Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Indonesia Bangsa Tertua? Penemuan Candi Adan-Adan Buktikan Ucapan Cak Nun Soal Kejayaan Nusantara

Sabtu, 9 Mei 2026 10:06 WIB

Kronologi Kerusuhan Stadion Lukas Enembe: Dari Kekalahan Persipura hingga Pembakaran Ambulans Brimob

Sabtu, 9 Mei 2026 08:09 WIB

Ngaku Kebal Hukum karena Anak Perwira, Perempuan yang Viral Gelar ‘Lomba Rasis’ Kini Kena Batunya!

Sabtu, 9 Mei 2026 07:43 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Indonesia Bangsa Tertua? Penemuan Candi Adan-Adan Buktikan Ucapan Cak Nun Soal Kejayaan Nusantara
  • Kronologi Kerusuhan Stadion Lukas Enembe: Dari Kekalahan Persipura hingga Pembakaran Ambulans Brimob
  • Ngaku Kebal Hukum karena Anak Perwira, Perempuan yang Viral Gelar ‘Lomba Rasis’ Kini Kena Batunya!
  • Update! Kode Redeem FC Mobile Sabtu 9 Mei 2026: Amankan Gems dan Pack Pemain Gratis Akhir Pekan
  • Link Full Video Guru Bahasa Inggris Viral Banyak Dicari, Publik Diingatkan Bahaya Phishing
  • Resmi! Nobar Persib vs Persija di GBLA Dibuka, Cek Harga Tiket dan Benefit Eksklusifnya
  • Heboh Link Video Guru Bahasa Inggris Viral, Netizen Ramai Cari Versi Full
  • Cara Cairkan Saldo DANA Gratis Sabtu 9 Mei 2026: Manfaatkan Fitur Resmi dan Aplikasi Penghasil Uang Terpercaya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 9 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Wacana Vasektomi untuk Penerima Bansos, KDM Dinilai Kebablasan: Berpotensi Langgar HAM

By Aga GustianaSabtu, 3 Mei 2025 16:56 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai wacana vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial (bansos) menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibaadurrahman Sukabumi, Toto Izul Fatah, yang menyebut wacana tersebut sebagai langkah yang “kebablasan dan tidak matang”.

Dalam keterangannya kepada pers di Jakarta, Jumat (2/5/2025), Toto menilai Dedi seharusnya lebih berhati-hati saat menyampaikan kebijakan sensitif, terutama yang menyangkut hak dasar warga negara dan nilai-nilai agama.

“Saya dan sejumlah tokoh di Jawa Barat sangat menyesalkan pernyataan Gubernur KDM. Ini kebijakan yang ceroboh dan berpotensi menciptakan diskriminasi,” kata Toto, yang juga dikenal sebagai peneliti senior LSI Denny JA.

Toto menegaskan, sebelum mewacanakan kebijakan seperti ini, sebaiknya Gubernur berkonsultasi lebih dulu dengan organisasi keagamaan besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, MUI, dan lainnya.

Baca Juga:  Survei Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Meningkat Pesat di Ciamis dan Majalengka

“Jangan sampai mabuk pujian karena sedang populer, lalu merasa bebas bicara apa saja,” ujarnya menyinggung euforia masyarakat terhadap gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi.

Menurutnya, menyederhanakan persoalan kemiskinan hanya karena jumlah anak yang banyak adalah kesimpulan yang menyesatkan. Ia mengingatkan, dalam pandangan Islam, anak adalah rezeki dan anugerah, bukan beban yang harus dibatasi secara paksa.

Baca Juga:  KDM Sentil Wali Kota Bandung soal Teras Cihampelas: Berani Bereskan?

Toto mengingatkan bahwa vasektomi adalah prosedur medis serius yang menyebabkan pria kehilangan kemampuan untuk memiliki anak secara permanen. Menjadikannya sebagai syarat bantuan sosial dinilai berlebihan dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Ia mengutip fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut vasektomi haram, kecuali dalam kondisi medis tertentu yang bersifat darurat dan tetap tidak melanggar prinsip syariah.

“Vasektomi tidak bisa dijadikan syarat menerima Bansos. Ini soal konstitusi, soal hak warga negara. Tidak bisa dipaksakan.”

Baca Juga:  Dinilai Ugal-ugalan, Dedi Mulyadi Soroti Ketimpangan Dana Hibah di Jabar

Sebagai penutup, Toto mengimbau Gubernur Dedi Mulyadi agar lebih terbuka terhadap masukan dari para ahli, tokoh agama, dan masyarakat sipil sebelum menggulirkan wacana kebijakan publik, terutama yang berdampak pada nilai-nilai sosial dan keagamaan.

“Masukan dari berbagai pihak itu penting agar tidak terjadi pelanggaran konstitusi dan nilai-nilai dasar bangsa.”

Polemik ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara semangat reformasi sosial dan sensitivitas terhadap norma serta hak individu. Gagasan yang baik pun membutuhkan proses komunikasi dan pertimbangan matang agar dapat diterima publik tanpa menimbulkan kontroversi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HAM MUI vasektomi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Indonesia Bangsa Tertua? Penemuan Candi Adan-Adan Buktikan Ucapan Cak Nun Soal Kejayaan Nusantara

Ngaku Kebal Hukum karena Anak Perwira, Perempuan yang Viral Gelar ‘Lomba Rasis’ Kini Kena Batunya!

Kemacetan

Bandung Padat Acara! Nobar Persija vs Persib hingga Konser Besar Akhir Pekan Ini

Rafael Situmorang Tegaskan PIP Gratis, Warga Diminta Laporkan Jika Ada Pungutan

Rafael Situmorang Ingatkan Dana PIP Harus Dipakai untuk Sekolah, Bukan Kepentingan Lain

Siap-siap! PIP Cair Akhir Mei, Rafael Situmorang Minta Orang Tua Segera Ke Sekolah

Terpopuler
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Viral Berdurasi Panjang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Link Video Viral ‘Vell TikTok Blunder’, Warganet Ramai Cari Versi Asli
  • Link Video Viral Batang Membara: Diiming-iming Cuan Rp250 Juta Lewat Telegram
  • Heboh Pencarian Video Viral “Tasya Gym Bandar Batang”, Pakar Ingatkan Risiko Keamanan Digital
  • TRANSFER MEGA! Persib Siap Borong Pemain Brasil, Belanda hingga Irak
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.