Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus

Minggu, 28 Juni 2026 02:00 WIB

Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal

Minggu, 28 Juni 2026 01:00 WIB

Proyek Rahasia Skuad Garuda: John Herdman Kantongi 16 Nama Pemain Diaspora Baru untuk Timnas Indonesia

Sabtu, 27 Juni 2026 21:53 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus
  • Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal
  • Proyek Rahasia Skuad Garuda: John Herdman Kantongi 16 Nama Pemain Diaspora Baru untuk Timnas Indonesia
  • Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius
  • Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis
  • Siap-siap Begadang! Ini Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia Minggu 28 Juni 2026 di TVRI
  • Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha
  • Vivo X Fold 6 Bawa Baterai Badak dan Kamera 200 MP, Simak Spesifikasi dan Harganya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 28 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Wacana Vasektomi untuk Penerima Bansos, KDM Dinilai Kebablasan: Berpotensi Langgar HAM

By Aga GustianaSabtu, 3 Mei 2025 16:56 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai wacana vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial (bansos) menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah, yang menyebut wacana tersebut sebagai langkah yang “kebablasan dan tidak matang”.

Dalam keterangannya kepada pers di Jakarta, Jumat (2/5/2025), Toto menilai Dedi seharusnya lebih berhati-hati saat menyampaikan kebijakan sensitif, terutama yang menyangkut hak dasar warga negara dan nilai-nilai agama.

“Saya dan sejumlah tokoh di Jawa Barat sangat menyesalkan pernyataan Gubernur KDM. Ini kebijakan yang ceroboh dan berpotensi menciptakan diskriminasi,” kata Toto, yang juga dikenal sebagai peneliti senior LSI Denny JA.

Toto menegaskan, sebelum mewacanakan kebijakan seperti ini, sebaiknya Gubernur berkonsultasi lebih dulu dengan organisasi keagamaan besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, MUI, dan lainnya.

Baca Juga:  Jalanan Bandung Dibersihkan dari Knalpot Brong

“Jangan sampai mabuk pujian karena sedang populer, lalu merasa bebas bicara apa saja,” ujarnya menyinggung euforia masyarakat terhadap gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi.

Menurutnya, menyederhanakan persoalan kemiskinan hanya karena jumlah anak yang banyak adalah kesimpulan yang menyesatkan. Ia mengingatkan, dalam pandangan Islam, anak adalah rezeki dan anugerah, bukan beban yang harus dibatasi secara paksa.

Baca Juga:  Heboh Anies Baswedan Berpeluang Maju di Pilgub Jabar, Warganet Protes

Toto mengingatkan bahwa vasektomi adalah prosedur medis serius yang menyebabkan pria kehilangan kemampuan untuk memiliki anak secara permanen. Menjadikannya sebagai syarat bantuan sosial dinilai berlebihan dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Ia mengutip fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut vasektomi haram, kecuali dalam kondisi medis tertentu yang bersifat darurat dan tetap tidak melanggar prinsip syariah.

“Vasektomi tidak bisa dijadikan syarat menerima Bansos. Ini soal konstitusi, soal hak warga negara. Tidak bisa dipaksakan.”

Baca Juga:  MUI Sebut Gencatan Senjata Israel-Hamas Harus Disertai Pengawasan dan Kontrol

Sebagai penutup, Toto mengimbau Gubernur Dedi Mulyadi agar lebih terbuka terhadap masukan dari para ahli, tokoh agama, dan masyarakat sipil sebelum menggulirkan wacana kebijakan publik, terutama yang berdampak pada nilai-nilai sosial dan keagamaan.

“Masukan dari berbagai pihak itu penting agar tidak terjadi pelanggaran konstitusi dan nilai-nilai dasar bangsa.”

Polemik ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara semangat reformasi sosial dan sensitivitas terhadap norma serta hak individu. Gagasan yang baik pun membutuhkan proses komunikasi dan pertimbangan matang agar dapat diterima publik tanpa menimbulkan kontroversi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HAM MUI vasektomi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius

Ilustrasi gempa

Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis

Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha

Mau Jaga Toko atau Ikut Perang? Tragedi Latihan Militer Koperasi Desa, 5 Nyawa Jadi Korban!

Gunakan Besi hingga Rokok, Taufik Hidayat Lampiaskan Amarah ke YTR Gegara Cemburu dan Stres Kerja

Lari ke Berbagai Daerah demi Kelabuhi Petugas, Taufik Hidayat Sempat Menggelandang dan Tidur di SPBU

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.