Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Gagal Bayar Denda, WNI Dibui Gara-gara Buang Puntung Rokok Sembarangan di Malaysia

Sabtu, 19 September 2026 07:23 WIB

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Sabtu, 19 September 2026 06:00 WIB

Dendam Masa Lalu Berujung Pengeroyokan, Jukir di Cileunyi Jadi Korban

Sabtu, 19 September 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Gagal Bayar Denda, WNI Dibui Gara-gara Buang Puntung Rokok Sembarangan di Malaysia
  • Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api
  • Dendam Masa Lalu Berujung Pengeroyokan, Jukir di Cileunyi Jadi Korban
  • Persib vs Persijap Jepara, Bobotoh Bisa Nobar di 5 Lokasi Ini
  • Bukan Cuma Didenda, Pohon yang Ditebang di Bandung Harus Dikembalikan ke Lokasi Semula
  • Cristiano Ronaldo Kembali Masuk Skuad Timnas Portugal untuk UEFA Nations League
  • Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!
  • Resmi Dirilis! Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 Tanpa Jay Idzes
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 19 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Ujungberung, Pusat Musik Underground dan Warisan Budaya Sunda di Timur Bandung

By SusanaSenin, 19 Mei 2025 04:00 WIB2 Mins Read
Alun-Alun Ujungberung. Foto: Net/Muhammad Fikri.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ujungberung, atau kerap disebut Uber, merupakan salah satu kecamatan di wilayah timur Kota Bandung yang dikenal sebagai pusat perkembangan musik underground di Indonesia.

Sejumlah band ternama seperti Burgerkill, Forgotten, dan Jasad lahir dari komunitas musik cadas yang tumbuh dan berkembang di daerah ini. Tak heran jika Ujungberung menjadi ikon musik metal dan underground tanah air.

Namun Ujungberung tak hanya dikenal karena kiprah komunitas musiknya. Wilayah ini juga memiliki kekayaan budaya lokal, salah satunya adalah Benjang, seni bela diri tradisional Sunda yang berasal langsung dari kawasan ini.

Benjang kini menjadi identitas kultural Ujungberung dan masih terus dilestarikan hingga kini.

Baca Juga:  Lembur Katumbiri, Kampung Warna-warni Baru di Bandung yang Sarat Makna Budaya

Tiga ikon utama yang menjadi pusat keramaian dan aktivitas warga Ujungberung adalah alun-alun, masjid besar, dan pasar tradisional yang letaknya berdekatan dan saling terhubung. Ketiganya menjadi simbol kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat di wilayah ini.

Secara administratif, Kecamatan Ujungberung merupakan hasil pemekaran wilayah sejak tahun 1987, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1987.

Asal-Usul Nama Ujungberung

Nama “Ujungberung” memiliki makna mendalam dalam Bahasa Sunda. Kata “ujung” berarti “akhir”, sedangkan “berung” berasal dari kata “ngaberung”, yang artinya mengikuti hawa nafsu. Secara harfiah, Ujungberung berarti “akhir dari sebuah nafsu”.

Baca Juga:  Mengenang 10 Tahun Kemenangan Persib, Juara LSI 2014 Lewat Drama Adu Penalti

Terdapat beberapa versi legenda terkait asal-usul nama ini. Salah satunya berkaitan dengan kisah pengejaran terhadap Dipati Ukur, seorang tokoh pejuang Sunda yang dikejar oleh pasukan Mataram.

Dalam pelariannya, ia dan rombongannya sampai di wilayah timur Bandung yang kala itu masih berupa tepian danau purba, ditumbuhi bambu lebat, dan dikenal dengan nama Bojong Awi. Di sanalah, pengejaran berakhir, menjadi simbol akhir dari nafsu pengejaran tersebut.

Versi lain mengaitkan nama Ujungberung dengan legenda Sangkuriang yang mencoba mempersunting Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri.

Ketika keinginan itu tak tercapai, usaha Sangkuriang pun berhenti di satu titik yang kemudian dikenal sebagai Ujungberung, tempat di mana hasrat atau “nafsu” Sangkuriang mencapai akhirnya.

Baca Juga:  Sejarah Hari Santri Nasional yang Ditetapkan pada 22 Oktober

Ujungberung dalam Catatan Sejarah Kolonial

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Ujungberung dilintasi Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada tahun 1811 oleh Daendels.

Saat itu, Ujungberung mencakup wilayah luas dari Cimahi hingga Cileunyi, dan dibagi menjadi dua bagian: Oedjoengbroeng Kaler di bagian pegunungan, dan Oedjoengbroeng Kidoel di kawasan rawa-rawa.

Kini, Ujungberung tetap menjadi kawasan penting di Kota Bandung, baik sebagai pusat budaya, musik, maupun sejarah yang terus hidup di tengah modernisasi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

asal usul budaya sejarah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!

Ngeri Dipalak Sejuta Sehari! Pengakuan Blak-blakan Korban Pungli Jogja yang Bikin Satu Indonesia Murka

8 Tahun Disimpan, Erin Ungkap Dugaan Perselingkuhan Andre Taulany dengan Sinden OVJ

Cari Bakso dan Mie Ayam Enak di Bandung? Ini 4 Rekomendasinya

Bikin Takjub! Aksi ‘Orator Cilik’ Asal Cilacap Bikin Satu Kelas Terpukau, Bakat Alaminya Luar Biasa

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.