Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ratusan Pecinta Off-Road dan Campervan Meriahkan Kalibarasi 2026 di Subang

Minggu, 27 September 2026 13:02 WIB

Kejar-kejaran Dini Hari di Bandung, Dua Pelajar Diduga Geng Motor Diamankan

Minggu, 27 September 2026 12:39 WIB

Cari Cafe Estetik di Bandung? Ini 5 Tempat Ngopi yang Wajib Masuk Daftar

Minggu, 27 September 2026 12:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ratusan Pecinta Off-Road dan Campervan Meriahkan Kalibarasi 2026 di Subang
  • Kejar-kejaran Dini Hari di Bandung, Dua Pelajar Diduga Geng Motor Diamankan
  • Cari Cafe Estetik di Bandung? Ini 5 Tempat Ngopi yang Wajib Masuk Daftar
  • Timnas Indonesia vs Malaysia, Ini Jadwal Lengkap Laga Panas FIFA ASEAN Cup 2026
  • Persib Masuk Periode Berat, Marc Klok Minta Pemain Jaga Fisik dan Mental
  • Kasus Penganiayaan YTR Bergulir ke Pengadilan, Sidang Perdana Taufik Hidayat Digelar Pekan Ini
  • Harga Emas Antam Hari Ini 27 September 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,61 Juta
  • Kisah Pahit Manis Rahmat Erwin: Dulu Kurang Diperhatikan, Kini Jadi Pahlawan Emas Indonesia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 27 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Wacana Vasektomi untuk Penerima Bansos, KDM Dinilai Kebablasan: Berpotensi Langgar HAM

By Aga GustianaSabtu, 3 Mei 2025 16:56 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai wacana vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial (bansos) menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah, yang menyebut wacana tersebut sebagai langkah yang “kebablasan dan tidak matang”.

Dalam keterangannya kepada pers di Jakarta, Jumat (2/5/2025), Toto menilai Dedi seharusnya lebih berhati-hati saat menyampaikan kebijakan sensitif, terutama yang menyangkut hak dasar warga negara dan nilai-nilai agama.

“Saya dan sejumlah tokoh di Jawa Barat sangat menyesalkan pernyataan Gubernur KDM. Ini kebijakan yang ceroboh dan berpotensi menciptakan diskriminasi,” kata Toto, yang juga dikenal sebagai peneliti senior LSI Denny JA.

Toto menegaskan, sebelum mewacanakan kebijakan seperti ini, sebaiknya Gubernur berkonsultasi lebih dulu dengan organisasi keagamaan besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, MUI, dan lainnya.

Baca Juga:  Lawan Calo Pabrik, Dedi Mulyadi Buka Bursa Kerja Lewat Live TikTok Pemprov Jabar

“Jangan sampai mabuk pujian karena sedang populer, lalu merasa bebas bicara apa saja,” ujarnya menyinggung euforia masyarakat terhadap gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi.

Menurutnya, menyederhanakan persoalan kemiskinan hanya karena jumlah anak yang banyak adalah kesimpulan yang menyesatkan. Ia mengingatkan, dalam pandangan Islam, anak adalah rezeki dan anugerah, bukan beban yang harus dibatasi secara paksa.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Geram Masih Temukan Banyak Anak Jalanan, Pertanyakan Kinerja DP3AKB Jabar

Toto mengingatkan bahwa vasektomi adalah prosedur medis serius yang menyebabkan pria kehilangan kemampuan untuk memiliki anak secara permanen. Menjadikannya sebagai syarat bantuan sosial dinilai berlebihan dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Ia mengutip fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut vasektomi haram, kecuali dalam kondisi medis tertentu yang bersifat darurat dan tetap tidak melanggar prinsip syariah.

“Vasektomi tidak bisa dijadikan syarat menerima Bansos. Ini soal konstitusi, soal hak warga negara. Tidak bisa dipaksakan.”

Baca Juga:  Gubernur Dedi Mulyadi Prioritaskan Pembangunan Desa Penghasil Pajak

Sebagai penutup, Toto mengimbau Gubernur Dedi Mulyadi agar lebih terbuka terhadap masukan dari para ahli, tokoh agama, dan masyarakat sipil sebelum menggulirkan wacana kebijakan publik, terutama yang berdampak pada nilai-nilai sosial dan keagamaan.

“Masukan dari berbagai pihak itu penting agar tidak terjadi pelanggaran konstitusi dan nilai-nilai dasar bangsa.”

Polemik ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara semangat reformasi sosial dan sensitivitas terhadap norma serta hak individu. Gagasan yang baik pun membutuhkan proses komunikasi dan pertimbangan matang agar dapat diterima publik tanpa menimbulkan kontroversi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi MUI
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ratusan Pecinta Off-Road dan Campervan Meriahkan Kalibarasi 2026 di Subang

Kejar-kejaran Dini Hari di Bandung, Dua Pelajar Diduga Geng Motor Diamankan

Kasus Penganiayaan YTR Bergulir ke Pengadilan, Sidang Perdana Taufik Hidayat Digelar Pekan Ini

Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029

Sungai Citepus Kembali Dipenuhi Gunung Sampah, Warga Dayeuhkolot Ancam Protes Keras

Jokowi Hadir di Rakorda PSI Bandung, Yoel Dorong Kader Turun hingga Akar Rumput

Terpopuler
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.