bukamata.id – Jeritan para petani di Kecamatan Tamansari, tepat di kaki Gunung Salak, Kabupaten Bogor, semakin kencang terdengar. Bukan tanpa alasan, mereka mengaku menjadi korban intimidasi masif oleh pihak korporasi di tengah ancaman kerusakan ekosistem yang kian nyata.
Melalui unggahan video dari akun Instagram @asep_pineapple_Coffe, terungkap bahwa situasi di lapangan kini sedang berada di titik kritis. Para petani yang selama ini menggantungkan hidup dari tanah subur di kaki Gunung Salak mulai dihantui rasa takut setelah menerima surat somasi untuk mengosongkan lahan.
Intimidasi dan Dugaan Keterlibatan Aparat
Salah satu perwakilan petani dalam video tersebut mengungkapkan bahwa upaya pengosongan lahan ini diwarnai dengan tindakan intimidasi yang diduga melibatkan oknum aparat.
“Intimidasi ini cukup masif dilakukan… beberapa waktu lalu mereka didampingi oknum aparat untuk melakukan pengukuran lahan. Namun saat kami tanya dasar hukum dan surat ukurnya, mereka tidak mampu menunjukkan,” ujar pria dalam video tersebut.
Ketegangan sempat memuncak ketika beberapa warga dilaporkan mengalami tindakan kekerasan fisik dan penganiayaan saat mencoba menghalangi pemasangan plang kepemilikan tanah oleh pihak PT Prima Mustika Chandra (PMC).
Dampak Lingkungan dan Ancaman Ketahanan Pangan
Selain konflik agraria, warga menyoroti dampak lingkungan yang mulai terasa. Kawasan Tamansari yang berfungsi sebagai daerah resapan air kini dilaporkan mengalami kerusakan. Video tersebut memperlihatkan cuplikan banjir lumpur yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan oleh perusahaan terkait.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar akan:
- Hilangnya Sumber Penghidupan: Petani kehilangan akses terhadap lahan yang telah digarap bertahun-tahun.
- Kerusakan Ekosistem: Fungsi kaki Gunung Salak sebagai penyangga air bagi wilayah Bogor terancam lumpuh.
- Krisis Pangan: Lahan produktif berubah fungsi, mengancam program ketahanan pangan daerah.
Surat Terbuka untuk Dedi Mulyadi
Merasa laporan mereka ke aparat tingkat bawah tidak diindahkan, para petani di Desa Sukajaya, Desa Tamansari, dan Desa Sukaluyu melayangkan surat terbuka kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Kami sebagai penerima manfaat dari program Bapak terkait bibit dan lainnya, memohon Bapak untuk turun langsung ke lokasi. Kami ingin Bapak mengecek kondisi kekinian di lapangan, meninjau perizinan, serta dokumen AMDAL perusahaan tersebut,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah provinsi tidak menutup mata terhadap nasib rakyat kecil yang sedang berjuang melawan ekspansi korporasi yang dianggap merusak tatanan sosial dan lingkungan di kaki Gunung Salak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak perusahaan terkait tudingan intimidasi maupun kerusakan lingkungan yang dikeluhkan oleh masyarakat setempat. Para petani menyatakan akan tetap bertahan di lahan mereka hingga ada solusi yang adil dari pemerintah pusat maupun daerah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









