Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan

Rabu, 4 November 2026 20:21 WIB

Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne

Rabu, 4 November 2026 19:42 WIB

Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH

Rabu, 4 November 2026 19:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan
  • Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne
  • Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
  • Persib Menang Lagi di ACL 2! Ini Hitung-hitungan Poin Koefisien Liga Indonesia Terbaru di Ranking AFC
  • Peringatan Darurat Sanitasi Kota Bandung, 90 Persen Sungai Tercemar Bakteri E. Coli
  • Ukir Sejarah! Bek Timnas Indonesia Terpilih Jadi Pemain Terbaik Liga Champions
  • Terungkap Motif Pembunuhan Sadis Hj Komariyah di Indramayu: Sakit Hati Sering Disindir Utang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 5 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tumbal Birokrasi di Bandung Zoo: Saat Gajah Bersengketa, Harimau Diduga Mati Terlantar

By Aga GustianaSenin, 30 Maret 2026 09:00 WIB6 Mins Read
Ilustrasi, Satwa jadi korban akibat polemik Bandung Zoo. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kematian adalah kepastian, namun dalam dunia konservasi, kematian yang dipicu oleh kelalaian birokrasi adalah sebuah tragedi yang memuakkan. Di balik rimbunnya pepohonan di jantung Kota Bandung, sebuah drama pilu baru saja mencapai klimaksnya. Dua anak harimau benggala, Hara dan Huru, meregang nyawa bukan karena seleksi alam di rimba, melainkan karena terjebak dalam pusaran konflik manajemen dan lambannya tangan negara.

Hara mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (24/3/2026), disusul saudaranya, Huru, dua hari kemudian. Keduanya baru berusia delapan bulan—usia yang seharusnya penuh vitalitas bagi predator eksotis. Namun, alih-alih tumbuh menjadi raja hutan, mereka justru menjadi martir dari sebuah sistem yang sakit.

Serangan Virus atau Kelalaian Sistemik?

Dugaan medis mengarah pada virus Feline panleukopenia. Gejalanya klasik namun mematikan: muntah, diare berat, lesu, demam tinggi, dan dehidrasi parah. Bagi anak harimau, virus ini adalah vonis mati jika tidak ditangani dengan protokol biosekuriti yang ketat.

Persoalannya, di mana biosekuriti itu saat Hara dan Huru membutuhkannya?

Bandung Zoo telah menjadi zona “tak bertuan” selama tujuh bulan terakhir. Konflik aset antara Pemerintah Kota Bandung dan pengelola lama mengakibatkan penutupan total. Sejak 5 Februari 2026, pengoperasiannya diserahkan kepada Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Namun, penyerahan wewenang ini tampaknya hanya terjadi di atas kertas, sementara di lapangan, nyawa satwa terus dipertaruhkan.

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, tidak menahan diri dalam melontarkan kritik pedas. Baginya, kematian ini adalah bukti nyata kegagalan pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko di lembaga konservasi ex situ.

”Hal ini menunjukkan negara absen dalam mengatasi konflik di Bandung Zoo yang berlangsung sejak tahun lalu. Seharusnya mereka mengambil alih pengelolaannya sejak tahun lalu,” kata Annisa, dikutip Sabtu (28/3/2026).

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Gunting Anggaran Media 94%, Pakar: Harus Terbuka Terima Kritik Masyarakat

Pernyataan Annisa menyoroti lubang besar dalam manajemen krisis. Jika pemerintah mengetahui adanya konflik internal yang melumpuhkan operasional, mengapa intervensi penyelamatan satwa baru dilakukan secara formal ketika kondisi sudah di ujung tanduk?

Biosekuriti yang “Lumpuh” Tanpa Anggaran

Secara teknis, biosekuriti bukan sekadar menyemprotkan disinfektan. Ia adalah rantai prosedur fisik dan manajerial yang dirancang untuk membentengi satwa dari agen penyakit. Namun, prosedur secanggih apa pun akan lumpuh tanpa bahan bakar utama: anggaran.

Herlina Agustin, Kepala Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Universitas Padjadjaran, memberikan analisis yang masuk akal sekaligus menyedihkan. Ia memperkirakan biosekuriti di Bandung Zoo tidak berjalan optimal karena ketiadaan dana pasca-penutupan. Ketika gerbang tiket ditutup dan aliran pendapatan mandiri terhenti, siapa yang memastikan stok obat-obatan, kualitas pakan, dan sterilisasi kandang tetap terjaga?

Ironisnya, saat kematian sudah terjadi, pihak berwenang seolah masih meraba-raba. Eri Mildrayana dari Humas BBKSDA Jabar mengakui bahwa dari enam harimau benggala yang ada, kini hanya tersisa empat dewasa.

”Kematian dua anak harimau ini menjadi berita duka yang kami tidak inginkan. Virus tersebut umumnya rentan menyerang anak harimau,” ungkap Eri.

Meski demikian, BBKSDA belum bisa memastikan sumber penularan. ”Kami belum bisa berbicara banyak karena masih menunggu proses medis. Hasilnya akan segera kami umumkan dalam konferensi pers,” tambah Eri.

Namun, bagi publik, “menunggu proses medis” terdengar seperti eufemisme untuk menutupi keterlambatan respons. Jika virus tersebut memang rentan menyerang anak harimau, bukankah seharusnya protokol pencegahan ditingkatkan berkali-kali lipat sejak pengalihan wewenang pada Februari lalu?

Baca Juga:  Menelisik Akar Masalah Banjir di Bandung: Solusi Jangka Panjang dan Sinergi Pemerintah-Warga

Pusaran Konflik dan Satwa sebagai Sandera

Tragedi Hara dan Huru tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak gunung es dari karut-marut pengelolaan Bandung Zoo yang selama bertahun-tahun terjepit di antara dualisme Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) dan Taman Safari Indonesia (TSI). Sengketa pendanaan dan miskomunikasi perawatan satwa telah lama menjadi rahasia umum.

Dalam konflik ini, 711 satwa di Bandung Zoo seolah-olah menjadi sandera. Mereka tidak bisa memilih untuk pindah atau memprotes kondisi kandang yang mungkin tidak lagi memenuhi standar kesejahteraan (animal welfare).

Annisa Rahmawati mendesak pemerintah untuk melakukan audit independen yang menyeluruh, bukan sekadar evaluasi internal yang cenderung formalitas.

”Jika ditemukan pelanggaran serius, langkah tegas, termasuk pilihan untuk relokasi satwa, harus segera dilakukan,” tegas Annisa.

Relokasi mungkin terdengar ekstrem, namun melihat kenyataan bahwa dua nyawa telah melayang, mempertahankan satwa di lokasi yang manajemennya masih compang-camping adalah sebuah perjudian moral yang berbahaya. Apalagi, risiko zoonosis—penularan penyakit dari hewan ke manusia—selalu mengintai di balik buruknya tata kelola biosekuriti.

Titik Balik atau Sekadar Retorika?

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan dirinya sangat terpukul. Ia menjanjikan penguatan sistem biosekuriti dan evaluasi total dengan menggandeng Pemprov Jabar dan Kementerian Kehutanan.

”Kasus kematian dua anak harimau benggala ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” tegas Farhan.

Kata “titik balik” sering kali muncul setiap kali ada tragedi di kebun binatang di Indonesia. Namun, publik sudah cukup sering mendengar retorika serupa. Tantangan nyatanya adalah bagaimana mengurai benang kusut legalitas lahan dan manajemen yang selama ini menjadi penghambat utama profesionalisme di Bandung Zoo.

Kebun binatang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi spesies yang terancam punah, tempat di mana sains dan kasih sayang bertemu untuk melestarikan warisan alam. Namun, ketika ia berubah menjadi arena sengketa dan kuburan bagi satwa muda, fungsi konservasinya telah mati sebelum satwanya sendiri mati.

Baca Juga:  10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan

Hara dan Huru lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan Sahrulkan dan Jelita dengan harapan menjadi bagian dari keberhasilan konservasi harimau benggala. Harapan itu kini terkubur bersama jasad mereka. Dunia konservasi tidak butuh lagi konferensi pers penuh duka atau janji evaluasi yang berlarut-larut. Yang dibutuhkan adalah aksi nyata: anggaran yang jelas, biosekuriti yang tidak kompromi, dan pengelola yang menaruh nyawa satwa di atas kepentingan birokrasi.

Jangan sampai 709 satwa lainnya menyusul Hara dan Huru ke liang lahat hanya karena manusia di sekitar mereka gagal bersepakat.

Kesimpulan: Menagih Nyawa di Balik Retorika

Kematian Hara dan Huru bukan sekadar peristiwa biologis akibat serangan virus, melainkan cermin retaknya sistem konservasi kita saat berbenturan dengan birokrasi yang kaku dan konflik kepentingan yang menahun. Tragedi ini menegaskan bahwa status “lembaga konservasi” tidak boleh hanya menjadi label administratif jika pada praktiknya aspek biosekuriti dan kesejahteraan satwa dikorbankan demi sengketa aset.

Negara tidak boleh lagi berlindung di balik proses medis yang lamban atau alasan transisi manajemen. Dibutuhkan audit independen yang transparan dan langkah radikal—termasuk relokasi jika diperlukan—untuk memastikan 709 satwa lainnya tidak berakhir menjadi angka dalam daftar kematian berikutnya. Jika kematian dua anak harimau ini tidak mampu memicu perombakan total pada tata kelola Bandung Zoo, maka kita sedang menyaksikan runtuhnya moralitas konservasi di tangan para pemangku kebijakan sendiri.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bandung Zoo HL
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan

Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH

Peringatan Darurat Sanitasi Kota Bandung, 90 Persen Sungai Tercemar Bakteri E. Coli

Terungkap Motif Pembunuhan Sadis Hj Komariyah di Indramayu: Sakit Hati Sering Disindir Utang

3 Jenderal Polisi Ditangkap, SBY Surati Prabowo: Kok Jadi Begini Negara Kita

Presiden Prabowo Subianto.

Awal Mula Terbongkarnya Operasi Penyadapan Ilegal yang Sasar Komunikasi Presiden dan Menteri

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.