Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa

Kamis, 29 Oktober 2026 21:11 WIB

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Kamis, 29 Oktober 2026 21:06 WIB

Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory

Kamis, 29 Oktober 2026 20:33 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa
  • Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo
  • Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory
  • Teror Suporter Beruntun di Oktober, PSSI Siapkan Sanksi Pengurangan Poin
  • Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98
  • Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk
  • Baru Hajar Melbourne Victory, Persib Justru Kehilangan Igor Tolic di Super League
  • Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Viral Kelas Dunia! Parodi Sepak Bola Sonecil Group Majene Bikin Netizen Global Ketagihan

By Aga GustianaKamis, 10 September 2026 17:40 WIB6 Mins Read
Sonecil Group. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah pelosok pemukiman yang sejuk di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, riuh gelak tawa anak-anak kerap memecah kesunyian siang. Lapangan semen sederhana yang dikelilingi vegetasi hijau dan tembok-tembok rumah warga yang bersahaja bukanlah stadion megah, melainkan “panggung” bagi lahirnya fenomena baru di jagat maya global. Dari tempat inilah Sonecil Group mengeksekusi ide-ide liar mereka—sebuah kelompok kreator konten lokal yang kini tak hanya merebut perhatian jutaan pasang mata di Indonesia, tetapi juga berhasil menebar tawa hingga ke belahan bumi lain.

Lewat cuplikan video singkat di platform TikTok dan YouTube Shorts, anak-anak dan pemuda Majene ini menampilkan parodi sepak bola absurd, komedi slapstick, dan drama kehidupan sehari-hari. Tanpa tata cahaya jutaan rupiah, tanpa kamera bioskop kelas atas, dan tanpa naskah rumit, Sonecil Group membuktikan satu hal: bahasa humor yang paling murni tidak memerlukan penerjemah.

Akar Sebuah Nama: Dari Dangdut Klasik ke Layar Kaca Digital

Nama Sonecil bukanlah sekadar deretan huruf tanpa makna. Kata ini merupakan akronim unik dari “Soneta Kecil”—sebuah bentuk penghormatan sekaligus pengaruh dari grup musik dangdut legendaris Indonesia, Soneta. Bagi masyarakat lokal di pesisir Sulawesi Barat, musik, kebersamaan, dan seni pertunjukan jalanan adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan.

Awalnya, gagasan mempertemukan anak-anak kampung dalam satu kelompok dilakukan untuk mengisi waktu luang secara positif. Namun, seiring dengan makin masifnya penggunaan smartphone di pelosok daerah, wadah berekspresi ini bertransformasi menjadi ruang kreatif digital. Kelompok yang tadinya hanya berkumpul di teras rumah dan lapangan desa kini memegang perangkat kamera ponsel, mengambil alih panggung media sosial, dan menamai diri mereka sebagai Sonecil Group.

Di balik layar, keberhasilan Sonecil Group didorong oleh ikatan kekeluargaan dan persahabatan erat antar-anggotanya. Setiap anak yang tampil di depan kamera mengekspresikan karakter alami mereka: kepolosan, kelincahan, hingga kelucuan spontan yang tidak dipaksa-paksa.

Baca Juga:  PSSI dan Federasi Sepak Bola Belanda Resmi Jalin Kerjasama, Fokus Pembinaan Pemain Muda dan Pelatih

Resep Kunci: Mengapa Parodi Sepak Bola Mereka Disukai Global?

Jika menelusuri ratusan video yang diunggah oleh Sonecil Group, ada satu tema utama yang menjadi pilar popularitas mereka: seperti apa sepak bola terlihat jika dimainkan di alam imajinasi anak-anak.

Di dalam “dunia Sonecil”, aturan resmi FIFA seolah tidak berlaku dan digantikan oleh hukum komedi yang absurd. Kepreatifan mereka tercermin kuat dari cara mereka mengolah alur cerita yang tak terduga di atas lapangan:

  • Trik Cerdik dan Intimidasi Wasit: Dalam salah satu skenario ikonik “Trik Geser-Geser Messi”, seorang anak berjersey Argentina bernomor punggung 10 dijatuhkan di lapangan. Sebelum mengeksekusi tendangan bebas, ia dengan cerdik menggelindingkan bola maju sedikit demi sedikit saat pagar hidup lawan tidak fokus. Ketika lawan memprotes, sang wasit cilik yang sempat diintimidasi pemain justru dengan santainya menggiring pagar hidup lawan berjalan mundur selangkah demi selangkah agar posisi eksekusi makin menguntungkan.
  • Sistem “VAR Kampung” yang Jenaka: Kepolosan komedi mereka semakin memuncak lewat skenario pembatalan kartu merah (red card). Ketika seorang pemain diganjar kartu merah usai melakukan tackle keras, rekan timnya mendesak wasit memeriksa VAR. Layar VAR dalam versi Sonecil terbuat dari bingkai kayu rakitan bertutup daun pisang. Wasit cilik dengan serius meninjau “layar” tersebut, sementara sang pemain meliuk-liuk memperagakan ulang adegan tackle secara langsung di belakang bingkai. Hasilnya? Kartu merah dianulir dan diganti dengan hadiah mainan tiup warna-warni.
  • Bahasa Komedi Universal (Physical Comedy): Sonecil Group jarang mengandalkan dialog verbal yang panjang. Mereka bertumpu pada ekspresi wajah, bahasa tubuh, efek suara kocak, serta gestur fisik. Karena tidak terikat oleh kendala bahasa (language barrier), penonton dari Brasil, Spanyol, Inggris, hingga Timur Tengah bisa memahami humor mereka dalam hitungan detik.
  • Estetika Low-Budget yang Otentik: Lapangan tanah berdebu, gawang dari kayu rakitan sederhana, dan jersey sepak bola lokal yang berwarna-warni memberikan kontras visual yang menyegarkan di tengah maraknya konten media sosial yang penuh dengan edit rekayasa visual mahal. Keotentikan ini memicu rasa rindu (nostalgia) bagi banyak penonton dewasa di seluruh dunia akan masa kecil mereka yang bahagia dan bebas.
Baca Juga:  Jelang Laga Terakhir di Putaran Pertama, Bojan Hodak Evaluasi Pemain Persib

Menjelajah Algoritma: Gelombang Viral dan Sorotan Netizen

Perjalanan Sonecil Group menuju pangsanya di tingkat internasional bermula ketika video-video mereka mulai diunggah ulang (repost) oleh akun-akun agregator sepak bola dan komedi bereputasi besar di Instagram dan TikTok.

Tidak butuh waktu lama sebelum algoritma media sosial mendorong video anak-anak Majene ini ke Feed pengguna internasional. Kolom komentar di setiap unggahan mereka mendadak dipenuhi oleh tanggapan penuh apresiasi, kekaguman, sekaligus tawa dari netizen lokal maupun mancanegara.

Para penonton dibuat takjub oleh jangkauan audiens mereka yang menembus batas negara, sebagaimana diungkapkan oleh salah satu warga netizen:

“Hebat penonton nya selalu dari luar negeri😍👏,” ujar netizen.

Tak hanya soal jangkauan global, fleksibilitas dan alur cerita dalam skenario parodi mereka yang berganti-ganti peran secara mendadak juga menjadi bahan hiburan tersendiri bagi penonton. Kepiawaian anak-anak ini memerankan berbagai karakter dalam satu pertandingan lokal sering kali mengundang tawa geli:

“Keren banget, kadang bisa jadi pemain, kadang bisa jadi wasit. Kadang bisa membela tim sendiri😍,” ujar netizen lainnya.

Kelincahan akting, kepolosan, serta ekspresi natural anak-anak Majene dalam membawakan skenario komedi fisik tersebut juga tak lepas dari sorotan. Banyak warganet yang gemas melihat bakat akting mereka yang sudah terasah sejak usia sangat muda:

Baca Juga:  Adakan Pertemuan, LIB dan Patrick Kluivert Bahas Hal Penting

“Anak sekecil ini sudah pintar berdrama, besarnya jadi apa dek😂,” ujar netizen merespons aksi konyol mereka.

Dampak Lokal: Mengubah Wajah Kampung dan Menginspirasi Generasi Muda

Kehadiran Sonecil Group membawa dampak yang tidak sedikit bagi lingkungan sekitar mereka di Sulawesi Barat. Selain memberikan ruang hiburan sehat bagi anak-anak setempat, kesuksesan ini menginspirasi banyak pemuda daerah bahwa keterbatasan geografis bukan lagi penghalang untuk berkarya di tingkat internasional.

  1. Eksplorasi Potensi Lokal: Sonecil Group kerap menyelipkan nuansa alam dan kehidupan pemukiman Majene dalam videonya, secara tidak langsung memperkenalkan kehangatan dan keindahan alam pedesaan Indonesia ke mata dunia.
  2. Pendidikan Kreativitas Digital: Anak-anak yang terlibat dalam produksi video belajar banyak hal secara mandiri—mulai dari kedisiplinan berakting, konsep penyutradaraan sederhana, hingga pemahaman dasar tentang etika bermedia sosial.
  3. Membangun Komunitas: Sonecil Group menjadi bukti nyata bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi antar-warga kampung melalui kegiatan produksi kreatif yang menyenangkan.

Bintang Baru dari Pesisir Sulawesi Barat

Sonecil Group bukan sekadar cerita tentang tren sesaat di media sosial. Mereka adalah potret dari daya cipta, keceriaan polos, dan ketangguhan anak-anak daerah dalam memanfaatkan teknologi digital. Dari sebuah wilayah di Sulawesi Barat, tawa riang mereka berhasil melintasi samudera, memecah sekat-sekat perbedaan budaya, dan menyatukan jutaan penonton dunia dalam satu gelak tawa yang sama.

Perjalanan mereka menegaskan pesan penting bagi industri kreatif modern: kreativitas terbesar sering kali lahir bukan dari kelengkapan fasilitas, melainkan dari kepolosan imajinasi dan kebersamaan yang tulus.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Parodi sepak bola Sonecil Group
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Antam Anjlok Rp11.000 Hari Ini! Cek Daftar Lengkapnya Sebelum Beli

Video Lama Bocor Lagi! Reaksi Dingin Eve Saat Tahu Hamil Bikin Warganet Geleng-geleng Kepala

Bosan ke Tempat yang Itu-itu Saja? Coba 5 Wisata Bogor Anti-Mainstream Ini

Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.