Enggak perlu ke Ciwidey cuma mau lihat rusa. Di sini enggak jauh dari pusat kota. Tiketnya terjangkau, jalurnya jelas, dan suasananya tenang,” ujarnya.
Menurut Gani, trekking di Tahura memberi pengalaman yang lengkap, mulai dari jalan santai di hutan, wisata sejarah, hingga interaksi dengan satwa.
“Capeknya ada, tapi begitu sampai lihat rusa dan dengar suara alam, rasanya langsung kebayar. Ini tempat yang pas buat healing ringan di akhir pekan,” katanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









