Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

Jumat, 30 Oktober 2026 06:00 WIB

Dari Murah hingga Mewah, Ini Daftar Steak Enak di Bandung Pilihan Warganet

Jumat, 30 Oktober 2026 03:00 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cair Rp600 Ribu! Begini Cara Cek dan Ambil BPNT Oktober-Desember 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar
  • Dari Murah hingga Mewah, Ini Daftar Steak Enak di Bandung Pilihan Warganet
  • Cair Rp600 Ribu! Begini Cara Cek dan Ambil BPNT Oktober-Desember 2026
  • Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa
  • Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo
  • Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory
  • Teror Suporter Beruntun di Oktober, PSSI Siapkan Sanksi Pengurangan Poin
  • Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 30 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rencana Layer Baru Cukai Rokok Dipertanyakan, Bea Cukai Watch: Jangan Asal Buat Kebijakan!

By Aga GustianaJumat, 28 Agustus 2026 14:39 WIB4 Mins Read
Sekretaris Eksekutif BCW Eko Teguh Wiyono. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Niat Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa merangkul produsen dan pedagang rokok ilegal lewat penambahan layer baru dalam tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) menuai sorotan tajam. Langkah fiskal ini dinilai berisiko tinggi jika hanya berlandaskan asumsi tanpa didasari basis data empiris yang teruji.

Sekretaris Eksekutif Bea Cukai Watch (BCW), Eko Teguh Wiyono (Eko TW), menggarisbawahi bahwa perombakan struktur cukai menyangkut nasib industri raksasa, penyerapan tenaga kerja, hingga potensi kebocoran penerimaan negara.

“Persoalannya bukan sekadar menambah layer. Pertanyaannya, apa basis datanya, siapa yang akan masuk ke layer tersebut, berapa potensi produksinya, berapa tarif yang ideal, berapa tambahan penerimaan negara, dan bagaimana pemerintah menjamin tidak terjadi downtrading maupun permainan dua kaki antara pasar legal dan ilegal?” kata Eko TW di Sekretariat BCW, Jl. Saharjo 123, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Ancaman Moral Hazard Bagi Pelaku Usaha Patuh

Pemerintah sebelumnya optimistis wadah baru ini sanggup meredam laju rokok bodong, sembari mengancam bakal menindak tegas mereka yang membandel. Namun, BCW menilai pendekatan tersebut rawan memicu ketidakadilan bagi pengusaha yang selama ini taat aturan.

Baca Juga:  Konsumen Rokok Ilegal di Kota Cimahi Masih Tinggi, Petugas Sita 35.060 Batang

“Negara harus berhati-hati agar jangan sampai pelaku yang selama ini patuh membayar cukai justru merasa dihukum oleh sistem, sementara mereka yang selama ini beroperasi secara ilegal memperoleh pintu masuk baru dengan beban yang lebih ringan. Kalau desainnya tidak tepat, ini bisa menciptakan moral hazard baru,” ujar Eko.

Di sisi lain, potensi pergeseran konsumsi ke golongan tarif lebih murah (downtrading) juga dipertanyakan. Pemerintah diminta tak sekadar mengandalkan optimisme pasar, melainkan membeberkan kalkulasi serta simulasi dampak ekonominya secara transparan.

“Kalau pemerintah mengatakan tidak akan terjadi downtrading, tunjukkan simulasinya. Berapa gap tarifnya, bagaimana elastisitas harganya, bagaimana perpindahan konsumen antargolongan, bagaimana dampaknya terhadap SKT dan SKM, serta bagaimana dampaknya terhadap penerimaan negara. Kebijakan fiskal harus bisa diuji dengan angka, bukan hanya dengan optimisme,” tegasnya.

Peringatan Keras: Buka Data Sebelum Eksekusi

BCW mengingatkan Kementerian Keuangan agar tidak membalik logika penyusunan regulasi, yaitu menetapkan keputusan politik terlebih dahulu baru kemudian mencari data pendukung.

Baca Juga:  Pensiunan PNS Wajib Tahu! Besaran Gaji Oktober 2025 dan Status Kenaikannya Terbaru

“Jangan membuat kebijakannya terlebih dahulu, baru kemudian mencari pembenaran datanya. Seharusnya data dibuka, masalah dipetakan, alternatif kebijakan diuji, dampaknya disimulasikan, baru pemerintah mengambil keputusan,” kata Eko TW.

Kejelasan kriteria pelaku ilegal yang berhak masuk ke layer baru ini juga dinilai masih samar. Tanpa pengawasan ketat, celah ini ditakutkan justru dimanfaatkan oknum nakal.

“Jangan sampai layer baru berubah menjadi karpet merah bagi pelaku ilegal tanpa mekanisme transisi, verifikasi dan pengawasan yang ketat. Negara boleh memberikan jalan untuk menjadi legal, tetapi tidak boleh menciptakan insentif bahwa melanggar terlebih dahulu justru lebih menguntungkan daripada patuh sejak awal,” ujar Eko.

Untuk itu, BCW mendesak Kemenkeu dan Ditjen Bea Cukai segera membuka data historis produksi, kuota pita cukai, hingga indikator keberhasilan yang terukur sebelum aturan dieksekusi.

“Kalau tujuan layer baru adalah mengubah pasar ilegal menjadi legal, maka keberhasilannya sederhana: tunjukkan berapa yang tadinya ilegal menjadi legal dan berapa tambahan penerimaan negara yang masuk. Kalau angka itu tidak bisa ditunjukkan, kita patut mempertanyakan untuk apa layer baru tersebut dibuat,” ujar Eko.

Baca Juga:  Ini Alasan Menkeu Purbaya Guyur Bank Rp200 Triliun Saat Ekonomi Rakyat Lesu

Guna menguji efektivitas skema ini, BCW bakal menggelar riset independen terkait keterkaitan CHT, peredaran rokok ilegal, serta proyeksi penerimaan negara.

“BCW tidak berada pada posisi apriori menolak ataupun mendukung kebijakan Menteri Keuangan. Tetapi setiap kebijakan yang menyangkut ratusan triliun rupiah penerimaan negara harus dapat diuji secara transparan dan dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Eko.

“Menteri boleh bergerak cepat, tetapi kebijakan fiskal tidak boleh tergesa-gesa. Cepat mengambil keputusan adalah keberanian. Mengambil keputusan tanpa basis data dan mitigasi risiko yang memadai adalah persoalan yang berbeda,” tegas Eko TW.

Sebagai penutup, ia menegaskan pentingnya kehati-hatian agar reformasi cukai ini tidak beralih fungsi menjadi ajang uji coba yang merugikan kepastian hukum.

“Anomali harus diperiksa, kebocoran harus ditutup, pelaku ilegal harus ditertibkan, dan yang patuh harus memperoleh kepastian. Jangan sampai niat memberantas rokok ilegal justru melahirkan persoalan baru dalam sistem cukai nasional,” pungkas Eko TW.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bea Cukai Watch Purbaya Yudhi Sadewa rokok ilegal
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cair Rp600 Ribu! Begini Cara Cek dan Ambil BPNT Oktober-Desember 2026

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98

Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk

Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.