bukamata.id – Senin pagi, 17 Agustus 2026, suasana kompleks Istana Merdeka Jakarta mendadak diselimuti nuansa nostalgia yang kental. Di antara deretan tamu VIP yang menghadiri Upacara Peringatan Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, langkah kaki seorang wanita berdarah Jepang mendadak menyedot perhatian seluruh pasang mata dan sorotan kamera awak media.
Ia adalah Ratna Sari Dewi Soekarno, istri keenam dari Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Tiba sekitar pukul 07.10 WIB, kehadiran perempuan yang kini menetap di kawasan megah Shibuya, Tokyo, tersebut tak sekadar menjadi pelengkap daftar tamu kenegaraan. Penampilannya yang memesona sukses membius publik, memicu helatan kekaguman luas di media sosial, hingga memantik pembandingan yang tak terelakkan dengan figur-figur historis lainnya—termasuk sang anak tiri, Megawati Soekarnoputri.
Anggun dalam Balutan Tradisi: Penampilan yang Menghentikan Waktu
Lahir pada 6 Februari 1940, Naoko Nemoto—nama asli Ratna Sari Dewi—saat ini telah menginjak usia 86 tahun. Namun, siapapun yang memandangnya pada pagi itu di Istana Merdeka pasti akan ragu jika ia telah berkepala delapan. Penampilannya tampak begitu bugar, segar, dan memancarkan keanggunan seorang first lady era klasik yang tak lekang oleh zaman.
Pada perayaan HUT RI ke-81 tersebut, Dewi Soekarno tampil memesona dalam balutan kebaya putih bermotif renda halus yang dipadukan secara sempurna dengan kain batik bernuansa cokelat kemerahan. Kombinasi busana ini secara garis besar berhasil memadukan aura keanggunan budaya Timur dengan sentuhan modis khas Jepang.
“Penampilannya bersahaja namun memancarkan kelas tersendiri. Sematan bros elegan di dada, anting simpel, serta tatanan rambut disanggul rapi seolah membawa kita kembali ke era glamor tahun 1960-an,” ungkap salah satu pengamat mode yang menyoroti kehadirannya.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa kehadiran Dewi di Istana Merdeka terjadi secara spontan namun tepat waktu. Pihak Istana memang secara rutin melayangkan undangan kenegaraan kepada seluruh keluarga mantan presiden dan wakil presiden setiap tahunnya. Kebetulan, tahun ini agenda kunjungan pribadi Dewi ke Indonesia membawanya berada di Jakarta saat Hari Kemerdekaan tiba.
“Tahun ini kebetulan Ibu Dewi Soekarno sedang berkunjung ke Indonesia dan beliau berkunjung ke Jakarta sehingga karena waktunya pas, kemudian beliau bisa hadir,” terang Prasetyo melalui keterangan resminya.
Keheranan Warganet dan Perbandingan Hangat dengan Megawati Soekarnoputri
Hanya dalam hitungan jam setelah foto dan potongan video kehadirannya tersebar di jagat maya, nama Dewi Soekarno menduduki puncak daftar tren di berbagai platform media sosial. Ribuan warganet mengekspresikan rasa kagum dan takjub atas fisiknya yang dinilai sangat awet muda dan tetap menawan.
Banyak netizen menyoroti postur tubuhnya yang tegak, garis wajahnya yang masih kencang, serta pancaran energinya yang begitu prima saat berjalan maupun berinteraksi. Tak sedikit warganet yang dibuat terheran-heran memikirkan rahasia perawatan kecantikan sang legenda jika dibandingkan dengan lansia pada umumnya.
“Emang bener jir umur 86 gak kayak 86 pada umumnya, nenek gw 70 an aja keriput nya banyak dan postur udah agak bungkuk lah beliau kayak masih 60 atau 50,” ujar seorang netizen mengekspresikan kekagumannya atas fisik Dewi Soekarno yang seolah menolak tua.
Menariknya, viralnya penampilan Dewi Soekarno di HUT RI ke-81 turut memicu perbandingan alami di kalangan publik. Warganet ramai-ramai membandingkan penampilan fisik dan aura Dewi dengan putri Soekarno dari Fatmawati, yaitu Megawati Soekarnoputri, yang merupakan presiden ke-5 RI sekaligus anak tiri dari Dewi.
Publik menyoroti fakta unik mengenai rentang usia dan aura keduanya:
- Ratna Sari Dewi Soekarno (86 Tahun): Lahir pada tahun 1940, Dewi yang berstatus sebagai istri ke-6 Soekarno memancarkan aura glamor, modis, dan seolah tidak dimakan usia (ageless). Gaya berbusananya dengan kebaya renda dan sanggul modern dipadukan dengan riasan estetika khas Jepang yang membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya.
- Megawati Soekarnoputri (79 Tahun): Lahir pada tahun 1947, Megawati merupakan putri kandung Soekarno sekaligus anak tiri Dewi. Meski berusia 7 tahun lebih muda dari Dewi, Megawati lebih sering tampil dengan aura kepemimpinan yang karismatik, wibawa politisi senior, serta gaya busana adat atau kebaya klasik yang bersahaja dan matang.
Perbandingan visual tersebut memicu berbagai tanggapan heboh dan jenaka dari kalangan pengguna media sosial.
“Lebih cantik ibu tiri dr anak sambungnya wkwkw 😂😂 lebih enak diliat lg si emak tiri wkwkw,” puji netizen lainnya di kolom komentar.
Perbandingan tersebut sejatinya tidak bermaksud mengecilkan salah satu pihak, melainkan bentuk keheranan publik atas dua gaya penuaan yang berbeda: Megawati dengan aura kepemimpinan politik yang matang bersahaja, serta Dewi Soekarno dengan gaya hidup estetis dan perawatan diri kelas atas yang terus dipeliharanya di Tokyo.
Kenangan Masa Lalu dan Kagetnya Dewi pada Wajah Baru Istana
Meski hadir dengan senyum tenang dan elegan, Dewi Soekarno tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya saat melangkah kembali di tanah tempat ia dulu pernah menghabiskan masa-masa indahnya sebagai pendamping Bung Karno. Memori kolektif masa lalunya tentang arsitektur Istana masa lalu mendadak bertabrakan dengan realitas tata ruang modern Jakarta saat ini.
Ia secara khusus menyoroti hilangnya ruang terbuka hijau luas yang pada era 1960-an menjadi penghubung alami antara Istana Negara dan Istana Merdeka.
“Saya kaget sekali istananya sudah ganti banyak ya, ada gedung yang dulu tidak ada. Dulu antara Istana Negara dan Istana Merdeka ada halaman yang besar, sekarang ada gedung,” ujar Dewi dengan nada keheranan namun penuh nostalgia kepada awak media.
Saat dimintai pesan dan harapannya bagi Tanah Air pada momen bersejarah Hari Kemerdekaan ini, perempuan yang pernah menjadi saksi kunci sejarah kejayaan hingga kejatuhan rezim Orde Lama tersebut memberikan jawaban singkat yang sarat makna.
“(Indonesia) selalu maju,” ucap Dewi tulus, menyematkan doa bagi negeri yang pernah menetapkan dirinya sebagai salah satu Ibu Negara.
Profil dan Perjalanan Hidup: Dari Geisha Tokyo hingga Pusaran Sejarah Bangsa
Untuk memahami mengapa pesona dan aura Dewi Soekarno begitu memikat publik hingga hari ini, seseorang harus melongok kembali rekam jejak kehidupannya yang penuh warna, dinamika, dan kontroversi. Kehidupannya membentang bagaikan roman sejarah: dari jalanan berdebu Tokyo pasca-Perang Dunia II hingga pusaran elite politik Indonesia.
1. Kehidupan Awal yang Sederhana di Tokyo
Lahir di Tokyo pada 6 Februari 1940 dengan nama Naoko Nemoto, ia bukanlah anak yang lahir dari gelimang harta. Ia merupakan anak ketiga dari keluarga kelas pekerja yang sangat sederhana; ayahnya adalah seorang pekerja konstruksi migran. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksanya bekerja keras sejak usia muda.
Demi merampungkan pendidikan menengahnya pada tahun 1955, Naoko muda sempat bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa di kawasan Chiyoda. Bercita-cita menjadi seorang seniman dan bintang, ia membagi waktunya dengan bekerja paruh waktu di kelab malam dan hotel ternama di Tokyo, seraya menimba ilmu tari klasik Jepang, seni pertunjukan, dan bahasa Inggris di Sishere Hayakawa Art Production.
2. Pertemuan Bersejarah dengan Sang “Putra Fajar”
Takdir hidupnya berubah total pada pertengahan tahun 1959. Bung Karno, yang kala itu melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, menginap di Hotel Imperial Tokyo. Di sanalah Sang Presiden pertama kali bertatap muka dengan Naoko Nemoto yang baru berusia 19 tahun.
Terpikat oleh kecantikan, kecerdasan, dan keanggunannya, Soekarno mengundang Naoko untuk datang ke Jakarta pada September 1959. Hubungan emosional yang makin erat tersebut akhirnya bermuara ke jenjang pernikahan pada 3 Maret 1962. Naoko yang sebelumnya memeluk agama Katolik memutuskan menjadi mualaf dan dianugerahi nama Indonesia yang sangat indah: Ratna Sari Dewi Soekarno. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri bernama Kartika Sari Dewi Soekarno yang lahir di Tokyo pada 11 Maret 1967.
3. Peran Diplomasi di Balik Bayang-Bayang Ibu Negara
Dewi Soekarno bukanlah sekadar “pajangan” di Istana. Ia dikenal memiliki kemampuan lobi tingkat tinggi dan kecerdasan sosial yang tajam. Di masa-masa keemasan pemerintahannya, Dewi kerap menjadi jembatan diplomasi tak resmi antara Indonesia dan Jepang.
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah keberhasilannya bernegosiasi dengan pihak penerbitan dan pemerintah Jepang agar buku koleksi karya seni mahakarya Bung Karno dapat dicetak dengan kualitas tertinggi di Jepang. Atas dedikasinya dalam diplomasi kebudayaan, ia diangkat menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang pada 1964 dan mendirikan Komunitas Nadeshiko untuk merangkul wanita Jepang yang menikah dengan pria Indonesia.
4. Pengasingan, Bisnis Kecantikan, dan Eksistensi di Tokyo
Gejolak politik 1965-1967 yang mengakhiri kekuasaan Soekarno memaksa Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah Soekarno wafat dalam status tahanan rumah pada tahun 1970, Dewi memilih melanglang buana dan menetap di berbagai negara Eropa seperti Swiss, Prancis, hingga Amerika Serikat, sebelum akhirnya secara permanen kembali ke tanah airnya pada tahun 2008 dan menetap di Shibuya, Tokyo.
Di Jepang, nama Dewi Sukarno (デヴィ・スカルノ) adalah jaminan mutu di industri hiburan. Ia dikenal luas sebagai selebriti papan atas (tarento), juri kontes kecantikan internasional, serta pengusaha sukses yang mengendalikan bisnis perhiasan kelas atas dan produk perawatan kulit (skincare). Bisnis inilah yang disinyalir menjadi rahasia di balik penampilannya yang tetap terawat dan awet muda di usia senja.
Sisi Kontroversi: Dari Konflik Sosialita hingga Pengadilan Buruh
Kehidupan Dewi Soekarno tak pernah sepi dari sensasi dan dinamika hukum. Di balik imejnya yang anggun dan glamor, ia dikenal memiliki kepribadian yang tegas, blak-blakan, dan kadang kontroversial.
Salah satu peristiwa terkini yang sempat menyita perhatian media internasional adalah keterlibatannya dalam kasus Pengadilan Buruh di Jepang. Pengadilan menjatuhkan sanksi denda sebesar 29 juta yen (atau sekitar Rp3 miliar) kepada perusahaan milik Dewi.
Gugatan ini bermula pada awal pandemi COVID-19 tahun 2021. Dewi melakukan pemecatan sepihak melalui pesan email terhadap dua orang karyawannya. Pemecatan tersebut dipicu oleh penolakan kedua karyawan untuk bekerja secara tatap muka (work from office) demi alasan keselamatan kesehatan, tepat usai kepulangan Dewi dari kunjungannya di Bali.
Pengadilan Buruh Jepang akhirnya memutuskan bahwa tindakan pemecatan tersebut tidak sah secara hukum dan mewajibkan Dewi membayar kompensasi penuh serta tunggakan gaji karyawannya. Meski sempat diterpa badai kontroversi hukum, Dewi tetap menunjukkan ketangguhannya dan terus menjalankan roda bisnis estetika serta eksistensinya di media TV Jepang hingga saat ini.
Simbol Keanggunan yang Melintasi Zaman
Kehadiran Ratna Sari Dewi Soekarno di Istana Merdeka pada HUT RI ke-81 tidak hanya menjadi pengingat akan lembaran sejarah bangsa yang penuh warna, tetapi juga membuktikan bahwa keanggunan, pesona, dan semangat hidup tidak terbatas oleh angka kelahiran.
Di usia 86 tahun, Dewi Soekarno berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar “mantan istri Presiden”, melainkan sosok ikonik yang mampu menjaga citra, keindahan, dan staminanya melewati lintas generasi—membuat siapapun yang memandangnya terpana, membandingkan, dan mengagumi jejak pesonanya yang tak pernah pudar.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









