bukamata.id – Media sosial tengah diramaikan dengan perbincangan soal sosok pendakwah yang tidak biasa. Nama Shuniyya Ruhama mendadak viral setelah video ceramah keagamaannya tersebar luas dan menuai beragam respons dari warganet.
Shuniyya, yang diketahui berasal dari Kendal, Jawa Tengah, tampil menyerupai ustazah dalam video tersebut. Ia menyampaikan tausiyah di hadapan jamaah, termasuk para perempuan, dengan gaya yang tenang dan artikulatif. Namun, penampilannya langsung memicu kontroversi karena latar belakang identitas gendernya.
Ceramah Viral, Komentar Netizen Membanjir
Meskipun akun Instagram @shuniyya_ruhama sudah tidak aktif sejak 2023, video dakwahnya yang viral membuat ratusan netizen membanjiri kolom komentar unggahan terakhir. Sebagian komentar berisi kritik pedas, sementara yang lain mencoba menyampaikan nasihat dengan cara yang lebih santun.
“Kalau memang berilmu, jadi ustaz saja, bukan ustazah,” tulis salah satu komentar. Sementara itu, pengguna lain menuliskan, “Semoga kembali ke jalan yang benar, kita hanya bisa saling mengingatkan.”
Latar Belakang Akademis dan Aktivisme
Di luar kontroversi, Shuniyya dikenal memiliki rekam jejak pendidikan yang mentereng. Ia adalah alumni Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tak hanya itu, ia lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,56.
Skripsi yang ditulisnya juga relevan dengan identitasnya, mengangkat tema ekspresi busana pada komunitas waria. Selain aktif berdakwah, Shuniyya juga seorang pembatik ulung. Karya batiknya telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Afrika, dan Ceko.
Bukan Ustazah NU
Beberapa kabar sempat mengaitkan Shuniyya dengan organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, klaim tersebut telah dibantah oleh berbagai pihak. Meski demikian, ia diketahui pernah menghadiri acara Fatayat NU dan jaringan Gusdurian, serta dikenal sebagai simpatisan kegiatan keagamaan moderat.
Dalam jejak digitalnya, ia juga sempat membagikan kegiatan edukasi, dakwah, hingga produksi batik melalui media sosial. Salah satu karya tulisnya adalah buku berjudul “Jangan Lepas Jilbabku! Catatan Harian Seorang Waria” yang terbit pada 2005. Buku tersebut memuat kisah pribadinya sebagai seorang transgender yang menekuni dunia keagamaan.
Perdebatan Publik dan Ruang Dakwah
Fenomena Shuniyya menyorot kembali isu lama yang kerap muncul di ruang publik: siapa yang dianggap layak menyampaikan dakwah? Perdebatan seputar legitimasi pendakwah tidak lepas dari nilai-nilai sosial, kultural, hingga doktrin keagamaan yang dianut oleh masyarakat.
Terlepas dari pandangan pro dan kontra, munculnya sosok seperti Shuniyya menunjukkan bahwa ruang dakwah kini makin terbuka dan menjadi arena diskusi identitas serta keberagaman. Bagaimana masyarakat dan lembaga keagamaan merespons dinamika ini masih menjadi pertanyaan terbuka.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










