Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Persib Bandung vs Melbourne Victory: Pertaruhan Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2

Selasa, 27 Oktober 2026 07:24 WIB
penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Mau Dapat Bansos? Begini Cara Pengajuan Mandiri Lewat Perlinsos Digital

Selasa, 27 Oktober 2026 06:00 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Desil Keluarga Tidak Sesuai Kondisi Asli? Begini Cara Mengajukan Perbaikan Data

Selasa, 27 Oktober 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Persib Bandung vs Melbourne Victory: Pertaruhan Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2
  • Mau Dapat Bansos? Begini Cara Pengajuan Mandiri Lewat Perlinsos Digital
  • Desil Keluarga Tidak Sesuai Kondisi Asli? Begini Cara Mengajukan Perbaikan Data
  • Dari Nasi Lemak sampai Roti Legendaris, 6 Spot Sarapan Favorit di Kota Bogor
  • Bansos Oktober 2026 Belum Cair, Jangan Panik! Ini yang Perlu Dicek
  • Wajib Tahu! 7 Penyebab Status ‘Exclude’ Bikin Bansos PKH & BPNT Gagal Cair Lengkap dengan Solusinya
  • Cek Rekening Sekarang! Ini 5 Tanda Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober 2026 Sudah Cair
  • Pakansari Rasa Si Jalak Harupat, Adam Alis Angkat Topi untuk Bobotoh
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Viral #SaveRajaAmpat: Seruan Menyelamatkan Surga Terakhir dari Ancaman Tambang Nikel

By Aga GustianaKamis, 5 Juni 2025 11:18 WIB4 Mins Read
Viral tagar #SaveRajaAmpat. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Tagar #SaveRajaAmpat kini menggema di berbagai lini media sosial. Ribuan warganet bersatu dalam satu suara: menyelamatkan keindahan alam Raja Ampat dari ancaman eksploitasi tambang nikel. Namun, apa sebenarnya yang sedang terjadi di kawasan yang dijuluki “The Last Paradise” ini?

Suara Lantang Greenpeace: Raja Ampat di Ujung Tanduk

Awal mula kegaduhan ini berasal dari unggahan Greenpeace Indonesia di media sosial. Organisasi lingkungan global itu menyebarkan sejumlah dokumentasi mengenai aktivitas penambangan di beberapa pulau Raja Ampat, Papua Barat Daya. Greenpeace menuding bahwa penambangan nikel yang dilakukan oleh perusahaan di bawah naungan PT Antam berpotensi merusak ekosistem laut dan lanskap pulau yang begitu kaya akan keanekaragaman hayati.

Dalam salah satu unggahannya, Greenpeace menulis tajam:

“Satu per satu keindahan alam Indonesia dirusak dan dihancurkan hanya demi kepentingan sesaat dan golongan oligarki serakah.”

Foto-foto yang mereka bagikan memperlihatkan daratan pulau yang mulai terbuka akibat aktivitas alat berat. Debu merah khas tanah tambang tampak mencemari pesisir dan laut biru yang selama ini menjadi daya tarik utama wisata Raja Ampat.

Tambang Nikel dan Hilirisasi: Surga yang Terancam

Kebutuhan global akan nikel terus melonjak, terutama karena meningkatnya permintaan untuk baterai kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia pun giat mendorong program hilirisasi nikel, yakni proses pemurnian bijih mentah menjadi produk bernilai tinggi seperti baterai dan stainless steel.

Selama ini, tambang nikel banyak ditemukan di Sulawesi dan Maluku Utara. Namun, kini pandangan tampaknya mulai beralih ke Papua Barat Daya. Menurut catatan Greenpeace, setidaknya tiga pulau—Pulau Gag, Pulau Kawe, dan Pulau Manuran—telah menjadi lokasi eksplorasi nikel.

Padahal, wilayah ini bukan hanya cantik, tetapi juga sakral. Raja Ampat diakui UNESCO sebagai Global Geopark dan menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Banyak peneliti menyebutnya sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tertinggi di dunia.

Reaksi Pemerintah: Akan Ada Evaluasi

Di tengah gelombang kritik publik, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan akan menindaklanjuti protes tersebut. Ia berjanji akan mengevaluasi izin tambang yang telah diberikan.

“Saya akan panggil pemiliknya, baik itu BUMN maupun swasta,” ujar Bahlil kepada media, seraya menegaskan akan melibatkan jajarannya untuk menelaah kembali izin tambang di kawasan Raja Ampat.

Langkah ini pun ditanggapi positif oleh masyarakat, meski banyak yang menuntut transparansi dan aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Sorotan DPR: Raja Ampat Bukan untuk Ditambang

Tak hanya pemerintah eksekutif, para anggota DPR juga angkat suara. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menegaskan bahwa aktivitas tambang nikel di Raja Ampat telah melanggar regulasi.

“Raja Ampat bukan kawasan biasa. Ini adalah warisan dunia yang harus dilindungi,” tegas Novita.

Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014, yang secara jelas menyatakan bahwa pemanfaatan pulau kecil diprioritaskan untuk pariwisata, konservasi, budidaya laut, dan penelitian—bukan untuk pertambangan.

Siapa Pemain di Balik Tambang Nikel?

Informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya menyebutkan bahwa perusahaan yang beroperasi di kawasan Raja Ampat adalah PT GAG Nikel dan PT Kawei Sejahtera Mining.

Meski PT GAG Nikel adalah anak usaha dari perusahaan pelat merah, keberadaan mereka kini disorot tajam oleh aktivis lingkungan dan masyarakat lokal. Banyak yang mempertanyakan: bagaimana mungkin wilayah konservasi kelas dunia bisa masuk dalam peta izin tambang?

Warga Bicara: “Jangan Curi Masa Depan Anak Cucu Kami”

Protes tak hanya datang dari organisasi besar. Di media sosial, masyarakat lokal Raja Ampat ikut bersuara. Mereka mengunggah foto-foto laut yang tercemar, terumbu karang yang mulai rusak, serta testimoni warga yang kehilangan hasil tangkapan laut akibat keruhnya perairan.

Salah satu warganet menulis:

“Jangan curi masa depan anak cucu kami. Laut ini bukan hanya indah, tapi sumber hidup kami.”

Gerakan #SaveRajaAmpat pun menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap eksploitasi alam yang tak bertanggung jawab.

Antara Masa Depan Energi dan Keberlanjutan Alam

Indonesia memang punya ambisi besar dalam energi bersih dan mobil listrik. Tapi apakah kemajuan itu harus dibayar dengan hancurnya surga terakhir kita?

Tagar #SaveRajaAmpat adalah pengingat. Bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal teknologi dan investasi, tapi juga tentang melindungi alam, menjaga warisan, dan merawat masa depan. Raja Ampat tak bisa diganti, dan jika rusak, kita semua akan menanggung akibatnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Desil Keluarga Tidak Sesuai Kondisi Asli? Begini Cara Mengajukan Perbaikan Data

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Oktober 2026 Belum Cair, Jangan Panik! Ini yang Perlu Dicek

Pelaku Penganiayaan Suporter Persib di Bogor Ditangkap, Begini Kata Polisi

Badai PHK Hantam Jawa Barat, Sektor Garmen dan Otomotif Paling Merana

Daftar Lengkap Nominal PKH Tahap 4 2026: Dari Rp225 Ribu hingga Rp2,7 Juta

Dua Halte BRT Kiaracondong Disoroti, Jarak ke Rel Dinilai Terlalu Dekat

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Prediksi Madura United vs Persib: Ujian Kedalaman Skuad Pangeran Biru di Tengah Jadwal Padat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.