Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Rencana Layer Baru Cukai Rokok Dipertanyakan, Bea Cukai Watch: Jangan Asal Buat Kebijakan!

Jumat, 28 Agustus 2026 14:39 WIB

Igor Tolic Buka-bukaan Soal Peluang Luka Modric Merapat ke Persib: Masih Ada Tempat

Jumat, 28 Agustus 2026 14:35 WIB

Detik-Detik Truk Tangki Bio Solar Terjun ke Jurang di Jalur Gentong Tasikmalaya, Sopir Selamat

Jumat, 28 Agustus 2026 14:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rencana Layer Baru Cukai Rokok Dipertanyakan, Bea Cukai Watch: Jangan Asal Buat Kebijakan!
  • Igor Tolic Buka-bukaan Soal Peluang Luka Modric Merapat ke Persib: Masih Ada Tempat
  • Detik-Detik Truk Tangki Bio Solar Terjun ke Jurang di Jalur Gentong Tasikmalaya, Sopir Selamat
  • Ramalan Zodiak Cinta 28 Agustus 2026: Aquarius Kembali Harmonis, Sagitarius Butuh Komitmen Perubahan
  • Nasaruddin Umar Tak Maju Ketum PBNU, Ini Alasan Memilih Bertahan sebagai Menteri Agama
  • Pidato Paling Monohok! Aksi Athar Suarakan Napas Bumi di Beijing Bikin Netizen Merinding
  • Mariano Peralta Wanti-wanti Persib, Wakil Filipina Ini Bisa Gagalkan Misi Maung Bandung
  • Nama Masih Terdaftar? Begini Cara Cek Bansos Tahap 3 2026 dengan NIK KTP
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 28 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rencana Layer Baru Cukai Rokok Dipertanyakan, Bea Cukai Watch: Jangan Asal Buat Kebijakan!

By Aga GustianaJumat, 28 Agustus 2026 14:39 WIB4 Mins Read
Sekretaris Eksekutif BCW Eko Teguh Wiyono. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Niat Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa merangkul produsen dan pedagang rokok ilegal lewat penambahan layer baru dalam tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) menuai sorotan tajam. Langkah fiskal ini dinilai berisiko tinggi jika hanya berlandaskan asumsi tanpa didasari basis data empiris yang teruji.

Sekretaris Eksekutif Bea Cukai Watch (BCW), Eko Teguh Wiyono (Eko TW), menggarisbawahi bahwa perombakan struktur cukai menyangkut nasib industri raksasa, penyerapan tenaga kerja, hingga potensi kebocoran penerimaan negara.

“Persoalannya bukan sekadar menambah layer. Pertanyaannya, apa basis datanya, siapa yang akan masuk ke layer tersebut, berapa potensi produksinya, berapa tarif yang ideal, berapa tambahan penerimaan negara, dan bagaimana pemerintah menjamin tidak terjadi downtrading maupun permainan dua kaki antara pasar legal dan ilegal?” kata Eko TW di Sekretariat BCW, Jl. Saharjo 123, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Ancaman Moral Hazard Bagi Pelaku Usaha Patuh

Pemerintah sebelumnya optimistis wadah baru ini sanggup meredam laju rokok bodong, sembari mengancam bakal menindak tegas mereka yang membandel. Namun, BCW menilai pendekatan tersebut rawan memicu ketidakadilan bagi pengusaha yang selama ini taat aturan.

Baca Juga:  Pasar Panik, Petinggi OJK dan BEI Mundur Sekaligus: Purbaya dan Momentum 'Serok-Serok'

“Negara harus berhati-hati agar jangan sampai pelaku yang selama ini patuh membayar cukai justru merasa dihukum oleh sistem, sementara mereka yang selama ini beroperasi secara ilegal memperoleh pintu masuk baru dengan beban yang lebih ringan. Kalau desainnya tidak tepat, ini bisa menciptakan moral hazard baru,” ujar Eko.

Di sisi lain, potensi pergeseran konsumsi ke golongan tarif lebih murah (downtrading) juga dipertanyakan. Pemerintah diminta tak sekadar mengandalkan optimisme pasar, melainkan membeberkan kalkulasi serta simulasi dampak ekonominya secara transparan.

“Kalau pemerintah mengatakan tidak akan terjadi downtrading, tunjukkan simulasinya. Berapa gap tarifnya, bagaimana elastisitas harganya, bagaimana perpindahan konsumen antargolongan, bagaimana dampaknya terhadap SKT dan SKM, serta bagaimana dampaknya terhadap penerimaan negara. Kebijakan fiskal harus bisa diuji dengan angka, bukan hanya dengan optimisme,” tegasnya.

Peringatan Keras: Buka Data Sebelum Eksekusi

BCW mengingatkan Kementerian Keuangan agar tidak membalik logika penyusunan regulasi, yaitu menetapkan keputusan politik terlebih dahulu baru kemudian mencari data pendukung.

Baca Juga:  Gaji PNS Segera Naik? Ini Sinyal dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

“Jangan membuat kebijakannya terlebih dahulu, baru kemudian mencari pembenaran datanya. Seharusnya data dibuka, masalah dipetakan, alternatif kebijakan diuji, dampaknya disimulasikan, baru pemerintah mengambil keputusan,” kata Eko TW.

Kejelasan kriteria pelaku ilegal yang berhak masuk ke layer baru ini juga dinilai masih samar. Tanpa pengawasan ketat, celah ini ditakutkan justru dimanfaatkan oknum nakal.

“Jangan sampai layer baru berubah menjadi karpet merah bagi pelaku ilegal tanpa mekanisme transisi, verifikasi dan pengawasan yang ketat. Negara boleh memberikan jalan untuk menjadi legal, tetapi tidak boleh menciptakan insentif bahwa melanggar terlebih dahulu justru lebih menguntungkan daripada patuh sejak awal,” ujar Eko.

Untuk itu, BCW mendesak Kemenkeu dan Ditjen Bea Cukai segera membuka data historis produksi, kuota pita cukai, hingga indikator keberhasilan yang terukur sebelum aturan dieksekusi.

“Kalau tujuan layer baru adalah mengubah pasar ilegal menjadi legal, maka keberhasilannya sederhana: tunjukkan berapa yang tadinya ilegal menjadi legal dan berapa tambahan penerimaan negara yang masuk. Kalau angka itu tidak bisa ditunjukkan, kita patut mempertanyakan untuk apa layer baru tersebut dibuat,” ujar Eko.

Baca Juga:  Karut Marut Penanganan Utang Fantastis Whoosh, Proyek Prestisius Jadi Bola Panas?

Guna menguji efektivitas skema ini, BCW bakal menggelar riset independen terkait keterkaitan CHT, peredaran rokok ilegal, serta proyeksi penerimaan negara.

“BCW tidak berada pada posisi apriori menolak ataupun mendukung kebijakan Menteri Keuangan. Tetapi setiap kebijakan yang menyangkut ratusan triliun rupiah penerimaan negara harus dapat diuji secara transparan dan dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Eko.

“Menteri boleh bergerak cepat, tetapi kebijakan fiskal tidak boleh tergesa-gesa. Cepat mengambil keputusan adalah keberanian. Mengambil keputusan tanpa basis data dan mitigasi risiko yang memadai adalah persoalan yang berbeda,” tegas Eko TW.

Sebagai penutup, ia menegaskan pentingnya kehati-hatian agar reformasi cukai ini tidak beralih fungsi menjadi ajang uji coba yang merugikan kepastian hukum.

“Anomali harus diperiksa, kebocoran harus ditutup, pelaku ilegal harus ditertibkan, dan yang patuh harus memperoleh kepastian. Jangan sampai niat memberantas rokok ilegal justru melahirkan persoalan baru dalam sistem cukai nasional,” pungkas Eko TW.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bea Cukai Watch Purbaya Yudhi Sadewa rokok ilegal
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Detik-Detik Truk Tangki Bio Solar Terjun ke Jurang di Jalur Gentong Tasikmalaya, Sopir Selamat

Nasaruddin Umar Tak Maju Ketum PBNU, Ini Alasan Memilih Bertahan sebagai Menteri Agama

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Nama Masih Terdaftar? Begini Cara Cek Bansos Tahap 3 2026 dengan NIK KTP

Mesin Pengolah Sampah Hibah Jabar Belum Konsisten, Efektivitasnya Diuji hingga Oktober

Gaji Pensiunan PNS September 2026 Segera Cair, Cek Besaran Golongan I hingga IV

Bandung Bidik Investasi Lingkungan, Tiga Sektor Jadi Prioritas Farhan

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
  • Game Free Fire
    Kumpulan Kode Redeem FF 22 Agustus 2026: Klaim Token, SG2, dan Skin Bundle Gratis Sekarang!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.