Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ketika Negara Lain Punya Pahlawan Sendiri, Bogor Punya ‘The Sanitizer’ yang Bekerja dalam Senyap

Sabtu, 1 Agustus 2026 20:30 WIB

Jalan Terjal Menuju Semifinal: Persija Bantai PSMS 4-1, Skenario El Clasico Kontra Persib di Depan Mata!

Sabtu, 1 Agustus 2026 20:21 WIB

Duka Bertubi-tubi Hantam Pas Band, Kehilangan Beruntun dari Istri Personel hingga Trisnoize

Sabtu, 1 Agustus 2026 20:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ketika Negara Lain Punya Pahlawan Sendiri, Bogor Punya ‘The Sanitizer’ yang Bekerja dalam Senyap
  • Jalan Terjal Menuju Semifinal: Persija Bantai PSMS 4-1, Skenario El Clasico Kontra Persib di Depan Mata!
  • Duka Bertubi-tubi Hantam Pas Band, Kehilangan Beruntun dari Istri Personel hingga Trisnoize
  • Rumor Jay Idzes Diincar PSG, Benarkah Ada Ketertarikan dari Raksasa Prancis?
  • Skenario Semifinal Piala Presiden 2026: Menakar Calon Lawan Persib Bandung
  • Viral Lautan Manusia Antar Jenazah Kades Pegiringan Pemalang, Terungkap Amalan Semasa Hidup
  • Dua Sesi Sehari, Tanpa Bayaran: Anatomi Ketulusan Mbah Melan, Guru Matematika di Balik Layar TikTok
  • Ketajaman Mitchell Baker Kian Bersinar, Kokoh di Puncak Top Skor Piala AFF 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 1 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Tukang Bangunan Asal Kudus Ini Ternyata Ulama Dunia! Kisah Mbah Riyan yang Bikin Merinding

By Aga GustianaJumat, 31 Juli 2026 18:36 WIB7 Mins Read
Mbah Riyak Ulama Kudus. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah sudut Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berdirilah sebuah rumah sederhana yang menyimpan rahasia besar tentang ketulusan dan pengabdian seorang hamba. Pemandangan sehari-hari di sekitar rumah tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kemewahan atau keistimewaan. Setiap pagi, seorang lelaki paruh baya berbadan kurus mengenakan kaus lusuh dan celana kerja melangkah keluar rumah. Ia memanggul sak semen, menyusun bata demi bata, mengaduk pasir, serta meratakan adukan semen dengan cekatan, persis seperti buruh bangunan pada umumnya.

Tidak ada iring-iringan kendaraan mewah yang menjemputnya. Tidak ada kilatan kamera wartawan yang mengikuti setiap langkah kakinya. Tidak ada pula orang-orang yang berebut mengerubunginya hanya untuk meminta berswafoto. Ketika jam istirahat tiba atau setelah matahari mulai tenggelam di ufuk barat, lelaki itu sering kali berjalan santai menuju sungai terdekat. Berbekal joran pancing sederhana yang terbuat dari bambu, ia menghabiskan waktu luangnya hingga senja menyapa, menikmati ketenangan alam dengan penuh rasa syukur.

Warga di sekitar lingkungan tempat tinggalnya mengenal beliau dengan sapaan akrab Mbah Riyan. Di mata para tetangga, ia hanyalah seorang tukang bangunan biasa yang dikenal sangat ramah, murah senyum, dan pendiam. Sosoknya tidak pernah banyak berbicara, apalagi menceritakan latar belakang kehidupan pribadinya kepada orang lain. Kesahajaan yang melekat pada dirinya membuat tidak seorang pun di kampung tersebut menyangka bahwa di balik penampilan sederhananya, dunia akademik Islam internasional justru mengenalnya dengan nama yang disegani: Ibnu Harjo Al-Jawi.

Dua Dunia yang Menyatu dalam Satu Raga

Kisah hidup Mbah Riyan seolah meruntuhkan sekat-sekat imajiner antara dunia fisik yang kasar dan dunia intelektual yang luhur. Pagi hingga sore hari, tangannya yang kasar akrab dengan batu bata, pasir, dan semen—membangun tempat tinggal bagi masyarakat sekitar. Namun, ketika malam tiba dan suasana kembali sunyi, tangannya beralih memegang lembaran-lembaran naskah kuno, pena, dan kitab-kitab turats, merajut serta merawat bangunan peradaban ilmu pengetahuan Islam.

Kontras yang begitu tajam ini memunculkan kekaguman mendalam. Bagaimana mungkin seseorang yang menghabiskan energinya untuk pekerjaan fisik yang melelahkan di siang hari, masih memiliki ketajaman berpikir dan ketekunan luar biasa untuk menghasilkan karya-karya ilmiah tingkat tinggi di malam hari? Jawabannya terletak pada keikhlasan niat dan kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan. Mbah Riyan tidak sedang mencari pengakuan duniawi; ia sedang menunaikan amanah peradaban.

Mengenal Lebih Dekat Tradisi Tahqiq Kitab

Bagi masyarakat awam, istilah tahqiq mungkin terdengar asing. Namun, dalam tradisi keilmuan Islam klasik, tahqiq memegang peranan yang sangat vital dan mulia. Pekerjaan ini jauh melampaui sekadar mencetak ulang atau menyalin teks kitab-kitab lama. Tahqiq adalah kerja ilmiah yang sangat ketat dan sistematis untuk menghadirkan teks asli sebuah karya agar sedekat mungkin dengan apa yang ditulis atau dikehendaki oleh pengarang aslinya.

Seorang muhaqqiq (peneliti naskah) memikul tanggung jawab moral dan intelektual yang amat besar. Mbah Riyan, misalnya, harus meneliti berbagai naskah manuskrip yang usianya telah mencapai ratusan tahun, membandingkan beragam edisi cetak, meneliti perbedaan redaksi antar-naskah, mengoreksi kesalahan penyalinan yang dilakukan oleh juru tulis masa lalu, hingga menelusuri sanad keilmuan pengarangnya.

Sebagai contoh nyata dari ketelitiannya, dalam proses penyuntingan kritis terhadap kitab fikih mazhab Syafi’i yang sangat populer di pesantren, Kitab Fathul Mu’in, Mbah Riyan tidak hanya bertumpu pada satu sumber saja. Ia melakukan komparasi mendalam dengan membandingkan tujuh naskah kitab cetak dan satu naskah manuskrip. Proses penelaahan yang teliti ini memastikan bahwa teks yang dibaca oleh para santri dan akademisi hari ini benar-benar valid, otentik, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Jejak keilmuannya juga terekam ketika ia membawa dan memaparkan hasil tahqiq terhadap Kitab Tahrir karya Syekhul Islam Zakariya Al-Anshari di hadapan ulama besar mazhab Syafi’i kontemporer, Syekh Abdul Aziz As-Syahawi. Momen tersebut membuktikan bahwa kapasitas intelektual Mbah Riyan diakui oleh otoritas keilmuan Islam tingkat internasional.

Mbah Riyan Al-Mastur: Pilihan Menjauh dari Panggung Kemenangan

Di tengah era modern di mana popularitas, jumlah pengikut di media sosial, dan citra diri kerap dijadikan tolok ukur kesuksesan, Mbah Riyan memilih jalur yang berlawanan. Banyak orang berlomba-lomba untuk viral, mencari panggung, dan tampil di hadapan publik sebelum benar-benar menghasilkan karya yang substansial. Sebaliknya, Mbah Riyan memilih untuk tetap berada di balik layar, menjalani hidup dalam senyap, dan membiarkan karya-karyanya yang berbicara.

Sikap inilah yang membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan apresiasi tertinggi kepadanya melalui ajang MUI Award 2026 dalam kategori Karya Tulis Islam. Ketua MUI Bidang Infokomdigi, KH Masduki Baidlowi, dalam siaran langsung di MUI TV, menyampaikan kekagumannya terhadap sosok Mbah Riyan yang tidak biasa ini. MUI bahkan menjulukinya sebagai Mbah Riyan Al-Mastur, sebuah sebutan bagi seseorang yang memilih untuk menutupi amal dan kiprahnya dari sorotan publik demi menjaga kemurnian niat.

Ketika MUI secara resmi mengundangnya untuk hadir langsung ke Jakarta guna menerima penghargaan bergengsi tersebut dalam acara yang diselenggarakan pada Minggu, 26 Juli 2026, Mbah Riyan dengan rendah hati memilih untuk tidak hadir. Penolakan ini bukan bentuk ketidakhargaan terhadap lembaga MUI, melainkan cerminan dari prinsip hidupnya yang mendalam: baginya, kebermanfaatan ilmu jauh lebih utama daripada seremonial dan tepuk tangan manusia.

Respon Hangat Warganet: Apresiasi Luas untuk Mbah Riyan Al-Mastur

Kisah inspiratif tentang Ibnu Harjo Al-Jawi atau Mbah Riyan tidak hanya menarik perhatian para akademisi, tetapi juga menyentuh hati masyarakat luas di dunia maya. Keberhasilan beliau meraih penghargaan bergengsi sekaligus konsistensinya dalam menjaga kesederhanaan menuai gelombang kekaguman dari warganet. Kolom komentar dipenuhi dengan doa, rasa takjub, hingga pengakuan dari mereka yang pernah merasakan langsung gemblengan ilmu dari sang guru:

“Semoga keturunan kita kelak bisa seperti beliau,” ujar seorang netizen yang mendoakan agar nilai-nilai ketulusan dan kecintaan pada ilmu terus berlanjut pada generasi mendatang.

“MasyaAllah….ilmu sejati tidak selalu berteriak untuk diakui. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Kesederhanaan adalah mahkota orang-orang yang benar-benar berilmu…. barakallah pa kyai,” tulis warganet lainnya, menyoroti esensi kerendahan hati yang terpancar dari sosok Mbah Riyan.

“Baarakallahufikum gurunda, bahagia melihat beliau sehat. Pernah di ajar beliau juga suatu kebanggaan lainnya,” ungkap salah satu netizen yang ternyata merupakan mantan murid beliau, menyiratkan rasa bangga yang mendalam karena pernah menimba ilmu secara langsung dari sang ulama ahli tahqiq.

Pelajaran Berharga dari Sang Muhaqqiq Asal Kudus

Perjalanan hidup Ibnu Harjo Al-Jawi memberikan banyak renungan penting bagi masyarakat modern yang kerap kali terjebak dalam penilaian materialistis:

  • Ukuran Kemuliaan yang Sebenarnya: Sering kali manusia menilai orang lain dari pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dikendarai, atau megahnya rumah tempat tinggal. Kisah Mbah Riyan mengingatkan kembali pada pesan abadi Buya Hamka bahwa kemuliaan seseorang terletak pada akhlak dan ilmunya, bukan pada atribut duniawi yang bersifat sementara.
  • Keikhlasan di Atas Popularitas: Para ulama salaf senantiasa khawatir jika amal ibadah dan ilmu mereka tercemar oleh keinginan untuk dipuji manusia. Mbah Riyan menunjukkan bahwa karya besar lahir dari keikhlasan malam-malam panjang yang sunyi, jauh dari kilatan kamera dan kehausan akan validasi sosial.
  • Ilmu yang Memberi Manfaat: Sebagaimana nasihat Imam Asy-Syafi’i, orang yang berilmu akan tetap hidup dalam kebaikan meskipun jasadnya telah tiada. Manfaat yang ditinggalkan melalui karya-karya ilmiah jauh lebih panjang usianya dibandingkan popularitas yang dibangun di atas tren media sosial yang fana.

Penutup

Kisah Mbah Riyan adalah sebuah oase di tengah padang kering modernitas. Dari sebuah rumah sederhana di Kudus, ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan kesederhanaan hidup sama sekali bukanlah halangan untuk menembus batas negara melalui karya ilmiah yang mumpuni. Ia membangun rumah-rumah warga dengan tenaganya di pagi hari, sekaligus merawat bangunan peradaban umat Islam dengan pemikirannya di malam hari.

Mbah Riyan mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua orang besar ingin terlihat hebat, tidak semua karya membutuhkan panggung megah, dan tidak semua ilmu harus disertai sorotan lampu sorot. Pada akhirnya, jejak langkah yang abadi di bumi bukanlah seberapa keras tepuk tangan manusia yang mengiringi nama kita, melainkan seberapa besar kebaikan dan manfaat yang kita tinggalkan ketika nama kita tak lagi disebut.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ibnu Harjo Al Jawi Mbah Riyan Muhaqqiq Kitab MUI Award 2026 Ulama Kudus
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ketika Negara Lain Punya Pahlawan Sendiri, Bogor Punya ‘The Sanitizer’ yang Bekerja dalam Senyap

Duka Bertubi-tubi Hantam Pas Band, Kehilangan Beruntun dari Istri Personel hingga Trisnoize

Dua Sesi Sehari, Tanpa Bayaran: Anatomi Ketulusan Mbah Melan, Guru Matematika di Balik Layar TikTok

Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia

Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis

Cara Cek Bansos Tahap 3: Gunakan NIK KTP untuk Pastikan Namamu Masuk Daftar Penerima

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.