Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Marc Klok hingga Beckham Putra Hilang dari Daftar, Ini Alasan John Herdman Rombak Timnas Indonesia

Sabtu, 19 September 2026 13:24 WIB

Xabi Alonso Kecewa Berat! Chelsea Remuk Redam Dihajar Brentford Tiga Gol Tanpa Balas

Sabtu, 19 September 2026 13:11 WIB

Pamer Lencana KPK, Oknum LSM Pemeras Ketua Kelompok Tani di Sukabumi Dicokok Polisi

Sabtu, 19 September 2026 12:07 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Marc Klok hingga Beckham Putra Hilang dari Daftar, Ini Alasan John Herdman Rombak Timnas Indonesia
  • Xabi Alonso Kecewa Berat! Chelsea Remuk Redam Dihajar Brentford Tiga Gol Tanpa Balas
  • Pamer Lencana KPK, Oknum LSM Pemeras Ketua Kelompok Tani di Sukabumi Dicokok Polisi
  • Bongkar Alasan Dikick dari Kemenkeu! Aksi ‘Koboy’ Purbaya Berakhir di Kolam Pancing, Siap Kejar Pilgub Jabar?
  • Innalillahi, Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Tutup Usia
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Gagal Bayar Denda, WNI Dibui Gara-gara Buang Puntung Rokok Sembarangan di Malaysia
  • Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 19 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tumbal Birokrasi di Bandung Zoo: Saat Gajah Bersengketa, Harimau Diduga Mati Terlantar

By Aga GustianaSenin, 30 Maret 2026 09:00 WIB6 Mins Read
Ilustrasi, Satwa jadi korban akibat polemik Bandung Zoo. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kematian adalah kepastian, namun dalam dunia konservasi, kematian yang dipicu oleh kelalaian birokrasi adalah sebuah tragedi yang memuakkan. Di balik rimbunnya pepohonan di jantung Kota Bandung, sebuah drama pilu baru saja mencapai klimaksnya. Dua anak harimau benggala, Hara dan Huru, meregang nyawa bukan karena seleksi alam di rimba, melainkan karena terjebak dalam pusaran konflik manajemen dan lambannya tangan negara.

Hara mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (24/3/2026), disusul saudaranya, Huru, dua hari kemudian. Keduanya baru berusia delapan bulan—usia yang seharusnya penuh vitalitas bagi predator eksotis. Namun, alih-alih tumbuh menjadi raja hutan, mereka justru menjadi martir dari sebuah sistem yang sakit.

Serangan Virus atau Kelalaian Sistemik?

Dugaan medis mengarah pada virus Feline panleukopenia. Gejalanya klasik namun mematikan: muntah, diare berat, lesu, demam tinggi, dan dehidrasi parah. Bagi anak harimau, virus ini adalah vonis mati jika tidak ditangani dengan protokol biosekuriti yang ketat.

Persoalannya, di mana biosekuriti itu saat Hara dan Huru membutuhkannya?

Bandung Zoo telah menjadi zona “tak bertuan” selama tujuh bulan terakhir. Konflik aset antara Pemerintah Kota Bandung dan pengelola lama mengakibatkan penutupan total. Sejak 5 Februari 2026, pengoperasiannya diserahkan kepada Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Namun, penyerahan wewenang ini tampaknya hanya terjadi di atas kertas, sementara di lapangan, nyawa satwa terus dipertaruhkan.

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, tidak menahan diri dalam melontarkan kritik pedas. Baginya, kematian ini adalah bukti nyata kegagalan pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko di lembaga konservasi ex situ.

”Hal ini menunjukkan negara absen dalam mengatasi konflik di Bandung Zoo yang berlangsung sejak tahun lalu. Seharusnya mereka mengambil alih pengelolaannya sejak tahun lalu,” kata Annisa, dikutip Sabtu (28/3/2026).

Baca Juga:  UMP Jabar Naik, Biaya Hidup Berlari: Mampukah 2026 Jadi Tahun Keberpihakan Ekonomi?

Pernyataan Annisa menyoroti lubang besar dalam manajemen krisis. Jika pemerintah mengetahui adanya konflik internal yang melumpuhkan operasional, mengapa intervensi penyelamatan satwa baru dilakukan secara formal ketika kondisi sudah di ujung tanduk?

Biosekuriti yang “Lumpuh” Tanpa Anggaran

Secara teknis, biosekuriti bukan sekadar menyemprotkan disinfektan. Ia adalah rantai prosedur fisik dan manajerial yang dirancang untuk membentengi satwa dari agen penyakit. Namun, prosedur secanggih apa pun akan lumpuh tanpa bahan bakar utama: anggaran.

Herlina Agustin, Kepala Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Universitas Padjadjaran, memberikan analisis yang masuk akal sekaligus menyedihkan. Ia memperkirakan biosekuriti di Bandung Zoo tidak berjalan optimal karena ketiadaan dana pasca-penutupan. Ketika gerbang tiket ditutup dan aliran pendapatan mandiri terhenti, siapa yang memastikan stok obat-obatan, kualitas pakan, dan sterilisasi kandang tetap terjaga?

Ironisnya, saat kematian sudah terjadi, pihak berwenang seolah masih meraba-raba. Eri Mildrayana dari Humas BBKSDA Jabar mengakui bahwa dari enam harimau benggala yang ada, kini hanya tersisa empat dewasa.

”Kematian dua anak harimau ini menjadi berita duka yang kami tidak inginkan. Virus tersebut umumnya rentan menyerang anak harimau,” ungkap Eri.

Meski demikian, BBKSDA belum bisa memastikan sumber penularan. ”Kami belum bisa berbicara banyak karena masih menunggu proses medis. Hasilnya akan segera kami umumkan dalam konferensi pers,” tambah Eri.

Namun, bagi publik, “menunggu proses medis” terdengar seperti eufemisme untuk menutupi keterlambatan respons. Jika virus tersebut memang rentan menyerang anak harimau, bukankah seharusnya protokol pencegahan ditingkatkan berkali-kali lipat sejak pengalihan wewenang pada Februari lalu?

Baca Juga:  Pengangguran Tinggi, Pendidikan Darurat: Krisis Ganda Menghantui Jawa Barat

Pusaran Konflik dan Satwa sebagai Sandera

Tragedi Hara dan Huru tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak gunung es dari karut-marut pengelolaan Bandung Zoo yang selama bertahun-tahun terjepit di antara dualisme Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) dan Taman Safari Indonesia (TSI). Sengketa pendanaan dan miskomunikasi perawatan satwa telah lama menjadi rahasia umum.

Dalam konflik ini, 711 satwa di Bandung Zoo seolah-olah menjadi sandera. Mereka tidak bisa memilih untuk pindah atau memprotes kondisi kandang yang mungkin tidak lagi memenuhi standar kesejahteraan (animal welfare).

Annisa Rahmawati mendesak pemerintah untuk melakukan audit independen yang menyeluruh, bukan sekadar evaluasi internal yang cenderung formalitas.

”Jika ditemukan pelanggaran serius, langkah tegas, termasuk pilihan untuk relokasi satwa, harus segera dilakukan,” tegas Annisa.

Relokasi mungkin terdengar ekstrem, namun melihat kenyataan bahwa dua nyawa telah melayang, mempertahankan satwa di lokasi yang manajemennya masih compang-camping adalah sebuah perjudian moral yang berbahaya. Apalagi, risiko zoonosis—penularan penyakit dari hewan ke manusia—selalu mengintai di balik buruknya tata kelola biosekuriti.

Titik Balik atau Sekadar Retorika?

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan dirinya sangat terpukul. Ia menjanjikan penguatan sistem biosekuriti dan evaluasi total dengan menggandeng Pemprov Jabar dan Kementerian Kehutanan.

”Kasus kematian dua anak harimau benggala ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” tegas Farhan.

Kata “titik balik” sering kali muncul setiap kali ada tragedi di kebun binatang di Indonesia. Namun, publik sudah cukup sering mendengar retorika serupa. Tantangan nyatanya adalah bagaimana mengurai benang kusut legalitas lahan dan manajemen yang selama ini menjadi penghambat utama profesionalisme di Bandung Zoo.

Kebun binatang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi spesies yang terancam punah, tempat di mana sains dan kasih sayang bertemu untuk melestarikan warisan alam. Namun, ketika ia berubah menjadi arena sengketa dan kuburan bagi satwa muda, fungsi konservasinya telah mati sebelum satwanya sendiri mati.

Baca Juga:  Dua Pengelola Bandung Zoo Divonis 7 Tahun Penjara, Rugikan Negara Rp25,5 Miliar!

Hara dan Huru lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan Sahrulkan dan Jelita dengan harapan menjadi bagian dari keberhasilan konservasi harimau benggala. Harapan itu kini terkubur bersama jasad mereka. Dunia konservasi tidak butuh lagi konferensi pers penuh duka atau janji evaluasi yang berlarut-larut. Yang dibutuhkan adalah aksi nyata: anggaran yang jelas, biosekuriti yang tidak kompromi, dan pengelola yang menaruh nyawa satwa di atas kepentingan birokrasi.

Jangan sampai 709 satwa lainnya menyusul Hara dan Huru ke liang lahat hanya karena manusia di sekitar mereka gagal bersepakat.

Kesimpulan: Menagih Nyawa di Balik Retorika

Kematian Hara dan Huru bukan sekadar peristiwa biologis akibat serangan virus, melainkan cermin retaknya sistem konservasi kita saat berbenturan dengan birokrasi yang kaku dan konflik kepentingan yang menahun. Tragedi ini menegaskan bahwa status “lembaga konservasi” tidak boleh hanya menjadi label administratif jika pada praktiknya aspek biosekuriti dan kesejahteraan satwa dikorbankan demi sengketa aset.

Negara tidak boleh lagi berlindung di balik proses medis yang lamban atau alasan transisi manajemen. Dibutuhkan audit independen yang transparan dan langkah radikal—termasuk relokasi jika diperlukan—untuk memastikan 709 satwa lainnya tidak berakhir menjadi angka dalam daftar kematian berikutnya. Jika kematian dua anak harimau ini tidak mampu memicu perombakan total pada tata kelola Bandung Zoo, maka kita sedang menyaksikan runtuhnya moralitas konservasi di tangan para pemangku kebijakan sendiri.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bandung Zoo HL
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pamer Lencana KPK, Oknum LSM Pemeras Ketua Kelompok Tani di Sukabumi Dicokok Polisi

Bongkar Alasan Dikick dari Kemenkeu! Aksi ‘Koboy’ Purbaya Berakhir di Kolam Pancing, Siap Kejar Pilgub Jabar?

Innalillahi, Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Tutup Usia

Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi

Gagal Bayar Denda, WNI Dibui Gara-gara Buang Puntung Rokok Sembarangan di Malaysia

Dendam Masa Lalu Berujung Pengeroyokan, Jukir di Cileunyi Jadi Korban

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.