Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pergerakan Belum Selesai, Manajemen Persib Beri Kode Soal Rumor Mariano Peralta

Kamis, 2 Juli 2026 22:15 WIB

5 Kuliner Viral Bandung 2026 yang Lagi Diburu, Nomor 4 Bikin Antre Panjang!

Kamis, 2 Juli 2026 20:38 WIB

Melawan Arus! Kisah Andi Saputra, Mantan Jurnalis yang Menjadi ‘Suara Tunggal’ Pembela Nadiem Makarim

Kamis, 2 Juli 2026 20:20 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pergerakan Belum Selesai, Manajemen Persib Beri Kode Soal Rumor Mariano Peralta
  • 5 Kuliner Viral Bandung 2026 yang Lagi Diburu, Nomor 4 Bikin Antre Panjang!
  • Melawan Arus! Kisah Andi Saputra, Mantan Jurnalis yang Menjadi ‘Suara Tunggal’ Pembela Nadiem Makarim
  • Siapa Luka Menalo? Profil Lengkap Winger Bosnia yang Resmi Berseragam Persib
  • Di Balik Tato Korban YTR, Polisi Temukan Fakta Tak Terduga dari Hubungan Pelaku
  • Jangan Sampai Terlewat! Jadwal Piala Dunia 2026 Jumat Dini Hari, Portugal dan Spanyol Main
  • Pecah! Persib Datangkan Sandy Walsh, Dikontrak hingga 2029
  • Fraksi DPRD Jabar Beri Masukan Anggaran 2025, Gubernur Siap Jawab 7 Juli
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 2 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Viral #SaveRajaAmpat: Seruan Menyelamatkan Surga Terakhir dari Ancaman Tambang Nikel

By Aga GustianaKamis, 5 Juni 2025 11:18 WIB4 Mins Read
Viral tagar #SaveRajaAmpat. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Tagar #SaveRajaAmpat kini menggema di berbagai lini media sosial. Ribuan warganet bersatu dalam satu suara: menyelamatkan keindahan alam Raja Ampat dari ancaman eksploitasi tambang nikel. Namun, apa sebenarnya yang sedang terjadi di kawasan yang dijuluki “The Last Paradise” ini?

Suara Lantang Greenpeace: Raja Ampat di Ujung Tanduk

Awal mula kegaduhan ini berasal dari unggahan Greenpeace Indonesia di media sosial. Organisasi lingkungan global itu menyebarkan sejumlah dokumentasi mengenai aktivitas penambangan di beberapa pulau Raja Ampat, Papua Barat Daya. Greenpeace menuding bahwa penambangan nikel yang dilakukan oleh perusahaan di bawah naungan PT Antam berpotensi merusak ekosistem laut dan lanskap pulau yang begitu kaya akan keanekaragaman hayati.

Dalam salah satu unggahannya, Greenpeace menulis tajam:

“Satu per satu keindahan alam Indonesia dirusak dan dihancurkan hanya demi kepentingan sesaat dan golongan oligarki serakah.”

Foto-foto yang mereka bagikan memperlihatkan daratan pulau yang mulai terbuka akibat aktivitas alat berat. Debu merah khas tanah tambang tampak mencemari pesisir dan laut biru yang selama ini menjadi daya tarik utama wisata Raja Ampat.

Baca Juga:  Izin Tambang Nikel di Raja Ampat Disorot, Menteri ESDM Bahlil: Saat Saya Belum Masuk Kabinet

Tambang Nikel dan Hilirisasi: Surga yang Terancam

Kebutuhan global akan nikel terus melonjak, terutama karena meningkatnya permintaan untuk baterai kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia pun giat mendorong program hilirisasi nikel, yakni proses pemurnian bijih mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti baterai dan stainless steel.

Selama ini, tambang nikel banyak ditemukan di Sulawesi dan Maluku Utara. Namun, kini pandangan tampaknya mulai beralih ke Papua Barat Daya. Menurut catatan Greenpeace, setidaknya tiga pulau—Pulau Gag, Pulau Kawe, dan Pulau Manuran—telah menjadi lokasi eksplorasi nikel.

Padahal, wilayah ini bukan hanya cantik, tetapi juga sakral. Raja Ampat diakui UNESCO sebagai Global Geopark dan menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Banyak peneliti menyebutnya sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tertinggi di dunia.

Reaksi Pemerintah: Akan Ada Evaluasi

Di tengah gelombang kritik publik, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan akan menindaklanjuti protes tersebut. Ia berjanji akan mengevaluasi izin tambang yang telah diberikan.

“Saya akan panggil pemiliknya, baik itu BUMN maupun swasta,” ujar Bahlil kepada media, seraya menegaskan akan melibatkan jajarannya untuk menelaah kembali izin tambang di kawasan Raja Ampat.

Baca Juga:  PT GAG Nikel Punya Siapa? Fakta Kepemilikan dan Izin Operasi di Raja Ampat

Langkah ini pun ditanggapi positif oleh masyarakat, meski banyak yang menuntut transparansi dan aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Sorotan DPR: Raja Ampat Bukan untuk Ditambang

Tak hanya pemerintah eksekutif, para anggota DPR juga angkat suara. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menegaskan bahwa aktivitas tambang nikel di Raja Ampat telah melanggar regulasi.

“Raja Ampat bukan kawasan biasa. Ini adalah warisan dunia yang harus dilindungi,” tegas Novita.

Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014, yang secara jelas menyatakan bahwa pemanfaatan pulau kecil diprioritaskan untuk pariwisata, konservasi, budidaya laut, dan penelitian—bukan untuk pertambangan.

Siapa Pemain di Balik Tambang Nikel?

Informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya menyebutkan bahwa perusahaan yang beroperasi di kawasan Raja Ampat adalah PT GAG Nikel dan PT Kawei Sejahtera Mining.

Meski PT GAG Nikel adalah anak usaha dari perusahaan pelat merah, keberadaan mereka kini disorot tajam oleh aktivis lingkungan dan masyarakat lokal. Banyak yang mempertanyakan: bagaimana mungkin wilayah konservasi kelas dunia bisa masuk dalam peta izin tambang?

Baca Juga:  PT GAG Nikel Punya Siapa? Fakta Kepemilikan dan Izin Operasi di Raja Ampat

Warga Bicara: “Jangan Curi Masa Depan Anak Cucu Kami”

Protes tak hanya datang dari organisasi besar. Di media sosial, masyarakat lokal Raja Ampat ikut bersuara. Mereka mengunggah foto-foto laut yang tercemar, terumbu karang yang mulai rusak, serta testimoni warga yang kehilangan hasil tangkapan laut akibat keruhnya perairan.

Salah satu warganet menulis:

“Jangan curi masa depan anak cucu kami. Laut ini bukan hanya indah, tapi sumber hidup kami.”

Gerakan #SaveRajaAmpat pun menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap eksploitasi alam yang tak bertanggung jawab.

Antara Masa Depan Energi dan Keberlanjutan Alam

Indonesia memang punya ambisi besar dalam energi bersih dan mobil listrik. Tapi apakah kemajuan itu harus dibayar dengan hancurnya surga terakhir kita?

Tagar #SaveRajaAmpat adalah pengingat. Bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal teknologi dan investasi, tapi juga tentang melindungi alam, menjaga warisan, dan merawat masa depan. Raja Ampat tak bisa diganti, dan jika rusak, kita semua akan menanggung akibatnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ancaman lingkungan Papua Barat Save Raja Ampat tambang nikel tambang nikel Raja Ampat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Melawan Arus! Kisah Andi Saputra, Mantan Jurnalis yang Menjadi ‘Suara Tunggal’ Pembela Nadiem Makarim

Di Balik Tato Korban YTR, Polisi Temukan Fakta Tak Terduga dari Hubungan Pelaku

Fraksi DPRD Jabar Beri Masukan Anggaran 2025, Gubernur Siap Jawab 7 Juli

Om Zein saat menghadiri acara di Purwakarta.

Lagu Gubahannya Tuai Kritik, Bupati Purwakarta Om Zein Akhirnya Take Down dan Minta Maaf

Rekonstruksi Kasus TH Digelar, Tersangka Akui Seluruh Perbuatan di Enam TKP

Video KKN UPI Viral, Suarakan Kondisi Jembatan Cibayawak yang Terabaikan

Terpopuler
  • Link Video Ibu dan Anak Handuk Putih Banyak Dicari, Waspadai Modus Phishing
  • Ini Link Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 untuk Pantau Jadwal dan Skema Pertandingan
  • Viral di TikTok! Ini Fakta Video Ibu dan Anak Handuk Putih yang Bikin Warganet Penasaran
  • Jangan Asal Klik! Video Handuk Putih Anak vs Ibu Viral, Begini Fakta dan Bahaya Link Palsunya
  • Swatt Lasagna Viral! Kue Premium Bandung Ini Ternyata Langganan Para Artis Top
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.