bukamata.id – Gelombang keprihatinan melanda pengguna media sosial usai beredarnya rekaman video yang memperlihatkan perjuangan anak-anak sekolah dasar di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB). Demi menuntut ilmu, para murid ini bertaruh keselamatan menyeberangi perairan Waduk Saguling menggunakan sarana seadanya.
Video yang diunggah oleh akun resmi Pemerintah Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, memperlihatkan deretan bocah bergaris merah-putih duduk tenang di atas rakit bambu. Seorang warga dewasa tampak memandu laju rakit dengan menarik tali tambang yang dibentangkan melintasi perairan.
Usai ditelusuri, anak-anak tersebut merupakan warga Kampung Sadang, RT 04 dan RT 05, Desa Budiharja. Setiap hari mereka menyeberangi genangan air demi menuju bangunan SDN Budiharja yang berlokasi di Kampung Gombong.
“Ya jadi memang anak-anak ini, warga RT 05 dan RT 04, Desa Budiharja, mereka ke sekolah menggunakan rakit karena kalau lewat jalur darat itu jalan kaki sejauh 2,5 kilometer, sekitar 30 menit,” kata Ketua RT 05, Agus Sumpena dikutip Jumat (28/8/2026).
Rute air ini terpaksa dipilih lantaran mampu memangkas waktu perjalanan dibanding harus berjalan kaki memutar cukup jauh lewat jalur darat. Kebiasaan ini bahkan sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Sudah lama, kalau anak-anak ini ya mungkin sejak mereka kelas 1 SD. Kebetulan saya dan beberapa warga bertugas mengantar mereka secara bergantian. Mengantar dan menjemput juga,” kata Agus.
Melihat besarnya risiko yang dihadapi anak-anak setiap hari, masyarakat setempat sangat mendesak adanya perhatian dari instansi terkait maupun pihak swasta untuk membangun sarana penyeberangan yang aman.
“Ya harapannya sama pemerintah atau pihak swasta bisa dibuatkan jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya,” kata Agus.
Di sisi lain, bagi para siswa seperti Imam, menaiki rakit bambu di tengah luasnya Waduk Saguling sudah menjadi bagian dari rutinitas harian yang biasa dijalani tanpa rasa cemas.
“Sudah biasa, kalau saya berangkatnya pagi-pagi, jam 6. Diantar rakit terus nanti pulangnya juga naik rakit lagi. Enggak takut, sudah biasa,” kata Imam.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










